
~Hendra~
Hampir satu jam dalam perjalanan, melewati padatnya lalu lintas pada akhir pekan, akhirnya kami tiba juga di rumah Papa dan Mama. Kepala pelayan membukakan pintu untuk kami dan mengantar kami ke ruang tamu.
Papa dan Mama duduk berdampingan pada satu sofa, lalu di depan mereka ada seorang pria dan wanita setengah baya. Mereka pasti orang tua Gista. Pria itu dan Mama terlihat begitu tegang, sedangkan Papa dan mama Gista terlihat seperti orang yang kalah perang.
“Duduklah, Hendra, Zahara,” ucap Papa yang melihat ke arah kami. Aku mempersilakan istriku duduk terlebih dahulu, lalu aku duduk di sisinya.
“Kamu tidak bisa menjawab sendiri pertanyaanku, jadi kamu mengundang anakmu untuk menjadi pembelamu. Begitukah, Adhy? Kamu tidak bisa menjawab pertanyaan sesederhana, kapan pertama kali kamu bertemu istriku?” tanya papa Gista.
“Aku sudah menjawabnya berulang kali, pada hari reuni kampus kita. Itu sepuluh tahun yang lalu. Aku mengingatnya karena kamu kemudian mengundang aku untuk menghadiri pesta ulang tahun Gista yang ketujuh belas. Jawaban apa lagi yang kamu inginkan, Ken?” tanya Ayah frustrasi.
“Lalu bagaimana bisa Gista adalah putrimu bila kalian baru pertama kali bertemu sepuluh tahun yang lalu?!” hardik papa Gista dengan kesal.
“Gista adalah putri kandungmu, Ken.” ucap mama Gista. “Yang kita lakukan ini sangat memalukan. Temanmu tidak pernah ada hubungan denganku dan kamu telah menuduhnya sembarangan.”
“Buktikan bahwa dia bukan putrimu,” kata pria itu lagi. Papa tertawa kecil. Dia melihat ke arah aku dan Zahara. “Mengapa kamu malah tertawa?”
“Aku mengerti perasaan kalian sekarang, Nak. Ketika kata-katamu tidak lagi dipercaya dan orang hanya mau percaya bila ada bukti pada secarik kertas. Itu perasaan yang tidak menyenangkan.” Ayah menggeleng pelan. “Pertama istriku, lalu sekarang sahabatku.”
“Maafkan aku menyela.” Aku meletakkan sebuah amplop di atas meja di depan papa Gista. “Silakan baca hasil tes ini. Ini bukti yang Om minta.”
Pria yang aku tahu bernama Kenzie itu segera mengambil amplop tersebut dan mengeluarkan isinya. Itu adalah hasil tes DNA antara Ayah dan Gista. Aku segera meminta mereka untuk melakukannya karena aku tahu bahwa kami akan membutuhkannya.
Gista sangat marah sekaligus malu karena harus melakukan tes itu. Dia sampai meminta maaf berulang kali karena sudah menyebabkan nama baik Papa ikut terseret. Kami menganggapnya hal biasa. Menjadi orang besar sangat berisiko dan kami sudah terbiasa dengan fitnah dan skandal.
__ADS_1
“Probabilitas Adhyana Perkasa sebagai ayah biologis dari Gista Hariyani adalah nol persen.” Papa Gista membaca kesimpulan dari tes tersebut.
“Kamu yakin bahwa hasil tes itu autentik dan tidak kamu manipulasi?” tanya Mama kepadaku. Aku menatapnya sesaat sebelum memberi jawaban.
“Aku bukan Nora,” kataku dengan tegas. Mama segera memasang wajah tidak suka saat aku menyebut nama itu. Aku tidak peduli. Mama harus tahu siapa wanita itu dan siapa aku. Aku berusaha untuk menahan amarahku karena aku bosan terus dituduh memanipulasi hasil tes.
“Papa dan Mama tidak pernah mengajari aku menjadi seorang pembohong dan manipulatif. Hasil tes ini dilakukan di rumah sakit langganan kita. Mama tahu sendiri bahwa setiap dokter dan semua stafnya tidak bisa disuap. Karena itu kita memercayai mereka dalam membantu kita menjaga kesehatan keluarga kita.” Aku menatap Mama tanpa berkedip.
“Maafkan aku, Adhy,” Om Kenzie menundukkan kepala, menyesali perbuatannya.
“Kamu seharusnya meminta maaf kepada Hagia. Istrimu yang paling sakit hati karena kamu telah menuduhnya selingkuh.” Papa menoleh ke arah Mama. “Tidak dipercayai oleh pasangan kita sendiri itu sangat menyakitkan.”
“Maafkan aku, sayang. Maafkan aku.” Om Kenzie segera memeluk istrinya. Mereka menangis bersama. Aku yakin selama beberapa hari terakhir ini mereka bertengkar hebat sejak isu itu menyebar di berbagai media berita.
Pasangan suami istri itu pamit pulang setelah berulang kali meminta maaf kepada Papa dan Mama. Kami berdiri di teras sampai taksi yang mereka tumpangi tidak terlihat lagi. Orang tuaku masuk ke rumah, aku dan istriku mengikuti mereka.
“Kamu tidak harus memercayai hasil tes itu. Percayai saja apa yang kepala dan hatimu katakan. Atau apa yang Nora katakan,” ucap Papa saat kami duduk bersama di ruang keluarga.
“Nora tidak mengatakan apa pun mengenai ini,” kata Mama kesal. “Mengapa kalian terus saja menyalahkan gadis itu setiap kali aku mengatakan pendapatku?”
“Karena kamu bukan orang yang mudah menuduh keluarga sendiri melakukan hal sejahat itu. Hendra memanipulasi hasil tes DNA antara aku dan Gista? Untuk apa? Aku yakin setelah melihat hasil tes ini pun, kamu masih tidak percaya kepadaku.” Papa melambaikan amplop tersebut.
“Pa, maafkan kelancanganku.” Za menyela. Aku menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan bingung. Sejak kapan dia memanggil Papa dengan kata itu lagi? Dan Papa kelihatannya tidak keberatan. Apa sesuatu telah terjadi saat kedatangannya kemarin?
“Tante akan menjalani operasi lusa nanti. Sebaiknya kita tidak membuat Tante gelisah atau khawatir. Maaf, aku tidak bermaksud menasihati Papa,” ucap Za segan. Papa tersenyum.
__ADS_1
“Tidak perlu berlagak membela aku. Aku bisa membela diriku sendiri. Yang kamu lakukan itu sangat tidak sopan dengan menyela orang tua yang sedang bicara,” kata Mama marah.
“Maafkan aku, Tante,” ucap Za pelan. Aku menahan diri untuk tidak membela istriku. Mama pasti akan semakin marah dan itu tidak baik untuk kesehatannya. Za benar. Kami harus menjaga perasaan Mama. Dia akan menjalani operasi besar pada hari Senin nanti.
“Aku dan Za pamit, ya, Pa. Hari ini kami sedang bebas dari anak-anak, jadi kami ingin menikmati hari berdua saja.” Aku mengedipkan sebelah mataku kepada Papa.
“Ah, tentu saja, Nak.” Papa ikut berdiri saat aku dan Za berdiri. Mama masih tetap duduk.
“Aku pamit, ya, Ma. Sampai hari Senin.” Aku memeluk dan mencium pipinya. Dia membalas pelukanku. Itu pertanda baik. Meskipun dia tidak meminta maaf telah menuduh aku tadi, aku akan biarkan hal ini berlalu dan tidak mengungkitnya lagi.
Papa ikut berjalan bersama kami menuju pintu depan. Masalah ini akan segera berlalu, jadi aku tidak mengkhawatirkan apa pun lagi. Setidaknya, orang tua Gista sudah tahu bahwa Papa bukanlah ayah biologis dari putri mereka. Kasihan gadis itu. Dia harus terlibat dalam drama keluarga kami.
“Bagaimana dengan sumber dari berita bohong itu? Apa kamu sudah mengetahui orangnya?” tanya Papa begitu kami berdiri bersama di teras.
“Iya. Dia orang yang sama yang telah melindungi Vivaldo dari kejaran polisi.” Orangnya begitu dekat, tetapi aku tidak menyadarinya. Aku malah fokus kepada ketiga orang yang selama ini telah berbuat jahat kepada kami.
“Apa maksudmu? Bukankah dia sudah ditangkap?” tanya Papa bingung.
“Iya. Tetapi dia masih tutup mulut mengenai orang yang ikut terlibat bersamanya dalam kasus korupsi besar yang menjeratnya. Dia akan dipenjara cukup lama ditambah percobaan pembunuhan yang telah dilakukannya.” Aku merangkul pundak istriku.
“Percobaan pembunuhan?” tanya Papa khawatir. Berita itu sengaja ditutup dari media karena aku tidak mau fokus mereka kembali kepada aku dan Za. Pihak kepolisian juga setuju untuk tetap fokus pada kasus korupsi yang telah Vivaldo lakukan untuk sementara waktu.
“Pada pesta ulang tahun Za, dia tiba-tiba saja muncul dan mencoba menyakitinya. Ara berhasil menolongnya. Papa jangan khawatir.” Aku tersenyum. Papa menatap sedih.
“Ya, Tuhan. Apa kesalahanku di masa lalu sehingga anak-anakku yang mendapatkan kesulitan dalam hidup mereka?” Papa mengusap wajah dengan tangannya. “Aku tidak mengerti dengan semua hal yang terjadi belakangan ini.”
__ADS_1
“Ini bukan kesalahan Papa. Kita yang mengizinkan orang-orang itu masuk dalam kehidupan kita. Vivaldo, Nora, dan Dicky. Sayangnya, kita tidak tahu bahwa mereka sanggup berbuat jahat untuk mendapatkan keinginan mereka.” Aku mengangkat kedua bahuku.
“Jadi, siapa yang di antara mereka bertiga yang telah memfitnah aku?” tanya Papa ingin tahu.