
~Za~
Papa dan Mama datang ke rumah untuk membantu kami menjaga Dira. Aku tidak bisa membawanya ke rumah sakit. Dia akan bosan berada di sana dan aku tidak mau dia sampai jatuh sakit berada di antara orang yang kurang sehat.
Liando akan membawa Hadi dan Colin pulang setelah mereka selesai sekolah. Orang tuaku juga akan membantu menjaga mereka. Hubungan Papa dan Mama dengan mertuaku belum pulih, jadi mereka memutuskan untuk tidak ikut bersama kami ke rumah sakit. Lagi pula kami semua perlu menjaga perasaan Mama tetap stabil dan tenang menjelang operasi.
Saat aku dan suamiku tiba di rumah sakit. Mama sudah siap untuk dibawa masuk ke ruang operasi. Papa sedang berbicara dengannya. Hendra ikut mendekat. Aku berdiri di belakang memerhatikan mereka. Ternyata Papa sedang berdoa untuk Mama. Aku ikut mengambil sikap tenang dan mengikuti setiap doa yang Papa ucapkan.
“Semuanya akan baik-baik saja. Sampai nanti, sayang.” Papa melepas tangan Mama, lalu petugas medis itu mendorong brankar di mana Mama berbaring. Aku bisa melihat wajah Mama tersenyum.
Kami berdiri menunggu sampai Mama masuk ke ruang operasi dan pintunya tertutup di depan kami. Hendra mengajak aku dan Papa untuk duduk. Aku melihat ke sekeliling kami. Di mana wanita itu? Mengapa Nora tidak ikut mengantar Mama sebelum masuk ke ruang operasi? Bukankah semalam dia menginap di sini bersama Papa?
“Ada apa, sayang? Kamu mencari apa?” tanya Hendra. Aku menoleh ke arahnya.
“Dia pasti mencari Nora. Dia tidak akan datang,” ucap Papa mengejutkan aku. Aku menatapnya tidak percaya. Nora tidak datang? Lalu siapa yang membantu Mama bersiap-siap sebelum operasi tadi? “Dia masih bersantai di hotel dan aku yakin dia baru akan check-out siang ini.”
“Maksud Papa, dia menggunakan voucher menginap yang dia menangkan pada acara kami sejak hari Sabtu lalu?” tanyaku tidak percaya. Papa menganggukkan kepalanya.
“Pegawai resepsionis yang bekerja pada hari dia check-in sudah mengonfirmasi kecurigaanku itu. Dia datang pada hari Sabtu siang.” Hendra tertawa kecil. “Apa aku bilang, dia tidak akan mau repot-repot merawat Mama. Sebelum operasi, segalanya akan mudah saja. Setelah operasi adalah masa sulitnya. Orang yang merawat Mama akan membutuhkan kesabaran.” Aku masih tidak percaya.
“Bagaimana perasaan Tante saat Nora tidak datang kemarin, Pa?” tanyaku ingin tahu. Kasihan sekali Mama. Dia pasti merasa sangat kecewa. Bagaimana bisa Nora melakukan ini? Mama sangat percaya kepadanya. Dan ini adalah kesempatan besar baginya untuk membuktikan keseriusan perasaannya terhadap Hendra.
__ADS_1
“Dia butuh waktu untuk memproses bahwa wanita itu sanggup berbohong kepadanya. Setelah kamu pulang dan dia pamit kemudian pada hari Jumat lalu, dia berjanji bahwa dia akan datang pada hari Minggu sore untuk berangkat bersama ke rumah sakit. Sayangnya, ponselnya tidak bisa dihubungi dan pesan mamamu tidak dibalas. Akhirnya, kami pergi berdua saja.
“Naava hanya mau ditemani oleh Nora karena itu aku berniat tidak ikut menginap. Lagi pula bertiga dalam sebuah kamar sangatlah tidak nyaman. Tetapi Hendra menelepon dan meminta agar aku ikut juga karena dia yakin bahwa Nora tidak akan datang.” Papa dan Hendra saling bertukar pandang. “Dan dia benar.”
“Selain benar, aku juga menang,” ucap Hendra penuh arti. Sial. Aku lupa dengan taruhan kami.
“Menang?” tanya Papa.
“Iya, Pa. Menantu kesayangan Papa ini begitu yakin bahwa Nora adalah wanita yang bisa diandalkan. Aku dari awal tidak percaya bahwa dia akan mau merawat Mama sampai sembuh nanti. Jadi, kami bertaruh siapa yang benar.” Aku hanya cemberut melihat senyum penuh kemenangannya.
“Untung saja aku tidak ikut bertaruh, aku yakin aku juga akan kalah. Aku masih percaya bahwa gadis itu adalah orang yang baik,” kata Papa pelan.
“Kami bertemu pada sebuah acara amal. Ibunya tertarik untuk mengadakan konser amal bersama mamamu. Lalu Nora bercerita tentang pertemuannya dengan Hendra di pesawat. Dia bercerita bahwa mereka membicarakan banyak hal selama dalam penerbangan. Jadi, kami pikir, putra kami tertarik kepadanya.” Papa menatap Hendra penuh arti.
“Aku bahkan tidak ingat pernah bertemu dengannya. Aku yakin bahwa hanya dia yang menyapa aku dan bersikap layaknya teman lama. Papa tahu bahwa aku tidak pernah menggubris wanita mana pun selama hidupku. Tentu saja selain wanita bernama Zahara ini.” Hendra melingkarkan tangannya di bahuku, lalu mengecup pelipisku. “Jangan tertipu lagi, Pa. Hanya ada satu wanita dalam hidupku.”
“Bisakah kamu berhenti menggombal dan sedikit serius? Kita sedang menunggu Mama selesai menjalani operasi,” kataku mengingatkan. Mereka berdua hanya tertawa.
Hampir tiga jam menunggu, pintu ruangan itu terbuka dan seorang dokter beserta seorang perawat keluar. Kami segera berdiri dan mendekati mereka. Alangkah leganya kami begitu mendengar bahwa operasi berjalan dengan lancar. Mama sedang berada di ruang ICU dan akan dipindahkan ke ruang rawat setelah kondisinya stabil.
Sembari menunggu, kami memutuskan untuk makan siang di kantin rumah sakit. Ada banyak orang yang juga sedang makan di ruangan itu. Beberapa kelihatannya adalah keluarga pasien, sebagian lagi petugas medis atau karyawan rumah sakit. Aku dan Papa duduk menunggu, sedangkan Hendra membeli makanan untuk kami.
__ADS_1
Papa berdiri dan mendekati suamiku setelah dia berada di kasir. Papa membantu membawa salah satu baki. Aku tersenyum melihat makanan yang dipilihkan oleh suamiku. Semuanya kesukaanku. Papa yang memimpin doa makan, lalu kami mulai menikmati santapan siang kami.
Suasana kantin yang semula tenang itu perlahan ramai dengan percakapan orang-orang di sekitar kami. Aku melihat ke sekeliling kami. Mereka berbicara sambil melihat ke satu arah. Aku menoleh dan melihat tayangan di televisi.
Ternyata ada tayangan berita terkini mengenai penangkapan Direktur Utama Kencana Karya Grup dan PT. Integral Inti Network. Ayah Nora dan Dicky. Akhirnya, bukti keterlibatan mereka pada kasus korupsi itu telah diterima dan dianggap valid untuk menangkap mereka. Tidak akan ada lagi yang bisa mengobrak-abrik keluarga kami.
Aku hanya perlu berhati-hati terhadap Nora. Dia masih berkeliaran dengan bebas dan dia bisa saja melakukan pembalasan kepada kami. Dia tidak mungkin buta. Dia pasti tahu bahwa Hendra ada di balik terungkapnya nama ayahnya dalam kasus itu.
Semoga saja dengan ini, mereka yang mencoba untuk mengganggu ketenangan hidup kami berpikir dua kali untuk menghancurkan nama baik kami. Aku menoleh saat Hendra menyentuh tanganku. Aku tersenyum kepadanya. Kami menang! Ya, Tuhan. Akhirnya, kami menang! Aku menoleh ke arah Papa dan menyentuh tangannya yang ada di atas meja. Keluarga kami menang!
“Ini hari bahagia. Mengapa kamu malah menangis?” Hendra tersenyum sambil menyeka pipiku. Aku tidak menyadari bahwa air mata jatuh membasahi wajahku. Benda di atas meja bergetar, kami serentak melihat ke arah datangnya bunyi. “Ya, Xavier?” Hendra menoleh ke arahku. “Oke.” Dia tertegun. Aku menatapnya tidak mengerti. “Aku tidak tahu harus berkata apa. Baik.”
“Ada apa?” tanyaku saat Hendra menyodorkan ponselnya kepadaku.
“Ann ingin bicara denganmu,” jawabnya singkat. Aku menerima benda itu dengan bingung, lalu menyapa Annora yang ada di seberang telepon.
“Zahara? Oh, Zahara! Kamu tidak akan percaya ini!” Annora memekik senang. Aku menoleh ke arah suamiku dengan bingung. “Oh, Tuhan. Maafkan aku. Aku tidak seharusnya merasa bahagia.”
“Ada apa, Annora? Apakah sesuatu terjadi kepadamu? Kalian mendapat masalah di Bali?” tanyaku khawatir. Pertama dia bersorak bahagia, berikutnya dia malah meminta maaf. Aku bingung.
“Tidak. Kami baik-baik saja. Apa kamu tahu mengapa Nora begitu terobsesi dengan memanipulasi tes DNA dan merusak hubungan Hendra dengan anak-anaknya?” tanyanya dengan antusias. Tentu saja aku tidak tahu. “Za, dia bukan anak kandung orang tuanya. Mereka menutupi kenyataan ini dari semua orang agar Kencana Karya tetap menjadi milik keluarga mereka dan tidak jatuh ke tangan sepupu laki-lakinya.”
__ADS_1