Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 218 - Wanita Aneh


__ADS_3

“Hai, Keva,” balas Darla dengan sopan. “Semua orang tahu bahwa kami bersahabat, jadi ini bukan kejutan lagi. Kamu datang bersama temanmu?”


“Iya. Kami mengadakan arisan di tempat ini. Kami menyewa satu ruangan besar. Aku sedang ke toilet dan kebetulan melihat kalian.” Dia melayangkan pandangannya ke arah teman-temanku. “Ah, apa kalian semua sudah mendapatkan undangan? Hari Kamis malam aku mengadakan acara.”


“Sudah, terima kasih. Kami pasti datang,” jawab Qiana.


“Baiklah. Aku harus segera kembali. Senang bertemu dengan kalian semua,” katanya dengan senyum lebar. Kami mempersilakannya.


Aneh. Mengapa dia bersikap baik begitu? Apa wanita ini punya kepribadian ganda? Kemarin dia sangat marah karena ucapan Hendra. Bukankah lebih wajar jika dia pura-pura tidak melihat aku di tempat ini? Mengapa dia malah datang dan menyapa kami?


“Jangan pasang ekspresi itu,” kata Lindsey. “Kamu seperti baru pertama kali saja melihat wanita aneh seperti dia.” Aku tertawa kecil.


“Jadi, kita berkumpul di rumah siapa untuk bersiap-siap ke acara peresmian itu?” tanya Qiana dengan antusias. Kami menoleh ke arah Darla.


“Oke, oke. Aku akan memanggil penata rias dan rambut terbaik di negeri ini untuk membantu kita bersiap-siap.” Dia menggelengkan kepalanya, heran melihat tingkah kami.


“Kita bertemu besok di butik langganan kita?” tanya Qiana lagi. Aku mengerang pelan. “Oh, ayolah, Zahara. Hendra akan sangat senang bila kamu mau menggesek kartu yang dia berikan kepadamu. Sudah saatnya untuk membuat suamimu bahagia.”


“Karena Zahara akan menemani Tante Naava pada jam makan siang, kita bertemu sebelum makan malam? Lalu kita ajak para suami untuk makan bersama kita setelah mereka selesai bekerja. Bagaimana?” tanya Lindsey memberi usul. Mereka berdua segera menyatakan setuju.


“Ng, aku tidak akan ke rumah Mama untuk sementara waktu,” ucapku pelan. Mereka menatapku dengan bingung. “Hendra tidak mengizinkan aku pergi ke sana lagi.”

__ADS_1


“Waahh …! Masalah kali ini sepertinya tidak main-main. Hendra sampai semarah itu?” tanya Qiana. Aku mengangguk. “Baiklah. Kita tetap bertemu pada sore hari atau kita pindah ke siang hari?”


“Sore hari saja. Aku setuju kita semua makan malam bersama. Kita sudah lama tidak berkumpul tanpa ada acara khusus,” ucap Lindsey senang. Kami semua menyetujuinya.


Maka pada keesokan sorenya, aku membawa anak-anak bersamaku ke butik. Dira sedang senewen sepanjang pagi tadi, tetapi dia tidak memberiku kesulitan saat bertemu Charlotte. Mereka bermain bersama ditemani pengasuh cucu Lindsey tersebut. Hadi dan Colin tidak menyulitkan aku dengan Liando membantu menjaga mereka.


Rencana membeli gaun pun berubah dengan membeli tas, asesoris, dan sepatu juga. Setiap barang bagus yang menarik perhatianku mendadak pindah ke meja kasir. Aku memekik terkejut melihat ulah mereka. Aku tidak mau menghabiskan begitu banyak uang dalam satu hari!


“Katakan, apakah suamiku yang menyuruh kalian melakukan ini?” tanyaku curiga. Hanya Hendra yang memiliki kebiasaan tersebut. Setiap kali ada barang yang menarik perhatianku, tetapi aku terlalu segan untuk membelinya, maka semua barang itu akan ada di rumah saat kami pulang.


“Dan kami menurutinya dengan senang hati,” ucap mereka serentak.


Kami menyimpan semua tas belanjaan ke bagasi mobil masing-masing, lalu menuju restoran untuk makan malam bersama. Tiga meja didekatkan agar kami bisa duduk bersama. Darla meminta agar kami diberi tempat di dekat dinding sehingga tidak mengganggu tamu yang lain.


Maka kami para wanita membicarakan tentang penampilan dan dandanan kami pada hari Kamis nanti. Kami kompak untuk tampil elegan dan berbeda dari biasanya. Hendra menoleh ke arahku mendengar hal itu. Matanya berkilat senang.


“Aku tidak mau!” tolakku saat kami sudah berdua saja di kamar.


“Kalau kamu tidak mau, maka aku akan meminta Liando dan Yuyun yang menemani anak-anak bermain di taman,” katanya sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


“Apa kamu tidak cukup menyiksaku selama beberapa minggu ini? Bila kamu sudah tidak kuat lagi menunggu, mengapa kita tidak lakukan saja?” ucapku kesal. Dia memintaku untuk membawa anak-anak bermain di taman pada hari Kamis nanti. Bila anak-anak lelah, mereka akan lebih pulas tidur. Maka aku dan dia bisa bermesraan tanpa gangguan pada malam harinya.

__ADS_1


“Bagaimana jika kita tidak bisa berhenti lalu kamu hamil?” Dia menatapku dengan serius. “Belum waktunya bagimu untuk mengandung anak lagi, sayang. Apa kamu pikir aku mau menunggu lebih lama lagi? Aku juga mau mengakhiri semua penderitaan ini sejak lama.”


“Kalau begitu, jangan menggoda aku lagi dan tunggu sampai puasa kita berakhir.”


“Apa? Jadi, karena puasa itu, aku tidak boleh bermesraan dengan istriku?” tanyanya tidak percaya. Dia menarik tubuhku sehingga berada dalam posisi berbaring. “Coba katakan lagi. Ulangi apa yang kamu bilang tadi.” Dia menggelitik tubuhku, bagaimana aku bisa menjawabnya?


Maka aku mengalah dengan membawa Liando dan Yuyun ke rumah Darla. Ada taman bermain juga di dekat rumahnya. Aku tahu bahwa mereka akan suka bermain di tempat itu dan bertemu dengan orang-orang baru.


Setelah aku dan teman-teman selesai berdandan dan siap untuk mengikuti acara, anak-anak pulang. Darla meminta para pelayannya untuk menyajikan makan malam dan mengurus keperluan anak-anak dengan baik.


Aku memastikan kembali Hadi dan Dira tahu bahwa aku dan papa mereka akan menghadiri sebuah acara, jadi mereka tidak bisa ikut. Mereka harus menurut kepada Yuyun dan Liando, juga tidur tepat waktu. Mereka mengiyakan semua permintaanku. Aku tersenyum puas.


Will sudah tahu di mana putranya berada, jadi dia tidak akan kesulitan menemukan alamat rumah Darla. Untuk berjaga-jaga, aku memberinya nomor Liando. Jika dia tersesat, pekerja kami itu bisa membantu mengarahkannya.


Hendra tidak bisa mengalihkan pandangannya dariku ketika dia melihat aku dengan gaun berwarna perak yang menutupi hingga mata kakiku. Salah satu sisi rambutku diberi jepitan dan ujungnya dibentuk spiral. Riasan pada wajahku difokuskan pada mata dengan maskara dan bulu mata palsu yang membuat bola mataku terlihat semakin besar.


“Bolehkah kita batalkan kepergian kita agar aku bisa berduaan saja dengan istriku?” kata Hendra bercanda, tetapi aku tahu bahwa dia berharap mereka akan memberi jawaban iya. Mereka semua tertawa mendengarnya.


“Ayo, pria yang sedang mabuk kepayang. Saatnya kita berangkat,” ucap Darla sambil tertawa. Kami memasuki mobil suami kami masing-masing.


Hotel di mana acara diadakan sangat besar dan aku tidak tahu bagaimana cara Keva akan mengubah hotel yang telah lama terbengkalai itu untuk sukses kembali. Tetapi aku mengagumi keberaniannya mengambil segala risiko untuk memulai dari bawah lagi.

__ADS_1


Para pegawai yang menyambut kami sangat ramah. Mereka mengantar kami dari pintu masuk menuju aula di mana acara diadakan. Sudah ada begitu banyak tamu mengisi tempat duduk yang telah disediakan. Para penerima tamu mengantar kami ke meja di mana nama kami berada.


Kami terus berjalan ke depan menuju meja bundar yang bisa menampung delapan hingga sepuluh orang. Aku tidak percaya ketika melihat nama kami ada di atas meja di mana orang tua Hendra, juga Keva dan orang tuanya berada. Kami tidak punya hubungan khusus dengannya, lalu mengapa kami yang menjadi tamu kehormatannya?


__ADS_2