Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 83 - Lukamu Terlalu Dalam


__ADS_3

Satu per satu air mata jatuh dari pelupuk mataku. Bodohnya aku. Setelah apa yang aku lakukan, aku masih berharap akan ada kesempatan bagi kami untuk memperbaiki pernikahan yang sudah lama hancur ini? Hendra tidak mencintaiku lagi. Dia hanya menunggu sampai aku melahirkan dan cukup kuat untuk mendengar keputusan yang sudah lama diambilnya.


Hendra yang sangat aku cintai ingin bercerai dariku.


Dia mendesah pelan, lalu berdiri. Aku ingin menahannya, tetapi aku juga tidak mau membuatnya menderita lebih lama lagi. Jika ini keputusannya, maka aku harus menerimanya. Bukan pergi meninggalkan ruangan, dia malah duduk di sisiku. Aku menoleh ke arahnya. Dia tersenyum lalu membelai pipiku. Air mataku kembali jatuh.


“Aku tahu mengapa kamu tidak bisa mencintaiku. Itu bukan karena kamu membenciku. Atau karena pernikahan kita bukanlah keinginanmu sendiri. Kamu juga tidak akan bisa mencintai pria lain. Karena kamu takut terluka lagi. Kamu mencintai mantanmu begitu dalam, sampai kamu mengabaikan setiap hal yang janggal dalam hubungan kalian, menerima dia apa adanya, memaafkan setiap kesalahannya, tetapi dia malah mengkhianatimu.


“Kamu terluka begitu dalam sehingga lebih mudah bagimu untuk memaafkannya daripada membuka hatimu untuk pria lain. Kamu tidak siap untuk terluka lagi. Kamu tidak siap untuk memercayakan hatimu kepada pria baru yang sebenarnya sudah berhasil mengisi hatimu, semua karena kamu tidak mau terluka lagi.


“Dan hal itu membuatmu salah membaca hatimu sendiri. Kamu menyerahkan tubuhmu kepadanya karena kamu pikir kamu masih mencintainya. Tetapi kamu tidak merasakan apa yang kamu harapkan setelah menjadi satu dengannya.


“Kamu hanya melukai dirimu sendiri. Kamu tahu mengapa? Karena kamu tahu bahwa yang kamu lakukan itu akan melukai pria yang telah lama tinggal di hatimu. Dan kamu baru menyadari hal itu ketika semuanya sudah terlambat. Dan, kamu terluka lagi.


“Aku terluka parah karena perbuatanmu itu. Bagaimana bisa kamu tega melakukannya? Bagaimana bisa kamu memberikan hakku, milikku, kepada pria lain? Pria yang telah berulang kali mencabik-cabik harga diriku tanpa perlu hadir di depanku.

__ADS_1


“Aku mengenyampingkan harga diriku dengan terus berusaha mendapatkan hatimu. Hati istriku sendiri. Tetapi apa yang kamu lakukan? Terus-menerus membiarkan pria lain yang bahkan tidak mau memperjuangkan cintanya untuk tetap ada di hatimu. Dan kamu menutup mata hatimu untuk semua perjuanganku?


“Apa yang tidak akan aku lakukan untuk membuatmu tertawa? Apa yang tidak akan aku berikan untuk membuatmu bahagia? Apa yang tidak akan aku korbankan untuk menghapus kesedihanmu? Apa kekuranganku, Za? Sampai kamu membenciku dan menolak cintaku?”


“Maafkan aku, Hen. Tolong, jangan teruskan lagi.” Aku tidak lagi menahan tangisku dan meraung merasakan sakit di dadaku. Hendra memelukku untuk meredam suara tangisku tetapi dia tidak bisa meredam kecamuk rasa bersalah di dadaku.


Ya, Tuhan. Apa yang sudah aku lakukan? Bagaimana bisa selama ini aku sebuta itu? Aku sangat mencintai pria ini, mengapa pada saat yang bersamaan aku juga harus melepaskannya? Apakah tidak ada jalan bagi kami untuk bisa bersama lagi?


“Perpisahan adalah jalan satu-satunya untuk kita. Aku tidak bisa hidup bersamamu dan membiarkan pikiranku dihantui oleh bayanganmu saat bersama pria lain. Aku tidak sekuat itu, sayang. Aku sudah mencoba dan maafkan aku, aku tidak sanggup menjalani pernikahan ini lagi.”


Tangannya yang ada di daguku mengangkat wajahku agar menatapnya. Saat bibirnya bertemu dengan bibirku, aku tidak menginginkannya. Dia menciumku begitu lama dan dalam, tetapi aku tidak mendambakannya. Ini bukan ciuman penuh cinta. Dia sedang mengucapkan selamat tinggal.


“Sampai jumpa di pengadilan, Zahara.” Dia melepaskan pelukannya dan berdiri. Aku tidak menahan atau mengatakan apa pun agar dia mau tinggal di sini lebih lama. Dia keluar dari ruangan, tangisku pun pecah. Semuanya sudah berakhir.


Mendengar deru halus mesin mobil, aku tertegun. Dia mau pergi ke mana? Bukankah dia baru pulang dari tempat kerjanya? Aku segera berdiri dan berjalan menuju pintu depan. Abdi berdiri di sana dengan pintu masih terbuka. Tetapi mobil Hendra sudah keluar dari pekarangan.

__ADS_1


“Dia pergi ke mana?” tanyaku kepada Abdi. Jantungku berdebar keras, takut mendengar jawaban yang pasti tidak akan aku suka.


“Mulai dari malam ini, Tuan akan tinggal di apartemen barunya, Nyonya,” katanya. Apartemen? Sejak kapan dia membeli sebuah apartemen? Apakah itu artinya dia tidak akan tinggal di sini lagi bersamaku dan Hadi? Kami belum memulai proses perceraian tetapi dia sudah pergi dari rumah?


Aku menatap ke arah gerbang di mana terakhir kali mobilnya berada. Ini bukan mimpi. Aku masuk ke rumah dengan langkah gontai. Rumah besar itu kini terasa sangat kosong. Jauh lebih kosong daripada enam tahun yang aku jalani bersama Hendra. Lalu semuanya menjadi gelap. Segelap duniaku tanpa Hendra lagi.


Saat membuka mata, aku melihat wajah khawatir Abdi dan Liando. Aku melihat ke sekelilingku. Oh, aku sedang berbaring di kamar. Lalu aku mendengar suara tangisan bayi. Putraku membutuhkan aku. Aku mengulurkan tangan, Abdi segera membantuku untuk duduk.


“Kalian keluarlah, Hadi lapar.” Aku menerima putraku dari Yuyun. Mereka bertiga pamit untuk keluar dari ruangan. Aku menyusui si kecil, dan dia pun berhenti menangis.


Setetes air mata jatuh mengenai kening putraku. Aku segera menyekanya. Aku menarik napas panjang, berusaha untuk menenangkan diri. Aku tidak bisa membiarkan masalah ini melemahkan aku. Perpisahanku dengan Hendra sudah seharusnya terjadi. Aku masih punya Hadi dan dia membutuhkan ibu yang kuat.


Semua yang terjadi adalah kesalahanku sendiri. Jika aku harus membayar dosaku dengan menderita seumur hidup, akan aku jalani. Aku pantas ditinggalkan setelah pengkhianatan yang aku lakukan. Aku terlalu naif bila berharap dia akan melupakan kejadian itu dan memaafkan aku sepenuhnya. Dia yang hanya berciuman dengan wanita lain saja baru bisa aku maafkan setelah bertahun-tahun.


Dia mengizinkan aku membesarkan putra kami adalah sebuah keajaiban. Aku tidak punya hak apa pun atas Hadi jika saja dia menuntut hak asuh. Karena akulah yang berkhianat dan berbuat jahat di antara kami. Pengadilan akan mudah saja mengabulkan permintaannya tersebut. Tetapi Hendra mengizinkan aku untuk mengasuhnya sendiri.

__ADS_1


“Maafkan mama, Nak. Aku telah memisahkanmu dari papamu secepat ini. Tolong, jangan benci dia. Benci saja aku yang telah merusak segalanya. Aku mencintainya tetapi aku malah menyakitinya. Kita tidak boleh menghalangi dia pergi. Dia sudah menderita selama enam tahun bersamaku. Kini dia berhak untuk bahagia.”


__ADS_2