Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 98 - Berkencan


__ADS_3

Hari itu kami hanya berada di vila. Kami berenang bersama anak-anak dan mereka senang sekali mengajar anak anjing itu berenang. Hendra tertawa melihat ekspresi tidak sukaku setiap kali Hadi atau Dira memanggil namanya. Sebisa mungkin aku tidak melihat ke arahnya karena dia hanya mengenakan celana renang. Sabar, Zahara. Enam hari lagi.


Saat kembali ke dalam rumah, aroma masakan yang lezat menyambut kami. Aku mandi bersama Dira, sedangkan Hadi dan Hendra menggunakan kamar mandi masing-masing. Lalu kami bergegas berkumpul di ruang makan. Kami sama-sama sudah kelaparan.


“Biarkan saja piring kotornya di sana. Kamu tidak perlu mencucinya.” Hendra menggendong Dira yang protes minta diturunkan dari kursinya. Aku menurut. Setelah mencuci tangan, aku bergabung bersama mereka menonton film anak-anak.


“Berapa usia Ara, Pa?” tanya Hadi yang duduk di samping papanya sambil memeluk anak anjing yang berada di pangkuannya.


“Sembilan minggu satu hari,” jawab Hendra. Dira memerhatikan wajah papanya dan kakaknya setiap kali mereka bicara. Aku ingin sekali mencium pipi montoknya itu.


“Kapan tubuhnya akan tumbuh besar?” tanyanya lagi.


“Bila maksud kamu sebesar anjing dewasa, sekitar bulan keenam. Itu artinya saat usianya dua puluh empat minggu.”


“Masih lama. Aku boleh tidur bersamanya, Pa?” pinta Hadi penuh harap.


“Tidak, Nak. Maafkan aku. Jika dia tidur satu kali saja denganmu, maka dia tidak akan mau tidur di tempat tidurnya lagi.”


“Tidak apa-apa, Pa. Ara masih kecil. Nanti kalau dia sudah besar, baru dia tidur sendiri lagi.” Hadi masih berusaha untuk membujuk papanya.


“Tidak. Kita sudah membawa tempat tidurnya. Dia akan lebih nyaman tidur di sana. Sama seperti kamu yang lebih nyaman tidur di tempat tidurmu sendiri.” Hendra mengusap-usap kepala Hadi.


“Baiklah, Pa.” Dia memasang wajah sedih. Aku tersenyum melihat mereka sudah bisa bicara banyak tanpa memerlukan perantaraanku lagi.


Sebentar saja, anak-anak sudah tidur dalam pelukan Hendra. Dia memberiku sinyal agar mengambil Dira dari pangkuannya. Aku menggendong putri kami tersebut dan membawanya ke kamarnya. Dia sedikit memberontak saat aku menolongnya menyikat gigi dan berganti pakaian. Mereka kini sudah terbiasa dengan kehadiran papa mereka. Bagaimana nanti saat mereka harus berpisah lagi?


Aku kembali ke ruang depan setelah mengucapkan selamat tidur kepada Hadi. Hendra sedang meletakkan bantal dan selimut di sofa, lalu menoleh ke arahku. Dia berjalan ke dapur. “Kamu mau spageti?” tanyanya sambil memeriksa isi lemari es.


“Kamu masih lapar?” tanyaku tidak percaya. Aku mengikutinya ke konter dapur, lalu duduk di salah satu kursi tinggi.


“Udara akan semakin dingin. Tanpa kamu sadari, perut kamu sudah minta diisi lagi.” Dia melihat ke arahku. “Aku hanya tinggal memanaskannya saja sebentar.”

__ADS_1


“Oke. Aku mau.” Kapan lagi aku bisa merasakan dia memanjakan aku seperti ini?


“Dengan tambahan sosis?” tanyanya sambil mengangkat sosis dalam kemasan agar aku melihatnya. “Atau kamu mau bakso?”


“Apa kamu sedang berusaha untuk memberitahuku bahwa kamu mengingat semua makanan kesukaanku?” Aku menatapnya dengan curiga. Dia tertawa.


“Baiklah. Aku tambahkan keduanya saja.” Dia membagi spageti yang ada dalam kotak bekal ke dua buah mangkuk, lalu menambahkan potongan sosis dan beberapa bakso ke salah satu mangkuk dan hanya bakso ke mangkuk yang lain. Kedua mangkuk dimasukkan ke dalam microwave, sedangkan kemasan sosis dan bakso dikembalikan ke kulkas.


“Apa kamu tahu apa yang sedang kita lakukan?” tanyaku sambil tersenyum. Dia menoleh ke arahku, menunggu jawabanku. “Kita seperti sedang berkencan.”


Dia tertawa kecil. “Kita hanya makan bersama sambil menonton film, Za.” Dia tertegun sejenak. “Baiklah. Kamu benar. Ini rasanya seperti sedang kencan.” Dia memberiku segelas air minum. Aku menerimanya dan jemari kami bersentuhan mengirim sengatan listrik ke tubuhku.


“Ng, bagaimana dengan hotel yang kamu beli lima tahun yang lalu? Apa kamu masih memilikinya?” tanyaku mengalihkan perhatianku sendiri.


“Ya. Hotelnya berkembang dengan baik. Aku merasa sangat bersyukur sekarang karena telah membelinya.” Dia tersenyum. “Hadi dan Dira kelak tidak perlu memperebutkan usaha keluarga kita. Salah satu dari mereka bisa memimpin usaha keluarga, yang seorang lagi mengurus hotel.”


“Bagaimana jika tidak satu pun dari mereka yang mau mengurus perusahaan atau hotel?” tanyaku. Dia berpikir sejenak, lalu mengangkat kedua bahunya.


“Aku tidak tahu. Masih terlalu dini untuk menyimpulkannya.” Terdengar bunyi dari microwave. Dia benar. Aku sudah merasa lapar lagi. Atau ini karena aroma lezat spageti tersebut?


Kami membawa mangkuk dan gelas kami masing-masing untuk diletakkan di atas meja di depan televisi. Dia mengajakku untuk duduk lebih dekat agar bisa berbagi selimut dengannya. Aku menurut. Sama seperti semalam, dia memilih saluran dan aku yang menentukan apa yang akan kami tonton.


“Kamu tidak mau memilih film kesukaanmu?” tanyaku bingung.


“Aku tidak tahu film apa yang bagus. Aku tidak punya waktu untuk bersenang-senang. Apa kamu lupa?” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Lalu menurutmu, aku lebih mengetahui pilihan film yang bagus karena aku punya banyak waktu untuk bersenang-senang?” tanyaku tersinggung.


“Apakah kita tidak bisa satu menit saja tidak bertengkar?” pintanya. “Kamu tahu bahwa aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu.”


Karena sudah tidak tertarik untuk menonton, aku menunjuk sembarang film dari saluran yang dipilihnya. Kami menikmati spageti dalam diam. Aku membenci ini. Dia benar-benar tahu makanan kesukaanku dan mengingatnya. Aku tidak tahu harus merasa bahagia atau khawatir.

__ADS_1


“Aku tidak menyukai buku ketigamu,” katanya memecahkan keheningan. Topik yang aman.


“Mengapa?” tanyaku ingin tahu.


“Kamu harus belajar menulis karakter perempuan yang kuat. Jangan yang itu lagi, itu lagi. Coba tulis seorang wanita yang tegar dalam menghadapi kesulitan, yang tidak mudah dibodohi oleh orang lain, terutama orang yang dicintainya. Dua bukumu sebelumnya bertema sama. Selalu mengenai seorang gadis dengan temperamen itu. Mengapa buku ketigamu juga begitu?” tanyanya tidak mengerti.


Ini yang aku sukai darinya. Dia bahkan jauh lebih baik dari editorku. “Apakah bukunya seburuk itu?”


“Aku belum selesai membacanya. Tetapi beberapa bab awal sudah membuatku tidak ingin lanjut membacanya.” Dia menggeleng pelan.


“Beri kesempatan pada tokohku itu. Kamu akan mendapat kejutan menjelang akhir ceritanya,” kataku berjanji. “Dan aku ingin tahu apa pendapatmu setelah selesai membacanya.”


“Kalau ternyata kejutan itu tidak membuatku puas, apa yang akan kamu lakukan untuk membayar waktuku yang terbuang percuma membaca karya jelekmu itu?” tantangnya. Aku cemberut mendengarnya. “Hei, aku hanya berkata jujur.”


“Baiklah. Kamu boleh meminta apa pun. Tetapi kalau aku benar, kamu harus memasang spanduk di hotelmu untuk mempromosikan novelku. Sepakat?” Aku mengulurkan tanganku. Dia menatapku sesaat, lalu menerima uluran tanganku.


“Kamu akan menyesali kesepakatan ini.” Dia melepaskan tanganku. “Aku sudah mengenali cara berpikirmu dan itu tertuang jelas dalam tulisanmu. Buku ini akan mengecewakan aku.”


“Baca sampai selesai, lalu kita akan membahasnya lagi.” Aku memasukkan satu suapan terakhir spageti ke dalam mulutku. Kami kembali menonton dan aku menyesal telah melihat ke arah layar.


Aku tidak pernah menonton film itu sebelumnya, jadi aku tidak tahu bahwa kedua pemeran utamanya akan berciuman begitu panas. Mereka tidak melakukannya hanya untuk beberapa detik, aku yakin sudah satu menit berlalu dan mereka masih berciuman. Ya, Tuhan, godaan apa ini?


Suara tawa di sebelahku mengalihkan perhatianku. Aku menoleh ke arah Hendra. “Kamu menulis cerita romantis tetapi tidak nyaman melihat adegan ciuman?” katanya menggodaku.


“Bila aku menontonnya bersama teman-temanku atau sendiri, aku tidak akan begini. Tetapi kamu ada di sini dan melihat itu membuatku ….” Aduh. Aku keceplosan.


“Aku ada di sini dan melihat itu membuatmu apa?” tanyanya penasaran. Aku menutup bibirku rapat-rapat. Matanya yang semula menatap mataku turun ke bibirku. “Menginginkannya juga?”


Mengapa aku tidak bisa menjaga mulutku? Dan sekarang pelaku utamanya malah diam saja tidak bisa menjawab pertanyaannya itu. Pikirkan sesuatu untuk membalas ucapannya itu, Za. Hendra mendekatkan wajahnya. Oke. Sekarang aku tidak bisa berpikir sama sekali.


Apa yang sedang dia lakukan? Mengapa dia mendekatkan wajahnya saat matanya sedang fokus melihat ke arah bibirku. Apa ini seperti yang aku pikirkan, dan inginkan?

__ADS_1


__ADS_2