
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Hendra saat kami sudah berada di dalam mobil. Aku tertegun sejenak. Apa yang baru saja terjadi tadi. “Sayang? Kamu tidak apa-apa?”
“A,” kataku pelan. “Mereka meremas bokongku, ada juga yang memegang punggungku.” Hendra menatapku dengan mata marah. Dia melihat ke sekujur tubuhku.
“Mengapa kamu tidak bilang? Ada yang melakukan itu kepadamu? Mereka ada di kerumunan itu?” tanyanya geram. Aku mengangguk. “Berengsek. Apa yang ada di dalam kepala mereka?”
“Aku bukan wanita murahan, Hendra,” kataku pelan. Dia menggeleng.
“Sayang, tentu saja bukan. Kamu wanita yang terhormat. Istri Mahendra Perkasa adalah seorang yang terhormat. Mereka tidak akan lolos dariku. Kamu jangan khawatir, ya. Aku akan menghukum mereka semua.” Dia membelai wajahku. Aku mengangguk pelan.
“Pikirkan hal yang menyenangkan saja. Kita akan punya malaikat kecil ketiga di rumah kita. Fokus pada kesehatanmu. Biar aku yang menangani semua orang jahat itu. Mereka semua hanya berani di depan orang banyak. Kamu sudah melihat sendiri apa yang dilakukan oleh para penyerangmu di supermarket. Mereka hanya menunduk tidak berani menatapmu.”
Dan itulah yang aku lakukan. Aku fokus pada kesehatanku. Aku terus mengingatkan diriku sendiri bahwa aku tidak akan hancur karena ulah mereka. Vivaldo memang jahat. Sangat jahat. Dia tega mengatakan dalam wawancara bahwa aku tidak puas dengan suamiku dan mencari kepuasan lagi dari laki-laki lain. Sekarang semua orang berpikir bahwa aku perempuan gampangan yang mau saja disentuh oleh laki-laki mana pun.
Hendra menghujaniku dengan begitu banyak cinta, menolongku untuk fokus pada bayi kami. Dia selalu pulang dengan membawa buket bunga dan sekeranjang buah-buahan. Will mencurigai sesuatu, tetapi dia hanya tersenyum penuh arti dan tidak mengatakan apa pun.
Dia tidak selalu pulang tepat waktu seusai jam kelas terakhir. Kadang-kadang Will datang menjemput Colin bersamaan dengan Hendra. Wajar saja dia curiga karena setelah beberapa hari Hendra selalu pulang malam, mendadak dia pulang cepat. Padahal acara spesial kantornya belum selesai.
“Waahh …! Mama cantik sekali!” puji Hadi saat aku keluar dari kamar. Aku mengenakan gaun malam berwarna biru lembut, lengkap dengan kalung berlian pemberian Hendra. Rambutku ditata dengan indah dengan spiral pada ujungnya serta wajahku dirias dengan warna-warna lembut. Sepatu berhak tinggi berwarna putih gading menyempurnakan penampilanku.
Aku bertengkar hebat dengan Hendra mengenai sepatu ini tetapi aku keluar sebagai pemenangnya. Orang-orang bisa curiga melihat aku memakai sepatu berhak datar. Hanya ada dua acara besar yang akan aku hadiri pada minggu ini. Setelahnya, aku akan terus memakai sepatu berhak datar.
“Anak mama justru jauh lebih ganteng.” Aku tersenyum puas melihatnya tampil sempurna dengan tuksedonya, serasi dengan papanya.
__ADS_1
“Putri mama cantik sekali.” Aku mencium Dira yang mengenakan gaun dengan warna yang sama denganku. Dia tertawa bahagia.
“Kalian berdua sama cantiknya.” Hendra mengecup bibirku. Kemudian dia meletakkan wajahnya dekat dengan telingaku. “Aku masih marah dengan sepatu yang kamu pakai itu.” Aku tertawa geli.
Kami menuju sebuah hotel dan melihat spanduk besar menutupi sepertiga gedung megah tersebut. Ucapan selamat ulang tahun kepada perusahaan milik keluarga suamiku. Ada begitu banyak wartawan yang meliput acara tetapi mereka hanya diizinkan berada di depan pintu masuk hotel. Tidak ada seorang pun yang berada di bagian dalam.
Tanpa menjawab pertanyaan yang mereka ajukan, kami berdiri di depan mereka beberapa waktu dan membiarkan mereka mengambil foto kami bersama. Hanya mereka yang membenciku dan tidak punya penglihatan yang baik yang tidak bisa melihat kemiripan suamiku pada wajah anak-anak kami. Hendra berterima kasih kepada mereka lalu mengajakku untuk masuk ke hotel.
Seorang wanita cantik yang berpakaian tidak kalah indahnya denganku menyambut kami lalu mengantar kami menuju aula. Sekretaris suamiku itu masih muda tetapi dia bersikap sangat sopan kepadaku dan Hendra. Dia sama sekali tidak punya tatapan yang sama seperti cara Sherry menatap suamiku. Semoga saja itu tidak akan berubah.
Aula sudah dipenuhi dengan para tamu yang segera aku kenali. Sudah lama sekali rasanya aku tidak menghadiri acara sebesar ini bersama Hendra. Tatapan penuh kekaguman dicampur rasa cemburu dan benci kini menjadi pemandangan baru bagiku. Dahulu tidak ada yang membenciku. Mereka selalu kagum atau cemburu kepadaku.
Hadi dan Dira segera bergabung dengan Charlotte dan Zeph yang juga menghadiri acara tersebut. Rasmi dan Lindsey mengajak serta pengasuh mereka, jadi aku tidak khawatir meninggalkan anak-anak dalam pengawasan mereka.
Meskipun teman-temanku hadir, aku tidak bisa bergabung bersama mereka. Aku harus berada di sisi Hendra karena kamilah tuan rumah acara ini. Kami duduk bersama Papa dan Mama juga. Tetapi kami hanya saling menyapa seperlunya.
Pembawa acara memulai perayaan besar tersebut. Penampilan demi penampilan artis memeriahkan acara, diselingi dengan berbagai penghargaan yang diberikan kepada setiap pegawai sesuai kategori yang mereka menangkan. Jika Papa yang membuka acara, maka Hendra yang menutup acara dengan pidato singkatnya.
Lalu Papa serta beberapa orang yang aku tahu adalah mereka yang mempunyai kedudukan penting di perusahaan ikut naik ke panggung. Meja diletakkan di depan Papa dan Hendra, kemudian mereka diminta menandatangani berkas yang ada di atasnya. Terakhir, ayah dan anak itu berjabatan tangan sebagai tanda resmi berakhirnya kepemimpinan Papa dan dimulainya era Hendra.
Gemuruh tepuk tangan memenuhi aula tersebut. Acara perayaan pun berakhir diikuti dengan acara makan malam. Para pelayan yang sudah bersiap segera menuju meja demi meja untuk mengantar makanan. Papa dan Hendra mengobrol dengan santai, sedangkan aku dan Mama hanya mendengar.
“Sayang, aku ke toilet sebentar, ya,” bisikku kepada Hendra. Dia menatapku dengan khawatir.
__ADS_1
“Seharusnya aku bertahan untuk melarangmu tidak memakai sepatu itu,” ucapnya.
“Aku akan berhati-hati. Kamu ini berlebihan. Aku segera kembali.” Aku meletakkan serbet ke atas meja, dia menganggukkan kepalanya.
Kamar kecil khusus wanita itu tidak ramai, jadi aku bisa memilih satu bilik yang kosong. Aku sangat berharap salah satu temanku akan ada di ruangan ini agar kami bisa berbincang sesaat. Ternyata mereka tidak ada. Aku bosan hanya duduk diam tanpa bisa berbincang lagi dengan Papa dan Mama dengan akrab seperti sebelumnya.
Setelah mencuci tangan dan memastikan bahwa penampilanku masih rapi, aku keluar dari toilet. Langkahku terhenti saat seseorang berhenti di depanku. Aku mengangkat kepala dan bertemu pandang dengan seorang pria. Aku tidak mengenalnya.
“Apa kamu butuh seseorang malam ini untuk menghangatkan ranjangmu?” tanya pria itu dengan senyum di wajahnya.
“Kalau satu tidak cukup, kami berdua bisa memuaskan kamu secara bersamaan,” kata pria lain yang tidak aku sadari berdiri di sisinya.
“Maaf, aku bukan perempuan seperti itu.” Aku mundur dan berjalan ke kanan yang masih bisa aku lewati, tetapi pria kedua bergeser agar aku tidak bisa jalan. “Tolong, biarkan aku lewat.”
“Tidak perlu malu-malu begini. Apa karena kami tidak berotot, lalu kamu pikir kami tidak akan bisa memuaskan kamu di ranjang?” Pria kedua itu mencoba menyentuh pipiku. Aku mundur.
Aku melihat ke sekelilingku. Ke mana semua orang? Mengapa mendadak koridor ini sepi? Apa tidak ada yang berniat menggunakan toilet setelah beberapa waktu mengikuti acara? Setahuku tadi masih ada beberapa wanita yang menggunakan kamar mandi sebelum aku.
“Aku tidak membutuhkan apa pun, jadi, tolong, biarkan aku lewat.”
“Hendra pasti merawatmu dengan mahal. Apa dia meminta bayaran dari laki-laki yang mau tidur denganmu? Kami punya uang jika itu yang kamu khawatirkan. Kami tidak akan tidur denganmu secara cuma-cuma,” kata pria pertama, menyentuh rambutku. Aku segera mundur.
“Punya dua anak dan badan kamu masih bagus. Istriku saja tidak bisa kembali seperti ini setelah putra pertama kami lahir. Ternyata rahasianya adalah berhubungan badan dengan banyak pria. Hebat juga dia tahan melihat istrinya bersama laki-laki lain.” Pria kedua kembali mencoba menyentuh pipiku. Aku tidak tahan lagi.
__ADS_1
“Toloong!!” Aku berteriak sekuat tenaga. Mereka segera menutup mulutku dan memegang tanganku. Apa yang terjadi? Ke mana semua orang?