
Hendra memberikan tabletnya kepadaku. Dia membuka layarnya dan sebuah berita memenuhi layar tersebut. Vivaldo dicurigai terlibat dalam sebuah korupsi besar di kantor kementerian di mana dia bekerja. Salah satu rekannya melakukan kesalahan sehingga perbuatan mereka tercium penyidik. Rekannya menyebut nama orang-orang yang terlibat, Vivaldo termasuk di dalamnya.
Namun sebelum polisi mendatangi ruang kerja atau rumahnya, dia sudah kabur tidak diketahui entah ke mana. Mereka juga sudah mendatangi rumah orang tua Vivaldo, pria itu masih belum ditemukan. Wow. Dia kembali mengulang kesalahan yang sama? Mengapa? Apa dia tidak peduli dengan nasib anak-anaknya yang besar tanpa kedua orang tua mereka.
“Nora adalah kasus khusus. Penasihat hukumnya mengajak aku untuk bertemu besok. Aku tidak bisa menemukan kesalahan lain yang bisa menyeret dia ke penjara. Semua yang dia lakukan hanya bisa kita tuntut secara pribadi. Jadi, pengacaranya mengajak untuk mencari jalan keluar yang terbaik.”
“Maksud kamu dengan berdamai? Dia akan membayar berapa untuk bayiku yang telah pergi? Apa dia punya cukup uang untuk mengganti nyawanya?”
“Sayang, jangan begini. Aku akan usahakan yang terbaik, ya. Jika kamu ingin dia dipenjara, maka aku akan mengusahakan tetap melanjutkan kasus ini bisa sampai ke persidangan. Aku akan menolak semua usaha damai yang mereka tawarkan.” Hendra memeluk aku dengan erat. Aku meletakkan kepalaku di dadanya, membiarkan kasih sayangnya menenangkan amarahku.
Menjadi orang kaya dan berpengaruh memang enak. Kesalahannya bisa dengan mudah diatasi asal ada uang. Trauma, rasa sakit, dan kehilangan yang dialami korban tidak menjadi pertimbangan mereka untuk meneruskan proses hukum. Jahat sekali. Sudah berapa kali dia bebas begitu saja?
Tetapi keadaan juga sedang tidak mendukung. Aku teringat kepada Mama dan sakit yang dideritanya. Mama membutuhkan seorang pendamping dan dia memilih Nora. Bila wanita itu dijebloskan ke penjara, bagaimana dengan nasib Mama nanti?
“Apa aku boleh ikut menghadiri acara itu besok?” tanyaku.
“Cukup aku dan Oscar saja yang menghadirinya, sayang.”
“Rekaman itu adalah rekaman aku bersama Vivaldo. Kedua pria itu menyerang aku, maka aku juga berhak untuk hadir mendengar pengakuannya atas semua hal yang sudah dia lakukan,” kataku bersikeras. Hendra mendesah kesal. “Ya, sudah. Aku datang saja tanpa persetujuan kamu.”
“Baiklah. Baik. Kamu boleh ikut bersama aku besok.” Dia pun mengalah. Aku melompat senang, lalu menciumnya sepuasku. Dia tertawa bahagia.
“Papa! Papa!” Dira berdiri di antara kami. Hendra melepaskan pelukannya, lalu menggendong putri kami. Aku mencium pipinya yang menggemaskan itu sampai dia tertawa geli. Lalu Ara ikut mencari perhatian juga dengan menyalak sambil mengelilingi kaki kami.
__ADS_1
Getaran pada sakuku menarik perhatianku. Aku mengeluarkan ponsel dari saku dress dan melihat ada panggilan video konferensi dari teman-temanku. Mereka pasti sudah mendengar kabar tersebut. Aku menjawabnya dan melihat wajah mereka berempat memenuhi layar.
“Selamat, Zahara! Dicky dan Vivaldo sudah mendapatkan ganjaran atas perbuatan mereka!” ucap mereka serentak. Aku tertawa mendengarnya. Hendra mengajak aku untuk duduk pada salah satu sofa. Aku menurut. Dira duduk di pangkuannya, sedangkan Ara melompat ke pahaku.
“Vivaldo memang masih buron, tetapi hanya masalah waktu sampai polisi berhasil menangkapnya. Dia tidak akan bisa pergi jauh.” Qiana bersorak senang.
“Tetapi Nora lolos lagi. Bagaimana bisa dia tidak ditahan di kantor polisi setelah pengakuannya di aula hotelnya sendiri?” kata Lindsey kecewa.
“Serius, Lindsey? Kamu lupa bahwa kekuatan uang melebih kekuatan hukum?” Claudia memutar bola matanya. “Tidak apa-apa. Reputasinya sudah hancur. Bagaimana pun keluarganya berusaha untuk menutupi kebobrokannya, dunia sudah mengetahuinya.”
“Iya. Dengan begini, kita bisa fokus pada acara besar yang sudah ada di depan mata.” Mata Darla berbinar senang. “Zahara, kami sudah mengambil gaun seragam kami siang tadi di butik. Kami juga diizinkan untuk melihat gaun pesanan kamu yang hampir selesai. Kami tidak sabar untuk melihat kamu memakainya nanti!”
“Dan kamu tidak akan bisa mengalihkan matamu dari sahabat kami, Hendra,” ucap Qiana setengah menggoda. “Perayaan ulang tahun pernikahan kalian pasti akan jauh lebih meriah daripada hari pernikahan kalian sendiri.”
“Itu tidak mungkin, Qiana. Kamu tidak menghadiri pernikahan kami. Itu pernikahan terbesar pada sepanjang tahun itu. Artis atau anak pembesar mana pun tidak ada yang bisa menandinginya,” ucap Hendra dengan nada bangga. Kami tertawa mendengarnya.
Tempat acara diadakan, katering, band serta penyanyi penghibur, pakaian, undangan, dan segala detail lainnya telah selesai. Ada banyak orang yang menyatakan akan datang pada acara tersebut. Memang tidak sebanyak saat hari pernikahan kami, tetapi aku tetap saja gugup.
Kami menunggu sampai Hadi berangkat ke sekolah sebelum kami pergi ke kantor Hendra. Aku terkejut melihat ada kerumunan wartawan di depan pintu masuk utama gedung kantor suamiku. Seorang satpam membantu membukakan pintu mobil. Hendra menggendong Dira bersamanya, lalu aku keluar dan berdiri di sisinya.
Para petugas keamanan membantu kami menerobos lautan reporter hingga berhasil masuk melewati pintu kaca. Ini pasti ulah Nora. Hendra tidak akan memberitahu siapa pun mengenai rencana pertemuan pada hari ini. Dasar pencari perhatian.
“Jangan pikirkan apa yang terjadi di depan tadi. Itu hanya cara mereka untuk mengintimidasi kita. Mereka pikir keputusan akan bisa digoyahkan dengan tekanan media. Aku yakin setelah pertemuan nanti mereka akan mengumumkan hasilnya ke media. Tentu saja dengan sedikit bumbu agar pihak mereka terlihat benar dan kita selalu salah.”
__ADS_1
“Aku tidak takut. Kita dengarkan tawaran dari mereka, lalu kita putuskan bersama Pak Oscar dan Zach untuk langkah selanjutnya.” Aku menguatkan tekadku.
“Kamu yakin kamu tidak akan berubah pikiran lagi mengenai ini?” tanya Hendra untuk kesekian kalinya. Aku menggelengkan kepalaku.
Pak Oscar sudah menunggu kami dengan duduk di sofa yang tersedia di ruang tunggu. Kami berjalan bersama menuju ruang rapat di mana pertemuan tersebut diadakan. Nora sudah ada di dalam bersama para penasihat hukumnya. Dia tidak main-main. Dia membawa tiga orang pengacara. Papa dan Mama juga duduk di sana bersamanya.
Oh, jadi dia menggunakan cara ini? Dia mengundang Papa dan Mama untuk hadir dan duduk sebagai pembelanya? Oke. Aku tidak takut. Dia bisa membawa keluarga atau sahabatku ke pihaknya juga bila dia mau. Aku cukup dengan memiliki Hendra di sisiku untuk melawan dia.
Salah satu pengacara yang datang bersamanya menyampaikan tujuan kedatangan mereka. Dia mewakili Nora menyatakan semua kesalahan yang sudah dia lakukan terhadap aku dan Hendra. Dia juga menyampaikan keinginan kliennya untuk menempuh jalan damai. Uang yang dia sebut sebagai ganti rugi bukanlah jumlah yang sedikit.
Pak Oscar mewakili aku dan Hendra untuk menjawab permohonan mereka. Dia menyebutkan beberapa hal yang juga sudah Nora lakukan yang tidak dia akui. Kemudian meminta ganti rugi dua kali lipat dari yang mereka tawarkan. Dengan berbagai pertimbangan kerugian morel dan materiel yang kami alami akibat perbuatannya tersebut.
“Nak, tidakkah menurutmu jumlah itu terlalu banyak?” tanya Mama yang tiba-tiba menginterupsi jalannya diskusi.
“Maafkan kelancangan saya, Nyonya Adhyana Perkasa. Tetapi ini pertemuan antara klien saya dengan Nora. Pihak ketiga tidak boleh mengintervensi.” Pak Oscar menyatakan keberatannya.
Nora dan ketiga pengacaranya terlihat serius dengan diskusi di antara mereka. Aku tahu bahwa dia tidak akan menyerah semudah itu. Uang itu bukanlah jumlah yang mustahil untuk dia penuhi. Aku yakin dia sudah mengeluarkan lebih banyak dari itu untuk melancarkan rencananya bersama Dicky dan Vivaldo. Juga saat meloloskan diri dari jeratan hukum.
“Jumlah itu terlalu banyak. Klien kami hanya akan menyanggupi tujuh puluh lima persennya saja,” ucap pengacaranya sesuai dengan dugaan kami.
“Bila tidak mau membayar ganti rugi sebanyak yang kami ajukan, maka kami akan meneruskan kasus ini ke pengadilan.”
“Sebentar. Jangan begini, Hendra. Turunkan sedikit. Aku tidak mengumpulkan uang sebanyak itu dalam semalam. Aku juga bekerja keras untuk memiliki semua yang aku punya sekarang. Yang kamu minta itu banyak sekali.” Nora memohon kepada Hendra.
__ADS_1
“Baik. Kalau kamu hanya sanggup membayar sejumlah itu, kami akan menerimanya. Tetapi dengan satu syarat,” kataku mewakili kami semua. Nora mengangkat kedua alisnya dan melihat aku dengan tatapan arogannya.
“Oke. Katakan, apa syaratnya.”