
Lihatlah apa yang terjadi kepadaku. Aku pun sampai mengikuti cara Hendra menyebut ketiga tokoh dalam cerita tersebut. Aku yang menulis, tetapi aku juga yang nyaris lupa nama dari para tokoh cerita tersebut sehingga menyebut mereka dengan tokoh saja. Bukan dengan menyebut nama mereka masing-masing.
“Maaf, apakah aku mengkritik terlalu kejam?” Hendra menyentuh kedua tanganku yang ada di atas pangkuanku. Aku tersenyum kemudian menoleh ke arahnya.
“Tidak. Kamu benar. Aku terlalu terburu-buru dan begitu naif membuat cerita yang berakhir seperti itu. Pantas saja beberapa pembaca mengatakan bahwa jalan cerita yang aku tulis itu terlalu mudah untuk ditebak. Tidak ada unsur kejutan yang cukup berarti,” ucapku pelan.
“Itu tidak benar. Ketika tokoh pria akhirnya memilih untuk percaya kepada tokoh wanita, itu sangat mengejutkan. Karena sudah pasti semua orang menebak bahwa dia akan kembali bersikap sama dengan membela ibu dan adiknya. Dan aku yakin, titik balik itulah yang membuat tokoh wanita kembali yakin bahwa perasaannya kepada tokoh pria semakin kuat. Dia pasti semakin yakin bahwa pilihannya tetap menjalin hubungan dengan pria tersebut tidak salah.”
“Sayangnya, dia salah. Dia telah membiarkan satu kejadian menjadi penentu nasibnya ketika ada banyak kejadian serupa di mana pria itu telah gagal menunjukkan keseriusan cintanya kepada tokoh wanita. Itulah yang membuat tokoh pria yang kedua memutuskan untuk tidak bekerja di tempat yang sama dengan tokoh wanita. Bukan semata-mata karena dia patah hati. Tetapi dia tidak ingin terus-menerus menyaksikan wanita yang dicintainya menangis dan menderita.”
“Bagaimana kamu bisa mengambil kesimpulan itu jika aku tidak mengarahkannya ke sana?” tanyaku tidak mengerti.
“Di situlah letak kehebatanmu, sayang. Cerita kamu itu membuka kemungkinan demi kemungkinan sebagai alternatif dari apa yang sudah kamu tulis. Imajinasi pembaca dirangsang oleh kisah yang kamu ceritakan dan tidak hanya terfokus kepada fakta yang kamu bukakan saja. Itu yang membuat orang-orang menjadi suka membaca,” puji Hendra dengan tulus.
“Begitukah?” Aku bisa merasakan dadaku terasa begitu lapang mendengar pujian darinya.
“Iya. Aku menghargai kejujuranmu dalam tulisanmu. Dan aku berterima kasih kamu menghargai kejujuranku dalam memberikan pendapat.”
__ADS_1
“Aku tidak salah menunjukkan hasil karyaku kepada orang yang tahu bagaimana menghargainya.”
“Kamu bekerja keras untuk menyelesaikan cerita itu. Tentu saja aku menghargainya.”
“Terima kasih. Kamu sangat membantuku menemukan kelemahan dalam caraku menulis, aku akan memperbaikinya dalam proyek berikutnya.”
“Apakah kamu sudah punya ide cerita apa yang akan kamu tulis berikutnya?”
Dengan panjang lebar, aku menceritakan apa yang sedang aku pikirkan yang cukup menarik untuk dijadikan bahan tulisan. Dia mendengarkanku dengan saksama dan baru menyatakan pendapatnya ketika aku bertanya. Dia juga memberi beberapa masukan yang membuatku bertanya-tanya mengapa dia tidak menjadi penulis saja. Dia lebih berbakat dariku. Namun dia hanya tertawa ketika aku menyarankan hal itu.
Sebuah mobil sudah menunggu ketika kami berada di luar terminal kedatangan. Seorang pria menyambut kami dan segera mengambil alih koper yang dibawa oleh Hendra. Suamiku segera membukakan pintu mobil untukku kemudian dia menyusul masuk ke dalam mobil. Terbiasa dengan perjalanan berdua dengannya, aku tidak menjauh dan duduk tepat di sampingnya. Dengan santai, dia meletakkan tangannya di atas kedua tanganku yang berada di atas pangkuanku.
Aku hanya tidur sepanjang perjalanan. Padahal aku sudah berusaha tetap terjaga agar bisa menceritakan pemandangan kota yang kami lewati untuk tulisanku nanti. Tetapi tidak apa-apa, aku bisa melakukannya dalam perjalanan pulang nanti. Untuk saat ini aku benar-benar tidak bisa menahan kantukku.
Merasakan guncangan pelan pada bahuku, aku membuka mata dan melihat Hendra sedang tersenyum kepadaku. Rasanya aku baru saja tertidur, mengapa dia membangunkan aku secepat ini? “Kita sudah sampai di hotel,” katanya.
Aku melihat ke sekeliling kami. Mobil berhenti di depan sebuah bangunan mewah yang sangat indah. Seorang pria memegang pintu mobil di sisi Hendra agar tetap terbuka. Aku mengusap-usap mataku dan menggumam pelan.
__ADS_1
Hendra keluar dari mobil lebih dahulu, kemudian dia membantuku. Sambil menggandeng tanganku, dia membawaku memasuki lobi hotel kemudian mendekati bagian resepsionis. Begitu urusan dengan pegawai hotel tersebut selesai, seorang wanita mengajak kami untuk menuju lift.
Aku ingin sekali membaringkan tubuhku begitu Hendra menutup pintu kamar dan menguncinya. Tetapi aku tahu bahwa aku harus membersihkan diri dan berganti pakaian sebelum tidur. Hendra memasuki ruang mandi ketika aku sedang membersihkan wajah dan menyikat gigi di wastafel. Aku tidak menunggu hingga dia selesai mandi dan segera tidur lebih dahulu.
Entah sudah berapa lama aku memejamkan mata tetapi bunyi air di kamar mandi tidak juga berhenti. Apakah Hendra masih mandi? Dia hanya bekerja di kantor dan tidak bermain lumpur, apa yang membuatnya mandi begitu lama? Tidak biasanya aku bisa mendengar bunyi air ketika aku dalam keadaan sangat mengantuk. Atau jangan-jangan dia memang sengaja melakukannya untuk mengganggu tidurku?
“Bangun, sayang. Kita harus mengejar kapal pagi ini.” Aku merasakan sebuah ciuman mendarat di pipiku. Bangun? Aku baru saja tidur dan dia sudah menyuruhku untuk bangun? Tidak. Aku masih ingin tidur. Tanpa membuka mata, aku membalikkan badan mencari posisi nyaman lalu mencoba untuk kembali terlelap.
Aku mendengar suara tawa. “Kamu memilih berlibur ke tempat ini, aku pikir karena kamu ingin menjelajahinya. Kalau kamu memang lebih ingin memilih tidur sepanjang hari, baik, kita akan berada di hotel ini sampai kita kembali nanti.” Apa? Berlibur? Aku segera membuka mata.
“Jam berapa ini?” tanyaku masih bingung dengan keadaan di sekelilingku. Aku membalikkan badan dan melihat tirai jendela sudah terbuka. Pemandangan di luar membuatku terkejut. Matahari sudah terbit. Ini bukan malam hari lagi melainkan pagi hari.
“Jam tujuh. Kapal yang kita tumpangi akan berangkat pada jam delapan. Jadi, kalau kamu tidak mau menunggu keberangkatan berikutnya, sebaiknya kamu segera mandi.”
Dia tidak perlu mengatakannya dua kali. Aku bergegas bangun dan segera mengambil pakaian ganti sebelum masuk ke kamar mandi. Suara tawanya masih terdengar sekalipun pintu sudah tertutup. Aku tidak melakukan pekerjaan berat kemarin, apa yang membuatku begitu mengantuk?
Ah, iya. Kami sedang berusaha memberikan cucu kepada orang tua kami. Dia benar-benar serius dengan janjinya itu. Hampir setiap malam kami bercinta, kadang-kadang pada pagi hari juga. Jika aku tidak berhati-hati, aku bisa hamil dalam waktu dekat.
__ADS_1