Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 69 - Kelemahannya Adalah Tanggal


__ADS_3

“Bodoh! Jantungku hampir berhenti karena mengkhawatirkanmu,” bisik Hendra di telingaku. Dia terdengar sangat marah, tetapi aku tidak peduli. Aku mempererat pelukanku. Dia melonggarkan pelukannya, lalu membingkai wajahku dengan kedua tangannya. Tidak peduli dengan orang-orang yang ada di sekitar kami, dia mencium bibirku begitu lama.


“Kak, tolonglah. Harus berapa lama kami menyanyikan lagu ini agar Kakak meniup lilinnya?” keluh Zach. “Kalian bisa lanjutkan ciumannya nanti. Kami semua sudah lapar.” Ucapannya itu disambut dengan tawa dari semua orang.


Hendra menjauhkan wajahnya dariku tanpa melepaskan pelukannya. Dia menurut dan meniup lilin angka tiga dan dua yang ada di atas kue hingga padam. Setiap orang bergantian mengucapkan selamat sambil memberikan kado yang mereka bawa untuknya. Hendra tertawa menerima hadiah dari setiap orang. Dia pasti tidak menyangka akan mendapatkan kado pada usianya ini.


“Dan ini dari kami.” Aku memberinya sebuah kotak kecil. Dia sangat menyukai jam tangan, jadi aku membelikan koleksi terbaru dari merek jam tangan kesukaannya.


“Terima kasih.” Dia menundukkan kepalanya dan mencium bibirku. Hatiku melompat bahagia sudah dua kali mendapatkan ciuman darinya malam ini.


“Kamu bisa membuka satu kado lagi malam ini di kamar. Jika kamu menginginkannya,” ucapku pelan. Dia menatapku sesaat. Apa yang sedang dia pikirkan?


“Sebaiknya kalian makan dan berhenti membuat kami semua iri dengan kemesraan kalian.” Darla mendorong tubuhku, sedangkan Lindsey dan Qiana bersama mendorong tubuh Hendra mendekati meja saji. “Cinta tidak akan mengenyangkan tubuh kalian.” Aku tertawa mendengarnya.


“Terima kasih sudah menyiapkan pesta kejutan ini,” kata Hendra kepada para sahabatku.


“Jangan berterima kasih kepada kami. Ini semua ide istrimu. Kami hanya membantu membawakan sedikit makanan.” Qiana melirik ke arahku.


“Tidak mungkin. Kalian juga tahu bahwa dia lemah terhadap tanggal.” Hendra mengerutkan keningnya tidak percaya. Kami semua tertawa. Teman-temanku meninggalkan kami, suamiku masih menatapku meminta jawaban.

__ADS_1


“Apa kamu lupa bahwa aku bisa memasang alarm pada ponselku untuk mengingatkan aku mengenai hari ini?” tanyaku retorik. Dia mengangguk mengerti.


Kami mengisi piring masing-masing, lalu duduk di salah satu sofa yang masih kosong. Semua orang sedang menikmati makanan mereka. Ada yang makan sambil berdiri dan ada juga yang duduk. Bahkan ada yang tidak ragu-ragu untuk duduk di anak tangga.


“Kamu sibuk menyiapkan semua ini, pantas saja kamu tidak mengirim pesan apa pun kepadaku siang tadi,” ucap Hendra pelan. Aku tersenyum mendengarnya. Ternyata dia membaca bahkan mengharap pesan dariku walaupun dia tidak pernah membalasnya.


“Kamu menunggu pesan dariku?” tanyaku setengah menggodanya. Dia tertegun sejenak.


“Aku akan menyapa Papa.” Dia berdiri dengan wajah bersemu merah dan menjauh dariku.


Pelan-pelan hubungan kami akan membaik. Hari ini telah banyak hal yang terjadi lebih dari yang aku alami pada hari-hari sebelumnya. Dia memelukku, menciumku, dan bicara banyak denganku. Aku tidak mengikutinya dan membiarkan dia menjaga jarak denganku. Dia membutuhkannya. Bila aku memaksa tetap menempelinya sepanjang malam ini, dia tidak akan merasa nyaman.


Lindsey, Darla, dan kedua suami mereka terlibat percakapan yang serius. Mungkin Lindsey sedang meminta saran dari Darla mengenai hal apa lagi yang perlu mereka persiapkan untuk pernikahan anaknya. Pernikahannya nanti akan diadakan secara besar-besaran karena calon pengantin wanita adalah anak satu-satunya dan orang tuanya ingin memberikan yang terbaik untuknya.


Papa dan mamaku duduk bersama kedua besan mereka. Meskipun Hendra ikut mengobrol bersama, dia lebih banyak mendengarkan. Aku bahagia melihat wajah tanpa beban keempat orang tua kami. Semoga saja mereka sehat sampai cucu mereka lahir dan bisa bermain dengannya nanti.


Enam tahun ini apa yang telah membutakan mataku? Aku telah memiliki segalanya dan aku terus saja merusak apa yang telah dianugerahkan hidup kepadaku. Aku menikah dengan pria yang sangat mencintaiku, kedua mertua yang sayang kepadaku, kebutuhan hidup yang selalu tersedia, bahkan aku bisa mendapatkan apa saja yang aku mau dalam sekejap mata.


Orang-orang yang menatap iri kepadaku tidak pernah membuatku berpikir untuk bersyukur sebelumnya. Aku malah marah dan menganggap mereka hanya menilai hidupku dari luar. Padahal aku sendiri yang sibuk mencari-cari kesalahan dalam hidupku yang nyaris sempurna.

__ADS_1


Pada jam sepuluh, satu-persatu tamu mulai pamit pulang. Aku dan Hendra mengantar mereka semua sampai di teras rumah. Para sopir mereka datang menjemput majikan mereka masing-masing. Hendra tertawa kecil melihatnya.


“Jadi, begini cara mereka menyembunyikan bahwa ada orang yang berkumpul di rumah. Mereka menyuruh sopir mereka pergi jauh.” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Kalau kamu melihat mobil mereka tadi, maka kejutannya akan berantakan,” ucapku. Hendra merangkul bahuku lalu mencium pelipisku.


Abdi menutup pintu rumah dan menguncinya setelah semua tamu pulang. Hendra mengantarku ke kamar tetapi dia tidak ikut masuk bersamaku. Dia menuju kamarnya sendiri. Aku tidak mengeluh atau protes dengan keputusannya tersebut. Bila dia masih membutuhkan waktu untuk bisa tidur bersamaku lagi, maka aku akan memberinya waktu sebanyak yang dia butuhkan.


Aku mengenakan salah satu gaun tidurku dan memadamkan seluruh lampu kamar sebelum mendekati tempat tidur. Setelah meletakkan mantel sutraku di sandaran kursi, aku bergegas masuk ke balik selimut. Aku sengaja mengatur suhu pendingin ruangan pada titik terendah yang bisa aku toleransi saat di dalam selimut. Karena itu aku cepat-cepat berbaring.


Pintu kamar terbuka, kamar yang gelap menjadi terang sejenak. Jantungku mulai berdebar lebih cepat. Hendra datang. Pintu kamar ditutup diikuti dengan langkah kaki mendekati tempat tidur. Aku sama sekali tidak bergerak dan menunggu apa yang akan dia lakukan.


Selimut bergerak dan dia berbaring di belakangku. Salah satu tangannya menyeka rambutku, lalu dia mencium leherku, turun ke bahuku. Karena dia tidak berhenti melakukannya, aku menoleh ke arahnya. Kami bertemu pandang sesaat. Dengan bantuan sinar dari luar kamar dan mataku yang sudah terbiasa dengan ruang gelap, aku bisa samar-samar melihatnya.


Mataku kembali terpejam saat dia mencium bibirku, menikmati setiap sensasi yang disebabkan oleh sentuhannya pada tubuhku. Meskipun tangan kanannya masih digips, aku tidak terganggu sama sekali. Aku membantunya melakukan setiap hal yang tidak bisa dia lakukan sendiri karena keterbatasannya tersebut.


Ketika kami berdua siap untuk melepas rindu dan menjadi satu kembali, dia berhenti. Aku membuka mata dan melihat ke arahnya yang terduduk di tempat tidur kami. Aku menutupi tubuh dengan selimut merasakan udara dingin membuatku menggigil. Atau mungkin tatapan dinginnya itu yang telah membuat tubuhku gemetar.


Untuk beberapa saat kami hanya duduk berhadapan. Melihat dia hanya duduk diam, aku menolong mengenakan piyamanya kembali. Aku mendekat kemudian memeluk tubuhnya. Dia hanya diam tidak bergerak, tidak membalas pelukanku.

__ADS_1


“Maafkan aku,” ucapnya dengan suara serak. “Aku tidak bisa melakukan ini.” Dia mencium rambutku, lalu menjauhkan diri dariku. Tanpa mengucapkan apa pun lagi, dia mengenakan pakaiannya dan keluar dari kamar. Meninggalkan aku seorang diri.


__ADS_2