
Seorang perawat pria datang membawa kursi roda mengatakan bahwa sudah saatnya bagi suamiku untuk melakukan fisioterapi. Infus pada tangan Hendra sudah dilepas sehingga dia sudah bisa pergi ke sana kemari tanpa kesulitan lagi.
Mama bersama Papa menunggu kami kembali di ruang tunggu, sedangkan aku mengikuti perawat itu ke tempat fisioterapi. Ruangan itu sangat luas dengan berbagai peralatan untuk berolahraga. Ini adalah tempat yang suamiku sukai. Saat seorang wanita muda mendekat dan memperkenalkan dirinya sebagai orang yang akan membantu Hendra untuk melakukan terapi, aku menolak.
Bila hanya melakukan senam ringan seperti yang Mama lakukan, maka pendampingnya hanya memberi contoh gerakan saja. Fisioterapi ini berbeda. Pendampingnya akan bersentuhan fisik dengan pasien. Aku tidak rela melihat suamiku dalam pelukan wanita lain.
“Baik, Bu. Saya akan panggil rekan saya,” ucap wanita itu yang kembali ke arah dia datang tadi. Hendra dan perawat pria itu melihat aku dengan wajah tersenyum.
Syukurlah, Hendra tidak menemui kesulitan apa pun saat melakukan terapi. Aku tidak tahu apa yang disebabkan oleh kecelakaan tersebut, tetapi kedua tangan dan kakinya tidak sekuat sebelumnya. Dia memulai dengan mengangkat beban menggunakan tangan dan kakinya tersebut untuk menguatkan otot-ototnya kembali.
Perawat yang sama yang tadi mengantar suamiku datang untuk menjemputnya kembali. Dia mengatakan bahwa kelemahan otot sering terjadi bila ada masalah dengan otak. Apalagi Hendra bukan hanya mengalami pendarahan tetapi juga gegar otak.
Yang Hendra alami ternyata tidak seringan yang aku duga. Aku pikir masalahnya hanya pada memori di otaknya. Ternyata fisiknya juga mengalami masalah. Kami akan butuh waktu lama untuk bisa hidup normal lagi seperti semula.
Papa dan Mama tidak ada di ruang tunggu saat kami kembali. Hanya ada Sakti yang masih setia duduk di sana sambil menonton televisi. Setelah perawat itu menolong Hendra untuk berbaring di tempat tidurnya, dia pun meninggalkan kami.
“Ada apa? Mengapa kamu terlihat sedih?” tanya Hendra saat aku menolong memasang selimutnya kembali. Aku hanya menggeleng pelan. “Apa kamu sedih melihat aku tidak kuat berjalan tadi?”
“Kamu adalah pria mandiri yang tidak bisa diam. Apa kamu tidak sedih dengan keadaanmu ini?” tanyaku pelan. Dia tersenyum sambil memegang tanganku.
“Aku sudah menonton berita mengenai kecelakaan yang aku alami. Za, bila kamu berada di posisiku, maka kamu akan mengerti bahwa masih hidup saja aku sudah sangat bersyukur. Dalam beberapa minggu, aku akan bisa bergerak dengan normal lagi. Aku berjanji, aku tidak akan malas dan berusaha untuk sembuh secepat mungkin. Aku ingin kamu tidak menyesal telah menikah denganku.
“Kamu lebih memilih bersamaku daripada Vivaldo, maka aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kamu akan bahagia bersamaku, dan aku akan membuat kamu mencintai aku. Lebih dari cinta mantan kamu itu.” Dia tersenyum begitu bahagia. “Aku tidak akan menyusahkan kamu dengan sakitku ini. Jadi, kamu jangan sedih lagi.”
Aku duduk di tepi ranjang dan menatapnya baik-baik. Apa dia berpikir bahwa aku tidak mencintainya? Itukah sebabnya dia mengatakan semua ini? “Hendra,” kataku mencoba untuk mengatakan sudah sejauh apa hubungan kami saat ini.
“Aku masih tidak percaya ini.” Matanya berbinar bahagia. Dia menyentuh pipiku dengan tangan kirinya. “Kamu cantik sekali.” Matanya turun ke bibirku. “Apa aku boleh mencium kamu?”
__ADS_1
“Aku adalah istri kamu, tentu saja boleh.”
“Tetapi semalam kamu tidak mau melakukannya karena aku tidak mengingat kamu. Aku tidak mau kamu berpikir bahwa aku sengaja mengingat tentang kita demi mendapatkan sebuah ciuman,” katanya dengan nada khawatir.
“Aku tahu bahwa kamu sedang tidak berbohong, Hendra,” ucapku pelan. Dia tersenyum, lalu tidak ragu lagi untuk mendekatkan wajahnya kepadaku. Mata kami serentak terpejam saat bibir kami nyaris bersentuhan. Dia hanya mengecupku sesaat lalu menjauhkan dirinya dariku sebelum aku sempat membalas ciumannya.
“Ternyata begini rasanya berciuman.” Dia tersenyum bahagia. “Jantungku berdebar cepat sekali. Aku akan melakukannya lebih baik lagi nanti.”
“Sayang,” ucapku pelan. Dia membulatkan matanya. “Aku tidak tahu sejauh apa kamu mengingat hubungan kita. Tetapi kita sudah menikah selama dua belas tahun, dan aku mencintai kamu. Sikap kamu ini ….”
“Tidak. Kamu mencintai Vivaldo. Kamu bilang bahwa kamu tidak akan pernah jatuh cinta kepadaku karena aku pria yang arogan, egois, angkuh … aku tidak akan bisa mengalahkan pesona mantan kamu itu. Tetapi, Za, aku akan berusaha,” katanya dengan penuh tekad.
“Sayang,” kataku lagi. Dia masih saja menatapku dengan terkejut. “Mengapa kamu memasang ekspresi itu setiap aku memanggilmu sayang?”
“Karena aku tidak percaya dengan pendengaranku sendiri. Apa kamu sedang mempermainkan aku karena aku tidak bisa mengingat semuanya?” tanyanya curiga. “Foto yang kamu tunjukkan semalam, apa kamu pikir aku tidak bisa melihat ekspresi wajahmu?”
“Kamu tidak mencintai aku. Pada foto pertunangan, pernikahan, bahkan bulan madu, kamu memaksakan senyummu. Aku hilang ingatan, tetapi aku tidak buta, Za,” ucapnya serius.
“Kamu tidak percaya bahwa aku mencintai kamu?”
“Mustahil. Kamu pernah mengatakan bahwa kamu akan mencintai Vivaldo seumur ….” Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya itu, aku membingkai wajahnya dengan kedua tanganku dan mencium bibirnya. Aku mengingatkan diriku sendiri agar berhati-hati sehingga tidak melukainya.
“Aku mencintai kamu. Tidak ada pria lain dalam hatiku. Hanya ada kamu. Jadi, berhenti menyebut nama pria lain,” kataku dengan serius.
“Wow. Kamu ternyata ahli juga dalam berciuman.” Karena kulitnya yang putih pucat, semburat merah di wajahnya bisa terlihat dengan jelas. Aku tertawa mendengarnya.
“Kamu yang mengajarkan semua itu kepadaku.” Aku berniat untuk berdiri, tetapi dia menahan tanganku. “Sudah saatnya kamu makan siang. Mereka sudah mengantar makananmu.” Baki yang berisi makanannya sudah ada di atas meja kecil saat kami masuk tadi.
__ADS_1
Dia menurut dengan melepaskan tanganku. Aku memanggil Sakti untuk masuk ke kamar. Aku bisa merasakan tatapan Hendra tidak lepas dariku. Mungkin dia masih belum percaya bahwa aku serius mencintainya. Kami makan siang bersama dalam diam, lalu Hendra tertidur setelah meminum obatnya. Agar kami tidak mengganggu istirahatnya, kami keluar dari kamar.
Kesempatan itu aku gunakan untuk memeriksa ponselku. Ada beberapa pesan baru, maka aku membuka pesan dari Papa terlebih dahulu. Ternyata mereka pulang agar Papa bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor, sedangkan Mama harus melanjutkan senamnya di rumah.
Aku tidak membaca pesan dari orang tuaku dan memutuskan untuk melakukan panggilan video. Agar tidak mengganggu keluarga pasien yang lain, aku memasang headset. Suara anak-anak segera menyambutku saat panggilan itu terhubung.
Hadi dan Dira berebut untuk memberitahu apa saja yang mereka lakukan bersama kakek dan nenek mereka. Juga apa menu makanan mereka pada siang tadi. Aku hanya tertawa mendengarnya karena menu kami sama. Mungkin mereka pikir aku tidak tahu hal itu.
Melihat wajah bahagia mereka, aku mengusir jauh rasa bersalahku karena meninggalkan anak-anak di rumah bersama orang tuaku. Seandainya saja bisa, aku juga ingin membawa mereka ke rumah sakit setiap hari.
Setelah selesai memeriksa semua pesan tersebut, dan membalas beberapa yang sifatnya mendesak, aku mengunci layar ponselku. Karena sedikit lapar, aku mengajak Sakti untuk makan kudapan di kantin. Dia mengangguk menurut. Kami baru beberapa langkah berjalan, ponselku bergetar.
Aku mengerutkan kening membaca angka pada layar yang tidak aku kenal. Hendra sangat tegas dalam hal keamanan, jadi aku menyerahkan ponsel itu kepada Sakti. Mengerti apa yang harus dia lakukan, dia menyapa penelepon yang tidak aku kenal tersebut.
“Oh. Baik.” Sakti menoleh ke arahku. “Ini panggilan dari pria bernama Irwan.” Oh. Aku mengenal Irwan. Aku mengulurkan tanganku dan dia mengembalikan ponselku.
“Maaf, aku tidak menyimpan nomormu di ponselku, jadi …,” kataku berusaha untuk menjelaskan.
“Aku mengerti, Nyonya Mahendra. Aku tidak tersinggung. Aku senang bisa menghubungi Ibu dan mendapatkan nomor ini,” ujar Irwan dengan nada lega.
“Kamu pasti mencoba untuk menghubungi ponsel Hendra, ya? Alat komunikasi itu rusak total.”
“Iya, Bu. Maaf, aku baru tahu kecelakaan yang menimpanya hari ini. Apa dia baik-baik saja?”
“Iya, dia baik-baik saja. Hanya mengalami beberapa masalah medis.”
“Kalau begitu, aku berjanji akan memberikan beberapa laporan yang dimintanya pada hari ini. Apa aku bisa titipkan lewat Ibu untuk disampaikan kepada Hendra? Aku akan minta anak buahku untuk mengantarnya ke sana,” katanya mendesak.
__ADS_1
Apa yang Hendra minta dari temannya ini? Apakah ada sesuatu yang sedang dia selidiki? Itukah sebabnya kecelakaan ini terjadi padanya?