
Kemudian piano dimainkan dan penyanyi latar menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Terlihat lilin bergerak dari sisi panggung dibawa ke tengah. Lampu disorotkan ke arah Papa dan Mama yang berada di tengah-tengah aula hendak menuju pintu keluar.
Aku benar-benar tidak mengingatnya. Hari ini adalah hari ulang tahun Papa juga. Semua tamu pun ikut bernyanyi bersama mengucapkan selamat ulang tahun untuk Papa. Gista dan seorang pria yang aku tahu adalah asisten Papa menolong mereka untuk maju ke depan menuju panggung.
Lampu pun satu-persatu dinyalakan hingga ruangan terang kembali. Papa terlihat sangat bahagia. Aku melihat Hendra yang masih berdiri memelukku. Dia mengecup bibirku. “Kamu terkejut?” tanyanya menggodaku.
“Sangat. Tetapi ini kejutan yang menyenangkan. Papa pasti bahagia.” Aku mempererat pelukanku.
“Dan dia akan mengingat malam ini sampai berminggu-minggu ke depan. Papa sangat menyukai kejutan, terutama yang ditujukan kepadanya.”
Hendra menggandeng tanganku menuju panggung. Kami mengucapkan selamat kepada Papa dan menerima potongan kue keduanya setelah Mama. Zach kemudian datang bersama Hadi dan Dira. Aku terkejut melihat Papa memberikan potongan kue berikutnya kepada mereka. Anak-anak bersorak senang menerima kue serba cokelat tersebut. Para tamu sampai tertawa melihatnya.
Acara itu berlangsung singkat, tetapi sangat berarti bagiku. Melihat aku dan keluargaku bisa berada di tempat yang sama dengan Papa dan Mama di hadapan banyak orang. Kedua mertuaku kembali menuruni panggung dan berjalan menuju pintu keluar. Papa menerima setiap uluran tangan yang ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.
Zach kembali ke panggung membawa Zeph, Charlotte, dan Colin untuk menerima kue yang sudah dipotong-potong oleh Gista. Pembawa acara menyatakan perayaan telah berakhir, lalu penyanyi pria tadi kembali menghibur para tamu.
“Sayang, para tamu tidak akan pulang selama penyanyi itu masih bernyanyi,” kataku geli. Kami berjalan bersama menuju bagian belakang panggung.
“Memang rencananya begitu. Jadi para tamu tidak berdesak-desakan di pintu keluar.” Dia mengedipkan sebelah matanya. Akhirnya aku mengerti.
Tinggal setengah jam lebih lama, kami menitipkan anak-anak kepada Zach dan Rasmi. Kami berjanji akan segera menjemput mereka, barulah Hadi dan Dira mau ikut bersama om dan tante mereka. Aku belum percaya sepenuhnya kepada Will, jadi aku tidak berani menitipkan mereka kepadanya.
Kami menuju kantor polisi di mana kedua pria itu ditahan. Kafin mengambil jalur dengan hati-hati dan memastikan bahwa tidak ada wartawan yang mengikuti kami. Setelah mengerahkan seluruh keberanianku mengingat kejadian yang ingin aku lupakan itu, aku selesai memberikan pernyataan. Hendra hanya memberi kesaksian apa yang dia lihat saat dia tiba di tempat kejadian.
Untuk melengkapi laporan kami, aku memeriksakan diri di rumah sakit. Kedua pergelangan tanganku menunjukkan bekas genggaman tangan mereka yang sangat erat, bekas bekapan tangan mereka di sekitar mulut dan pipiku, bekas goresan kuku di pahaku saat laki-laki itu mengangkat rok gaunku, juga benjolan di bagian belakang kepalaku saat mereka menghempasku ke dinding.
Aku sudah sangat kelelahan saat kami tiba di rumah. Hendra memintaku untuk segera bersiap tidur, dia yang akan mengganti pakaian Dira. Aku menurut. Aku sudah tidak kuat lagi sekadar mengganti pakaianku sendiri. Tetapi aku memaksakan diriku. Saat melihat bayanganku di cermin, aku nyaris menjerit ketakutan. Ya, Tuhan. Wajah dan pergelangan tanganku. Keadaannya besok pasti akan lebih buruk, bekas ini akan berwarna kebiruan.
__ADS_1
Cepat-cepat aku menepis wajah mereka saat bayangan itu menggangguku. Semakin hari hal yang aku alami semakin parah. Mulai dari hinaan, sentuhan pada tubuhku, dan sekarang ada yang berniat memaksakan kehendaknya kepadaku. Harus sampai bagaimana lagi agar mereka puas? Aku tidak mengerti. Benar atau salahnya berita yang mereka dengar, apa yang memberi mereka hak untuk menyentuh atau menggauliku?
Kedua pria tadi benar-benar berada di luar dugaanku. Mereka adalah pria terhormat, pengusaha yang bersahabat dengan Hendra. Lalu mengapa mereka menggunakan cara serendah itu untuk mendapatkan tubuhku? Mereka sampai merasa begitu bangga bisa menyentuhku tadi.
Seseorang memelukku dari belakang, membuatku terkejut. Aku melihat cermin dan bertemu pandang dengan Hendra. “Mengapa kamu belum mandi juga? Hm? Kamu menungguku?”
Aku tersenyum, lalu membalikkan badanku. “Ide yang bagus.”
Setelah mandi bersama, kami berpakaian, kemudian duduk bersisian di tepi tempat tidur. Dia membantu mengeringkan rambutku. Tidak ada yang bicara di antara kami berdua. Tetapi aku merasa damai. Aku bisa mendengar Hendra memberikan kata-kata dukungan lewat sentuhan tangannya di rambutku. Dia berhati-hati agar tidak mengenai benjolan kecil di kepalaku.
Pada malam itu aku bermimpi buruk. Aku terbangun beberapa kali dalam keadaan menangis. Aku tidak mau memikirkannya, tetapi bayangan wajah mereka muncul dalam tidurku. Rasa lelah memaksaku untuk kembali tertidur hanya untuk bangun lagi karena mimpi buruk.
Aku berada dalam pelukan Hendra, lalu mengapa malah pria lain yang hadir di mimpiku? Tetapi aku bersyukur melihat dia tidak terbangun. Dia pasti kelelahan dengan segala persiapan acara ulang tahun perusahaan yang kini berada di bawah pimpinannya.
Hal yang sangat aku nantikan pada hari itu adalah kedatangan Claudia. Liando mengantarku dan anak-anak ke bandara. Dia tidak meninggalkan sisiku sedetik pun selama berada di bandara. Teman-temanku juga datang, bahkan Lindsey membawa Charlotte.
“Nenek!” sapa Charlotte. Claudia memekik senang.
“Hai, Tuan Putri. Kamu semakin cantik saja.” Claudia menggendongnya dan menghujaninya dengan ciuman. Gadis kecil itu tertawa bahagia. Mason memeluk istrinya agar bisa ikut menggendong cucu mereka satu-satunya itu. Aku bisa melihat air mata di wajah Claudia. Kami mengalihkan pandangan, tidak sanggup melihat kesedihan di wajahnya.
“Lihat, apa yang kamu lakukan, sayang. Kamu malah membuat suasana bahagia menjadi sedih,” ucap Mason bercanda. Claudia cemberut mendengarnya.
“Tidak apa-apa. Kalian bisa mengambil waktu sebanyak yang kalian butuhkan untuk mengenang putri kalian,” ucap Darla pelan.
“Tidak, tidak. Mason benar. Aku tidak mau merusak suasana bahagia kita.” Claudia melihat ke arah Hadi dan Dira setelah Mason mengambil Charlotte dari pelukannya. “Hai, Hadi! Dira!”
“Hai, Aunt Claudia,” sapa mereka serentak.
__ADS_1
“Ya ampun. Si kecil ini sudah bisa menyapaku dengan benar.” Claudia melihat gemas ke arah Dira. “Aku punya banyak hadiah ulang tahun untukmu, sayang.” Aku merasakan darah berhenti mengalir ke wajahku mendengar kalimat itu.
“Tidak, Claudia. Tidak perlu memberi kado.” Aku segera teringat dengan hadiah yang dia berikan untuk Hadi sebelum kelahirannya. Kami sudah tidak punya tempat lagi di rumah untuk menampung semua barang anak-anak.
“Apakah ada hadiah untukku juga, Aunt Claudia?” tanya Hadi penuh harap.
“Tentu saja ada. Kamu jangan coba-coba melarangku, Zahara. Aku sudah lima tahun tidak memberi hadiah apa pun untuk pria muda ini.” Claudia memeluk Hadi dengan erat.
“Apakah kalian lapar? Aku sudah menyiapkan makanan di rumah. Tapi bila kalian ingin makan di sekitar sini …,” kata Lindsey.
“Tidak. Kami mau makan di rumahmu saja. Jangan di sini.” kata Claudia. Dia menatap kami semua. “Kalian ikut, ‘kan?” Kami serentak menganggukkan kepala kami. Wajahnya kembali ceria.
Kami berjalan bersama menuju mobil kami masing-masing tidak jauh dari tempat kami bertemu. Charlotte masih betah berada dalam gendongan kakeknya. Mason menolak tawaran Liando untuk membawakan kopernya. Jadi, dia menariknya sendiri.
“Bukankah itu laki-laki tidak tahu malu itu?” tanya Darla melihat ke arah kiri kami. Aku menoleh ke arah yang sama.
“Akhirnya kesempatan untuk bicara dengannya datang juga.” Sebelum sempat mencegahnya, Qiana sudah berjalan lebih dahulu mendekati pria tersebut.
...*******...
...~Author's Note~...
Untuk para ibu hebat di luar sana, Selamat Hari Ibu! Bagi yang sedang menanti, semoga si kecil lahir dengan selamat. Bagi yang sedang mengharapkan, semoga Tuhan segera mengabulkan doa, yang terbaik untuk semuanya. Terima kasih untuk semua cinta, perhatian, dan pengorbanan untuk generasi penerus kita, ya.
Salam sayang,
Meina H.
__ADS_1