
“Berjanjilah, kamu tidak akan keluar dari mobil,” pintaku sekali lagi.
“Aku janji,” katanya pelan. Aku membelai pipinya lalu memberinya sebuah kecupan lagi.
Aku menutup pintu sepelan mungkin dan memerhatikan sekelilingku. Orang-orang Irwan menjaga jarak dariku agar tidak ada yang mencurigai kami andai ada yang melihat keluar jendela rumahnya. Ara sepertinya mengerti apa yang aku katakan karena dia mengendus-endus jalan dan berlari mengikuti bau yang diciumnya. Dia tidak menyalak sedikit pun.
Tiba di depan sebuah pagar, aku melihat rumah itu baik-baik. Garasinya tertutup jadi aku tidak bisa melihat jenis mobil apa yang mereka miliki. Tetapi aku memercayai anjingku, maka aku melompati pagar yang tidak tinggi itu sesenyap mungkin dan memasuki pekarangan. Dua orang ikut melakukan apa yang aku lakukan dan tetap menjaga jarak dariku.
Ara mencium jalan setapak menuju rumah lalu merintih pelan ke arah pintu yang tertutup di depan kami. Aku baru saja akan berjongkok, dia melihat ke sisi kirinya. Dia berjalan lagi sambil mencium udara. Apa dia menemukan aroma orang yang dikenalnya? Dia berhenti saat kami berada di dekat sebuah jendela.
Tirai tebal menutupinya, jadi aku tidak bisa melihat ke bagian dalam rumah. Seorang pria di dekatku menyentuh kaca pada jendela tersebut. Dia memberi sinyal kepada temannya. Salah satu pria yang membawa ransel mendekat. Dia segera mengeluarkan sebuah alat dari tasnya. Aku memegang Ara dan kami mundur beberapa langkah.
Pria itu melubangi kaca dengan membentuk lingkaran besar. Lalu membuat lingkaran kedua. Mereka mengambil sisa kaca yang masih menempel di bagian bawah dan atas jendela agar aman bagi kami untuk melewatinya. Satu pria membuka tirai secara perlahan dan aku melihat putriku sedang pulas di atas tempat tidur. Aku ingin segera masuk, tetapi pria itu menghalangiku.
Dia membuka tirai lebih besar dan tidak ada seorang pun di dalam kamar tersebut. Dia bergegas menaiki jendela, memasuki kamar, lalu mengangkat putriku dari tempat tidur. Aku segera menerima Dira darinya dan memeluknya dengan erat.
“Hei, siapa kamu?!” Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan seorang pria memergoki kami.
“Tetap di sini, jangan bergerak. Kami akan membekuk mereka semua,” ucap salah satu dari mereka kepadaku. Aku mengangguk cepat.
Perkelahian sengit pun tidak terhindarkan lagi. Aku bersandar di dinding dan mendengarkan bunyi anggota tubuh beradu keras dengan anggota tubuh yang lain serta suara teriakan juga kesakitan yang datang dari arah kamar. Dira sama sekali tidak terbangun. Dia bernapas dengan teratur. Apa mereka memberinya obat tidur? Berengsek. Semoga saja mereka tidak memberi dosis yang banyak.
Sebuah bunyi yang memekakkan telinga datang dari dalam. Suara dan bunyi perkelahian terhenti sesaat. Mendengar suara seseorang mengancam, aku yakin dialah yang memegang senjata tersebut. Aku mengintip ke arah jendela tanpa membuat seorang pun menyadari kehadiranku, mencari pria itu, dan memerhatikan wajah orang yang bersenjata tersebut. Aku tidak mengenalnya.
__ADS_1
Lalu perkelahian kembali terjadi saat pria itu tiba-tiba dibekuk dari belakang. Aku ingin membantu, tetapi mereka sudah melarangku dan aku tidak ingin menjadi beban. Dira juga tidak mungkin aku tinggalkan begitu saja di luar rumah dalam pengawasan anjing kecilku.
Entah siapa yang menghubungi polisi, bunyi sirene memecah keheningan malam. Sesaat saja, mobil dengan lampu menerangi sekitar kami itu memenuhi bagian depan rumah. Terdengar bunyi pintu belakang rumah dibuka paksa dan beberapa pria berlari dikejar oleh orang-orang Irwan. Ini saatnya bagiku untuk kembali ke mobil.
“Berhenti atau kepala perempuan ini akan aku tembak!” Kalimat itu menghentikan langkahku. Dari arah depan rumah terdengar suara seorang pria yang tidak aku kenal. Aku mendekatkan kepalaku agar bisa mengintip dari balik tembok. Seorang pria berdiri di depan pintu dengan satu tangannya melingkari tubuh bagian depan Za dan tangan yang lain menempelkan mulut pistol ke pelipisnya.
Darahku mendidih melihat laki-laki kotor itu menyentuh Zaku. Tidak ada seorang pria pun di dunia ini yang boleh menyentuhnya sedekat itu. Aku tidak mungkin meletakkan Dira dan menolong istriku. Para polisi itu hanya bisa berdiri membeku dan mencoba untuk mengajak pria itu bicara, tetapi aku tidak tenang. Pria itu bisa menarik pelatuknya kapan saja. Za dalam bahaya!
Sesuatu bergerak dengan cepat dari bawah tubuhku menuju pria tersebut. Lalu terdengar teriakan kesakitan diikuti dengan tembakan senapan. Za berteriak sekuat tenaga membuat jantungku nyaris berhenti berdetak. Aku tidak memedulikan apa pun lagi dan segera berlari mendekatinya. Tetapi seorang petugas polisi lebih cepat dan menghalangiku dengan tubuhnya.
“Jangan bergerak!” kata pria itu sambil menendang sesuatu yang ada di lantai. Aku mengikuti bunyi benda yang tergeser tersebut. Sebuah pistol. Seorang petugas lain yang mengenakan sarung tangan segera mengambil senjata tersebut. Polisi pertama tadi mengangkat seseorang dari lantai. Pria yang mengancam Za itu memegang tangannya yang berdarah.
Lalu petugas berikutnya berjalan mendekatiku sambil memegang Za yang berwajah pucat. Aku segera mendekat dan memeluknya. Aku melepaskannya untuk melihat wajahnya. Tidak ada darah atau luka apa pun. Aku mencium keningnya, lalu kembali memeluknya dengan erat. Dua orang yang sudah membuatku khawatir kini berada aman dalam pelukanku.
“Benar, Pak,” jawabku dengan sopan.
“Kecil-kecil sudah berani melawan penjahat.” Pria itu mengusap-usap kepala Ara yang memberontak ingin dikembalikan kepadaku. Karena aku menggendong Dira, Za yang memeluk Ara.
Kami dikawal ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan Dira. Menurut hasil pemeriksaan dokter, dia disuntikkan obat tidur dalam dosis yang tidak membahayakan. Yang perlu kami khawatirkan adalah reaksinya pada saat bangun nanti. Karena dia dalam keadaan yang baik secara fisik, aku dan Za sepakat untuk membawa putri kami pulang. Rumah adalah tempat yang ternyaman baginya pada saat dia bangun nanti.
Setelah kami masing-masing memberi pernyataan dan kesaksian kami seputar terjadinya penculikan hingga penyelamatan Dira di kantor polisi, kami pun diizinkan pulang. Mereka meminta kami untuk tetap bekerja sama andai mereka masih membutuhkan keterangan dari kami. Aku dengan senang hati akan membantu menjebloskan mereka semua ke penjara, termasuk otak penculikan tersebut.
Aku menelepon Zach dalam perjalanan pulang dan memberitahunya bahwa Dira sudah kembali kepada kami. Aku juga sekalian meminta dia memberitahu Oscar agar mempelajari kasus tersebut karena aku ingin mereka semua diberi hukuman maksimal.
__ADS_1
“Tanpa melibatkan Irwan?” tanya Zach. Aku hanya mengiyakan, tidak ingin Za mengetahui apa yang sedang kami bicarakan. “Baik, Kak. Istirahatlah. Urusan dengan hukum akan kami tangani.” Setelah mengucapkan terima kasih dan saling mengatakan salam, aku mengakhiri hubungan telepon.
Irwan sudah banyak membantuku menghadapi orang jahat dengan cara yang melanggar hukum. Aku tidak akan membiarkan ketelibatannya diketahui oleh pihak yang berwajib. Bila harus ada oknum yang perlu disalahkan, maka akulah orangnya. Aku tidak akan menyebut-nyebut nama sahabatku itu. Meskipun dia melanggar hukum, dia tidak boleh dimasukkan ke penjara.
Kami tiba di rumah, pengurus vila segera menyambut kedatangan kami. Mereka menangis terharu melihat Za menggendong Dira yang masih tidur pulas. Aku berterima kasih kepada mereka dan mengizinkan mereka untuk kembali ke rumah. Aku melirik jam tanganku. Pukul empat pagi.
Ara segera menuju tempat makannya. Aku mengisinya dengan makanan khusus untuknya juga air untuk minumannya. Za membawa Dira menuju kamarnya, maka aku memanfaatkan kesempatan itu untuk mandi. Hanya pada saat aku sedang sendiri aku membiarkan benteng pertahananku rubuh. Aku membiarkan air mata jatuh membasahi wajahku bersamaan dengan air pancuran.
Hari ini benar-benar hari yang berat. Kami hanya ingin berlibur bersama setelah sekian tahun tidak bisa bertemu satu sama lain. Mengapa ketika semuanya akan berakhir, peristiwa ini yang terjadi? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Dira saat dia bangun nanti. Dan aku tidak yakin aku akan kuat melihatnya menangis mengingat beberapa jam terpisah dari ibunya.
Saat keluar dari kamar mandi, Za sudah menunggu dengan duduk di tepi tempat tidur untuk membersihkan dirinya juga. Tanpa mengatakan apa pun, aku mendekati lemari dan mengambil pakaian gantiku. Aku menanti sampai dia masuk ke kamar mandi lalu melepas handukku.
Ara sudah berbaring pulas di tempat tidurnya saat aku keluar dari kamar. Aku mengusap-usap kepalanya penuh rasa terima kasih. Dia telah menyelamatkan hidup dua orang yang sangat penting bagiku. Dira, lalu Za. Hm. Za. Dia benar-benar tidak pernah belajar dari kesalahannya. Dia selalu saja berjanji tetapi tidak menepatinya.
Dia keluar dari kamar dengan keadaan lebih segar. Kami akan segera tidur, tetapi dia malah keramas. Dia pasti tidak tega menggunakan pengering rambut, khawatir anak-anak akan terbangun. Aku hanya menggeleng pelan melihat kecerobohannya yang berikutnya.
“Ada apa? Aku sengaja membersihkan rambut agar aku tidak tidur. Aku ingin tetap terjaga saat Dira bangun nanti.” Dia menerima segelas minuman hangat dariku. “Terima kasih.”
“Kamu sudah berjanji.” Aku menatapnya dengan serius. Dia yang baru saja meneguk minumannya, menatapku dengan kecut sebelum meletakkan mug ke atas konter secara perlahan.
“Aku bisa menjelaskannya, Hendra. Tolong, tenangkan dirimu.” Dia berjalan mundur saat aku memutar konter dapur agar bisa mendekatinya.
“Mengapa aku harus menenangkan diriku? Dan mengapa kamu takut jika kamu tidak merasa melakukan kesalahan?” Dia mencoba berlari menjauh, aku lebih cepat menangkap tangannya. “Ada apa, Za sayang? Apa kamu pikir kamu bisa kabur tanpa dihukum juga atas kejahatanmu?”
__ADS_1