Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 129 - Berkemah di Alam Bebas


__ADS_3

Hal pertama yang aku lihat adalah dua buket besar mawar merah, di depannya diletakkan sebuah kotak berwarna keemasan, lalu di depannya lagi beberapa kotak kecil dari beludru. Kelopak mawar merah menghiasi permukaan tempat tidur.


Dua tangan melingkari tubuhku, lalu punggungku bersentuhan dengan dadanya. Rasa terkejut membuatku tidak mendengarkan langkah kakinya yang mendekati kamar kami. “Selamat Hari Valentin, istriku sayang. Aku sangat mencintaimu.”


“Oh.” Aku lupa bahwa hari lahir Dira bersamaan dengan hari istimewa ini. “Hendra, ini berlebihan. Kamu bisa mengucapkannya saja tanpa harus memberiku semua hadiah ini.”


Dia melepaskan pelukannya, meraih tanganku, kemudian menutup pintu. “Ketika wanita lain akan melompat senang, lalu memberikan ciuman kepada kekasihnya melihat hadiah ini, kamu malah protes. Tetapi itulah salah satu alasan aku mencintaimu.” Kami berhenti di tepi tempat tidur.


“Lima kotak hadiah? Mengapa banyak sekali?” tanyaku bingung melihat kelima kotak beludru tersebut. Aku tidak perlu membukanya untuk tahu apa isi di dalamnya.


“Selama kita berpisah, aku tidak pernah lupa membelikan hadiah Valentine untukmu. Bukalah.” Dia mengambil satu-persatu kotak dan mendekatkannya kepadaku. “Duduk di sini.”


Kelima kotak itu berisi perhiasan yang terbuat dari berlian. Dua kalung dan tiga gelang. Benar, ‘kan? Dia pasti memberiku perhiasan yang sangat mahal. Aku sudah lama tidak mengenakan perhiasan milikku karena aku hanya mengenakannya saat menghadiri undangan bersama Hendra. Selama kami berpisah, aku jarang sekali menghadiri acara jika bukan karena dipaksa oleh teman-teman.


Kotak keemasan yang berukuran besar itu berisi cokelat dengan berbagai bentuk. Itu adalah cokelat kesukaanku. Aku sangat kenyang, jadi aku memutuskan untuk memakannya lain hari saja. Aku meletakkan semua kotak itu di atas nakas.


“Aku tidak menyiapkan apa pun untukmu,” kataku pelan. Hendra memegang tanganku dan menarikku berdiri di antara kedua pahanya.


“Kamu tahu bahwa aku tidak pernah mengharapkan hadiah berupa barang darimu.” Tangannya menyentuh tali mantel sutraku. Aku menggeleng pelan tidak percaya mengetahui apa yang dia maksudkan. Kami tertawa bersama dan aku tidak menghalangi tangannya untuk membuka tali itu.


Yuyun membantuku pada pagi itu untuk memastikan bahwa aku membawa semua keperluan anak-anak di dalam koper mereka. Kebutuhanku dan Hendra sudah aku masukkan di dalam koper kami. Liando membantuku membawanya ke lantai bawah untuk dimasukkan ke bagasi mobil. Seperti pada liburan sebelumnya, kami berangkat setelah sarapan.


Dira sudah tidak takut lagi dan duduk dengan manis di kursi khususnya. Ara berada di tengah jok, sedangkan Hadi duduk di belakang papanya. Selama seminggu kami tidak berada di rumah, para pekerja yang sudah berkeluarga juga akan libur selama itu. Sakti dan Liando tidak berniat untuk pulang, maka kami tidak memaksa.


Kami bernyanyi, bercerita, dan bercanda di dalam mobil sepanjang perjalanan. Suasana mobil senyap saat anak-anak tertidur. Aku dan Hendra membahas hal-hal yang ringan yang kami temui dalam perjalanan. Mengenai tol, pedagang, makanan yang dijajakan di pinggir jalan, tempat-tempat terkenal yang kami lewati, bahkan yang sudah kami datangi.

__ADS_1


Aku senang melihat kami mendatangi vila kembali. Aku tidak akan bosan berlibur di tempat ini. Kami membaringkan anak-anak di tempat tidur, lalu Hendra dan pengurus rumah menurunkan koper kami. Makan siang sudah tersedia membuat perutku berbunyi.


Begitu anak-anak bangun, kami makan bersama. Mereka mengajak untuk berenang di kolam yang tersedia di vila. Berbeda dengan kedatangan yang pertama, kali ini Ara sudah bisa berenang di air dan tidak membutuhkan panduan kami lagi.


“Papa, apa aku tidak akan dimarahi guru selalu libur satu minggu?” tanya Hadi bingung. Kami sedang menikmati makanan ringan di tepi kolam setelah puas berenang.


“Tentu saja tidak. Kamu bisa mengikuti pelajaran berikutnya, jadi gurumu tidak bisa memarahimu.” Hendra mengusap-usap rambut Hadi. Dia melirik ke arahku. “Kamu punya mama yang cerdas, jadi jangan khawatirkan mengenai sekolahmu. Kamu anak yang cerdas.”


“Papa, sekolah.” Dira memasang wajah memelas. Dia sudah pintar membuat hati papanya luluh agar mau menuruti semua permintaannya.


“Kamu baru berusia dua tahun, sayang. Tunggu sampai kamu empat tahun, lalu masuk TK A, ya,” ucap Hendra. Dira mengacungkan kelima jari kanannya.


“Empat?” Dia bertanya. Hendra melipat jempolnya, lalu menghitung dari satu sampai empat, Hadi juga ikut berhitung. Dira tertawa setiap kali papanya menyentuh jarinya.


Bebanku terasa jauh lebih ringan sejak Hendra kembali kepada kami. Aku tidak lagi sendirian memikirkan apa yang terbaik untuk pendidikan anak-anak, memutuskan apa yang perlu aku lakukan agar akhir pekan mereka menyenangkan, bahkan hal semudah bermain bersama mereka. Aku senang mempunyai teman diskusi yang sepemikiran denganku.


Bangun pada pagi itu, aku tidak menemukan Hendra di sisiku. Aneh. Dia tidak membangunkan aku untuk joging bersama. Aku menemukan mereka bertiga sedang membicarakan entah apa di halaman depan. Aku menghirup napas panjang ketika berdiri di teras. Udara pagi pegunungan memang sangat segar. Anak-anak segera menyapaku.


“Selamat pagi. Ada apa kalian ribut-ribut di sini?” Aku melirik ke arah bagasi mobil. Aku melihat sebuah tas sangat besar, sebuah ransel, dan keranjang yang terbuat dari rotan di dalamnya. “Kita mau ke mana?” Aku menoleh ke arah Hendra. Dia memanfaatkan kesempatan itu untuk mendaratkan sebuah ciuman ke bibirku.


“Berkemah.” Dia meminta kami semua untuk mundur agar dia bisa menutup pintunya.


“Kata Papa, di sana ada sungai dan kita bisa berenang sepuasnya, Ma. Malam nanti kita akan buat api unggun. Aku dan Dira boleh memanggang singkong, kentang, jagung, juga ikan di dekat api. Ayo, Ma! Kita makan sekarang biar bisa pergi.” Hadi menarik tanganku untuk masuk ke vila.


Aku tersenyum melihat betapa antusiasnya putraku untuk pergi berkemah. Satu jam kemudian, kami sudah dalam perjalanan menuju tempat perkemahan. Kurang dari satu jam berikutnya, kami sudah tiba di tujuan. Udaranya segar, sejuk, dan aku sudah bisa bayangkan udara pada malam hari akan sangat dingin, apalagi bila benar lokasinya di dekat sungai.

__ADS_1


Hadi menolong membawa satu tas ransel, aku membawa keranjang makanan, sedangkan Hendra membawa tas kemping yang sangat besar di punggungnya. Kami tidak perlu berjalan terlalu jauh untuk tiba di lokasi kemah dengan sungai berada di kedua sisi kami. Ada pohon di sudut tanah datar itu sehingga sinar matahari tidak langsung mengenai kulit kami.


“Papa! Papa! Yenang!” Dira bersorak senang melihat sungai tersebut. Airnya tidak terlalu tinggi sehingga kami bisa melihat batu-batu sungai yang besar. Airnya juga sangat jernih.


“Wah, sayang! Tempat ini indah sekali!” pujiku.


“Kita pasang tenda sebentar, lalu berenang, ya.” Hendra meletakkan tasnya di atas rumput, lalu mengeluarkan satu-persatu perlengkapan yang dibawanya.


Aku membantunya memasang tenda, kemudian menyimpan semua barang bawaan kami di dalamnya. Kami sudah memakai kaus dan celana pendek masing-masing, jadi kami bisa langsung menikmati dinginnya air sungai. Hendra sudah memasangkan pelampung pada tubuh anak-anak agar mereka tetap aman andai sesuatu yang buruk terjadi. Ara tidak mau ikut. Dia memilih untuk berbaring di dekat tenda.


Hari ini bukanlah akhir pekan dan kami bisa menikmati sungai itu tanpa kehadiran orang lain. Aku semakin mengerti mengapa Hendra lebih suka berlibur pada hari biasa, bukan hari libur. Kami tidak perlu berdesakan atau berebutan dengan pengunjung lain.


Dia tidak melepaskan pegangannya dari Hadi, sedangkan aku tidak sedetik pun melepaskan Dira dari pelukanku. Aliran air sungai tidak deras, jadi kami bisa duduk di dasar sungai tanpa khawatir akan terbawa arus. Mereka sangat senang saat Hendra berbaring di dasar sungai dengan mereka berbaring di dadanya.


Kami keluar dari sungai karena kami sudah kelaparan. Tempat itu menyediakan toilet umum, jadi kami bisa mandi di kamar kecil yang tersedia. Bagian untuk laki-laki ada di sebelah kiri restoran, sedangkan bagian untuk perempuan ada di sebelah kanan.


“Dira, Papa dan Kakak sudah menunggu untuk makan. Apa kamu belum lapar?” tanyaku melihat dia tidak berhenti memukul-mukul air pancuran dan menangis setiap kali aku mematikan alirannya. Dira terus bermain air meskipun mulutnya sudah menggigil kedinginan.


“Lapal, Ma.” Dia menepuk-nepuk perutnya.


“Kalau begitu, kita keringkan badan sekarang, lalu pakai baju, ya?” tanyaku. Dia akhirnya menurut.


Usai mandi dan penampilan kami telah rapi kembali, aku menggandengnya setengah berlari kembali ke tenda kami. Seseorang tiba-tiba saja muncul dari balik tembok sebelum aku berbelok dan berdiri di depanku, menghalangi langkahku. Aku mengangkat wajahku berniat untuk menegur sikap tidak sopannya itu. Tetapi aku terdiam begitu mengenalinya. Oh. Tuhan. Tidak lagi.


“Hai, Ara. Kita bertemu lagi.”

__ADS_1


__ADS_2