
Aku yang mendengar kabar itu saja sangat kecewa. Aku tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati Qiana yang mengalaminya sendiri. Suaminya tidak hanya mencium wanita itu di depan umum tanpa rasa malu tetapi juga telah menghamilinya?
Kami hanya bisa menangis bersama turut merasakan sakit yang dia rasakan. Dua puluh tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk membina rumah tangga. Banyak yang telah mereka lewati bersama. Meskipun tidak ada lagi tanda-tanda cinta, kebiasaan selalu bersama tidak akan mudah untuk dilepaskan begitu saja.
Darla berhasil menghibur kami semua dengan lelucon segarnya. Kami juga berhenti menangisi keadaan saat sedang asyik menikmati rujak yang dibawanya. Keadaan Qiana juga lebih baik. Dia berjanji akan datang kepada kami saat membutuhkan teman bicara.
“Ada apa, sayang?” Aku merasakan seseorang menyentuh tanganku. Aku menoleh dan melihat Hendra sedang menatapku dengan khawatir. “Apakah terjadi sesuatu di rumah Qiana?”
“Wanita itu hamil.” Aku mendesah pelan. Hendra memejamkan matanya, menenangkan diri. Aku tahu. Itu berita yang sangat mengejutkan.
“Ini masalah yang berat. Semoga mereka bisa menemukan jalan keluar yang terbaik,” kata Hendra penuh simpati. Aku mengangguk pelan. “Aku tidak akan melakukan itu kepadamu. Aku berjanji. AKu tidak akan mengulangi kesalahanku yang dahulu.” Dadaku terasa nyeri mendengarnya, tetapi aku cepat-cepat menepis perasaan itu.
“Aku tahu.” Aku mendekatkan wajahku kepadanya. Dia tersenyum, lalu mengecup bibirku. Saat dia menjauhkan diri, dia menatapku dengan saksama.
“Kamu berubah.” Dia membelai pipiku lalu menciumku lagi.
“Semoga perubahan yang baik.” Aku tersenyum saat membalas ciuman.
“Perubahan yang sangat baik.” Kali ini dia tidak menggodaku lagi. Dia menciumku sampai kami berdua kesulitan bernapas.
Tidak berhenti sampai di situ, dia membopongku ke kamar dan kami bercinta di tempat tidur. Ya, Tuhan. Aku tidak pernah merasa cukup dengan ini. Kegiatan kami di tempat tidur menjadi hal yang aku nanti-nantikan. Dalam keadaan mengantuk, kami membersihkan diri bersama di kamar mandi. Aku tertawa saat dia mengajakku melakukannya lagi.
__ADS_1
Hendra memperlakukan aku begitu lembut, penuh cinta, dan sangat perhatian. Melihat dia tertidur pulas dengan wajah damainya, aku juga merasakan kehangatan memenuhi dadaku. Bagaimana bisa dia sanggup menghadapiku yang bersikap sangat jahat kepadanya selama kami menikah? Terbuat dari apa sebenarnya hatinya?
Dia memang telah menyakitiku saat memaksakan kehendaknya. Tetapi dia telah berulang kali meminta maaf dan berjanji tidak mengulanginya lagi. Lukaku sembuh karena dia selalu memegang setiap kalimat yang keluar dari mulutnya. Aku beruntung memiliki suami seperti dia. Aku sangat mencintainya. Ya, Tuhan. Aku sangat mencintainya.
Aku tidak percaya aku membutuhkan waktu begitu lama untuk menyadarinya. Sejak kapan, aku tidak tahu. Aku sudah terbiasa dengan kehadirannya, sentuhannya, perhatiannya, mungkin itu juga yang menyebabkan aku tidak segera menyadari perubahan perasaanku kepadanya. Aku terlalu fokus pada rasa benciku kepadaku.
Lalu kenyataan menghajarku bagai guntur yang memecah keheningan malam. Aku tidak menyadari apa yang telah aku lakukan karena aku tidak merasakan apa pun ketika semua itu terjadi. Pertemuan dengan Aldo hari ini mengingatkan aku pada dosaku. Dosa terbesarku.
Oh, Tuhanku. Apa yang telah aku lakukan? Aku merasa jijik dengan diriku sendiri. Aku bukan hanya membiarkan Aldo mencium bibirku di tempat parkir restoran itu. Tetapi aku juga telah membiarkan dia menjadi satu denganku di kamar hotel itu.
Aku benar-benar tidak tahu apa yang telah membuatku mau saja disentuh olehnya seintim itu. Yang aku ingat, aku begitu marah saat dia mengatakan bahwa aku mencintai suamiku. Iya, Itu yang terjadi. Aku jatuh cinta kepada suamiku dan aku marah. Aku marah karena tidak seharusnya aku jatuh cinta kepada pria yang telah merusak hidup dan masa depanku. Aku marah karena seharusnya aku tetap membencinya dengan seluruh perasaanku.
Sebagian dari diriku tidak siap menerima kenyataan itu sehingga aku terus menyangkalnya, bahkan sampai berbuat hal yang melanggar sumpah setiaku dalam pernikahan kami. Semua itu hanya karena aku marah kepada diriku sendiri. Tetapi aku lebih suka melimpahkan semua kemarahanku kepada suamiku. Mengapa aku bisa berubah menjadi sejahat ini?
Jika dia sampai tahu, apa yang akan terjadi pada pernikahan kami? Apakah dia akhirnya akan menyerah dan meninggalkan aku? Saat aku baru saja menyadari perasaanku kepadanya, apakah aku akan kehilangannya secepat ini? Berapa lama aku bisa menutupi dosaku darinya? Bagaimana aku bisa sebodoh ini? Aku merusak hidupku sendiri berulang kali.
“Kamu tidak apa-apa, sayang?” tanya Hendra saat kami sedang sarapan pada pagi harinya. Aku hanya menggelengkan kepalaku. “Kamu tidak menyentuh makananmu. Apakah kamu sedang sakit?”
“Tidak. Aku hanya merasa sedikit pusing,” kataku berbohong.
“Kalau ada yang terasa sakit, sebaiknya kamu periksakan diri ke dokter.” Dia membelai pipiku.
__ADS_1
“Aku baik-baik saja. Mungkin ini hanya kelelahan setelah perjalanan panjang.”
“Ah, iya. Kita baru pulang dari Bali, kamu langsung sibuk berbelanja dan pergi ke rumah Qiana. Kalian pasti sangat emosional saat mendengar kabar buruk itu.” Dia menatapku dengan khawatir. “Kamu jangan menulis dahulu hari ini, sebaiknya kamu beristirahat saja.” Aku mengangguk patuh.
Kini aku mengerti apa yang dia rasakan setiap kali aku mengisyaratkan ingin pergi darinya. Aku tahu bahwa jam sedang berdetak menuju akhir dari pernikahan kami. Semakin lama aku bersamanya, semakin besar rasa takut kehilangan itu menyakitiku. Hendra tidak akan kuat saat dia mengetahui bahwa aku telah mengkhianatinya.
Yang bisa aku lakukan hanyalah memberinya seluruh waktu, perasaan, dan perhatianku untuknya. Setiap kali dia berada di rumah, aku tidak meninggalkan sisinya. Hanya ketika dia sedang bekerja, aku fokus pada lanjutan tulisanku dan berbincang dengan teman-teman lewat panggilan konferensi. Aku juga tidak lupa memerhatikan si kecil dalam kandunganku. Buah hati kami berdua.
“Bagaimana dengan lamaran para penerbit itu? Apakah kamu sudah menentukan pilihan?” tanya Hendra pada malam itu. Aku sama sekali lupa mengenai itu. Aku meminjam laptop miliknya dan membuka surelku. Lalu aku menunjukkan surel yang telah aku beri tanda bintang.
“Wah, banyak sekali, sayang.” Hendra mengusap-usap rambutku. Aku meletakkan kepalaku di lengannya. “Pantas saja kamu bingung memilih yang mana.”
“Apa yang harus aku lakukan lebih dahulu? Membalas satu-persatu dan menanyakan tawaran mereka? Atau aku langsung tentukan pilihan akan bekerja sama dengan yang mana dan menolak yang lainnya?” tanyaku bingung.
“Tidak. Jangan menolak sebelum kamu mendengar langsung tawaran dari mereka.” Dia membaca isi setiap surel yang masuk tersebut. “Sebaiknya kamu tanyakan kerja sama seperti apa yang mereka tawarkan. Lalu minta waktu untuk mempertimbangkannya. Jadi, kamu bisa bertanya kepada setiap penerbit. Belum tentu penerbit besar memberikan tawaran yang lebih baik dari yang kecil.”
Hendra mengetikkan sesuatu pada layar kosong. Aku membacanya. Oh. Dia mengetikkan contoh surel balasan kepada penerbit tersebut. Pilihan katanya jauh lebih baik dariku. Tidak mengherankan dia menjadi pemimpin yang ditakuti. Dia sangat perfeksionis, bahkan dalam hal surat-menyurat.
“Terima kasih sudah membantuku.” Aku membaca ketikannya itu dengan puas. Dia mengambil laptop itu dari pangkuanku, lalu meletakkannya di atas meja. Aku memekik terkejut ketika dia membopong tubuhku ke tempat tidur.
“Kamu tahu bahwa bantuan dariku tidak gratis, ‘kan?”
__ADS_1