
Aku berdiri beberapa saat sampai mobil yang ditumpangi istriku menghilang di antara keramaian lalu lintas. Kafin sudah menunggu dengan berdiri di samping pintu mobil, maka aku mendekatinya dan dia membantu membukakan pintu untukku.
Dia meminum obat pencegah kehamilan? Sejak kapan? Apakah sejak kami menikah? Aku sampai memeriksakan diri ke dokter karena berpikir bahwa masalahnya ada padaku. Aku bahkan tidak peduli andai masalahnya ada pada kesehatannya. Tetapi melihat obat itu ada di dalam laci, aku tidak bisa mengendalikan amarah yang menguasai diriku. Istriku telah mengkhianati kepercayaanku.
Mengapa dia tidak jujur saja kepadaku? Jika dia belum mau memiliki anak denganku, mengapa dia berkata bahwa dia tidak keberatan pada hari ulang tahun pernikahan kami? Aku selalu berusaha untuk jujur kepadanya. Lalu mengapa dia harus membohongi aku? Aku tidak pernah marah kepadanya, tidak pernah menaikkan intonasi suaraku, apa yang dia takutkan dariku?
Ya, Tuhan. Aku sangat mencintainya dan tujuanku menikahinya hanya satu. Aku ingin membuatnya bahagia. Aku ingin dia selalu tertawa dan tersenyum selama bersamaku. Aku menahannya bukan karena aku ingin melihatnya menderita. Tetapi karena aku tahu, tidak ada pria lain di luar sana yang bisa mencintainya seperti aku. Tidak akan ada.
Dia pasti sangat membenciku sekarang. Aku sudah memaksakan kehendakku kepadanya semalam dan menyakitinya. Aku bahkan memaksanya untuk mencintaiku dan melupakan laki-laki itu. Aku tahu bahwa aku sedang menggali lubang kuburanku sendiri. Saat dia datang dengan sukarela saja, dia tidak juga mencintaiku. Apalagi sekarang ketika aku meminta dengan menggunakan kekerasan.
Kami bisa bertahan selama enam tahun. Kali ini, kami akan bertahan berapa lama? Mungkinkah surat perjanjian itu bisa membuatnya tetap tinggal di sisiku sampai kami mati nanti? Ataukah dia akan pergi lebih dahulu karena tidak kuat hidup menderita bersamaku?
“Tuan, kita sudah sampai,” kata Kafin membuyarkan lamunanku. Aku melihat ke sekitarku. Kami sudah sampai di depan gedung kantorku.
“Terima kasih, Kafin. Hari ini aku pulang tepat waktu,” ucapku sebelum keluar dari mobil. Dia mengangguk patuh.
Karena urusan dengan Za dan pengacaraku, aku terpaksa mengundur waktu pertemuan dengan para direksi. Lagi pula ada masalah yang aku temukan pada laporan salah satu divisi dan aku ingin bertemu dengan mereka sebelum mengikuti rapat.
Sherry sudah berdiri menunggu di depan pintu ruang pertemuan. “Kirim orang untuk segera menyelesaikan masalah mertuaku sesuai instruksiku,” perintahku saat kami sudah dekat.
__ADS_1
Dia membukakan pintu untukku. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu tidak berani mengangkat wajahnya untuk melihat ke arahku. Pemandangan yang sudah tidak asing lagi. Aku tidak pernah membentak siapa pun tetapi para pegawaiku takut kepadaku.
Aku duduk dan menerima sebuah dokumen dari Sherry. Dia meninggalkan ruangan yang aku yakin karena dia akan menelepon orang untuk membantu Papa dan Mama. Aku mengangkat dokumen itu agar mereka melihat apa yang menjadi tujuanku memanggil mereka ke ruangan ini.
“Mengapa kalian melakukan ini?” tanyaku tanpa menunjukkan emosiku sama sekali. Lima orang yang berada di ruangan itu hanya menundukkan kepala mereka dalam-dalam. “Aku tidak bisa mendengar jawaban kalian. Mengapa kalian memanipulasi data pencapaian penjualan seperti ini?”
“Maaf, Pak. Kami tidak bermaksud untuk memanipulasi. Kami membuat angka tersebut sebagai motivasi untuk diri kami sendiri. Dengan begitu, kami akan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai target pada akhir bulan, Pak.” jawab salah satu dari mereka dengan suara bergetar.
“Sudah akhir bulan dan kalian tidak mengubah satu angka pun yang ada di sini. Kalian tahu beda antara target pada saat perencanaan dengan kenyataan di lapangan, ‘kan? Apa aku perlu memberi pelatihan lagi untuk membuat hal sesepele ini?” tanyaku dengan melayangkan pandangan kepada mereka satu-persatu. Masih tidak ada yang berani mengangkat kepalanya.
“Ka, kami akan segera memperbaikinya, Pak.” jawab pria yang tadi. Sepertinya dia adalah manager penjualan atau pemasaran karena yang lain tidak berani menjawab selain dia.
“Saya akan kerjakan sekarang, Pak,” jawabnya dengan gugup.
“Jika kamu tidak menyelesaikannya tepat waktu, apa yang harus aku lakukan?” tanyaku. Dia tidak segera menjawab, hanya menelan ludah dengan berat. Dia mengangkat kepala dan melihat ke arahku, lalu cepat-cepat menundukkan kepalanya lagi.
“Sa, saya serahkan kepada Bapak untuk memberikan saya konsekuensi atas kelalaian saya, Pak.”
“Jangan lakukan ini lagi. Jika ada masalah, aku mau kita semua membahasnya bersama. Jangan berusaha untuk menyelesaikan masalah sendiri. Ini bukan pekerjaan perorangan tetapi tim. Karena kesalahan satu orang tidak akan dibebankan kepada satu orang itu saja, tetapi seluruh tim. Apa kalian mengerti?”
__ADS_1
“Me, mengerti, Pak.”
“Kembali ke pekerjaan kalian dan aku menunggu laporan yang sebenarnya dalam waktu satu jam.”
Mereka segera berhamburan keluar dari ruangan hingga akhirnya aku tinggal sendiri. Aku menarik napas panjang mencoba meredakan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun kepalaku. Aku bahkan tidak perlu menaikkan intonasi suaraku, mereka semua sudah ketakutan. Apa yang akan terjadi andai tadi aku berteriak marah kepada mereka semua?
“Sherry, jadwal ulang semua janjiku usai jam kerja. Pindahkan semua ke minggu berikutnya.” Aku mengancingkan jasku kembali, lalu berjalan menuju pintu.
“Baik, Pak.” Dia membukakan pintu untukku.
“Pesankan buket lili putih tiga puluh tangkai untuk aku bawa pulang,” kataku menambahkan.
Revisi laporan yang mereka berikan tidak terlalu memuaskan, tetapi aku tidak memperpanjang masalah tersebut. Yang terpenting adalah mereka memperbaikinya dan memberi laporan yang jujur sesuai dengan yang terjadi di lapangan.
Rapat direksi berjalan dengan lancar dan aku belajar untuk menerima kinerja direksi perencanaan yang baru. Dia baru beberapa hari menduduki jabatan tersebut, wajar saja jika dia masih lambat dalam mengerjakan bagiannya. Dia masih punya dua bulan lebih untuk menunjukkan apakah dia orang yang tepat untuk berada di sana atau tidak. Semoga dia bukan tipe pengkhianat seperti orang yang berada di posisi itu sebelumnya.
Kembali ke ruang kerjaku, aku menerima laporan bahwa masalah Papa dan Mama sudah beres. Oscar juga sudah menangani kasus yang menjerat Zach. Hal semudah ini pun tidak mau dibaginya denganku. Memangnya apa yang bisa dia lakukan untuk menolong orang tuanya? Dia tidak punya tabungan karena menolak semua uang yang aku berikan.
Apa sebenarnya arti pernikahan kami baginya? Apakah hanya sebatas status? Dia tidak mencintaiku, tidak menginginkan kehadiran anak, juga tidak mau menerima bantuan apa pun dariku. Bukan hanya dia yang bersikap bagai orang asing. Keluarganya pun menjaga jarak denganku. Segalanya sudah aku lakukan untuk memenangkan hatinya. Cara apa lagi yang sebaiknya aku coba?
__ADS_1
Biasanya aku sangat bahagia melihat dia menyambutku pulang dengan wajah ceria. Tetapi setelah mengetahui kebenarannya, aku bertanya-tanya. Apakah yang dia tampilkan ini jujur datang dari hatinya? Atau dia sedang membohongiku dengan berpura-pura bahagia bersamaku?