
Annora dan keluarganya turun satu jam kemudian. Mereka sudah dalam keadaan bersih dan segar. Kami menemani mereka makan. Anak-anak meminta salad buah, maka aku meminta Yuyun untuk menyajikannya. Aku dan Hendra hanya meminta segelas air putih. Kami masih kenyang setelah makan malam bersama kami tadi.
Fahri memasak makanan Indonesia atas permintaan mereka. Selama menginap di hotel, mereka jarang menyantap makanan lokal. Hotel lebih banyak menyajikan masakan barat yang sudah menjadi makanan mereka sehari-hari di negeri mereka sendiri.
“Hmm …. Udara kedamaian itu menyegarkan, ya?” ucap Annora yang menarik napas panjang. Aku tertawa mendengarnya. “Aku sangat bersyukur bisa menemukan kelemahan wanita itu pada saat yang tepat. Dia tidak akan bisa mengganggu hidup kalian lagi.”
“Bagaimana kamu bisa meyakinkan keluarganya bahwa Nora bukanlah anak kandung orang tuanya? Apa kamu diam-diam melakukan pemeriksaan DNA lalu memberikan hasilnya kepada mereka?” tanyaku ingin tahu. Annora menggeleng pelan.
“Untuk seseorang yang sangat menginginkan sesuatu, mereka tidak butuh bukti. Mereka hanya butuh keraguan yang bisa mereka cari tahu sendiri kebenarannya,” jawab Annora santai. “Aku tidak tahu bagaimana Nelson dan istrinya membesarkan putri mereka. Tetapi dia bukan wanita yang disukai banyak orang. Keluarga besar mereka membencinya.
“Aku cukup membisikkan fakta yang aku ketahui, mereka langsung bergerak dengan cepat. Mereka memaksa Nora dan ibunya untuk melakukan tes dan kurang dari dua puluh empat jam, mereka mendapatkan jawaban yang mereka cari. Nora bukan putri kandung mereka. Namanya segera dicoret sebagai ahli waris.
“Karena tidak ada yang menyukainya di hotel milik mereka atau perusahaan keluarga itu, maka tidak sulit bagi mereka untuk mendapat dukungan dari sebagian pemegang saham dan dewan direksi. Nora ditolak untuk menggantikan posisi Nelson.” Annora memasukkan satu sendok penuh nasi dan daging rendang ke dalam mulutnya. Senyum puas menghiasi wajahnya.
Xavier dan Hendra terlibat percakapan yang serius mengenai pekerjaan dan rencana proyek baru yang akan mereka kerjakan dalam waktu dekat. Aku dan Annora saling menatap penuh arti. Mereka tidak akan bisa kami ganggu bila sudah bicara mengenai kerja sama bisnis.
Kami tidak terjaga terlalu lama karena semua orang sudah mengantuk setelah beberapa menit kami duduk bersama di ruang duduk. Membantu anak-anak melakukan ritual sebelum tidur mereka sebentar, aku dan Hendra memasuki kamar kami bersama. Kami membersihkan wajah dan menyikat gigi bersama di kamar mandi.
“Apa kamu akan pergi ke London dalam waktu dekat?” tanyaku mengingat percakapan seriusnya tadi bersama Xavier.
“Tidak dalam waktu dekat.” Mataku menatap dadanya saat dia membuka pakaiannya. Sebuah kaus melayang menutup wajahku menghalangi aku untuk menikmati pemandangan itu lebih lama. Aku melempar baju itu kembali kepadanya. Dia tertawa. “Kamu mau ikut?”
“Apa anak-anak juga akan ikut bersama kita?” Aku membuka dress yang aku kenakan dan merasakan dia sedang menatapku dengan mata laparnya. Apa boleh buat, kami hanya bisa membuat satu sama lain tergoda tetapi belum bisa bertindak terlalu jauh. Drama itu berakhir begitu kami mengenakan baju tidur masing-masing.
__ADS_1
“Boleh. Ini akan menjadi perjalanan libur kita selanjutnya.” Dia tiba-tiba saja mengangkat tubuhku dan membopong aku ke tempat tidur. Aku memekik pelan, kemudian tertawa bersamanya. Aku melingkarkan tanganku di lehernya, lalu mencium bibirnya. “Bagaimana menurutmu?”
“Aku setuju! Kapan rencananya kita akan pergi?” Aku bergeser setelah dia meletakkan aku di ranjang. Dia membuka selimut, lalu berbaring di sisiku.
“Bila tidak ada kendala, mungkin bulan depan. Kita harus melihat perkembangan pemulihan Mama dahulu. Akhir bulan ini dokter akan memeriksa apa ada kanker yang kembali tumbuh. Bila tidak, maka kita aman untuk pergi. Jika ditemukan ada sel yang tertinggal, kamu tahu bahwa Mama akan membutuhkan kamu selama dia menjalani kemoterapi atau radiasi.” Aku mengangguk.
“Bicara tentang Mama, aku lupa memberitahumu. Nora tidak akan pernah datang lagi mengganggu kehidupan kita. Mama mengatakan kepadanya agar jangan pernah datang lagi.”
“Akhirnya, mata Mama terbuka juga. Apa sudah ada wanita baru yang Mama siapkan untukku?” Dia tertawa kecil. Aku menatapnya tidak percaya.
“Kamu juga menduga bahwa Mama akan mempersiapkan gadis lain untukmu?”
“Apa kamu pikir selama lima tahun kita berpisah, hanya Nora perempuan yang diperkenalkan Mama kepadaku?” Dia balik bertanya. Aku menjauhkan diri darinya agar bisa melihat wajahnya.
“Banyak. Melebihi jumlah jari yang ada di kedua tanganku. Nora adalah yang paling lama. Biasanya Mama hanya membawa mereka satu atau dua kali, lalu tidak membawanya lagi ketika aku tidak memberikan respons. Mungkin Mama bosan menggunakan cara yang sama, jadi dia mengubah strateginya saat memperkenalkan Nora.”
“Aku jadi khawatir. Bagaimana kalau kamu akan tertarik dengan salah satu dari mereka nanti?”
“Sayang, lima tahun tanpamu, aku bertahan. Apalagi sekarang saat kita sudah kembali bersama. Tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi. Aku hanya milikmu.”
“Mama sepertinya menggunakan strategi baru berikutnya. Dia mendekatkan aku dengan salah satu dokternya,” kataku pelan.
“Dokter yang mana?”
__ADS_1
“Dokter Gerhard.”
“Teman SMU kamu itu? Biarkan saja. Kamu tidak perlu tersinggung dengan sikap atau ucapan Mama. Oke? Karena itu tidak penting. Yang terpenting adalah aku memilih kamu.” Dia memeluk aku dengan erat. Aku tersenyum bahagia. “Aku mencintaimu, sayang.”
“Aku lebih mencintai kamu.”
Pagi itu, Hendra pergi lebih awal dari biasanya. Ada rapat penting yang harus dia hadiri bersama para pengusaha lain di kantor walikota. Hadi berangkat ke sekolahnya seperti biasa dan dia mengingatkan aku mengenai janjiku untuk membawanya menemui neneknya. Aku mengangguk mengerti.
Annora dan keluarganya bangun lebih lama dari kami yang bisa aku maklumi. Zona waktu di negara mereka dengan negeri ini berbeda tujuh jam. Mereka seharusnya masih tidur ketika kami sudah memulai aktivitas pagi. Tetapi mereka ingin mampir ke rumah Mama. Masih ada cukup waktu untuk mengejar penerbangan mereka kembali ke London bila kami makan siang bersama mertuaku di rumah mereka.
Liando dan Sakti mengantar kami dengan dua mobil karena kami tidak bisa berada pada satu mobil yang sama ditambah dengan ketiga koper mereka. Lagi pula mereka membutuhkan satu mobil untuk mengantar mereka ke bandara nanti. Xavier menolak tetapi Hendra memaksanya untuk menerima bantuan tersebut.
Kedua mertuaku menyambut kedatangan Xavier dan Annora dengan wajah bahagia. Mereka sudah mengenal pasangan ini, jauh sebelum aku mengenal mereka. Melihat Liam dan Jax sudah tumbuh menjadi remaja yang tampan, Mama tidak henti menatap mereka dengan kagum. Aku tertawa melihat Papa bisa cemburu juga.
“Aku senang melihat Tante pulih dengan cepat,” ucap Annora dengan riang setelah mendengar cerita Papa dan Mama mengenai kondisi kesehatan Mama. “Om sangat baik mau menemani Tante dan merawatnya juga. Xavier belum tentu mau repot-repot begini untukku. Dia pasti lebih memilih menyewa seorang perawat agar dia tetap bisa mengawasi perusahaannya.” Annora melirik ke arah suaminya yang hanya tertawa kecil.
“Kita datang ke sini untuk melihat keadaan Tante Naava. Mengapa kamu malah membahas aku, sayang? Apa kamu secinta itu kepadaku sampai tidak bisa melupakan aku sedetik saja?” Xavier balas menggoda istrinya.
Pintu diketuk dan seorang pelayan masuk untuk memberitahukan bahwa makan siang sudah siap. Mama menjawab agar memanggil kami lagi saat Hadi sudah sampai. Wanita itu menurut dan keluar dari ruangan. Kami melanjutkan pembicaraan santai kami.
Tidak lama kemudian terdengar pintu depan terbuka, pertanda ada tamu yang datang. Aku melirik jam tanganku. Itu pasti Hadi dan Colin. Ini sudah lewat dari jam pulang sekolah mereka. Pintu ruangan kembali terbuka dan kehadiran wanita tadi membenarkan dugaanku. Tetapi ada suara lain yang menarik perhatianku. Suara tangisan.
Hadi dan Colin muncul di ambang pintu. Putraku masuk dengan wajah merasa bersalah, sedangkan Colin menangis tersedu-sedu. Will tidak akan suka bila dia tahu bahwa putra satu-satunya menangis saat dia tidak ada di dekatnya. Kami semua saling bertukar pandang tidak mengerti.
__ADS_1
“Colin, ada apa? Apa yang terjadi?” tanyaku yang berdiri lalu mendekatinya dan Hadi. Dia hanya menangis sesenggukan. “Hadi, apa yang terjadi di mobil? Mengapa sahabatmu menangis?”