Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 233 - Serangan Balasan


__ADS_3

“Perempuan sialan! Beraninya kau mendorongku tadi!” Mendengar suara itu, aku membuka mata dan melihat Keva sedang menatapku dengan tajam, penuh amarah. Kedua tangannya kini ada di kedua sisi kepalaku, menarik rambutku. “Hendra adalah milikku!”


“Hei, hentikan!” Aku merasa begitu lega mendengar suara itu. Liando memegang kedua pergelangan tangan Keva, sedangkan aku masih memegang tangannya agar tidak menarik rambutku.


“Lepaskan aku! Laki-laki rendah sepertimu tidak pantas memegang aku! Lepaskan!” Keva memberontak begitu keras sehingga ikut menyakiti aku.


Syukurlah, orang-orang mulai berdatangan menolong kami. Keva akhirnya melepaskan pegangan tangannya pada rambutku. Petugas keamanan membawanya menjauh dari kami. Liando mendekati aku. Hal pertama yang aku khawatirkan adalah amplop yang tidak sengaja aku jatuhkan tadi.


Liando melihat ke lantai dan mengambil amplop yang telah diinjak-injak tersebut. Bukan masalah. Yang penting dokumen di dalamnya aman. Aku membuka dan memeriksa isinya. Iya. Semuanya masih ada di dalam amplop. Yang paling utama adalah laporan forensik tersebut.


“Nyonya tidak apa-apa?” tanya Liando. Aku mengangguk pelan. Aku melihat ke sekelilingku. Orang-orang tadi sudah pergi dibubarkan olehnya.


“Aku harus merapikan diri sebentar. Tolong, pegangkan ini untukku.” Kami berjalan menuju toilet wanita. Aku melihat bayanganku di cermin dan nyaris histeris. Rambutku sangat berantakan. Aku bersyukur memiliki rambut lurus sehingga tidak sulit merapikannya.


Kami menuju ke ruang keamanan dan menemukan Keva masih ditahan di pos tersebut. Dia segera berdiri dan mengarahkan kedua tangannya kepadaku. Dasar bodoh. Dia hanya mempersulit dirinya sendiri. Ada banyak saksi yang melihat bahwa dia adalah orang yang berbahaya untukku. Itu bisa menjadi bukti untuk setidaknya mengurung dia beberapa hari di tahanan.


Mobil polisi memasuki kawasan parkir rumah sakit dan seorang petugas sekuriti datang mengantar mereka. Tanpa mengatakan apa yang terjadi, mereka hanya menunjuk hasil rekaman CCTV yang ada di ruangan tersebut. Polisi itu meminta salinan rekaman dan membawa Keva bersama mereka.


“Aku tidak bersalah! Mengapa kalian membawa aku seperti penjahat? Apa kalian tidak tahu siapa aku? Lepaskan!” Keva berusaha menghindar saat mereka akan membawanya. Melihat itu mereka terpaksa memborgol tangannya. “Seharusnya kalian tangkap dia juga! Dia telah menyakiti aku!”


“Sudah sepantasnya aku menyakiti kamu karena nekat mengambil kesempatan atas keadaan suamiku yang sedang tidur. Perempuan tidak tahu malu. Hendra tidak akan pernah menjadi milikmu. Dia adalah suamiku dan aku tidak berencana untuk memberikannya kepada siapa pun. Kamu dengar itu?” kataku tidak mau kalah. Berhasil memborgol tangannya, mereka membawanya pergi.


“Urusan kita belum selesai, Zahara. Aku akan membunuh kamu jika itu perlu,” geramnya. Petugas polisi itu saling bertukar pandang. Aku tersenyum mendengarnya. Apa dia tidak sadar bahwa aku sengaja memancing dia?


Di halaman rumah sakit ada lautan wartawan yang membuat aku gentar. Bagaimana aku akan pulang nanti? Keva yang diseret oleh dua orang polisi menjadi incaran mereka. Siapa yang tidak mengenal wanita itu? Dia sering muncul di berbagai media karena menggantikan suaminya sebagai direktur utama. Ini pembalasan yang sempurna.

__ADS_1


Bila dia mau mencari orang untuk disalahkan, dia bisa menyalahkan dirinya sendiri. Kalau dia pergi dengan damai tadi, semua ini tidak akan terjadi. Ternyata dia masih ada di dalam rumah sakit dan menunggu kesempatan untuk menyakiti aku. Perempuan yang aneh. Kalau aku tidak mendorongnya tadi, bisa saja dia sudah berhasil mencium bibir suamiku.


Semoga saja Hendra sudah bisa pulang besok. Rumah sakit ini sudah tidak aman untuk kami. Belum lagi wartawan yang sedang lapar dengan berita telah mengerubungi halamannya. Setelah mobil polisi itu pergi, aku dan Liando kembali ke ruang tunggu di mana kamar Hendra berada.


“Aku akan menelepon adikku sebentar,” kataku kepada mereka berdua. Mereka mengangguk. Aku memilih nomor kontak Zach dan menunggu sampai dia menjawab.


“Ya, Kak?” sapa Zach yang menjawab pada deringan pertama.


“Bisa minta tolong sampaikan kepada Pak Oscar agar mampir ke kantor polisi? Aku tidak menyimpan nomor kontaknya. Keva tadi berulah di rumah sakit dan dia dibawa ke sana.” Aku memberitahunya apa yang telah dia lakukan tadi dan bukti apa yang dibawa oleh petugas bersama mereka.


“Oke, Kak. Pesan Kakak akan aku sampaikan. Tolong, berhati-hatilah di sana,” katanya khawatir. Kami mengakhiri hubungan telepon, lalu aku mengajak kedua pria di dekatku untuk makan malam bersama di kamar Hendra.


Seperti biasanya, kami makan dalam diam. Hendra makan sambil menatapku dengan saksama. Aku bertanya ada apa, tetapi dia tidak mau menjawab. Maka aku tidak bertanya lebih lanjut. Usai makan, kami berdua saja di dalam kamar. Aku menunggu dia tertidur agar bisa pulang ke rumah.


“Apa kamu masih memikirkan perempuan tadi?” tanyanya pelan. Kedua tangannya memegang kedua tanganku. Ooo, itu yang tadi dia pikirkan.


“Benarkah? Papa dan Mama pasti senang kita bisa tinggal bersama mereka lagi.” Aku mengerutkan kening mendengar kalimatnya itu. Ah, aku mengerti. Dia belum tahu bahwa setelah menikah, kami memilih untuk tinggal sendiri.


“Tidak, sayang. Kita punya rumah sendiri. Kita tidak tinggal bersama orang tuamu setelah kita menikah,” ucapku memberitahunya. Kini dia yang mengerutkan keningnya.


“Mengapa kita tidak tinggal bersama mereka lagi? Apa Papa atau Mama tidak suka dengan kamu? Mereka memperlakukan kamu dengan buruk di belakangku?” tanyanya khawatir. Aku tertawa kecil. Andai dia tahu betapa sayang orang tuanya kepadaku dahulu.


“Kamu ingin kita bisa lebih leluasa melakukan apa pun yang pengantin baru lakukan. Karena itu kamu ingin kita tinggal berdua saja di rumah kita sendiri,” kataku menjelaskan.


“Iya. Itu terdengar seperti cara berpikirku.” Dia tertawa geli. Aku tersenyum. Pandangan matanya turun ke bibirku, lalu dia menarikku mendekat. Dia tidak berhenti sampai bibir kami bertemu. “Aku mencintaimu, Za.”

__ADS_1


“Aku juga mencintai kamu.” Aku menciumnya sekali lagi. Dia tersenyum bahagia.


“Malam ini, kamu tidur di sini bersamaku, ya?” pintanya.


“Tidak bisa, sayang. Kamu membutuhkan istirahat dan tidak ada ranjang di sini untukku berbaring.” Aku menunjuk ke sekitar kami.


“Tempat tidur ini cukup besar untuk berbaring berdua,” katanya setengah menggodaku. “Justru begini lebih baik, jadi kamu tidak bisa jauh-jauh dariku.”


“Hanya untuk satu malam. Jangan lupa, kamu sudah bisa pulang besok. Kita punya banyak malam untuk tidur bersama.” Aku mencoba untuk memberinya pengertian. Dia cemberut. Aku tertawa kecil. “Kamu tahu bahwa kamu sudah terlalu tua untuk bersikap kekanak-kanakan begitu, ‘kan?”


“Siapa tahu kamu berubah pikiran karena kasihan kepadaku, jadi tidak ada salahnya dicoba.” Dia menarikku mendekat sampai aku berada dalam pelukannya, lalu dia menghujani aku dengan ciuman.


“Sayang, hati-hati. Kamu bisa melukai dirimu sendiri,” kataku mengingatkannya. Dia membungkam mulutku dengan ciumannya. Aku setengah tertawa, setengah membalas ciuman itu.


Pintu kamar diketuk, dan seorang suster masuk. Aku menarik diri untuk menjauh, tetapi Hendra menahanku dengan kedua tangannya yang melingkar di tubuhku. Wajah suster itu memerah melihat posisi kami. Dia meminta maaf, meletakkan wadah berisi obat di atas nakas, lalu buru-buru keluar. Aku dan Hendra saling bertukar pandang, lalu tertawa bersama.


Anak-anak senang saat aku memberitahu mereka bahwa papa mereka akan pulang. Mereka segera berebutan mempersiapkan apa yang akan mereka tunjukkan kepadanya. Seandainya saja mereka tahu bahwa Hendra belum bisa mengingat mereka.


Oh. Aku juga belum memberitahu dia mengenai kedua anak kami. Aku harus melakukannya segera agar dia tidak terkejut melihat Hadi dan Dira nanti.


Seperti pada hari sebelumnya, Papa dan Mama telah lebih dahulu tiba di rumah sakit. Aku sudah bisa membayangkan perjuangan mereka melewati kerumunan wartawan yang ada di pintu masuk rumah sakit. Sakti berencana untuk lewat pintu samping, tetapi mereka juga ada di sana. Jadi, masuk dari pintu mana pun, kami harus melewati mereka.


Kedua dokter sepakat bahwa Hendra sudah bisa melanjutkan perawatan di rumah setelah mereka memeriksa keadaannya. Kami berterima kasih kepada mereka. Lega rasanya keadaan suamiku sudah lebih baik. Aku hanya perlu membuat janji dengan bagian fisioterapi agar mengirim orang untuk mendampingi suamiku melanjutkan terapi di rumah.


“Apa kamu senang, Nak?” tanya Mama dengan wajah bahagia. “Kamu akan pulang bersama kami. Akan lebih mudah bagimu karena kami sudah menyiapkan kamar untukmu di lantai bawah. Zahara bisa datang setiap hari seperti yang dia lakukan selama kamu dirawat di sini.”

__ADS_1


Ada yang salah. Hendra menatapku dengan dingin, tidak sehangat pada hari sebelumnya. Apa yang terjadi? Apakah dia mengingat sesuatu yang kurang menyenangkan mengenai aku? Dari banyak kesalahan yang sudah aku lakukan, yang mana yang baru saja diingatnya?


__ADS_2