
Setelah sarapan bersama, aku merasa lebih baik. Aku memutuskan untuk mandi dan bersiap untuk ke rumah sakit. Aku mengenakan salah satu dress berwarna biru dengan motif bunga dan sandal berhak datar dengan tali-temali yang aku ikatkan di pergelangan kakiku. Aku memastikan bahwa dompet, ponsel, pengisi daya ponsel, dan kunci mobil telah berada di dalam tas.
“Kamu mau ke mana?” Terdengar suara di ambang pintu ruang pakaian.
“Aku ingin menemani Mama. Papa pasti perlu pulang sebentar mengambil sesuatu di rumah, jadi hanya ada aku yang bisa menggantikannya.” Aku menyandangkan tas ke bahuku. “Aku tidak mungkin meminta mama kamu pergi ke rumah sakit, ‘kan?”
“Tetapi, sayang, kamu sedang kurang sehat.” Hendra mendekatiku dan memegang kedua tanganku. Matanya menatap wajahku dengan saksama.
“Aku sudah baik-baik saja. Setelah sarapan tadi, aku sudah tidak mual atau pusing.” Aku tersenyum untuk meyakinkannya. “Hen, aku tidak mungkin membiarkan Papa sendirian.” Aku bisa melihat dia sedang bergelut dengan pikirannya sendiri.
“Baiklah. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit. Nanti setelah mengantarku ke kantor, Kafin akan bersama Papa sampai Papa kembali ke rumah sakit lagi. Dan kamu akan pulang bersama Kafin.” Aku membuka mulut ingin menyampaikan pendapatku, dia segera melanjutkan, “Aku tidak akan mengizinkanmu menyetir dengan keadaan begini.”
Mengetahui bahwa aku tidak akan bisa mengubah pendiriannya itu, aku mengalah. Dia menggandeng tanganku sampai kami berada di dalam mobil. Dia akan sangat terlambat bila harus ke rumah sakit dahulu, tetapi aku tidak mengatakan apa pun. Sherry menghubunginya berkali-kali adalah bukti bahwa dia mempunyai janji penting pada pagi ini.
Dia menatap ponselnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu merangkul bahuku. Aku tersenyum kepadanya. Dia menarikku mendekat lalu mencium pelipisku. “Apa kamu baik-baik saja? Tidak pusing atau mual?” tanyanya.
“Aku baik-baik saja.” Aku merapikan posisi dasinya lalu mengusap setelannya.
“Aku akan menjemputmu pada jam makan siang. Sebaiknya kita memeriksakan dirimu siang ini saja. Malam nanti kamu bisa langsung beristirahat dan tidak perlu menungguku pulang.” katanya pelan. “Bagaimana menurutmu?”
“Baik.” jawabku menurut.
__ADS_1
Saat kami tiba di rumah sakit, Hendra menemaniku sampai bertemu dengan Papa di depan ruang ICCU. Karena kondisi Mama stabil, Mama akan segera dipindahkan ke ruang rawat inap. Hendra menemani Papa mengurus administrasi, sedangkan aku diminta untuk menunggu di ruang duduk.
Tidak lama kemudian, mereka kembali hanya untuk menyampaikan bahwa semuanya sudah beres. Hendra memeluk dan menciumku sebelum pergi bersama Papa. Aku baru duduk beberapa saat ketika seorang suster datang dan memberitahuku nomor kamar Mama.
Dia memberitahu elevator mana yang harus aku naiki dan aku mengikuti petunjuknya untuk menuju kamar di mana Mama berada. Aku tidak terkejut melihat jenis kamar yang dipilih Hendra. Mama berada di sebuah kamar yang cukup besar. Aku memeriksa keadaan kamar mandinya yang bersih dan nyaman. Ada sofa, meja, televisi berlayar datar, kabinet, nakas, dan sebuah lemari pakaian.
“Aku sebenarnya sudah baik-baik saja. Apakah aku belum bisa pulang?” tanya Mama dengan wajah ceria. “Makanan di rumah sakit ini tidak enak.” Aku tertawa mendengarnya.
“Itu makanan yang sehat untuk Mama.” Aku duduk di tepi tempat tidur. “Kata dokter, jika kondisi Mama stabil, Mama hanya perlu dirawat selama dua hari. Mungkin besok Mama sudah bisa pulang. Jadi, Mama nikmati saja dahulu. Lagi pula rumah sedang direnovasi, kurang nyaman untuk tinggal di sana sekarang.”
“Kata Hendra, rumah itu akan siap sore ini. Mereka bisa bekerja lebih cepat karena tidak akan ada penghuni di rumah selama dua hari.” Mata Mama berbinar-binar saat menyebut nama menantunya.
“Baguslah. Besok Mama bisa beristirahat dengan nyaman. Mama jangan lupakan semua nasihat dokter. Walaupun kondisi Mama stabil, Mama harus menjaga kesehatan, tidak boleh lalai lagi,” ucapku mengingatkan.
Dua jam kemudian, Papa datang dengan keadaan lebih segar dan sudah mengganti pakaiannya. Dia membawa sebuah tas dan aku membantu untuk mengeluarkan isinya dan menyusunnya dengan rapi di dalam lemari dan nakas.
Kami berbincang dengan santai sampai Mama tertidur. Aku dan Papa memilih untuk menonton acara televisi yang dipilihnya dan berbicara seperlunya agar Mama bisa beristirahat dengan tenang. Mengingat betapa kacaunya keadaanku pagi tadi, aku terkejut bahwa aku baik-baik saja dan tidak merasakan pusing atau mual lagi.
Mama terbangun ketika seorang wanita masuk ke dalam kamar sambil membawakan makan siang untuknya. Aku menerima baki tersebut setelah mengucapkan terima kasih. Mama menatapku meminta belas kasihan, tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Mama tidak boleh memakan apa pun selain yang diberikan oleh pihak rumah sakit.
Wajahnya kemudian berubah ceria saat Hendra datang membawakan buket bunga lili, sekeranjang buah-buahan segar, dan sebuah kotak makanan. Dia meletakkan semua barang bawaannya tersebut di atas nakas, lalu memeluk Mama dengan erat. Aku menoleh ke arah Papa dan tersenyum penuh arti ketika Mama makan dengan lahap di depan menantunya.
__ADS_1
“Aku akan membawa istriku untuk makan siang bersamaku, aku harap Papa dan Mama tidak keberatan.” Hendra berdiri di sisiku dan melingkarkan tangannya di pinggangku.
“Tentu saja tidak. Kami berdua akan baik-baik saja di sini. Pergilah,” kata Mama dengan riang.
“Aku membeli makanan untuk Papa, jangan lupa dihabiskan, Pa,” ujar Hendra kepada Papa.
“Terima kasih, Nak. Aku akan memakannya nanti,” ucap Papa dengan senyuman di wajahnya.
Kami keluar dari kamar dan menuju elevator. Hendra sudah membuat janji dengan dokter spesialis kandungan yang ada di rumah sakit ini. Aku bersyukur saat kami tiba, kami tidak perlu mengantri dan bisa segera masuk ke dalam ruang praktik.
Aku diminta untuk mengambil tes urine dan darah terlebih dahulu. Menunggu hasilnya, Hendra mengajakku untuk makan siang di kantin rumah sakit. Aku sedikit terkejut ketika melihat porsi makanku bertambah. Dia hanya tertawa kecil.
“Kamu sekarang makan untuk dua orang, jangan pikirkan tentang berat badan. Makanlah.” Dia memberikan potongan ayam terakhir ke atas piringku. Aku tidak menolaknya karena lapar.
Dokter tersenyum saat kami kembali ke ruangannya. Dia memberikan berita baik bahwa kondisiku sehat, begitu juga janin dalam kandunganku. Dia menanyakan begitu banyak hal kepadaku mengenai kebiasaan hidupku dan setiap hal yang berhubungan dengan kesehatanku. Begitu mengetahui bahwa kemungkinan kami membuatnya adalah pada hari ulang tahunku, aku mulai khawatir.
Hendra memegang tanganku ketika aku menanyakan mengenai obat pencegah kehamilan yang aku minum tersebut. Dokter menanyakan frekuensi mengonsumsi obat tersebut. Mengetahui bahwa aku tidak meminumnya setiap hari, dia mengatakan bahwa janinku akan baik-baik saja. Pemeriksaan kandungan secara rutin akan menolong andai terjadi sesuatu pada bayiku. Aku merasa sedikit lega mendengar penjelasannya.
Saat dia mempersilakan aku untuk berbaring di atas tempat tidur yang ada di ruangan itu, jantungku berdebar lebih kencang. Aku mengenal alat yang ada di hadapanku itu. Hendra duduk di sampingku dan memegang tanganku saat dokter memulai pemeriksaan.
Dia menuang gel yang rasanya dingin kemudian mulai menggerakkan sebuah benda yang hasil visualnya bisa dilihat pada layar di dekat kepalaku. Dia mencari si kecil sambil setengah bercanda kepada kami. Aku tahu dia hanya berusaha mengurangi ketegangan yang aku rasakan.
__ADS_1
Ketika dia menemukannya, aku tidak bisa melihat apa pun selain bercak hitam dan putih pada layar tersebut. Aku dan Hendra tertawa karena kami mengalami kesulitan yang sama. Dokter tersebut menunjukkan posisi tepatnya calon buah hati kami pada layar. Kami masih belum bisa melihatnya. Dia mengatakan bahwa itu normal karena ukurannya memang masih kecil.
Setelah menjabat tangan dokter tersebut dan mengucapkan terima kasih, kami keluar dari ruang praktiknya. Hendra tersenyum memegang semua hasil pemeriksaanku yang dimasukkan dalam sebuah amplop. Dia menggandeng tanganku dan mengajakku ke mobil. Dia terlihat begitu bahagia sekarang, kami benar-benar hamil.