
“Sebentar, suster,” kata Darla ketika wanita itu akan menutup pintu. “Koridor ini khusus untuk pasien kelas khusus, jadi setiap kamar hanya ditempati satu orang. Saat pintu tertutup rapat, aku yakin tidak ada yang bisa mendengar suara kami di ruangan ini, kecuali mereka yang sedang lewat.”
“Kami tidak sedang berpesta tetapi menghibur orang sakit.” Darla menunjuk Mama. “Tolong, jangan datang lagi jika kamu punya masalah mendengar tawa kami. Aku tahu tidak ada pasien di kamar lain yang mengeluhkan apa yang kami lakukan di kamar ini.”
Wanita itu hanya diam. Dia menatap kami kemudian menutup pintu dan suasana kamar hening sesaat. “Wow, Darla. Keberanian dari mana itu sampai kamu nekat melawannya?” goda Qiana.
“Suara tawa kita tidak sekeras itu tetapi dia terus saja mengganggu. Aku sudah kehabisan kesabaran. Saat kunjungan pertama, aku memilih diam karena tidak mau mencari keributan. Kali ini aku tidak bisa diam lagi,” geramnya. Kami kemudian memeluknya.
Mama sudah bisa pulang pada keesokan harinya. Hendra sengaja datang dari kantor agar bisa membantu mengurus pembayaran. Liando yang membawa orang tuaku ke rumah, sedangkan aku bersama suamiku di mobilnya. Ponselnya tidak berhenti bergetar menandakan ada hal penting yang sedang diurusnya. Aku merasa bersalah selalu saja membuatnya susah.
Papa membantu Mama masuk ke rumah, sedangkan Liando menolong membawakan tas berisi pakaian orang tuaku. Hendra tidak mau pergi lebih dahulu ke kantornya dan ingin pergi bersamaku. Maka aku tidak memaksanya lagi.
“Ada apa, Ma?” tanyaku saat Mama melihat cukup lama ke arah luar jendela.
“Adhyana dan Naava marah kepadamu?” tanya Mama pelan. Aku hanya menundukkan kepalaku. “Sudah aku duga. Tidak pernah sebelumnya mereka tidak datang sama sekali menjengukku di rumah sakit. Kamu tenang saja. Kami akan bicara dengan mereka.”
“Tidak, Ma,” ucap Hendra melarang. “Biar mereka menjadi urusanku. Papa dan Mama tidak akan bisa menemui mereka tanpa bertengkar hebat. Dan aku yakin, orang tuaku juga tidak akan mau ditemui. Jadi daripada Mama terluka dengan sikap mereka nanti, lebih baik aku saja yang bicara dengan orang tuaku.” Mama menggeleng pelan.
__ADS_1
“Aku adalah orang tua, Nak. Aku mengerti rasa kecewa mereka. Aku juga akan merasakan hal yang sama bila aku berada di posisi mereka. Kamu tidak bisa membicarakan ini dengan mereka. Orang tuamu malah akan semakin membenci Ara dan kami karena membiarkan kamu bicara atas nama kami.” Mama menatap Hendra dengan serius. “Kami tidak akan menemui mereka dalam waktu dekat. Kita tunggu sampai mereka tenang.”
“Baik, Ma.” Hendra menundukkan kepalanya. Aku ingin sekali menyentuh tangannya, tetapi aku mengurung niatku itu. Akulah yang telah membuatnya berada pada posisi sulit ini.
“Kamu sangat baik, Nak. Aku mengerti kamu ingin melindungi kami. Tetapi sebagai orang tua, kami tidak bisa terus membiarkan kamu yang berperan sebagai penjaga kami. Ini saatnya kami sebagai orang tua melindungi kalian, anak-anak kami,” kata Papa yang baru keluar dari kamar.
“Maafkan aku, Ma, Pa. Aku sudah menyusahkan semua orang,” ucapku penuh penyesalan.
“Kamu sudah cukup meminta maaf, Ra. Tidak lagi. Jangan ulangi kesalahanmu. Itu sudah cukup,” kata Mama dengan tegas. Aku menundukkan kepalaku. Bagaimana aku sanggup mengulangi kesalahan yang sama? Satu kesalahan saja hukumannya terasa sangat lama dan seolah tidak ada jalan keluar di depan sana.
Seandainya saja tidak ada Hendra di sisiku, aku tidak tahu bagaimana aku bisa bertahan menjalani semua ini. Jika keluarga dan sahabatku tidak memberi dukungan mereka kepadaku, entah apa yang terjadi padaku sekarang.
Jika aku memutuskan hubunganku dengan Aldo sebelum mendapati dia mengkhianatiku, apa aku akan tetap mengambil keputusan bodoh dengan segera menikahi Hendra? Aku yakin Hendra tidak akan berhenti berusaha untuk mendapatkan aku ketika tahu bahwa aku sedang sendiri.
Tetapi bagaimana jika aku tetap menjalani hubungan dengan Aldo? Aku memaafkan perbuatannya dan kami tetap menikah. Apakah kami akan punya anak bersama kemudian aku harus berjuang membesarkan mereka sendiri saat dia ditangkap polisi atas kejahatannya?
Bila aku memberi kesempatan kepada Hendra dan belajar mencintainya dari awal kami menikah, apakah hidup kami akan lebih bahagia? Andai aku tidak meminum pil, apakah kami akan memiliki banyak anak dan menjadi orang tua yang baik untuk mereka?
__ADS_1
Aku punya begitu banyak pertanyaan tak terjawab di kepalaku setelah bicara dengan orang tuaku. Pertanyaan yang tidak pernah aku ajukan kepada diriku sendiri sebelum mengambil keputusan demi keputusan bodoh yang menghancurkan hidupku sendiri. Mengapa aku tidak belajar juga? Mengapa aku selalu bersahabat baik dengan masalah?
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” Aku melompat terkejut saat seseorang memelukku dari belakang. “Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengejutkanmu,” kata Hendra yang segera merasa bersalah. Aku menggeleng pelan seraya tersenyum.
“Tidak apa-apa. Maaf, aku tidak menyambutmu di bawah.” Aku menyentuh salah satu tangannya yang ada di depan dadaku, mendekatkan ke bibirku, lalu menciumnya. “Selamat datang kembali.”
“Apakah ada yang sedang mengganggu pikiranmu?” tanyanya lagi. Dia masih memelukku.
“Hanya memikirkan masa lalu dan bagaimana memperbaiki masa sekarang,” jawabku dengan jujur. Aku menyandarkan kepalaku ke dadanya.
“Tidak perlu memikirkan hal yang bisa membuatmu susah. Cukup senangkan hatimu agar kamu dan si kecil tetap sehat.” Dia mencium sisi kepalaku. “Tidak ada yang lebih penting bagiku sekarang selain kalian berdua. Kamu mengerti?”
“Iya. Aku akan menjaga diriku dengan baik,” kataku berjanji. Aku menoleh ke arahnya. Dia menatap kedua mataku sesaat sebelum menurunkan wajahnya dan mencium bibirku.
“Aku akan mandi, lalu kita makan malam bersama.” Dia menciumku sekali lagi sebelum melepaskan pelukannya. Aku mengangguk.
Hendra berjalan menuju kamar mandi, aku menatap tubuh bagian belakangnya. Apa yang sedang dia pikirkan? Apa yang sedang dia rasakan sekarang? Sejak dia kembali tidur bersamaku di kamar ini, aku tidak merasa kami semakin dekat. Kami justru semakin jauh.
__ADS_1
Kami memang mendiskusikan banyak hal bersama, tetapi tidak pernah membahas perasaan kami lagi. Dia berhenti mengatakan cinta sehingga aku bertanya-tanya, apakah dia masih mencintaiku atau dia masih berada di sini hanya untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami?
Dia juga sudah tidak menyentuhku lagi secara intim. Kami berhenti bercinta. Setiap kali aku meminta lebih dari sekadar berciuman, dia segera menjauhkan diri dan menjaga jarak. Apakah dia sudah tidak menginginkan aku lagi? Atau ini hanya sementara karena aku sedang hamil?