
Aku tersenyum melihat jalan raya di hadapanku. Meskipun aku sudah terbiasa pergi ke mana pun sendiri, aku tidak menolak atau berdebat lagi dengan keputusan suamiku yang menjadikan Liando sebagai sopir pribadiku. Hanya untuk hari ini. Selama dia berada di luar negeri, Kafin yang akan mengantar ke mana pun aku pergi.
Kehamilanku hanya membuatku mual pada pagi hari. Dan aku sering tertidur pada malam hari, lebih cepat dari jam tidur biasaku. Selebihnya, aku masih bisa beraktivitas dengan normal. Tetapi demi menjaga diri dan perkembangan janinku, aku mengalah. Aku membiarkan diriku dimanja dengan duduk di jok belakang dan Liando atau Kafin yang mengemudikan mobil untukku.
Tiba di sebuah toko bunga, aku meminta Liando untuk menunggu sebentar. Aku melihat-lihat jenis bunga segar yang ada di dalam toko, kemudian meminta mereka untuk membuat buket bunga dari peony putih, calla lily putih, dan baby’s breath.
Tujuan kami berikutnya adalah restoran kesukaan Mama. Makanan yang disajikan di tempat ini sangat sehat dan hanya menggunakan bumbu serta bahan alami. Aku memilih menu kesukaan Mama dan meminta agar dibungkuskan untuk lima orang. Setelah membeli beberapa roti untuk Papa dan buah segar untuk Mama di sebuah supermarket, kami pun menuju rumah orang tuaku.
Papa menyambut kedatanganku. Aku membawa buket bunga dan memberikannya kepada Mama yang sedang duduk menonton televisi, sedangkan Papa dan Liando membawa kantong berisi makanan ke ruang makan.
“Kamu tidak akan tahu apa yang telah papamu lakukan sejak aku pulang dari rumah sakit.” Mama menatap tidak suka ke arah Papa.
“Apa yang Papa lakukan, Ma?” Aku duduk di sisinya. Mama mendesah pelan.
“Aku tidak boleh memasak. Padahal dokter sudah mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Aku diizinkan untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang tidak memberatkan. Apa yang berat dari memasak?” keluh Mama. Aku mengulum senyum.
“Tunggu satu minggu lagi, kamu boleh kembali memasak, sayangku,” ucap Papa sambil memberikan sebuah apel yang sudah dipotong kepada Mama.
“Satu minggu lagi, aku sudah mati karena kebosanan.” Mama kembali melihat ke arahku. “Kamu tahu, aku bahkan dilarang menyiram tanaman menggunakan selang air. Mengapa tidak sekalian saja biarkan aku rawat inap di rumah sakit lebih lama?” Aku tertawa mendengarnya. Sekarang aku mengerti aku mendapatkan sifatku itu dari siapa.
__ADS_1
Aku tenang melihat proses pemulihan Mama tidak menemukan kendala yang berarti. Mama baik-baik saja, dan sampai sekarang tidak menunjukkan adanya gangguan pasca operasi. Bekas sayatan pada kulitnya juga tidak menunjukkan tanda adanya infeksi atau rasa sakit.
Untungnya, Mama bukan tipe yang orang yang pemilih dalam hal makanan. Jadi, Papa tidak mengalami kesulitan dalam mengawasi makanan yang Mama makan. Hanya mengenai aktivitas sehari-hari saja yang membuat mereka terus bertengkar.
Zach pulang tepat waktu, maka kami makan malam bersama setelah dia mandi dan berganti pakaian. Liando tidak mau makan bersama kami di meja makan, maka aku tidak melarangnya yang memilih makan di ruang tengah sambil menonton televisi.
Kami mendengarkan cerita Zach mengenai beberapa kasus menarik yang sedang ditanganinya. Aku cukup puas dengan garis besar kasus yang diceritakannya kepada kami. Sebagai seorang pengacara, aku tahu bahwa dia terikat sumpah yang mengharuskannya menjaga setiap rahasia kliennya. Dia terlihat sangat bahagia dengan apa yang dikerjakannya.
“Kak Hendra pergi selama dua minggu, apa kamu akan baik-baik saja, Kak?” tanya Zach mengganti topik pembicaraan.
“Apa maksudmu apa aku akan baik-baik saja? Tentu saja aku baik.” Aku memutar bola mataku atas pertanyaannya yang konyol itu.
“Jangan bicara sembarangan. Hendra sedang tidak ada di sini, kamu aman. Tetapi bagaimana kalau kamu keceplosan mengucapkan itu saat dia sedang bersama kita? Hentikan bercanda mengenai perasaanku,” ucapku dengan nada serius. Zach memicingkan matanya.
“Apa Kakak diam-diam sudah mencintai Kak Hendra?” tanya Zach penuh selidik. Aku segera memukul lengannya lagi. Dia malah tertawa.
“Hendra tidak ada di sini bukan berarti aku tidak bisa membela diriku sendiri. Cepat cari pacarmu supaya ngga mengganggu kehidupan pernikahanku terus.” Aku terus menghujaninya dengan pukulan. Aku tidak memukulnya dengan keras, hanya gemas saja dengan perkataannya.
“Sudah, sudah. Sampai kapan kalian bertengkar terus seperti anak kecil?” lerai Mama. Aku memukul lengan Zach sekali lagi sebelum benar-benar berhenti melakukannya. Zach mengusap-usap lengannya sambil tertawa. “Kakakmu benar, Zach. Sudah saatnya kamu serius mencari istri.”
__ADS_1
“Lho? Mengapa jadi membahas soal itu, Ma? Aku masih muda. Urusan pacar bisa belakangan,” kata Zach menghindar. Sekarang giliran aku yang tertawa.
“Muda apa? Kamu sudah dua puluh tujuh tahun. Kakakmu saja menikah pada usia dua puluh empat. Sekarang kamu sudah sibuk dengan pekerjaan. Kamu akan semakin sibuk nanti ketika semakin dikenal banyak orang.” Mama menasihati.
“Aku punya banyak teman yang punya anak gadis yang masih lajang.” Papa menawarkan bantuan. Zach menatap Papa tidak percaya.
“Itu ide bagus, Pa,” kata Mama setuju.
“Aku tidak mau. Aku akan pilih sendiri. Papa dan Mama tidak perlu ikut campur,” tolak Zach. Aku tertawa melihat wajah paniknya. Papa dan Mama malah semakin bersemangat untuk melakukan rencana mereka tersebut.
Aku melihat wajah Mama, Papa, dan Zach yang begitu bahagia, tidak terlihat ada beban di wajah mereka, tidak ada senyuman terpaksa seolah mereka sedang menyembunyikan masalah mereka. Meskipun aku tidak ingin mengakui ini, tetapi aku berterima kasih atas bantuan yang diberikan Hendra, lebih dari yang sudah dia janjikan.
Dia tidak hanya membantu menebus rumah kami kembali, tetapi Papa dan Mama bisa tinggal di rumah yang lebih nyaman dengan suasana dan perabotan baru. Mama telah menjalani operasi jantungnya dan mendapatkan tindakan medis terbaik yang tidak akan sanggup kami biayai sendiri. Zach bisa meneruskan hidupnya dan mengerjakan hal yang dari dahulu disukainya.
Bila dibandingkan dengan semua itu, apa yang harus aku berikan kepada Hendra tidak pantas disebut sebagai pengorbanan. Aku telah menikah dengannya selama enam tahun, aku hanya perlu tetap menikah dengannya agar dia bisa melindungi keluargaku. Yang Hendra berikan lebih banyak dari apa yang diterimanya dariku.
Rumah itu terasa kosong tanpa ada dia bersamaku. Aku menaiki tangga menuju kamar kami dan aku kehilangan tangan yang selalu berada di punggungku. Memasuki kamar, aku tidak merasakan tangan yang menarikku dalam pelukannya lalu mencium rambutku. Kamar mandi juga terasa sepi tanpa bunyi air dan senandung bahagianya saat mandi.
Setelah mandi dan berganti pakaian, aku kehilangan suaranya yang menceritakan rencana kegiatannya pada keesokan hari. Selimut yang menutupi tubuhku tidak cukup menghangatkan tanpa pelukannya yang berbaring di sisiku. Dan aku merindukan kata cintanya.
__ADS_1