Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 225 - Dia Harus Hidup


__ADS_3

Hendra kehilangan banyak darah sehingga mereka membutuhkan donor. Untung saja golongan darah Hendra dan Zach sama. Mereka tidak kesulitan mendapatkan stok darah untuk suamiku. Operasi berlangsung cukup lama dan kami sama-sama mengkhawatirkan keadaannya.


Aku duduk di antara Zach dan Rasmi. Mereka masing-masing memegang tanganku. Aku sudah berhenti menangis, tetapi sesekali air mataku jatuh. Aku tahu bahwa Hendra belum meninggal, dan seharusnya aku tidak merasa sesedih ini. Dia masih berjuang di meja operasi.


“Dokter!” seru Zach. Aku segera menoleh ke arahnya, lalu ke arah yang dia lihat. Seorang pria berpakaian serba hijau berdiri di depan pintu ruang operasi.


Aku berdiri tetapi kakiku terasa lemas. Zach memegang tanganku, aku berterima kasih kepadanya. Kami mendekati dokter tersebut bersama keluarga kami yang lain. Dokter itu melihat kami dengan heran. Jumlah kami memang sangat banyak, apalagi teman-temanku dan suami mereka juga datang.


“Ng, siapa keluarga Pak Mahendra?” tanya dokter tersebut.


“Aku,” jawabku, Zach, orang tuaku, dan mertuaku serentak. Dokter itu membulatkan matanya.


“Maafkan saya, maksud saya, siapa istri Pak Mahendra?” Pria itu meralat pertanyaannya.


“Saya, Dok,” jawabku cepat. Pria itu tersenyum kepadaku.


“Operasinya berhasil. Pendarahan di kepalanya berhasil kami hentikan. Untuk membantu pemulihan lebih cepat kami menginduksi Pak Mahendra. Untuk sementara dia akan kami tempatkan di ICU. Ini juga sudah kami diskusikan dengan dokter keluarga Anda lewat telepon.


“Pak Mahendra sehat dan masih muda, jadi semoga pemulihannya akan cepat. Tetapi saya tidak bisa mengatakan lebih banyak untuk saat ini. Kita perlu menunggu sampai pasien sadar untuk tahu apa yang menjadi efek samping dari kecelakaan tersebut.”


“Apakah kami boleh melihatnya, Dok?” tanyaku penuh harap.


“Boleh. Hanya satu orang per kunjungan. Suster akan datang begitu Anda bisa melihatnya. Saya harap Anda semua pulang setelah melihat kondisi Pak Mahendra karena dia tidak akan bangun sampai besok siang atau sore.” Dokter itu melihat kami semua. “Saya permisi.”


“Terima kasih banyak, Dokter,” ucapku pelan. Dia tersenyum.


“Sudah menjadi tugas saya, Bu. Ibu harus kuat dan berpikir positif agar suami Ibu juga terdorong untuk segera pulih.” Aku mengangguk mendengarnya.


Kami kembali duduk menunggu suster datang mempersilakan kami melihat keadaan Hendra. Walaupun bahaya sudah lewat, kami masih waswas karena Hendra dalam keadaan koma. Syukurlah, setidaknya operasi itu berjalan dengan lancar.


Saat seorang suster keluar dari ruang ICU, dia menyebut nama suamiku. Aku mendekati Mama dan mempersilakan dia yang lebih dahulu melihat putranya. Dia menatap aku tidak percaya, tetapi dengan mata berair, dia mengikuti suster masuk ke ruangan tersebut.

__ADS_1


Papa segera menyambut Mama yang menangis tersedu-sedu saat keluar dari ruangan. Aku memberi kesempatan berikutnya kepada Papa, namun dia menolak. Dia ingin menenangkan Mama terlebih dahulu. Aku menguatkan diri dan masuk ke ruangan tersebut.


Suster menunjukkan baju yang harus aku kenakan beserta sarung tangan, penutup kepala, dan masker. Setelah aku mengenakan semua itu, dia menunjuk sandal khusus yang bisa aku pakai yang ada di lantai. Aku menurutinya.


Ruangan itu sangat besar dengan beberapa bilik yang diisi oleh pasien yang sedang tidur pulas. Hendra berada di sebuah ruangan khusus dengan kaca mengelilingi biliknya. Suster tersebut membukakan pintu dan aku masuk.


Aku nyaris pingsan melihat keadaannya. Ada begitu banyak jarum yang ditancapkan ke kulitnya, lalu mesin pemantau ada di sebelah kirinya. Kepalanya diperban. Aku tidak bisa melihat luka lain yang ada di tubuhnya karena dia memakai gaun khusus pasien. Aku juga tidak berani menyentuhnya, khawatir aku akan menyakitinya.


“Hei, suami bodoh. Aku sudah bilang, jaga emosi kamu. Lihat, apa yang terjadi padamu karena tidak menuruti ucapanku,” kataku pelan. “Bila ini murni kecelakaan, aku terima. Tetapi bila ada yang sengaja mencelakai kamu, kamu lihat saja. Aku pasti akan membalasnya sepuluh kali lipat.”


Aku cepat-cepat menyeka air mata yang hampir jatuh ke pipiku. “Silakan tertawa. Tertawa saja sesuka kamu. Aku tahu bahwa kamu berpikir aku adalah perempuan lemah yang hanya berani memberi ancaman kosong.”


Ya, Tuhan. Aku rindu bertengkar lagi dengannya. Melihat dia hanya diam saja seperti ini rasanya aku seperti bermimpi. Hendra yang perkasa, cerdas, penuh semangat hidup berbaring tidak berdaya di atas dipan ini. Setelah beberapa jam tidak mendengar suaranya, aku harus menunggu satu hari untuk melihatnya membuka mata nakalnya itu.


“Aku harus pergi sekarang. Aku sangat mencintaimu, sayang. Jangan buat aku menunggu kamu lebih lama lagi. Segera kembali padaku,” bisikku sebelum keluar dari ruang kaca tersebut.


Satu-persatu keluargaku masuk menemui Hendra. Semuanya keluar dengan wajah yang semakin sedih. Aku mengerti. Hendra yang kami kenal sehat dan energik itu baru kali ini dalam keadaan sakit. Jadi, tidak mudah melihatnya dalam keadaan tidak berdaya.


“Kami juga akan pulang setelah melihat keadaannya dan berdoa untuk kesembuhannya,” kata Lindsey. “Hendra memerlukan kamu saat dia bangun nanti. Dan dia membutuhkan kamu tetap dalam keadaan sehat.”


Aku menuruti ucapan mereka. Kafin pulang bersama istrinya. Dia perlu beristirahat. Lagi pula dia libur pada akhir pekan. Aku memintanya untuk menuruti apa pun perintah dokter agar dia segera pulih, asuransi kesehatannya akan membayar semua biaya berobatnya sampai sembuh.


Liando yang mengantar aku pulang. Rumah masih sepi. Aku meminta Liando untuk beristirahat dan tidak mengerjakan apa pun sampai bangun tidur. Lalu aku menuju kamarku sendiri. Lima tahun aku pernah berbaring sendiri di kamar ini, tetapi rasanya berbeda ketika harus sendiri lagi.


Setelah membersihkan diri, aku berbaring dan mencoba untuk tidur. Badanku lelah, jiwaku juga, mungkin kedua alasan itu yang membuat aku bisa pulas. Karena saat aku bangun, jam digital menunjukkan pukul satu siang.


Aku mendorong tubuhku ke posisi duduk dan memerhatikan sekitarku. Mirip kilas balik pada film, hal itu terjadi di kepalaku. Aku teringat apa yang terjadi semalam hingga pagi tadi sebelum aku tidur. Sebelum aku mulai menangis memikirkan keadaan yang menimpa kami, aku segera membersihkan wajah dan menyikat gigi.


Setelah berganti pakaian, aku menuju ruang makan. Aku mendengar suara televisi di ruang keluarga berbunyi. Sepertinya anak-anak berada di sana. Abdi dan Fahri segera melayani aku dengan menyajikan makanan di atas meja.


“Terima kasih. Apa anak-anak sudah sarapan dan makan siang?” tanyaku pelan.

__ADS_1


“Sudah, Nyonya. Saya perlu memberitahu bahwa Sakti sedang menjaga Tuan Besar di rumah sakit,” ucap Abdi. Aku menatapnya dengan bingung.


“Untuk apa? Dia berada di ruang ICU, tidak akan ada yang bisa masuk menjaganya di dalam.”


“Perintah Tuan Adhyana, Nyonya,” jawabnya singkat. “Kecelakaan itu masih dalam penyelidikan, jadi perlu ada yang berjaga andai ada yang sengaja ingin mencelakai Tuan.”


“Baik.”


“Nyonya, jika Anda tidak keberatan, kami ingin bergantian pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Tuan Besar,” pintanya dengan nada segan.


“Kalian tidak perlu minta izinku. Pergilah. Lalu siapa yang akan berjaga malam nanti?” tanyaku.


“Liando meminta dia yang berjaga malam ini, Nyonya.” Aku mengangguk mendengarnya. Jika mereka sudah memutuskan, aku tidak mau ikut campur.


Karena jujur lebih baik daripada berbohong, aku mengajak anak-anak bersamaku ke rumah sakit pada sore itu. Bersamaan dengan Abdi dan salah satu petugas keamanan yang ingin menjenguk Hendra. Kami hanya diam saja sepanjang perjalanan. Begitu juga dengan Hadi. Hanya Dira yang masih bertanya mengenai hal-hal yang menarik perhatiannya di luar jendela mobil.


Pak Oscar membantu mengurus izin dari rumah sakit agar anak-anak bisa masuk. Aku hanya akan membawa Hadi melihat keadaan ayahnya, sedangkan Dira masih terlalu kecil. Aku khawatir dia akan terkena penyakit saat masuk ke ruang ICU meskipun ruangan itu steril.


Aku mempersilakan mereka untuk lebih dahulu masuk ke ruang ICU. Saat keluar, mereka memberi ekspresi yang sama. Wajah mereka terlihat pucat seperti melihat hantu. Padahal Hendra sudah baik-baik saja. Dia harus baik-baik saja. Aku tidak akan mengizinkan dia pergi dariku.


Suster jaga mempersilakan aku mendampingi Hadi saat giliran dia masuk. Aku menolongnya memakai gaun khusus dan segala perlengkapannya, kemudian kami diantar ke ruang kaca. Bila pagi tadi wajah dan tubuhnya dipenuhi memar kebiruan, maka sore ini terlihat menghitam. Luka goresan di wajahnya berwarna merah seperti darah.


Hadi menangis melihat keadaan papanya. Aku berusaha untuk menghibur bahwa papanya akan baik-baik saja. Masa kritis sudah lewat dan dia akan segera pulih. Dia khawatir melihat jarum, perban, juga alat bantu pernapasan yang menutupi hidung dan mulut papanya. Setelah aku memberi penjelasan, barulah dia tenang.


“Bagaimana dengan hasil penyelidikan polisi di lokasi kejadian, Pak?” tanyaku kepada Pak Oscar saat kami sudah berkumpul bersama mereka lagi di ruang tunggu.


“Kesimpulan sementara, itu hanya kecelakaan. Mereka tidak menemukan indikasi kesengajaan dari jejak ban mobil maupun truk. Tetapi hasil ini bisa berubah setelah melihat rekaman CCTV nanti,” katanya. Aku tidak puas mendengar itu.


“Aku tidak yakin ini hanya kecelakaan, Pak. Kafin tidak pernah sekalipun ceroboh dalam menyetir,” kataku yang tidak setuju dengan kesimpulan sementara tersebut.


“Saya tahu, Bu. Saya dan Zach juga mencurigai hal yang sama. Kami bahkan berdiskusi dengan Gista untuk tahu siapa yang kira-kira ingin mencelakai Pak Mahendra,” ucapnya setuju.

__ADS_1


Aku tahu siapa kira-kira yang ingin mencelakai suamiku. Ada banyak orang di luar sana yang aku tahu tidak menyukainya sebagai saingan mereka. Tetapi hanya satu orang ini yang secara konsisten hadir dalam kehidupan suamiku belakangan ini. Masalahnya, aku tidak bisa menuduh tanpa bukti.


__ADS_2