
Sesuai yang kami rencanakan, aku dan Hendra makan malam bersama orang tuaku di rumah mereka pada malam Natal. Keadaan Mama sudah jauh lebih baik, bahkan sudah tidak sabar untuk segera menggendong cucu pertamanya.
Zach dan Rasmi mengatakan rencana mereka untuk menikah pada tahun depan yang kami sambut dengan gembira. Rasmi sudah lama memberitahu keluarganya bahwa dia jatuh cinta dengan seorang pria. Mereka tidak pernah menyatakan keberatan mereka setelah tahu latar belakangnya. Tetapi dia tidak bisa menjamin bahwa reaksi keluarganya akan sama ketika melihat Zach secara langsung nanti.
Hendra sekali lagi menyatakan dukungannya secara penuh andai keluarga Rasmi mempersulit rencana mereka untuk menikah. Benar-benar pahlawanku yang gagah perkasa.
Pada Hari Natal, kami berkumpul di rumah Lindsey. Setelah sekian lama, aku akhirnya bertemu lagi dengan putri Claudia dan mengucapkan selamat atas kehamilannya. Dia mirip seperti ibunya yang bersikap ramah kepada semua orang. Dia bahkan setuju saja dengan rencana menjodohkan anaknya dengan anakku. Dia dan suaminya juga berharap bahwa anak pertama mereka adalah perempuan.
“Aku tidak percaya ini.” Hendra tertawa kecil. “Kalian bersikap berlebihan. Anak kita bahkan belum lahir, kalian sudah merencanakan pernikahan mereka.”
“Kamu tidak perlu percaya atau mengerti. Yang penting, anak-anak kita bahagia,” ucapku senang.
“Yang penting, kamu bahagia.” Dia mencium rambutku. Aku memeluknya dengan erat.
“Dan kamu juga bahagia,” kataku tidak mau kalah.
Menjelang malam Tahun Baru, aku tidur sepanjang siang hingga sore hari agar bisa mengikuti acara di rumah Darla. Kami akan menyambut Tahun Baru bersama di sana. Tetapi aku tidak sekuat yang aku duga. Aku tertidur dan bangun pada pagi hari di kamarku sendiri. Suamiku menertawaiku, aku cemberut sepanjang hari itu karena ejekannya.
Walaupun kondisi perutku sangat besar dan aku kesulitan bergerak, aku tidak pernah melewatkan hari tanpa melakukan senam. Tidak ada kedua ibuku yang mendampingiku, aku tetap melakukannya demi bisa melahirkan dengan lancar. Makanan juga sangat aku jaga. Untuk emosi, Hendra sangat banyak membantuku agar tidak memikirkan hal yang tidak penting.
“Aw.” Aku menyentuh perutku saat merasakan sakit.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Hendra yang duduk di sisiku.
“Terjadi lagi. Sepertinya ini bukan kontraksi palsu. Aku merasakannya beberapa kali sejak pagi tadi. Jaraknya semakin berdekatan.” Aku mengusap-usap perutku.
“Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang.” Hendra memberi perintah kepada Kafin.
“Bagaimana dengan keperluan selama di sana nanti?” tanyaku.
__ADS_1
“Tasnya ada di bagasi.” Hendra memelukku. “Kita akan segera bertemu putra kita, sayang.”
Segera yang dimaksudkan oleh Hendra tidak secepat yang aku bayangkan. Aku harus menahan rasa sakit berjam-jam. Tidak peduli apa pun yang aku lakukan, entah duduk, berdiri, berjalan, berbaring, rasa sakit itu tidak berkurang. Suster dan bidan memeriksa keadaanku dan memutuskan bahwa aku belum membutuhkan pengurang rasa sakit. Tentu saja. Karena bukan mereka yang merasakannya.
Hendra tidak meninggalkan sisiku sedetik pun. Setiap kali ada petugas medis pria yang masuk, dia segera mengusirnya. Dia hanya mengizinkan aku ditangani oleh wanita. Syukurlah. Karena aku juga tidak akan sudi membiarkan para laki-laki itu melihat atau menyentuh daerah kewanitaanku.
Setelah pertengkaran hebat dengan Hendra, melawan rasa sakit yang membuatku ingin mati saja, dan dorongan kuat yang menghabiskan tenagaku yang tersisa, jagoan kecil itu pun lahir ke dunia. Aku menangis saat mendengar suara tangisannya untuk pertama kali.
“Hadiyan Bagas Perkasa,” bisik Hendra saat putra kami sedang berada dalam pelukanku. “Terima kasih, sayang. Kamu ibu yang keren.”
Dua hari berada di rumah sakit, aku tidak bisa beristirahat karena banyaknya orang yang berkunjung. Si kecil juga tidak bisa pisah dariku. Dia selalu lapar, ditambah lagi, dia akan menangis jika diletakkan di tempat tidurnya. Untung saja dia masih mau dipeluk oleh ayahnya atau aku akan kelelahan harus terus menjaganya.
Pulang ke rumah adalah hal yang paling aku tunggu-tunggu. Aku bisa tidur pulas lagi di ranjangku, mandi di bak yang menenangkan, dan makan makanan yang lezat. Yang paling aku rindukan, bisa tidur dalam pelukan suamiku lagi.
Semua orang langsung jatuh cinta kepada Hadi, begitu kami memanggilnya. Papa dan Mama datang setiap hari untuk melihat keadaannya. Om dan calon tantenya juga. Belum lagi para om dan tante yang lebih pantas dipanggil kakek dan nenek, tetapi mereka menolak.
“Baik. Aku bisa istirahat beberapa jam saat si kecil tidur.”
“Apakah Yuyun membantumu saat kamu membutuhkan sesuatu?” tanyanya. Aku mengangguk.
“Bagaimana dengan pekerjaan di kantor?” Aku balik bertanya.
“Semuanya lancar. Aku juga sempat bicara dengan Papa mengenai proyek baru kita. Mungkin pada pertengahan tahun nanti aku akan ke London lagi untuk menemui Xavier.” Dia turun dari tempat tidur. “Kamu pasti sudah lapar. Aku mandi sebentar.”
Kami baru saja selesai makan malam, Yuyun datang membawa Hadi yang sedang menangis. Bayiku lapar. Hendra mengajakku ke ruang keluarga agar aku bisa duduk lebih nyaman di sofa. Ketika si kecil pulas, suamiku menawarkan diri untuk membawanya kembali ke kamarnya. Aku memejamkan mata sesaat menunggu dia kembali.
Mendengar pintu dibuka, aku menegakkan dudukku. Hendra tidak duduk di sisiku. Dia duduk di kursi di depanku dengan meja berada di antara kami. Dia meletakkan sebuah map ke atas meja. Aku menatapnya dengan heran.
“Bacalah,” ucap Hendra. Aku mengambil map tersebut dan membuka sampulnya. Mataku membulat membaca kepala surat berkas pertama.
__ADS_1
“Hendra? Apa ini?” tanyaku dengan suara bergetar.
“Kamu sudah memberiku seorang anak laki-laki. Itu sudah cukup,” katanya pelan. “Aku tidak akan menahanmu di sini. Kamu tidak bahagia bersamaku. Aku juga tidak akan bisa menyentuhmu lagi. Ini tidak adil untukmu. Kamu berhak untuk hidup bersama pria yang bisa mencintaimu.”
“Jangan khawatir mengenai apa pun. Segala kebutuhanmu akan aku tanggung sampai kamu menemukan suami. Aku tidak akan lepas tangan begitu saja,” katanya menambahkan.
“Hendra,” kataku pelan.
“Aku serahkan Hadi sepenuhnya dalam pengasuhanmu.” Dengan cepat dia memotong ucapanku. “Begitu dia berusia lima tahun, aku akan datang menjemputnya sebulan sekali untuk menghabiskan akhir pekan bersamaku. Aku tidak peduli apakah kamu akan memberitahunya mengenai ayahnya. Tetapi saat dia berusia lima tahun, aku akan datang.”
“Jadi, kamu tidak mau kita bersama lagi? Benar-benar tidak ada kata maaf untukku?”
“Jangan khawatirkan Papa dan Mama. Mereka tidak akan mengganggumu lagi. Mereka tahu bahwa Hadi adalah benar putra kandungku.”
“Aku tidak peduli. Apa yang ingin mereka percayai, aku tidak mau tahu. Aku sedang bertanya kepadamu dan kamu terus saja bicara mengabaikan aku.”
“Aku memberikan seluruh cinta, perhatian, dan waktuku hanya untukmu selama enam tahun. Apakah itu masih belum cukup?” Pertanyaan itu bagai sebuah tamparan keras untukku. “Kamu masih ingin menambah berapa tahun lagi dalam pernikahan tanpa cinta kita?”
...*******...
...~Author's Note~...
Mohon maaf atas keterlambatan tayang hari ini, ya, teman-teman. Aku pergi ke puskesmas untuk vaksin pagi tadi. Tetapi itu pun gagal karena perdebatan panjang dengan dokter jaga. So, aku coba lagi di lain hari saja.
Terima kasih atas pengertiannya. Lanjutannya akan aku publikasikan secepatnya. (。・ω・。)ノ♡
Salam sayang,
Meina H.
__ADS_1