
Aku tidak merasakan ada yang salah pada tubuhku. Aku selalu memerhatikan makanan yang aku makan, menjaga pola tidur yang teratur, bahkan melakukan olahraga ringan yang tidak membebani tubuhku setiap hari. Tetapi bagaimana bisa aku menderita kanker?
Nenek dan Ibu meninggal karena kanker. Itu sebabnya aku menjaga diri dengan baik. Tetap saja penyakit itu datang. Ini pasti karena stres yang aku alami beberapa tahu terakhir. Wanita itu bukan hanya membawa masalah pada putraku tetapi juga reputasi keluarga kami.
Tidur dengan laki-laki lain saat anakku telah memperlakukan dia layaknya ratu selama mereka menikah. Dia bahkan berani berbohong kepadaku dan mengatakan bahwa pria itu bukan siapa-siapa ketika kami bertemu di salah satu konser amal yang aku adakan. Pembohong.
Aku tahu bahwa wanita itu bukan calon istri yang baik untuk putraku. Dia telah menolak lamarannya berulang kali. Itu adalah sebuah pertanda yang seharusnya tidak aku abaikan. Aku terlalu mencintai Hendra sehingga setuju saja dengan keputusannya untuk menikahi wanita itu. Perempuan yang tidak berasal dari kalangan kami yang tidak tahu pentingnya menjaga citra keluarga.
Selama mereka menikah, dia juga tidak terlihat antusias mencintai Hendra. Sikapnya dingin dan aku mengenyampingkannya karena aku pikir begitulah caranya berekspresi. Satu lagi tanda yang aku abaikan. Dan pria itu menggunakan momen yang paling tepat untuk mempermalukan kami semua. Ketika merayakan usia kandungannya yang ketujuh bulan, di depan banyak orang.
Melihat pria itu dengan mata kepalaku sendiri, aku mengerti mengapa dia mau saja memberikan tubuhnya kepada mantannya itu. Dia adalah jenis pria yang akan membuat wanita muda jatuh cinta. Dia tampan, memiliki tubuh yang bagus, tipe yang pasti disukainya.
Aku tidak akan mengatakan bahwa putraku tidak tampan. Dia hanya memiliki pesona yang berbeda dari pria pada umumnya. Meskipun wajahnya tidak bisa dibandingkan dengan mantannya itu, ada banyak wanita yang mau menikah dengannya. Aku tahu sebagian dari mereka hanya menginginkan harta dan statusnya, tetapi sebagian lagi tulus jatuh cinta kepadanya karena dirinya.
Nora bukan hanya cantik dan menarik, dia juga berasal dari keluarga yang sederajat dengan kami. Dia tahu setiap tata krama yang kami junjung tinggi karena dia telah dididik demikian dari kecil. Yang paling penting, dia tulus mencintai Hendra. Aku mengerti perasaannya itu yang mendorong dia melakukan hal yang tidak benar. Tetapi dia mengaku, menyesal, dan meminta maaf. Dia berhak untuk mendapatkan kesempatan yang kedua.
Aku tidak mau lagi bertaruh dengan wanita yang tidak punya perasaan apa-apa kepada putraku, yang juga tidak punya rasa hormat kepadanya seperti Zahara. Nora mencintai dan menghormati putraku. Dia juga menghormati dan menyayangi aku dan Adhy. Bila Hendra belum punya perasaan apa pun kepadanya sekarang, dia akan merasakannya suatu hari nanti.
“Sayang, tolong buka pintunya. Jangan percaya pada sesuatu tanpa ada buktinya. Gista bukan putriku. Aku bahkan tidak pernah hubungan apa pun di masa lalu dengan istri sahabatku. Sayang, dengarkan aku.”
Konferensi pers perayaan ulang tahun pernikahan putraku hari ini berakhir dengan buruk. Seorang wartawan menyebut bahwa Gista adalah anak haram suamiku. Berita itu telah membuat semua kerabat dan sahabat kami menelepon tiada henti. Setelah skandal yang Zahara lakukan, sekarang giliran suamiku?
__ADS_1
Aku tahu bahwa dia adalah suami yang setia. Bisikan miring yang menyatakan bahwa dia ada main dengan seorang perempuan di belakangku tidak pernah aku gubris. Mereka hanya cemburu karena kami bahagia dan jauh dari masalah.
Tetapi bila menantuku yang manis, baik, dan sopan itu ternyata bukanlah apa yang dia tunjukkan selama ini di depanku, maka tidak mustahil bahwa suamiku juga begitu. Dia begitu baik, setia, dan sayang kepadaku, ternyata tidur dengan wanita lain di belakangku. Aku percaya pada satu fakta bahwa tidak ada asap bila tidak ada api.
Gosip itu tidak akan muncul bila dia benar-benar suami yang setia.
Ponselku bergetar untuk kesekian kalinya. Aku membaca nama pada layar. Nora. Syukurlah. Aku memang sedang membutuhkan orang untuk diajak bicara. Aku segera menyapanya.
“Aku turut sedih atas apa yang terjadi, Tante,” katanya dengan penuh simpati. “Om sangat baik, aku benar-benar tidak menduga bahwa dia sanggup melakukan itu.”
“Aku sudah curiga, jadi ini hanya mengonfirmasi dugaanku saja.” Aku mendesah pelan.
“Apa yang akan Tante lakukan selanjutnya? Apa ada yang bisa aku bantu?” tanyanya.
“Benar, Tante. Sebentar lagi Tante akan menjalani operasi. Apa Tante akan baik-baik saja di rumah? Kalau Tante butuh tempat untuk menenangkan diri, aku bisa menyediakan satu suite di hotel untuk tempat Tante bermalam sampai hari operasi nanti.” Dia memang gadis yang baik.
“Tidak. Aku akan lebih mudah beristirahat di rumahku sendiri. Terima kasih, Nak.”
“Atau Tante mau aku memeriksa apa benar Gista adalah putri kandung Om?” tanyanya lagi. Aku terdiam sejenak.
Mengapa dia begitu bersemangat untuk membantu? Memeriksa DNA tidak bisa dilakukan tanpa persetujuan kedua orang yang akan dites. Meskipun aku berkata iya dan memberi izin, dia masih butuh kata iya dari Adhy. Aku yakin dia tidak akan mau melakukannya. Dia tidak akan mau mempertaruhkan nama baiknya pada selembar kertas.
__ADS_1
Bahkan untuk legalitas kedua anak Zahara saja, hanya aku yang masih mempertanyakan siapa ayah kandung dari kedua anak itu. Suamiku percaya bahwa mereka adalah cucu kandung kami, anak dari putra kami, tanpa perlu melihat hasil tes mereka.
“Tidak perlu, Nora. Ini hal yang bisa kami bicarakan. Tidak perlu sampai bertindak seekstrem itu.” Aku memutuskan untuk menolaknya walau sedikit tergoda untuk melakukannya.
Mendengar bagaimana dia bicara denganku membuat aku merasa nyaman. Aku membutuhkan orang yang bisa memahami perasaanku tanpa menasihati aku untuk bersikap baik kepada suamiku. Saat ini aku hanya ingin marah kepadanya.
“Kalau Tante tidak mau menginap di hotel milik keluargaku, aku punya usul yang lebih baik. Tante tahu bahwa aku mendapat voucher menginap gratis untuk dua orang di hotel milik Hendra. Apa Tante mau ikut pergi bersamaku pada akhir pekan ini?” tanyanya. Dia pasti lupa bahwa pada hari Senin nanti aku akan menjalani operasi.
“Nora, aku harus istirahat yang cukup pada hari Minggu dan memulai puasaku. Aku tidak bisa melakukan perjalanan pada akhir pekan ini dan mungkin untuk beberapa waktu ke depan,” kataku mengingatkannya. Dia menarik napas terkejut.
“Oh, iya. Aku lupa. Maafkan aku, Tante,” ucapnya pelan.
“Semoga kamu tidak lupa bahwa aku akan masuk rumah sakit pada hari Minggu sore.” Aku mengingatkan dia lagi. Dia tertawa kecil.
“Tentu saja tidak, Tante. Aku akan datang dan kita berangkat bersama ke rumah sakit.” balasnya cepat. Aku tersenyum mendengarnya.
Adhy masih berusaha untuk membujuk aku agar membukakan pintu, maka aku pun mengalah. Aku sudah bukan anak kecil lagi atau remaja yang membiarkan emosi mengendalikannya. Dia menatap aku sesaat sebelum memelukku begitu erat. Aku memejamkan mata merasakan kehangatannya.
“Aku serius, sayang. Aku setia kepadamu. Aku tidak pernah tidur dengan perempuan lain sebelum atau setelah kamu. Percayalah,” katanya lagi, masih berusaha untuk menjelaskan.
“Kita bicarakan ini lain hari saja, ya.” Aku memberinya sedikit dorongan agar dia melepaskan pelukannya. Adhy menatapku dengan saksama.
__ADS_1
“Aku tidak percaya ini. Kamu lebih mendengarkan ucapan seorang wartawan yang tidak kamu kenal daripada aku, suamimu, yang sudah bersamamu selama empat puluh tahun?”