Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 162 - Masih Ada Harapan


__ADS_3

Gerbang rumah itu tidak banyak berubah. Masih berdiri dengan kokoh dan menjulang, menghalangi siapa saja yang tidak diundang untuk masuk. Pertama kali datang ke rumah ini, aku justru memarahi Hendra. Aku curiga bahwa dia punya andil dalam usaha Papa dan Mama yang terus membujuk aku untuk menikahinya.


Masih jam kerja, jadi Papa pasti masih di kantor. Hendra berkata bahwa hari ini Papa akan memberi pelatihan kepada manajer baru. Aku hanya ingin bertemu dengan Mama, maka ini adalah waktu yang baik. Mama dengan jelas mengatakan bahwa aku tidak akan pernah diizinkan masuk ke rumah ini lagi. Tetapi aku mencoba peruntunganku.


Dan hari ini aku sangat beruntung. Petugas keamanan membuka gerbang sehingga Liando bisa mengendarai mobil masuk ke pekarangan indah itu. Setelah beberapa saat, rumah pun kelihatan. Masih sama indahnya seperti saat aku datang pertama kali.


“Ini rumah siapa, Ma? Besar sekali,” ucap Hadi dengan mata membulat kagum.


“Rumah Kakek dan Nenek.” Aku juga ikut memandang bangunan itu dengan kagum.


“Ini bukan rumah Kakek dan Nenek.” Dia mengerutkan keningnya. Aku tertawa.


“Ini rumah Kakek dan Nenek dari Papa, bukan mama, Nak.” Aku mengusap kepalanya. Dia mengangguk mengerti.


Aku keluar dari mobil lebih dahulu, kemudian Liando membantu Dira keluar dari tempat duduk bayinya, dan Hadi pun menyusul berdiri di sisiku. Aku menggandeng tangan mereka berdua menuju teras. Seorang pria sudah membukakan pintu dan mempersilakan kami masuk.


Kami diantar ke ruang tamu. Aku mengajak anak-anak untuk duduk. Kemudian seorang pelayan datang membawakan makanan dan minuman. Kami menunggu beberapa saat. Sepertinya Mama sedang melakukan sesuatu sehingga tidak segera turun dari kamarnya.


Ketika kemudian pintu dibuka, aku berdiri. Mama masuk ke ruangan dan mempersilakan aku untuk duduk kembali. Dia duduk di sofa di depanku, dengan meja berada di antara kami. Dia melihat ke arah anak-anak sejenak sebelum kembali menatap aku.


“Ada apa? Bukankah sudah tidak ada lagi urusan di antara kita?” tanyanya. Aku meletakkan kartu nama dokter spesialis onkologi yang kemarin aku temui. Mama mengambilnya, membacanya, lalu menatapku dengan serius.


“Bisakah kita bicarakan ini di ruangan lain?” pintaku. Aku tidak ingin anak-anak mendengar apa yang kami bicarakan, lalu mengadu ke Hendra.


“Tidak ada yang perlu dibicarakan.” Mama meletakkan kartu nama itu kembali ke atas meja.


“Masih ada harapan, Tante. Belum terlambat untuk mengobatinya. Tetapi bila Tante terus menunda seperti ini, kondisinya akan semakin memburuk,” kataku pelan. Dia tidak mau membicarakannya, maka aku memaksa.

__ADS_1


“Tubuh ini adalah tubuhku. Kamu tidak punya hak apa pun untuk mengatakan apa yang terbaik untuk tubuhku. Urus saja tubuhmu sendiri,” ujarnya dengan tajam.


“Om pasti tidak mengetahui hal ini. Tante melarang dokter untuk memberitahu Om, ‘kan? Bila Tante tidak mau mengobatinya, aku akan bicara langsung dengan Om. Sebagai seorang suami, tubuh Tante adalah tubuhnya juga,” kataku tidak menyerah.


“Kamu tidak akan berani.” Wajahnya berubah khawatir. Aku hanya diam. “Ada apa denganmu? Untuk apa kamu melakukan ini? Mengapa kamu mendadak peduli denganku?”


“Tante adalah ibu kandung suamiku. Pria yang sangat aku cintai. Jika sesuatu yang buruk menimpa ibunya, dia akan sangat sedih. Aku tidak mau melihat suamiku bersedih. Dia sudah cukup susah karena ulahku. Jadi, bila aku bisa membantu mengurangi rasa khawatirnya, aku akan melakukan apa pun untuk mencegah hal buruk terjadi kepada Tante.”


Mama terdiam sejenak. Dia melihat ke arahku dengan kepala yang pasti sedang memikirkan sesuatu. Aku ikut diam, menunggu reaksinya berikutnya. “Jadi, itu sebabnya kamu menjebak Nora dan membuat dia malu di hotelnya sendiri pada acara resepsi pernikahan keluarganya sendiri?”


Aku tersenyum. “Aku tidak peduli kepada Nora. Aku hanya melindungi anak-anakku dan nama baik Hendra yang sudah dia obrak-abrik sesukanya. Aku sudah melakukan kesalahan besar, aku tidak akan menyangkal hal itu. Tetapi dia bukan Tuhan. Jika aku membiarkannya, dia akan terus berusaha menyebar fitnah. Tante tahu sendiri bahwa pencemaran nama baik itu melanggar hukum.”


“Dia terlalu mencintai Hendra karena itu dia melakukannya. Tujuannya bukan menyakiti putraku,” kata Mama menegaskan. Aku menatapnya sejenak.


“Itukah yang dia katakan kepada Tante? Bahwa dia mencintai Hendra dan akan melakukan apa saja untuk mendapatkan dia? Sekalipun itu melanggar hukum?” tanyaku mengonfirmasi. “Tante, silakan saja bila Tante masih ingin mendekatkan wanita lain kepada suamiku. Aku datang bukan untuk membicarakan itu. Aku ingin Tante segera berobat.”


“Aku sudah katakan, itu adalah urusanku,” katanya dengan tegas. Kami saling beradu pandang, sama-sama teguh dengan pendapat masing-masing.


“Kamu tidak akan berani.”


Aku melihat ke arah anak-anak yang masih asyik menikmati kue cokelat mereka. Setelah meminum teh yang sudah disediakan untukku, Hadi menghabiskan kue bagiannya, dan membersihkan tangan serta mulut Dira, aku pamit kepada Mama. Dia hanya diam dan tetap duduk di tempatnya.


Liando yang masih menunggu di depan rumah segera menyambut kedatangan kami. Dia membuka pintu mobil, lalu menolong Dira untuk duduk di kursinya. Kami pergi tanpa diantar oleh Mama di depan pintu. Aku meminta Liando membawa kami ke kantor suamiku.


Tentu saja aku datang ke sana bukan untuk menemui Hendra, melainkan Papa. Pelatihannya diadakan sampai sore, jadi Papa pasti masih di kantor. Aku menyusun kata-kata sebaik mungkin di kepalaku. Mama sudah menunda pengobatan terlalu lama, aku tidak bisa menunggu lagi.


Sampai di depan gedung, seorang petugas keamanan membukakan pintu. Dia segera mengenali aku dan anak-anak. Kami diantar ke elevator khusus. Aku tidak punya kartu masuk, jadi dia yang mengantar aku hingga ke ruang kerja Hendra.

__ADS_1


“Sayang?” kata suamiku bingung. “Ada apa kalian datang kemari?”


“Papa!!” sorak anak-anak yang berebut untuk memeluknya. Hendra berlutut agar bisa menyambut pelukan mereka. Dia menggandeng tangan anak-anak, lalu mereka duduk bersama. Gista masuk ke ruangan sambil membawakan makanan ringan. Hadi and Dira menatap senang melihat berbagai kue yang disediakan di hadapan mereka.


“Sayang, aku boleh bertemu dengan Papa? Apa menurut kamu, aku bisa mengganggu pelatihannya sebentar?” tanyaku kepada Hendra. Dia melihat ke arah sekretarisnya.


“Tolong, antar istriku ke ruang pelatihan,” katanya memberi perintah tanpa bertanya apa tujuanku bertemu dengan ayahnya. Aku tersenyum senang.


“Baik, Pak.” Gista melihat ke arahku.”Mari, Bu, saya antar.”


“Terima kasih.” Aku mendekati Hendra, lalu mengecup bibirnya. Dia tersenyum.


Wanita muda itu membawaku memasuki elevator. Tiba di lantai tujuan, dia berjalan di sisiku sembari menunjuk jalan mana yang perlu kami tempuh. Berbelok di sebuah koridor, aku melihat Mama berdiri tidak jauh di depanku.


“Ibu Naava, selamat siang,” sapa Gista dengan sopan. “Ibu Mahendra, ini ruangannya. Mari, saya antar ke dalam.”


“Tidak perlu, Gista. Kamu sudah bisa kembali ke ruanganmu,” kata Mama mencegahnya membuka pintu. Wanita itu terlihat bingung antara menuruti permintaan Mama atau atasannya.


“Tidak apa-apa, Gista. Terima kasih sudah mengantar aku. Kamu bisa kembali ke ruanganmu.” Aku menolongnya untuk memutuskan. Dia menundukkan tubuhnya sedikit, lalu meninggalkan kami.


“Ikut aku.” Mama membalikkan badannya. Dia tidak menunggu apakah aku mengikutinya atau tidak. Dia terus berjalan menuju sebuah pintu, kemudian membukanya dan masuk. Aku mengikutinya. Aku menutup pintu dan berdiri tidak jauh dari meja besar di depanku. Mama berdiri di depan jendela besar yang menunjukkan indahnya pemandangan kota dengan gedung-gedung pencakar langitnya.


“Adhy tidak akan bisa menerima berita ini dengan baik. Dia akan sangat sedih dan itu bisa merusak kesehatannya. Seandainya kamu lupa, kami sudah tidak muda lagi. Berita buruk akan membuat kami jatuh sakit.” ucap Mama tanpa melihat ke arahku.


“Om tidak selemah itu. Dia adalah pria yang kuat. Begitu juga dengan Tante. Apa yang membuat Tante takut untuk berobat? Masih stadium dua, Tante. Kankernya bahkan belum menyebar ke kelenjar getah bening. Menurut keterangan dokter, harapan hidup Tante masih tinggi. Tetapi Tante harus segera mengobatinya.” Aku masih berusaha untuk membujuknya.


“Pasti dokter itu tidak menyebutkan pengobatan yang dia maksudkan.” Mama membalikkan badan dan melihat ke arahku.

__ADS_1


“Tidak. Dokter sama sekali tidak menyebutkan mengenai prosedur pengobatannya,” kataku pelan.


Mata Mama berkaca-kaca, bibirnya gemetar, membuatku khawatir. Jantungku berdebar dengan kencang, takut dengan kalimat yang akan dia ucapkan selanjutnya. “Karena sifat kanker dan ukurannya, dia menyarankan operasi pengangkatan päyúdara. Wanita mana yang masih mau hidup ketika dia tidak sempurna lagi?”


__ADS_2