
“Benar-benar istri yang tidak patuh. Aku sudah katakan bahwa kamu dan anak-anak tidak boleh pergi ke mana pun tanpa pengawalan Liando,” bisik Hendra yang memberi gigitan kecil di cuping telingaku. Tubuhku memberi reaksi yang tidak aku sukai karena kami sedang berada di tempat umum. Dia sengaja memberikan aliran listrik ke sekujur tubuhku.
“Akan aku jelaskan nanti.” Aku membela diri. Aku berusaha untuk melepaskan diri darinya, dia tidak mengizinkan aku. Will tertawa melihat tingkah kami berdua.
“Hendra, kasihanilah aku yang duda ini,” ucap Will bercanda.
“Aku sudah katakan kepadamu. Cari istri. Kamu membutuhkan istri, Colin membutuhkan seorang ibu.” Hendra mengatakannya seolah-olah itu adalah hal yang gampang.
“Wanita yang baik rata-rata tidak sendiri lagi.” Will melirik ke arahku.
“Silakan ambil istri orang lain, tetapi yang satu ini tidak bisa kamu sentuh. Kamu tidak akan suka berurusan denganku, Will.” Hendra mempererat pelukannya. Aku memutar bola mataku. Sikapnya ini semakin tidak masuk akal.
“Ya, ampun, Hendra. Aku hanya bercanda. Mengapa kamu tegang begitu? Dan apa kamu akan terus memeluk istrimu? Aku tidak akan mengambilnya darimu.” Will tertawa.
“Kamu tidak pernah tertawa bahagia saat bicara berdua saja dengan seorang wanita. Wajar saja jika aku merasa khawatir.” Hendra melepaskan pelukannya, lalu berdiri di antara aku dan Will.
“Istrimu sangat baik. Dia tidak bertanya sedikit pun mengenai urusan pribadi, karena itu aku nyaman di dekatnya. Jangan salah paham. Maksudku bukan nyaman yang itu.” Will cepat-cepat mengoreksi kalimatnya. Aku menggeleng-gelengkan kepala melihat mereka berdua.
Aku menggendong Dira dan membawanya ke permainan lain, meninggalkan kedua pria itu berbicara entah apa. “Za, kamu mau ke mana?” Hendra mengikutiku. Dia pasti tahu dari Liando bahwa aku dan anak-anak pergi ke taman. Dan dia langsung datang ke sini dari kantornya. Ada-ada saja. Tidak akan ada yang bisa menyakiti kami di tempat umum begini.
Dira menunjuk ke arah jungkat-jungkit, aku mendudukkannya di satu sisi. Lalu aku melihat ke arah Hendra agar dia duduk di sisi lain. Suasana hatiku segera berubah, begitu juga dengan Hendra. Kami tertawa bersama diikuti tawa Dira yang bahagia setiap kali dia naik dan turun mengikuti gerakan permainan tersebut.
Puas bermain, aku pamit kepada Will dan Colin. Ternyata mereka juga tinggal di gedung apartemen yang sama dengan kami. Mereka keluar lebih dahulu, sedangkan kami masih tinggal di lantai yang lebih tinggi. Aku tersenyum melihat Hadi sudah bahagia kembali.
Setelah makan malam, anak-anak bersiap tidur. Kelelahan bermain membuat mereka lebih cepat mengantuk. Aku menemani Hadi lebih lama di kamarnya. Sampai Hendra datang menjemputku, barulah aku keluar dari kamar tersebut.
Aku menarik tangan Hendra yang membawaku ke kamar kami. Aku menunjuk ke arah sofa di depan televisi. Dia melihat aku dan sofa itu secara bergantian. Lalu dia tersenyum nakal. Aku mengerutkan kening melihatnya. Dia mendekat, memeluk, kemudian mencium bibirku. Aku pikir dia hanya akan memberikan kecupan singkat, ternyata dia sedang menyiapkan aku untuk bercinta dengannya.
__ADS_1
“Hendra.” Aku mencoba mendorong tubuhnya untuk menjauh. “Kita perlu bicara.”
“Kita bisa bicara nanti.” Dia membopong tubuhku lalu membaringkan aku di sofa. Aku tertawa melihat sikap tidak sabarnya. Aku menghindar saat dia mencoba untuk menciumku lagi.
“Aku meminta duduk di sini untuk bicara, bukan bercinta.”
“Kita tidak sedang bercinta, aku sedang menghukum istriku yang tidak patuh.”
“Baiklah. Kamu boleh menghukumku sepuasnya nanti. Tetapi kita perlu bicara.” Aku menatapnya dengan serius. Dia memasang wajah cemberut. Aku tertawa, lalu mengecup bibirnya. Dia manis sekali ketika mengalah denganku.
“Aku harap ini hal yang sangat serius karena aku tidak suka diinterupsi oleh hal remeh-temeh.” Dia membantuku untuk duduk.
“Ini mengenai Hadi.” Aku menatapnya dengan serius. Dia mengangguk memintaku meneruskan apa yang ingin aku sampaikan. “Dia menangis saat pulang sekolah tadi. Hal yang dia alami pasti sangat traumatis karena dia sama sekali tidak mau membahasnya.”
“Akan aku urus segera. Apa dia akan ke sekolah besok?” tanyanya.
“Apa ada lagi?” tanya Hendra. Aku menatapnya dengan heran. Apa hanya itu tanggapan yang dia berikan? Dia tidak marah atau protes mendengar putra kami pulang dalam keadaan menangis? “Sayang, aku bertanya kepadamu.”
“Ng, tidak,” jawabku bingung. Dia tersenyum puas, lalu tangannya membuka simpul pada tali mantel sutraku. Yang benar saja.
Hadi menolak untuk memakai seragam sekolahnya pada pagi itu. Aku dan Hendra mencoba untuk membujuknya agar mau pergi ke sekolah bersama kami. Mendengar itu, dia terdiam memikirkan apa yang kami ucapkan. Saat Hendra memberitahu bahwa Pak Oscar juga akan ada di sekolah, dia pun mengangguk setuju.
Seorang staf menyambut kami begitu melihat Hadi datang bersama orang tuanya. Putraku berjalan dengan bangganya di depan teman-temannya. Para ibu menatapku dengan jijik dan memeluk anak-anak mereka agar tidak mendekati kami.
“Pantas saja wajahnya cantik mulus dan tubuhnya bagus. Suaminya kaya raya. Tapi dia ngga puas dengan satu laki-laki saja.” Aku mendengar suara seorang ibu.
“Itu anak perempuan hasil hubungan gelapnya. Ngga mirip suaminya sama sekali,” kata ibu yang lain.
__ADS_1
Aku mengabaikan setiap kata yang mereka ucapkan. Telingaku sudah tebal mendengarnya. Kami menuju ruangan kepala sekolah, tetapi orang yang dimaksud belum datang. Wakilnya yang menerima kami. Hendra segera meminta agar diantar ke ruang di mana rekaman CCTV bisa dilihat. Wajah wanita itu segera pucat pasi.
“Untuk kepentingan apa sehingga Bapak ingin melihatnya?” tanya wanita itu gugup.
“Kemarin putraku pulang sekolah dalam keadaan sangat sedih. Aku ingin tahu apa yang terjadi di sini sampai dia begitu. Aku sudah membawa pengacara kami, siap untuk membela hak kami bila kalian menolak memperlihatkannya atas nama kerahasiaan,” ucap Hendra.
“Ng, saya bisa menjelaskan apa yang terjadi, Pak.”
“Kata-kata bisa dipelintir. Rekaman CCTV tidak. Tolong, tunjukkan rekaman kemarin kepada saya. Hanya pada jam putra kami ada di sekolah ini.”
Wanita itu semakin gugup. Dia melihat ke arah Pak Oscar dan Hendra, kemudian dia mendekati meja di mana ada sebuah komputer dan menyalakan layarnya. Terlihat ada beberapa layar kecil pada komputer tersebut. Hendra mendekatinya. Aku mengikuti.
Aku melihat rekaman yang dimaksud lewat tanggal dan jam yang tertera pada kanan atas layar. Hadi datang ke sekolah saja sudah tidak ada yang mau mendekati atau didekati olehnya. Kalau ada teman yang mau menyapa, ibunya segera menariknya menjauh. Dia mengatakan sesuatu tetapi rekaman itu tidak dilengkapi dengan audio.
Selama mengikuti pelajaran hingga pulang sekolah, Hadi dibiarkan sendiri, tidak ada yang mendekati. Aku memerhatikan bahkan tidak ada guru atau staf yang berusaha untuk membela putraku. Sekolah apa ini? Bagaimana bisa anak sekecil dia ikut dihukum atas kesalahan mamanya?
“Aku mau nama semua ibu yang menarik anaknya menjauh dari putraku, lalu beri tanda bintang kepada ibu yang mengatakan sesuatu kepada Hadi. Tidak ada seorang pun yang aku izinkan untuk menghina putraku, apa pun alasannya. Lalu aku meminta nama guru kelasnya juga semua staf yang bertugas kemarin pada jam belajar putraku. Tanpa terkecuali,” kata Hendra dengan tegas.
“Untuk apa semua itu, Pak?” tanya wanita itu mulai takut.
“Tulis dan berhenti bertanya. Aku tunggu.” Hendra masih berdiri di tempatnya. Aku juga.
“I-ini, Pak.” Wanita itu memberikan selembar kertas kepada Hendra. Suamiku menerimanya.
“Tolong, minta mereka yang namanya ada pada kertas ini untuk datang ke aula. Sekarang,” kata Hendra dengan nada yang tidak bisa dibantah.
“U-untuk apa, Pak?” Wanita itu masih bertanya. Hendra melihat ke arah Pak Oscar yang merespons dengan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Untuk meminta maaf kepada putraku. Kalau ada yang tidak mau, aku akan menuntutnya dengan tuduhan kekerasan terhadap anak.”