
“Kamu sudah memastikan bahwa ikan ini masak dan tidak setengah matang, ‘kan?” tanyaku sekali lagi kepada Fahri. Dia tertawa kecil.
“Nyonya, ini bukan pertama kalinya saya memasak ikan salmon panggang dengan brokoli dan kacang polong. Nyonya jangan khawatir. Semua makanan ini matang dan bersih dengan sempurna, sangat aman untuk Nyonya Besar … ah, maksud saya, Nyonya Naava,” katanya meyakinkan aku.
“Aku hanya berhati-hati. Kamu tahu sendiri bahwa Mama sedang menderita kanker, tidak boleh makan sembarangan.” Aku menerima kotak bekal yang sudah dihias indah oleh Yuyun. “Terima kasih. Aku tidak akan makan siang di rumah, jadi kalian makanlah. Jangan tunggu aku. Sampai nanti.”
Dira berada dalam gendongan Abdi yang kemudian membantunya untuk duduk di kursi khususnya di dalam mobil. Dia menutup pintu mobil setelah aku duduk di samping putriku. Gadis itu tidak takut duduk di jok tengah. Dia malah senang bisa melihat langsung pemandangan lalu lintas di depannya.
Hendra akan marah bila dia tahu kepergianku hari ini. Tetapi aku akan menghadapi dia nanti. Aku tidak bisa tidak memberi dukungan kepada ibu mertuaku sendiri yang akan menghadapi hari yang menakutkan bagi perempuan mana pun.
Aku berada di sisi Mama saat dia begitu takut menentukan langkah selanjutnya untuk mengobati penyakitnya. Kerapuhannya yang hanya dia tunjukkan kepadaku di salah satu ruang rapat yang ada di gedung kantor milik keluarga kami.
Mama terlihat tenang selama mengikuti acara pada hari Rabu lalu, bukan berarti dia tidak takut dan berdebar-debar menantikan operasi besar yang akan dijalaninya. Kebetulan hari ini Will membawa Colin makan siang di restoran kesukaan putranya. Mereka mengajak Hadi juga, maka ini waktu yang tepat untuk datang menemui Mama dan makan bersamanya juga Papa.
“Selamat datang, Nyonya. Mari, saya antar menemui Tuan dan Nyonya Besar,” sambut kepala pelayan yang membukakan pintu untukku dan Dira. Aku berterima kasih kepadanya. Kami diantar menuju ruang keluarga. “Tuan, Nyonya, ada Nyonya Mahendra.”
“Hai, Nak. Ayo, masuk,” sapa Papa yang berdiri menyambutku. Mama duduk di sisinya dan tidak melihat ke arahku sama sekali. Nora duduk di kursi di dekatnya dengan senyuman yang dibuat-buat. Mengapa aku harus melihatnya juga ada di tempat ini? Kunjunganku tidak akan berjalan dengan baik dengan adanya si pembuat kekacauan ini.
“Hai, Om, Tante, dan Nora,” balasku dengan menyapa mereka semua. Tante hanya menganggukkan kepalanya, sedangkan Nora menatapku sesaat sebelum meminum tehnya.
“Kamu sudah bisa berhenti memanggilku dengan Om. Panggil aku seperti biasanya saja.” Aku hampir menangis mendengar ucapannya itu. Tetapi aku berhasil menahan diri. Aku mengangguk pelan. “Ayo, duduk. Apa yang kamu bawa? Aromanya sedap sekali.”
“Oh. Ini makanan untuk Tante. Salmon panggang dengan brokoli dengan kacang polong dan salad tomat, wortel, dan kubis merah, Pa. Semuanya disiapkan oleh Fahri,” jawabku. Wajah Papa segera berubah ceria.
“Wah, sayang, lihat! Kebetulan sekali. Kamu tadi bilang ingin makan ikan salmon. Terima kasih, Nak.” Papa menerima kotak bekal tersebut, lalu memberikannya kepada kepala pelayan yang masih berada di ruangan bersama kami. “Siapkan makanan ini di ruang makan.”
__ADS_1
“Baik, Tuan.” Pria itu kemudian keluar. Aku duduk bersama Dira.
“Di mana Hadi? Dia tidak ikut bersama kalian?” tanyanya melihat aku hanya datang bersama putriku.
“Hadi makan siang bersama teman sekolahnya, Pa. Aku bisa meminta Liando untuk menjemput dia dan membawanya ke sini bila Papa mau menemuinya,” ucapku mengajukan usul.
“Tidak, tidak. Lain kali saja. Aku hanya ingin tahu mengapa dia tidak ikut bersamamu.” Papa melihat ke arah Mama. “Kita makan siang sekarang, sayang? Kamu bilang kamu sudah lapar tadi.”
“Iya.” Mama berdiri kemudian menoleh ke arah Nora. “Ayo, Nak. Kita makan sekarang.”
“Baik, Tante.” Wanita itu berdiri dan menggandeng tangan Mama. Dia menoleh sekilas ke arahku untuk melemparkan senyum penuh kemenangannya. Aku hanya menggeleng pelan.
Papa masih duduk, aku menatapnya dengan bingung. Dia hanya mengikuti Mama dan Nora dengan pandangan matanya. Setelah mereka keluar dan pintu tertutup, Papa menoleh ke arahku. Aku menunggu karena sepertinya Papa ingin mengatakan sesuatu.
“Tidak, Pa. Apa itu?” tanyaku ingin tahu.
“Steak dari restoran kesukaanmu dan mamamu,” kata Papa penuh arti.
“Bukankah Mama tidak boleh makan daging?” tanyaku heran. Papa tertawa.
“Karena itu mereka tadi hanya diam saja saat tahu apa yang kamu bawa.” Papa berdiri. “Ayo, kita lihat. Apa mamamu akan memakan masakan yang kamu bawa atau jual mahal.” Aku tertawa kecil.
Aku dan Papa saling bertukar pandang ketika Mama menyantap makanan yang aku bawa. Karena Fahri adalah murid koki utama di rumah ini, maka rasa masakannya tidak jauh berbeda. Nora hanya cemberut saja melihat betapa lahapnya Mama makan.
Dira juga minta tambah beberapa kali. Tetapi dia hanya mau makan ikan dan harus dibujuk untuk memakan sayurnya juga. Aku dan Papa lebih memilih menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh koki mereka. Ayam panggang dengan bumbu yang tidak terlalu pedas. Dengan begitu, Mama bisa memakan ikan itu sebanyak yang dia butuhkan.
__ADS_1
“Kamu dan Hendra akan berbulan madu besok, apa anak-anak juga ikut?” tanya Papa memecahkan keheningan di ruang makan. Aku menatapnya sesaat. Apa suamiku yang memberitahu mengenai rencana kami tersebut?
“Kami memutuskan untuk tidak pergi, Pa.” Aku tersenyum. “Hendra sedang sibuk mencari siapa yang menyebarkan kabar bohong mengenai Papa dan Gista. Dia juga berusaha agar berita ini tidak semakin liar. Timnya memburu beberapa akun yang sengaja membentuk opini publik.” Aku melihat Mama dan Nora juga saat bicara, sembari memerhatikan reaksi mereka.
“Ada apa kamu melihat aku seperti itu? Kamu sedang menuduh aku?” tanya Nora tersinggung. Aku tertegun mendengarnya. Dia tidak perlu merasa tertuduh bila dia tidak melakukan apa-apa. “Aku tidak membayar siapa pun untuk menyebar fitnah. Aku sudah berjanji tidak akan melakukannya lagi, dan aku tidak akan melanggar janjiku sendiri.”
“Zahara tidak hanya melihat ke arah kamu, Nora. Dia melihat ke arah kita semua. Mengapa kamu berpikir bahwa dia sedang menuduh kamu?” tanya Papa bingung. Nora merapatkan bibirnya, dia pasti tidak menduga bahwa Papa akan membela aku. “Maafkan aku, Nak. Acara kalian berakhir kurang enak karena isu mengenai aku. Sampai-sampai bulan madu kalian pun batal.”
“Tidak apa-apa, Pa. Masalah Papa adalah masalah kami juga. Kita akan segera tahu siapa yang berbuat sejahat ini. Sama seperti kasus-kasus sebelumnya, mereka akan mendapat hukuman yang setimpal. Itu janji Hendra,” kataku menghiburnya. Kalau bukan karena Hendra dan peraturan anehnya itu, aku akan menyentuh tangan Papa untuk menyatakan dukunganku.
“Aku senang masih ada orang yang percaya kepadaku dan bukan wartawan itu.” Papa menoleh ke arah Mama. “Putra dan menantuku percaya bahwa isu itu adalah kabar bohong.”
“Mereka akan mengatakan apa saja asalkan bisa mendapatkan dukungan darimu. Bisa jadi mereka yang menyebarkan berita itu, lalu berpura-pura untuk menyelesaikannya. Mereka tahu bahwa Nora akan menjadi tersangka satu-satunya karena dia pernah melakukan hal yang serupa.” Mama mengangkat kedua bahunya dengan santai. Aku menatapnya tidak percaya.
“Yang baru saja kamu tuduh tanpa bukti adalah putramu sendiri, sayang. Aku mengerti bila kamu tidak percaya pada ketulusan Zahara. Tetapi Hendra adalah putra kita. Dia tidak akan pernah sekali pun menyakiti kita dengan sengaja,” protes Papa.
“Selama dia masih hidup dengan perempuan ini, percayalah, Pa. Hendra akan melakukan apa saja agar kita memaafkan wanita ini dan menerimanya kembali sebagai menantu kita,” kata Mama.
“Hendra tidak perlu melakukan apa pun untuk mendapatkan dukungan dan kepercayaan dari orang tuanya. Kita suka atau tidak, Zahara adalah menantu sah kita. Mereka berdua sudah rujuk,” kata Papa dengan tegas.
“Om, maafkan aku menyela. Tetapi Tante sedang sakit. Om tidak bisa memarahi Tante seperti ini.” Nora menyentuh tangan Mama yang ada di atas meja.
“Dia hanya sakit, bukan sekarat. Justru jika dia terus menyimpan dendam, marah, dan pikiran negatif dalam dirinya, maka penyakitnya akan semakin menggerogoti tubuhnya.” Papa melihat ke arah Nora. “Sejak dia mengenal kamu, kami tidak berhenti bertengkar. Berbeda sekali dengan Zahara. Dia selalu bisa membuat kami yang bertengkar hebat sekalipun kembali mesra.”
“Om dan Tante bertengkar karena isu itu, mengapa Om malah menyalahkan aku?” Dia memasang wajah sedih. “Bila aku tidak diinginkan berada di tempat ini, aku akan pergi.” Ya, Tuhan. Drama apa ini? Mengapa kedua mertuaku jadi begini?
__ADS_1