
“Sayang, aku sudah mendengar begitu banyak hal jahat yang sanggup wanita itu lakukan untuk mendapatkan apa yang dia mau. Dia bahkan menyakiti putra dan menantuku, menghina kedua cucuku, dan bermain-main dengan reputasi kita. Berita apa pun mengenai dia dan orang tuanya sudah tidak membuat aku terkejut lagi.” Papa menatap Mama dengan santai.
“Aku justru terkejut melihat kamu yang masih saja percaya dan berpihak kepadanya.” Papa menggeleng pelan. “Dia membawakan steak untukmu, itu adalah bukti bahwa dia sama sekali tidak tulus memerhatikan kamu. Dan semuanya semakin jelas saat dia tidak ada di sini bersama kita.”
“Kamu pasti merasa menang sekarang.” Mama memasang wajah cemberut. “Aku hanya memberi dia kesempatan untuk membuktikan bahwa dia bisa berubah seperti yang dia janjikan. Aku tidak tahu bahwa dia bukanlah orang yang bisa dipercaya.” Papa mendengus pelan.
Pintu kamar diketuk, lalu seorang wanita masuk dan meletakkan sebuah baki di atas meja beroda yang ada di depan Mama. Kami serentak berterima kasih kepadanya. Ada semangkuk buah dan jus untuk Mama. Aku menuang saus salad agar Mama bisa menikmati buah tersebut.
Menonton beberapa saat, Mama tertidur. Papa menggeser meja dengan hati-hati, sedangkan aku merapikan kembali piring dan peralatan makan yang kami gunakan tadi. Aku keluar kamar sejenak untuk menelepon Mama dan menanyakan keadaan Dira. Aku lega mendengar bahwa dia baik-baik saja dan menikmati waktunya bersama kakek, nenek, dan anjing kesayangannya.
Beberapa menit melewati jam dua belas siang, Mama terbangun dan kami makan bersama. Dia terlihat sangat senang bisa menyantap makanan buatan koki kami dan bukan buatan rumah sakit. Aku dan Papa tertawa kecil melihatnya. Selama suasana hati Mama baik, maka pemulihannya bisa berlangsung dengan cepat.
Setengah jam kemudian seorang suster datang dan memberikan obat untuk Mama minum. Dan untuk pertama kalinya, aku bertemu dengan seorang pemandu khusus untuk membantu Mama melakukan olahraga ringan. Mama diminta untuk menarik napas dalam-dalam secara perlahan dan menghembuskannya juga secara perlahan.
Aku memerhatikan dengan baik apa yang mereka lakukan berdua. Apa gerakan pertama, kedua, ketiga, dan yang terakhir. Ada total empat gerakan yang berbeda yang Mama lakukan yang mereka sebut sebagai olahraga ringan. Setiap gerakan diminta untuk dilakukan sebanyak sepuluh kali.
“Pada saat pulang ke rumah nanti, gerakan ini perlu dilakukan secara rutin agar pemulihan pascaoperasi berlangsung lebih cepat. Jadi, perlu ada yang membantu Ibu Naava dan mengingatkan mengenai senam ini. Dokter masih memberi obat pereda rasa sakit, jadi setengah jam setelahnya olahraga ini bisa dilakukan agar nyerinya tidak terlalu terasa.” Wanita itu menjawab pertanyaanku.
__ADS_1
“Aku akan setia mendampingi istriku sampai dia pulih, jangan khawatir.” Papa mengedipkan matanya kepada Mama.
“Senam kali ini sudah cukup. Saya akan kembali lagi setelah makan malam.” Wanita tersebut pamit. Kami serentak mengucapkan terima kasih kepadanya.
“Bagaimana keadaanmu, sayang?” tanya Papa yang mengusap tangan Mama.
“Aku lelah dan mengantuk. Padahal hanya melakukan gerakan kecil saja.” ucap Mama pelan. Kami membiarkan Mama tidur dan melakukan aktivitas kami masing-masing. Papa menonton televisi, sedangkan aku mengetik dengan laptopku.
Menepati janji mereka, sore itu teman-teman datang menjenguk Mama. Darla menelepon aku terlebih dahulu untuk memastikan bahwa Mama dalam keadaan bangun. Mereka tidak ingin mengganggu waktu istirahatnya.
Mama senang melihat berbagai buah dan bunga segar yang mereka bawa. Teman-teman berbagi cerita lucu sehingga Mama tidak terlalu memikirkan mengenai operasi yang baru dijalaninya. Claudia dan Mason pamit lebih dahulu untuk pergi ke bandara. Malam ini mereka akan kembali ke Amerika.
Pada keesokan harinya, aku datang lebih cepat. Aku bisa bertemu dengan kedua dokter yang menangani Mama. Dokter bedah dan onkologi. Dokter bedah memberi kami instruksi kapan waktu yang tepat untuk membuang cairan pada wadah yang mereka pasang di dekat selang pada dada kiri Mama. Karena masih ada cairan yang dikeluarkan oleh tubuh, selang itu mungkin masih akan dipakai saat Mama pulang ke rumah. Dia meminta kami untuk menuang cairan pada gelas ukur dan mencatatnya sebelum membuang cairan tersebut.
Dokter meminta kami untuk memerhatikan kapan saja suster datang untuk mengurus Mama dan apa yang perlu dilakukan. Karena kami yang akan meneruskan tugas tersebut saat Mama dirawat di rumah nanti. Hendra benar. Persiapan menjelang operasi itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan kerepotan pada masa pemulihan.
Tiga hari berada di rumah sakit, Mama diizinkan pulang dan melanjutkan perawatan di rumah. Aku membantu mengemas barang pribadi Papa dan Mama, sedangkan Hendra yang mengurus segala hal yang ada hubungannya dengan bagian administrasi.
__ADS_1
Seorang suster membantu mendorong kursi roda Mama dan mengantar sampai ke mobil. Papa memindahkan Mama dengan hati-hati dari kursi ke jok belakang mobil. Aku tersenyum melihat betapa mesranya mereka. Sopir Papa menerima tas dariku dan memasukkannya ke bagasi.
Aku dan Hendra mengikuti mereka menuju rumah. Suamiku meminta Kafin untuk mampir ke sebuah toko bunga. Kami membeli satu buket bunga mawar merah. Mama selalu cemburu setiap kali Hendra memberikan bunga untukku, jadi dia ingin menyenangkan hati mamanya. Aku baru tahu bahwa Mama juga menyukai mawar merah.
Papa, Mama, dan kedua anakku menyambut kedatangan kami. Ibu mertuaku didudukkan di kursi yang ada di ruang keluarga. Dia belum mau berada di kamarnya. Kami menemaninya mengobrol. Aku tersenyum melihat orang tua dan mertuaku bisa bicara dengan santai. Mama masih terlihat menjaga jarak, tetapi dia tidak mengusir kami adalah perkembangan yang baik.
Hadi dan Dira menatap kakek dan nenek mereka setiap kali mereka bicara. Wajah Papa dan Mama memang belum familiar untuk mereka. Mereka lebih mengenal orang tuaku dengan baik. Jadi, aku mengerti mengapa mereka melihat keduanya dengan tatapan ingin tahu.
Kami pulang seusai makan malam dan Hendra membantu membopong Mama ke kamarnya. Aku mengingatkan Papa mengenai senam ringan yang perlu Mama lakukan. Dia tertawa sambil mendorong aku dan Hendra keluar dari kamar.
“Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Kalian pulanglah. Ini saatnya bagi kami untuk bermesraan.” Aku dan suamiku tertawa mendengarnya.
Aku meminta Liando untuk mengantar Papa dan Mama ke rumah, sedangkan kami pulang dengan Kafin. Anak-anak tertidur di mobil, jadi kami tidak kesulitan menidurkan mereka di kamar mereka masing-masing. Setelah membantu Dira untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, aku masuk ke kamar dan Hendra sedang menggunakan kamar mandi.
Aku baru saja akan meletakkan ponsel di atas nakas ketika benda itu bergetar. Nama dan foto Rasmi memenuhi layar. Aku tersenyum saat menyentuh simbol telepon berwarna hijau. Aku menyapanya dan dia membalasku dengan sorakan bahagia.
“Kak, aku turut bahagia untukmu! Ini akan menjadi tahun yang penting untuk kita. Akhirnya, kita berhasil juga!” katanya memekik senang.
__ADS_1
“Apa maksud kamu, Rasmi? Bisakah kamu berhenti berteriak? Apa yang terjadi?”