Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 155 - Liburan Panjang


__ADS_3

“Mama! Bawa Alra!” ucap Dira mengikutiku ke dapur.


“Dira, jangan ganggu Mama. Ikut Papa saja.” Hendra segera menggendong putri kami yang malah memberontak minta diturunkan.


“Mamaa!!” panggilnya setengah menangis. Entah ada apa dengannya hari ini. Kami sudah bicara baik-baik dan setuju bahwa Ara tidak akan ikut bersama kami saat berlibur. Dia malah protes lagi sejak bangun pagi.


Kami akan melakukan perjalanan jauh. Kami bisa membawa hewan peliharaan dalam penerbangan tetapi hotel tidak akan menerimanya. Kami bisa saja menyewa rumah atau vila kosong. Masalahnya, pada saat berlibur, aku tidak mau merepotkan Fahri dengan ikut bersama kami untuk mengurus makanan. Dia juga berhak untuk mendapatkan cuti.


“Yuyun, ini kartu ATM dan daftar belanjaan untuk keperluan Ara. Jangan lupa ingatkan Liando untuk membawanya ke dokter hewan untuk melakukan pemeriksaan rutin. Segera hubungi aku jika ada pertanyaan apa pun. Jangan segan untuk membeli keperluan kalian selama kami tidak ada,” ucapku memberi instruksi. Wanita itu mengangguk.


“Saya boleh pulang selama tiga hari untuk bertemu keluarga saya, Nyonya?” tanyanya.


“Bukankah aku sudah mengizinkan kamu? Ambil saja dari ATM berapa yang kamu butuhkan untuk biaya pulang dan belilah sesuatu dari kami untuk keluargamu.” Aku tersenyum kepadanya.


“Baik. Terima kasih, Nyonya.” Wajahnya berubah ceria.


Liando dan Sakti sudah memasukkan koper kami ke bagasi mobil. Hadi menunggu di dalam mobil sambil memeluk tas ranselnya. Putriku masih menangis meminta Ara juga bisa ikut bersama kami. Bahkan papanya pun tidak bisa membujuknya. Aku mengambilnya dari pelukan Hendra dan kembali bicara serius dengannya mengenai janji kami.


Perjalanan menuju bandara terasa nyaman karena putriku tidak lagi menangis. Dia memeluk boneka kelinci pemberian Claudia yang selalu diperebutkan oleh Charlotte. Dia suka sekali membuat teman kecilnya itu cemburu. Padahal mereka mendapatkan boneka yang sama hanya berbeda warna pakaiannya saja.


Hendra memintaku untuk langsung menuju ruang tunggu mengikuti petugas yang akan mengantar kami, sedangkan dia melakukan check-in bersama para suami. Teman-temanku sudah tiba lebih dahulu dan mereka segera menyambut kedatanganku.


“Bagaimana mualmu, Rasmi? Kamu akan baik-baik saja dalam penerbangan nanti?” tanyaku melihat adik iparku yang terlihat semakin hari semakin cantik sejak kehamilannya.

__ADS_1


“Jangan khawatir, Kak. Dokter sudah mengizinkan aku pergi dan mualnya sudah jauh berkurang.” Dia tersenyum bahagia dengan tangan menyentuh perutnya. Aku cepat-cepat menepis rasa cemburu yang menyusup di dadaku.


“Aku sudah tidak sabar untuk sampai di sana!” pekik Claudia dengan senang.


“Ini juga kunjungan pertamaku. Aku tidak pernah sempat berlibur karena begitu selesai kuliah, aku langsung bekerja,” ucap Rasmi. Mereka berdua kemudian terlibat percakapan yang seru.


Rasanya aku sudah lama tidak bertemu dengan teman-temanku dan berbincang dengan mereka sebebas ini. Berita mengenai aku belum sepenuhnya reda tetapi tidak ada lagi wartawan yang mengincar aku atau Hendra. Liburan ini sekaligus menjadi perayaan bebasnya kami dari masalah.


Hampir semua kursi yang tersedia di kelas satu terisi oleh rombonganku saja. Aku dan Dira duduk bersama, sedangkan Hendra dengan Hadi. Sayang sekali, aku tidak bisa bermanja di pelukan suamiku selama dua jam penerbangan.


Tiba di Bandar Udara Internasional Kualanamu, kami tidak perlu bersusah payah memikirkan transportasi. Barisan papan nama kami sudah menyambut saat keluar dari terminal kedatangan dengan menarik koper kami masing-masing.


Para suami sengaja tidak memesan bus pariwisata atau sejenis transportasi massal lainnya, agar kami bisa menyeberang menggunakan mobil. Setelah melakukan perjalanan udara yang cukup lama dilanjutkan dengan perjalanan darat yang lebih lama lagi membuat kami lelah.


Ketika aku mulai menyesali perjalanan itu, sopir menawarkan untuk mampir makan di rumah makan di daerah bernama Pematang Siantar. Menurut pendapatnya, mi pangsit di tempat itu terkenal sangat enak. Tentu saja kami penasaran.


Saat aku akhirnya mencicipi makanan itu, dia tidak berlebihan. Rasanya enak. Dengan perut lapar dan cuaca tidak terlalu panas, menyantap makanan berkuah sangatlah nikmat. Kami melanjutkan perjalanan dengan perut kenyang dan suasana hati yang lebih baik.


“Selamat datang di Parapat, Pak, Bu,” ucap sopir itu dengan ramah. Dan pemandangan danau yang indah menyambut kami saat melihat ke sebelah kanan mobil.


Ini bukan kedatanganku yang pertama ke danau yang terjadi secara alami karena letusan gunung berapi itu. Tetapi keindahannya tidak pernah berhenti membuatku berdecak kagum. Hadi yang terjaga juga ikut mengagumi pemandangan yang dilihatnya.


“Apa kita bisa berenang di sana, Ma?” tanya Hadi antusias.

__ADS_1


“Bisa, sayang. Kalau kamu mau, kita juga bisa naik kapal, perahu bebek, speed boat, dan lainnya,” jawabku mengingat-ingat apa yang pernah aku dan Hendra lakukan saat datang ke tempat ini.


Ketika tiba di hotel, aku dan Hendra saling bertukar pandang. Ini bukan hotel yang kami harapkan akan menjadi tempat kami menginap. Teman-teman terlihat sedang berkerumun di depan hotel. Kami keluar dari mobil dan mendekati mereka untuk mencari tahu apa yang terjadi.


“Aku tidak mau menginap di hotel ini.” Claudia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


“Maafkan kami, Bu. Tetapi kami tidak menerima detail apa pun mengenai penginapan. Jadi kami berasumsi bahwa Anda akan suka tinggal di sini,” ucap salah satu sopir. Lindsey membantu untuk menerjemahkannya.


“Kami berlibur ke danau. Sudah seharusnyalah kami tinggal di hotel dekat danau. Bukan di atas bukit begini,” protes Claudia.


“Apa hotel lain penuh sehingga kita tidak bisa pergi ke sana?” tanya Hendra berusaha untuk mencari solusi. “Aku jelas memberitahu bahwa kami akan menginap di hotel yang ada di tepi danau di daerah Tuktuk. Karena itu aku bingung kita tidak menyeberang dengan kapal.”


Mereka meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi, lalu mempersilakan kami untuk masuk ke mobil kembali. Aku berharap kami sudah berada di atas kapal menikmati angin di tengah danau, yang terjadi justru kami harus memutar lagi untuk menuju pelabuhan.


Kami beruntung bahwa kami hanya perlu menunggu sekitar lima belas menit sebelum kapal datang untuk membawa kami menyeberang. Hendra dan Edu yang pergi ke loket untuk membeli tiket. Kami berdiri di luar mobil untuk meregangkan badan setelah lama duduk selama dalam perjalanan.


Tidak banyak orang menyeberang bersama kami. Keuntungan berlibur pada hari kerja. Aku mulai menyukai kebiasaan suamiku ini. Perjalanan juga lancar tanpa menemui kemacetan seperti saat kami datang bersama ke tempat ini pada akhir pekan.


“Clarissa?” ucap Claudia yang melihat ke arah belakangku. Itu adalah nama cucunya yang hilang dalam kecelakaan. Tidak mungkin gadis kecil itu berada di sini. Aku menoleh ke arah yang dilihatnya dan tidak melihat ada anak perempuan dengan ciri fisik yang sama dengan gadis itu di sana.


“Sayang?” tanya Mason. Claudia melepaskan tangannya dari genggaman suaminya. Dia segera berlari sambil memanggil nama cucunya. “Claudia!”


Aku dan teman-teman serentak ikut berlari mengejarnya. Tetapi langkahku terhenti. Aku melihat ke arah orang yang memegang lenganku. “Sayang, kamu tidak boleh berlari. Ingat kondisimu,” kata Hendra yang menatapku dengan wajah memucat.

__ADS_1


Oh. Aku lupa. Pendarahanku sudah berhenti pascakeguguran, bukan berarti aku bisa sembarangan memperlakukan tubuhku. Aku melihat para sahabatku berbelok mengikuti arah ke mana Claudia pergi. Jarak antara Jakarta dan Parapat tidak dekat. Bagaimana bisa Clarissa yang mengalami kecelakaan bersama orang tuanya di Jakarta malah berada di sini? Mungkinkah itu dia? Mungkinkah calon istri putraku benar-benar berada di tempat ini?


__ADS_2