Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 227 - Kepalaku Kosong


__ADS_3

Sebelum keadaan memburuk, aku membawa Mama keluar dari ruangan tersebut. Papa segera mendekat saat melihat wajah istrinya. Aku meminta suster yang berada di dekat pintu untuk memanggil dokter. Dia harus memeriksa suamiku kembali.


Entah apa yang mereka lakukan di ruang ICU tadi sehingga mereka menyimpulkan bahwa Hendra sudah baik-baik saja untuk berada di ruang rawat. Apa mereka tidak menanyakan hal lain kepadanya? Bagaimana bisa suamiku tidak ingat dengan namanya sendiri?


“Apa yang terjadi, Zahara? Ada apa, Nak? Apa sesuatu terjadi pada Kak Hendra?” tanya teman-teman, Mama, dan Zach secara bersamaan. Aku mengangkat tanganku agar mereka diam.


“Hendra tidak ingat siapa kami, bahkan namanya sendiri,” kataku pelan. Mereka berseru tidak percaya. Aku segera meletakkan jari telunjuk di depan bibirku. Kami sedang berada di rumah sakit, jadi kami tidak boleh membuat keributan.


“Ini lebih buruk dari yang aku bayangkan. Kak Hendra kehilangan ingatannya. Semoga saja ini hanya sementara,” gumam Zach pelan. Aku menutup mataku mendengar kalimat itu. Kehilangan ingatan. Aku lupa dengan itu. Kepala Hendra terbentur dengan keras saat kecelakaan terjadi, kehilangan ingatan adalah salah satu efek dari benturan keras tersebut. Itu yang aku baca dari artikel semalam.


Dokter datang, aku segera ikut masuk ke kamar. Aku menoleh ke arah Zach. Memahami maksudku, dia ikut masuk ke ruangan itu bersamaku. Hendra masih dalam keadaan sadar dengan wajah yang bingung melihat kami. Dokter itu meminta suster untuk memeriksa keadaan Hendra. Dokter itu melihat ke sekelilingnya.


“Selamat pagi, Pak Mahendra. Di antara orang yang ada di ruangan ini, adakah yang familier bagi Bapak?” tanya dokter itu dengan ramah. Hendra melihat ke arah kami satu-persatu.


“Tidak. Dan namaku bukan Mahendra atau Hendra,” ucapnya dengan nada tidak suka.


“Baik. Saya Andreas, dokter keluarga Perkasa. Siapa nama Bapak?” tanya dokter tersebut. Hendra membuka mulut, kemudian mengerutkan keningnya. Dia melihat kami kembali sebelum dia menatap Dokter kembali.


“A-aku, namaku … Aku tidak tahu siapa namaku,” katanya bingung.


“Baik. Apa yang terakhir Bapak ingat sebelum bangun hari ini?” tanya dokter itu.


“Aku … aku tidak tahu,” ucapnya pelan dengan bahu terkulai. “Apa yang terjadi? Kepalaku seperti kosong, aku tidak ingat apa pun.”


“Bapak mengalami kecelakaan mobil dua hari yang lalu. Karena Bapak mengalami pendarahan yang hebat, kami harus melakukan operasi. Bapak bisa sadar secepat ini adalah keajaiban karena biasanya pasien butuh waktu lebih lama untuk bangun.” Dokter itu mencatat di papan yang dipegangnya.

__ADS_1


“Aku sama sekali tidak ingat tentang kecelakaan itu,” kata Hendra.


“Kami akan memeriksa keadaan Bapak, jangan khawatir. Kita akan cari tahu apa yang terjadi sehingga Bapak tidak mengingat apa pun.” Dokter itu menoleh ke arahku, lalu dengan matanya meminta aku untuk ikut dengannya.


Kami mengikuti keluar dari kamar. Aku menoleh ke arah suamiku dan melihat dia sedang menatap ke depan dengan pandangan kosong. Entah apa yang dia rasakan sekarang tanpa ada satu hal pun mengenai dirinya yang bisa dia ingat.


Dokter menyarankan agar dilakukan MRI. Aku menyerahkan setiap keputusan kepadanya. Hendra memercayainya sebagai dokter keluarga kami, maka aku pun demikian. Dia memperkenalkan aku kepada seorang dokter spesialis saraf. Setelah hasilnya keluar, mereka akan memanggil aku untuk mendiskusikan keadaan suamiku.


Setelah Hendra kembali ke kamarnya, aku mempersilakan semua orang untuk tetap melanjutkan kunjungan mereka. Aku berharap, siapa tahu ada salah satu dari kami yang akan Hendra ingat. Namun mereka semua keluar dalam keadaan kecewa.


Teman-teman pamit pulang saat hari hampir malam. Mereka menghibur dan memberi aku semangat yang sangat aku hargai, karena aku membutuhkannya. Mereka berjanji akan datang menjenguk bila mereka sempat. Aku mengangguk.


Walaupun mereka tidak mau, aku memaksa Kafin dan istrinya untuk pulang juga. Pria itu masih membutuhkan istirahat yang cukup untuk memulihkan keadaannya. Aku memintanya untuk tidak datang bekerja sampai dia benar-benar sembuh. Gajinya tidak akan aku potong. Mereka berterima kasih dengan wajah terharu.


Aku juga memaksa orang tua dan mertuaku untuk pulang. Mereka sudah sangat lelah berada di rumah sakit sejak siang hari tadi. Zach keberatan, tetapi aku menyuruhnya pulang karena hanya dia yang bisa mengantar Papa dan Mama. Anak-anak tidak keberatan saat aku meminta mereka untuk ikut bersama kakek dan nenek mereka.


“Iya, Pa,” jawabku pelan.


Dia melihat ke arah pintu kamar Hendra. “Aku tidak pernah mengalami kejadian buruk secara beruntun seperti ini dalam kehidupan kami. Istriku menderita kanker, lalu putraku mengalami kecelakaan hingga hilang ingatan. Aku pasti punya banyak dosa di masa lalu.”


“Papa, kondisi Mama semakin baik dan sudah terhindar dari kanker.” Aku menyentuh tangan mereka berdua. “Mama tidak sakit karena kesalahannya. Penyakit itu diturunkan langsung oleh Nenek Buyut, kemudian Nenek ke Mama. Mereka berdua meninggal pada usia muda karena kanker. Kita harus bersyukur bahwa penyakit Mama terdeteksi lebih awal sehingga Mama bisa selamat.


“Apa yang dialami Hendra juga bukan kesalahan Papa atau Mama. Ini kecelakaan, bisa terjadi pada siapa saja. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah menjadi kuat untuk menolong dia mengingat semuanya kembali. Kita doakan saja semoga hasil MRI-nya baik dan dokter tahu bagaimana menolongnya pulih kembali,” kataku mencoba menghibur mereka dan diriku sendiri.


Mama terisak. Aku berusaha untuk menahan air mataku. Ibu mana yang tidak terluka melihat anaknya sendiri tidak bisa mengingatnya, bahkan menolak sentuhannya. Cara Hendra menatap Mama dan aku di ruangan tadi memang sangat menyakitkan.

__ADS_1


Papa berusaha menenangkan Mama. Dia pamit dan membawa Mama menjauh. Berada di sini lebih lama lagi hanya akan semakin menyakitinya. Aku menatap kepergian mereka. Saat aku akan membalikkan badan, aku melihat Liando datang. Aku tersenyum melihat kotak makanan yang dibawanya.


“Nyonya pasti belum makan malam. Fahri menitipkan makanan untuk Anda dan Tuan Besar. Semua makanan ini aman untuk Tuan.” Dia mengangkat kotak makanan tersebut.


“Aku tahu dia pasti berhati-hati memasak menu yang sehat.” Aku melirik jam tanganku. “Ayo, kita masuk ke dalam. Ajak Sakti untuk ke sini juga.”


Liando mengeluarkan ponselnya dan menelepon Sakti untuk menuju kamar rawat. Aku masuk lebih dahulu, dan melihat Hendra sedang dalam posisi setengah duduk. Mungkin salah satu teman-temanku yang menolong menaikkan bagian atas ranjangnya itu.


Dia membuka dan menoleh ke arah kami. Aku tersenyum kepadanya. “Ini Liando. Salah satu pekerja di rumah kita.” Aku melihat ke arah baki yang berisi piring yang masih tidak disentuh. “Apa kamu mau makan sesuatu?”


Hendra melihat ke arah kotak yang dibawa oleh Liando. “Aromanya enak. Apa itu?” Dia melihat ke arah meja di mana baki berisi makanannya berada. “Aku tidak mau makan makanan itu.”


Dia persis seperti mamanya. Aku meletakkan baki dari rumah sakit ke atas bufet di dekat televisi, lalu mendorong meja kecil beroda empat tersebut hingga berada tepat di depannya. Aku mempersilakan Liando meletakkan kotak makanan tersebut di atas meja.


Sakti masuk ke kamar setelah mengetuk pintu. Aku mempersilakan dia dan Liando untuk duduk. Hendra membasahi bibir dengan lidahnya melihat kotak demi kotak yang sudah aku buka. Aku memberi dua kotak berisi nasi kepada Liando dan Sakti.


“Aku tidak yakin aku akan kenyang hanya dengan memakan roti,” keluhnya saat aku memberi kotak berisi roti kepadanya.


“Kamu belum mulai makan sudah protes. Ada banyak pilihan makanan, kamu pasti kenyang.” Aku memberikan kotak berisi sayuran dan yang berisi lauk-pauk kepada kedua pria itu agar mereka bisa mulai makan. Lalu aku mendekatkan kotak berisi salmon panggang, sayuran hijau, dan telur kepadanya. Matanya berkilat senang melihat semua itu. Aku menggeleng pelan.


“Kamu mau ke mana?” tanyanya saat aku akan duduk di sofa bersama kedua pekerja kami. “Jangan duduk di sana. Kamu bisa duduk di sini.” Dia menepuk tepi ranjangnya. Aku menatapnya dengan heran, lalu menoleh ke arah kedua pria di dekatku. Mereka serentak mengulum senyum.


“Bukannya kamu sore tadi menolak aku, bahkan tidak mau aku sentuh? Lalu mengapa sekarang kamu meminta aku duduk di dekatmu?” tanyaku bingung.


“Kamu bilang bahwa kamu adalah istriku. Laki-laki bodoh mana yang akan menolak punya istri secantik kamu? Lagi pula aku sudah bisa mengingat beberapa hal. Setiap kali kepalaku terasa sakit, ada satu dua hal yang muncul begitu saja di benakku.”

__ADS_1


Aku memicingkan mataku kepadanya. Dia benar-benar hilang ingatan atau hanya berpura-pura?


__ADS_2