Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 154 - Stadium Dua


__ADS_3

“Ibu sangat beruntung! Pak Mahendra adalah suami yang baik! Aku sampai terkejut mendengar pernyataan-pernyataan kerennya dalam wawancara itu.” Suster yang bernama Clara itu bersorak senang sambil menolongku berdiri dengan benar di depan alat yang akan mengambil foto dadaku.


“Pak Mahendra terkenal dingin dan tidak banyak bicara. Tetapi malam itu dia bisa berkata cinta dengan sangat tulus. Bagaimana Ibu bisa melakukannya?” ucap suster lain yang bernama Henny.


Aku tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Wawancara apa? Selama beberapa hari belakangan ini aku tidak menonton siaran berita apa pun. Aku memang sengaja menghindarinya. Aku tidak mau menyusahkan diri sendiri dengan menonton atau membaca berita yang tidak benar mengenai aku dan Hendra.


Pernyataan Vivaldo pada jumpa pers mengenai status Hadi merupakan serangan besar terhadap kredibilitas Hendra sebagai orang yang berintegritas. Orang-orang pasti mulai mempertanyakan kelayakannya sebagai pengganti Papa dengan statusnya saat ini. Aku yakin, itulah yang mendorong Mama datang untuk bicara denganku.


Tetapi aku penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan. Pernyataan keren Hendra? Dia mengatakan cinta? Wawancara apa yang dia hadiri yang tidak aku ketahui? Aku tidak mau bertanya dan bersikap seolah-olah aku mengetahui segalanya karena aku tidak mau dianggap tidak perhatian kepada suamiku sendiri.


“Saat Pak Mahendra menampilkan bukti demi bukti di televisi, wah, semua orang bungkam. Sampai perempuan yang mewawancarainya pun tidak bisa berkata-kata. Acara itu sepenuhnya dikendalikan oleh Pak Mahendra!” ucap Suster Clara senang.


“Apalagi saat Pak Mahendra mengancam akan menuntut semua orang yang menulis komentar jahat mengenai Ibu. Semua orang langsung membuka ponsel mereka. Sampai kru televisi juga memeriksa gawai mereka. Mereka memang orang-orang jahat.” Suster Henny menggeram pelan.


Oh, Tuhan. Apa yang telah terjadi? Bagaimana mungkin aku tidak tahu apa yang telah suamiku lakukan di luar sana? Aku sampai pusing sendiri karena bingung dengan arah pembicaraan mereka. Aku tahu mengenai komentar jahat orang-orang mengenai aku dari Yuyun. Tetapi Hendra mengancam akan menuntut mereka, baru kali ini aku mendengarnya.


“Maafkan sikap kami, Bu. Kami telah lancang tertawa dan bercanda seperti ini. Sampai lupa bahwa Ibu dan keluarga sedang menjalani masa sulit.” Mereka mendadak berubah sikap. Mungkin mereka pikir aku terganggu dengan sikap mereka karena aku hanya diam saja.


“Oh. Tidak. Tidak apa-apa. Jangan segan.” Aku tersenyum kepada mereka. Aku senang mengetahui bahwa tidak semua orang membenci kami karena berita yang beredar.


“Bagaimana dengan keadaan Ibu Naava? Kami harap ibu mertua Anda bisa segera memutuskan langkah selanjutnya. Sifat kankernya agresif. Memang masih stadium dua. Tetapi bila dibiarkan, keadaannya akan semakin parah.” Suster Clara dan Suster Henny saling bertukar pandang dengan wajah penuh simpati. Kanker?

__ADS_1


“Untung saja keluarga besar Ibu rutin melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Jadi kankernya masih kecil. Masih bisa ditangani lewat operasi,” ucap Suster Henny.


“Apakah operasi adalah satu-satunya jalan?” tanyaku pelan. Mencoba mencari informasi lebih banyak. Kanker adalah jenis penyakit yang harus ditangani dengan serius.


“Hal itu perlu dibicarakan lebih lanjut dengan dokter spesialis, Bu. Kanker päyúdara sudah bukan hal baru lagi. Tetapi yang diderita oleh Ibu Naava termasuk berbahaya karena ganas. Bila tidak segera ditangani, kankernya bisa menyebar ke organ penting lainnya.” Suster Clara terlihat khawatir.


Mama menderita kanker päyúdara stadium dua? Ya, Tuhan. Apakah Hendra mengetahui hal ini? Bagaimana dengan Papa? Apakah Papa mengetahuinya? Sekarang aku mengerti mengapa Mama terlihat begitu putus asa sehingga datang menemuiku dan memintaku meninggalkan Hendra. Mama berpikir bahwa hidupnya sudah tidak lama lagi.


Usai melakukan setiap pemeriksaan dan mendapatkan hasilnya, aku bahagia bahwa keluargaku baik-baik saja. Aku yang baru saja mengalami keguguran juga menunjukkan pemulihan yang signifikan. Dokter memintaku untuk menjaga pikiranku tetap positif dan menjauhi stres. Aku ingin bertanya mengenai kondisi Mama, tetapi aku putuskan untuk tidak melakukannya di depan Hendra.


“Kamu tidak apa-apa, sayang?” tanya Hendra saat kami berada di dalam mobil. Aku menoleh ke arahnya, lalu mengangguk pelan. “Kamu diam saja dari tadi.”


“Apa kamu tidak punya hal lain yang lebih penting selain mengawasiku, sayang?” Aku menggodanya. Dia tertawa. Pemandangan yang sama terjadi ketika kami tiba di rumah. Sudah tidak ada lagi wartawan yang biasanya berkerumun untuk bisa mewawancarai kami.


Aku memilih video demi video yang disarankan sampai akhirnya aku menemukan video wawancara yang aku cari. Selama pernikahan kami, Hendra selalu menolak permintaan wawancara untuk alasan apa pun. Bahkan yang bisa membantu mempromosikan usaha keluarganya.


Namun dia menyanggupi wawancara yang satu ini? Membaca tanggal tayangnya, aku mencoba mengingat apa yang kami lakukan. Ah, itu adalah hari Sabtu di mana anak-anak menginap di rumah Zach dan … Mama mendatangiku. Ya, Tuhan. Suamiku membeberkan semua kejahatan mereka yang merusak nama baik kami, aku malah ingin mengakhiri hidupku.


Hendra menerima satu-satunya tawaran wawancara demi membersihkan nama baikku. Aku tersentuh mendengar pernyataan demi pernyataan yang dia ucapkan. Dia juga tidak hanya bicara omong kosong tetapi menampilkan setiap bukti yang menguatkan kalimatnya.


Aku menoleh ke arah dia yang duduk di sisiku. Hendra mendekatkan wajahnya, aku membalas ciumannya. Aku melanjutkan tontonanku dengan meletakkan kepalaku di lengannya. Jadi, ada tiga orang yang bekerja sama melakukan semua ini? Dari semua yang mereka lakukan, hanya satu masalah yang menjadi perhatianku.

__ADS_1


“Mengapa dia menculik Dira?” tanyaku bingung.


“Kamu ingat apa yang terjadi saat kita bertemu dengan dia di restoran di Puncak?” tanya Hendra. Aku berusaha untuk mengingatnya. “Dira berteriak dan menangis ketika dia mengusap kepalanya. Ekspresi wajahnya sesaat berubah di situ. Dia tidak mengakuinya, tetapi aku curiga, hal itu yang mendorong dia melakukannya. Dia tersinggung dengan sikap putri kita.” Iya, aku ingat itu.


“Masuk akal. Itu adalah satu-satunya kejadian yang bisa menghubungkan Dira dengannya. Dia tidak mungkin menculik putri kita demi uang. Mereka sudah mendapatkannya tetapi tidak menelepon kita untuk meminta tebusan. Aku tidak tahu entah apa yang ingin dia lakukan kepada Dira.”


“Aku juga tidak tahu. Menurut keterangan para penculik, mereka hanya diminta untuk menculik Dira dan menunggu perintah selanjutnya. Mereka terpaksa membiusnya karena dia terus berteriak dan menangis.” Mendengar namanya kami sebut berkali-kali, Dira berdiri dan mendekati papanya. Hendra mengangkat dan memangkunya.


“Apa yang terjadi kepada mereka bertiga?” tanyaku pelan.


“Polisi masih melakukan interogasi dan penyelidikan. Kita akan segera mengetahui hasilnya.”


“Aku harap mereka semua akan mendapatkan hukuman yang setimpal.” Aku mematikan tablet dan meletakkannya di pangkuanku.


“Semoga, sayang.” Aku merasakan kecupannya pada rambutku. Aku mengangkat kepala dan menatapnya dengan bingung.


“Apa maksud kamu?”


“Apa kamu belum pernah mendengar bagaimana orang yang punya uang dan pengaruh menangani masalah mereka setiap kali terjerat hukum? Dicky dan Nora bukanlah orang biasa. Bila mereka sampai masuk penjara, nama perusahaan mereka akan ikut jatuh.”


“Maksud kamu, mereka bisa saja dinyatakan tidak bersalah dan bebas dari hukuman?” protesku.

__ADS_1


“Yang aku hadapi bukan hanya mereka berdua tetapi seluruh keluarga besar dan rekan bisnis mereka. Karena itu aku mengenyampingkan egoku dan menerima tawaran wawancara dari mereka. Seandainya mereka lolos dari jerat hukum, setidaknya nama mereka sudah tidak bersih sepenuhnya. Mereka menggunakan media sebagai senjata, maka aku memanfaatkan opini publik.”


Tidak adil. Bila mereka bertiga sampai lolos dan dinyatakan tidak bersalah, bagaimana denganku dan semua kehilangan yang telah kami alami? Bagaimana dengan bayi kami yang telah pergi?


__ADS_2