Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 175 - Sang Pelindung


__ADS_3

“Berengsek!” Zach melayangkan satu tinju ke wajah Vivaldo yang sudah babak belur. Dia meringis kesakitan sambil memegang tangan kanannya. “Sial. Aku lupa kerasnya tulang pipi terkena buku jari-jari.” Aku hanya menggeleng pelan melihat tingkahnya.


Vivaldo hanya bisa telentang di atas lantai, tidak bisa bergerak. Dia memejamkan matanya tetapi aku tahu bahwa dia tidak tidur. Abdi membawakan tabletku dan kami melihat melalui rekaman CCTV di gerbang apa yang terjadi. Lalu aku berpindah ke CCTV di pintu depan rumah. Aku memilih CCTV di salah satu tembok pagar. Dan akhirnya aku tahu bagaimana dia bisa masuk.


“Mengapa hidupmu jadi begini? Apa kamu pikir begini caranya mencintai seorang wanita? Mengapa dahulu kamu sia-siakan kakakku bila kamu memang menginginkan dia? Setelah kalian menjalani kehidupan masing-masing, mengapa sekarang, Vivaldo?” tanya Zach heran.


Pria itu tertawa lalu terbatuk-batuk darahnya sendiri. Dua butir air mata jatuh dari sudut luar pelupuk matanya. “Aku menyesal telah melepaskan dia begitu saja. Aku seharusnya berusaha lebih keras untuk membujuknya kembali kepadaku. Kami pasti sudah hidup bahagia sekarang.”


“Dia sudah bahagia dengan hidupnya. Kesempatan untukmu sudah lama lewat. Mengapa sekarang?” tanya Zach lagi.


“Apa kamu buta? Apa kamu tidak lihat bahwa Ara sangat cantik dan hatinya begitu baik? Kamu tidak akan pernah tahu ini, tetapi dia punya tubuh yang bagus. Apa kamu tidak tahu bahwa dia menjadi obyek fantasi banyak pria?” Vivaldo meringis kesakitan begitu Zach menampar pipinya dengan punggung tangannya.


“Kakakku adalah wanita baik-baik. Jaga mulutmu. Kamu sudah merusaknya dan masih berani menyebar perbuatan jahatmu kepadanya di televisi. Aku akan memastikan bahwa kali ini kamu akan mendekam lama di penjara. Bila kamu masih berani datang untuk mengganggunya lagi, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri,” ancam Zach. Vivaldo tertawa.


“Kamu pasti berpikir bahwa orang yang kamu lindungi itu akan terus melindungi kamu dari hukum. Silakan tertawa sepuasmu, Vivaldo. Siapa pun orang yang membantu kamu kabur dan sembunyi tidak akan bisa melindungi kamu selamanya. Kamu hanya anjing pesuruh yang akan dibuang ketika sudah tidak berguna lagi.”


“Orang kaya seperti kamu tahu apa? Kamu ditikam dari belakang sampai sekarang tidak sadar juga. Apa kamu pikir dia akan membuang aku? Tidak akan. Aku memegang rahasianya. Anjing juga punya otak, Mahendra Perkasa.” Dia kembali terbatuk karena darahnya sendiri.


“Apa kamu tahu? Dia yang mengingatkan aku mengenai ulang tahun Ara. Aku hampir lupa dengan itu. Seperti orang mabuk, aku malah datang ke sini. Kami punya rencana, tetapi aku merusak semuanya dengan datang ke sini.” Tawanya berubah menjadi isakan. “Ara … maafkan aku. Aku hanya ingin kita kembali bersama ….”


Aku dan Zach saling bertukar pandang. Ada orang besar yang berdiri di belakangnya. Siapa? Siapa yang punya rahasia yang dia pegang yang melindungi dia dari kejaran polisi? Orang ini bukan orang sembarangan karena Irwan pun tidak bisa menemukan jejaknya.


“Za tidak akan pernah kembali lagi kepadamu. Dia sangat mencintai aku. Dan kamu tahu sendiri bahwa dia tidak mudah berpaling hati ketika sudah memberikan hatinya kepada seorang pria. Seperti kata Zach, kesempatan untukmu sudah habis.” Aku tersenyum.

__ADS_1


“Jaga dirimu di penjara,” kata Zach saat terdengar sirene mobil polisi. “Orang-orang di sana tidak suka dengan penganiaya perempuan. Apalagi kalau mereka tahu bahwa kamu juga melakukan korupsi besar-besaran. Mereka tidak suka uang mereka dicuri.” Dia menepuk bahu Vivaldo.


“Tidak.” Mata pria itu membulat, baru menyadari bahwa dia sedang berada dalam masalah besar. Tetapi dia sudah terlambat. Dua orang petugas polisi memegang tangannya dan memaksanya untuk berdiri. “Tidak! Tidak! Aku tidak mau dipenjara! Tidak! Lepaskan aku!”


Zach menjelaskan kepada salah satu petugas yang mendekati kami apa yang baru saja terjadi. Setelah kami berjanji akan datang ke kantor untuk memberi keterangan lengkap, mereka pun pergi. Sakti dan Liando bergegas membersihkan darah yang mengotori lantai. Untung saja tidak ada karpet di koridor ini.


Aku dan Zach ke toilet untuk membersihkan noda darah dari tangan kami setelah memukuli pria itu tadi. Kepalaku mulai berputar memikirkan siapa saja yang pernah punya hubungan dengan Vivaldo. Orang penting yang mungkin punya perjanjian kerja sama dengannya.


“Dicky dan Nora adalah orang yang punya keluarga yang cukup berpengaruh. Mereka yang pernah dekat dengannya dan merencanakan hal jahat terhadap keluargaku. Apa menurutmu mereka ada hubungannya dengan ini?” tanyaku kepada Zach.


“Aku juga sedang memikirkan ucapannya tadi. Tetapi apa hubungan antara korupsi yang Vivaldo lakukan dengan keluarga mereka? Apakah ada di antara mereka berdua yang punya urusan dengan kementerian di mana Vivaldo bekerja?” Zach balik bertanya.


“Sebentar. Dia tadi bilang, orang itu memberitahu tentang hari ulang tahun Za. Tidak mungkin. Apa orang terdekat kita yang terlibat dengannya?” tanyaku curiga.


“Kamu benar. Maafkan aku. Tekanan membuat aku tidak bisa berpikir dengan jernih.”


“Dia datang ke sini karena dorongan emosional. Berada dalam tempat persembunyian selama beberapa hari terakhir membuat dia ceroboh dalam mengambil keputusan. Kakak dengar sendiri, dia dan siapa pun yang ada di belakangnya sudah punya rencana. Tetapi dia merusaknya,” kata Zach pelan. Aku menatapnya dengan waswas.


“Apa menurutmu, rencana itu ada hubungannya dengan Za?” tanyaku setengah berbisik.


“Bisa jadi.”


Suasana di kebun samping sudah kembali normal saat kami kembali. Aku mendekati keluargaku dan duduk bersama mereka. Aku dan istriku harus bicara dengan sangat serius nanti. Untuk saat ini, aku biarkan dia bersenang-senang.

__ADS_1


Kami semua berkumpul di ruang keluarga begitu para undangan pulang. Karena ulah pria itu kami yang seharusnya bisa langsung beristirahat harus bicara sebelum berpisah. Tentu saja yang menjadi pertanyaan banyak orang adalah apa dia akan dipenjara untuk waktu yang lama.


“Aku tahu bahwa ini tidak adil. Tetapi tidak ada yang bisa kita lakukan andai saat bebas nanti dia masih ingin mendekati atau menyakiti Kak Ara.” Zach menatap kakaknya penuh simpati.


“Jadi, kita harus menunggu sampai dia berbuat jahat lagi, lalu melaporkannya dan begitu terus sampai salah satu dari mereka meninggal?” tanya Qiana frustrasi. Helmut segera merangkul bahunya, berusaha untuk menenangkan istrinya.


“Kita semua akan saling menjaga dengan baik. Bukan hanya Kak Ara. Semoga saja tidak ada lagi yang akan mencoba untuk menyakiti kita,” ucap Zach menengahi.


“Ng, aku tidak mengerti apa yang sedang kalian bicarakan.” Claudia memotong. “Tetapi malam semakin larut. Kita harus beristirahat karena ada acara penting besok.”


Kami semua menurut. Setelah mengantar mereka sampai teras rumah, kami kembali masuk ke rumah. Anak-anak sudah tidur di sofa. Aku meminta Liando membopong Dira ke kamarnya, sedangkan aku mengantar Hadi.


Za sedang duduk di tepi tempat tidur saat aku masuk ke kamar kami. Aku membiarkan dia dengan pikirannya sendiri dan masuk ke kamar mandi. Aku membiarkan air pancuran membasahi kepalaku, membantu aku menenangkan pikiran. Begitu banyak hal yang terjadi beberapa hari terakhir. Kapan semua ini akan berakhir? Aku merindukan kehidupan kami yang damai.


“Maafkan aku, Hendra.” Kalimat itu menyambut aku ketika keluar dari kamar mandi. Setelah memadamkan lampu dan menutup pintunya, aku mendekat, lalu duduk di sisinya.


“Jangan lakukan itu lagi. Kamu sudah berjanji,” kataku dengan nada serius. Dia meletakkan kepalanya di bahuku.


“Apa kamu tidak pernah merasa lelah seperti yang aku rasakan? Masalah kita selalu kembali lagi ke Vivaldo dan kejadian di hotel itu. Aku merasakan kekhawatiran yang sama seperti yang Qiana rasakan. Bagaimana jika dia kembali lagi dan mengulang perbuatannya?” katanya pelan.


“Maka kita akan saling menjaga lagi dan melaporkan perbuatannya,” jawabku santai.


“Tidak semudah itu, Hendra,” protesnya.

__ADS_1


“Juga tidak serumit itu, sayang,” kataku tidak mau kalah. “Ini tergantung pada cara pandang kita. Kamu mau menganggapnya mudah atau rumit. Dia bukan lagi masalah baru. Kita sudah dua kali menghadapi dia. Apa kamu masih takut jika dia datang untuk ketiga kalinya?”


__ADS_2