Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 58 - Inikah Pembalasanmu?


__ADS_3

Tubuhku bergetar dengan hebat. Kesalahanku tidak akan dihukumkan kepadaku. Hendra tidak akan memukul, mengeluarkanku dari rumah, membuatku mati kelaparan, atau menyakitiku. Dia akan menjatuhkan hukuman kepadaku lewat keluargaku.


Ya, Tuhan. Apa yang telah aku lakukan? Papa tidak akan sanggup menjalani tragedi lagi. Rumah itu bahkan baru saja direnovasi. Mama masih menjalani pemulihan jantungnya. Zach, kasihan adikku, dia baru saja menemukan wanita yang bisa membuatnya bahagia.


Siapa yang akan disakitinya lebih dahulu? Papa? Mama? Atau jangan-jangan Zach? Seharusnya aku fokus pada melindungi keluargaku, bukan mengikuti amarahku karena terpancing kalimat yang diucapkan Aldo. Aku tidak mendapatkan kepuasan apa pun dari tidur dengannya, aku tidak merasa amarahku berkurang, yang ada hanya memberi penderitaan kepada keluargaku.


Juga penderitaan kepada diriku sendiri. Aku tidak mau kehilangan dia. Aku sangat mencintai Hendra dan aku baru saja menyadari perasaanku kepadanya. Mengapa rahasia itu terbongkar sekarang? Mengapa terjadi di saat aku belum menyatakan cintaku kepadanya? Mengapa terkuak di saat aku masih mengumpulkan keberanian untuk memberitahu dosaku kepadanya?


Dosa itu begitu besar, aku tahu. Itu yang membuatku takut untuk mengatakannya. Aku menunggu saat yang tepat. Aku tidak berniat menutupi kejadian itu darinya selamanya. Aku hanya menunggu sampai rahasia itu tidak akan terdengar semenyakitkan ini.


“‘Ketika kamu dikhianati, meskipun hanya satu kali, rasanya sama-sama menyakitkan, Hendra.’ Kamu masih ingat dengan kalimat itu?” tanya Hendra dengan suara bergetar. Dan aku menangis. “Satu kali, Za. Kamu tidak bisa memaafkan aku karena satu malam itu. Inikah pembalasanmu? Kamu tidur berkali-kali dengan pria lain untuk membalas sakit hatimu?”


“Hendra, aku mohon, dengarkan aku,” isakku dengan suara perih. Aku menguatkan diri untuk berdiri dan berjalan mendekatinya. Oh, Tuhan. Aku ingin sekali berada dalam pelukannya saat ini.


“Apa yang harus aku dengar darimu?!” ucapnya dengan suara menggelegar. Aku mundur satu langkah. Terkejut dengan suara suamiku yang belum pernah aku dengar sekeras itu. “Bahwa kamu mencintainya? Bahwa kamu menyukai caranya menyentuhmu? Bahwa dia lebih baik dariku? Dia bisa memuaskanmu lebih baik dariku? Iya? Itukah yang mau kamu katakan? Tidak, Za. Aku tidak perlu mendengarnya. Aku tahu.”


“Tapi, aku,” Tidak. Aku tidak mencintai Aldo. Aku mencintai kamu, Hendra. Aku tidak sanggup melihatnya menatapku seperti itu. Dia sangat kesakitan. Dan aku membenci diriku sendiri karena aku yang telah menyebabkannya.

__ADS_1


“Selamat, Za. Kamu berhasil melukaiku. Rasanya sangat sakit dan aku hancur. Ini yang dari dahulu ingin kamu lakukan, bukan? Kamu berhasil menghancurkan aku.” Dia mundur dan menyandarkan tubuhnya ke dinding, lalu menutup wajah dengan kedua tangannya. Aku ingin sekali mendekat dan memeluknya, karena tidak, aku tidak bahagia melihatnya begini.


“Dengar, aku,” Aku berusaha untuk menjelaskannya. Dia menurunkan tangannya dan menatapku dengan mata berair. Hatiku terenyuh melihatnya.


“Kalau kamu pikir aku akan melepaskanmu supaya kamu bisa bersamanya, kamu salah. Aku tidak akan menceraikanmu. Kamu harus tinggal di sini sampai kamu mati,” ucap Hendra dengan tegas. “Kamu bahkan boleh kembali lagi kepadanya untuk menghangatkan tubuhmu. Aku tidak peduli.”


“Hendra,” ucapku memohon. Dia tidak perlu mengatakan semua hal untuk menambah rasa sakitku. Aku tidak akan kembali kepada laki-laki itu atau mencari kehangatan darinya.


“Ada apa? Oh. Kamu takut aku akan membuat keluargamu menderita setelah apa yang kamu lakukan kepadaku?” Dia tertawa kecil dengan nada sedih. “Jangan khawatir. Aku tidak serendah itu. Biar bagaimana pun, mereka keluargaku juga. Abaikan saja semua yang ada di surat perjanjian kita.”


“Apa kamu tidak akan memberiku kesempatan untuk bicara?” Mengapa dia begini? Aku punya hak untuk bicara juga. Dia malah menegakkan tubuhnya dan mendekati pintu.


Dan aku terduduk di tepi tempat tidur. Lega karena keluargaku baik-baik saja, sekaligus terluka karena aku telah menyakitinya. Setelah apa yang dia lakukan untukku dan keluargaku, apa yang aku lakukan kepadanya sangat jahat. Aku tidak hanya sekadar mengkhianatinya. Aku tidur dengan laki-laki lain yang adalah mantan kekasihku.


Dua kali. Mengapa Aldo mengatakan bahwa kami sudah tidur dua kali di hotel yang sama? Kami hanya melakukannya satu kali dan aku segera pergi dari tempat itu ketika dia masih pulas. Aku juga tidak punya hubungan apa pun lagi dengannya. Tidak sebelum atau setelah kami tidur bersama.


Apakah ini caranya untuk membalas perbuatanku di masa lalu? Aku meninggalkannya dalam amarah, lalu menikahi Hendra. Itukah sebabnya dia tidak berhenti mendatangiku lagi sejak pertama kali kami bertemu? Bodohnya aku. Aku tidak menjaga diriku dengan baik. Aku masuk dalam jebakannya.

__ADS_1


Mungkin ini sisi Aldo yang dilihat oleh Papa, Mama, dan Hendra yang tidak pernah aku perhatikan sebelumnya. Orang tuaku bersikeras agar aku menikah dengan Hendra. Seolah gayung bersambut, Hendra juga tidak berhenti berjuang mendapatkan aku. Apakah karena mereka sudah tahu seperti apa Aldo yang sebenarnya?


Pada pagi harinya, aku merasakan mataku sangat perih. Aku menyentuh sisi kosong di tempat tidur. Di mana biasanya Hendra berbaring. Permukaan tempat tidur itu dingin, pertanda tidak ada orang yang tidur di sana sepanjang malam. Aku benar-benar tidur sendiri.


Aku membersihkan wajah dan menyikat gigi sebelum turun ke ruang makan. Hendra sudah berada di sana sedang menikmati sarapannya. Seorang diri. Aku menyapanya, tetapi dia tidak menjawab. Menoleh ke arahku pun tidak.


Yuyun menolong menyendokkan bubur ke dalam mangkuk kosong di depanku. Aku berterima kasih kepadanya, lalu menambahkan sendiri campuran yang tersedia di hadapanku. Ponsel Hendra yang ada di atas meja bergetar. Dia segera menjawabnya.


“Iya. Untuk dua minggu. Iya, berangkat minggu depan. Tidak, aku pergi sendiri. Baik.” Dua minggu? Minggu depan? Apakah dia akan pergi lagi untuk urusan pekerjaan? Tetapi dia baru saja pulang.


“Apa kamu akan pergi menemui Xavier lagi?” tanyaku memberanikan diri.


“Tidak. Ada sebuah hotel yang dijual dan mereka menawarkannya pertama kali kepadaku karena aku pernah memintanya,” jawabnya dengan nada dingin.


“Aku senang kamu mulai melihat bidang lain untuk usahamu.”


“Kamu pasti lebih senang lagi karena bisa menemui kekasihmu itu saat aku sedang tidak di sini, ‘kan?” Dia berdiri dan berjalan mendekati pintu. Kalimat itu memukulku dengan sangat keras, tepat di jantungku. Rasanya sakit sekali.

__ADS_1


Meskipun aku tahu hal ini tidak akan ada gunanya, aku tetap mengikutinya menuju bagian depan rumah. Dia hanya menyapa dan pamit kepada Abdi. Kafin melihat ke arahku sejenak sebelum dia mengendarai mobil menjauh dari depan rumah.


Semula aku berpikir bahwa hal yang paling menyakitkan di dunia ini adalah ketika orang yang aku percayai mengkhianatiku. Atau ketika usaha keras dan cintaku ditolak. Ternyata yang paling menyakitkan adalah ketika aku menyakiti orang yang semula tidak memiliki arti apa pun dalam hidupku. Yang tanpa aku sadari sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dariku. Dan aku baru mengetahuinya saat segalanya sudah terlambat.


__ADS_2