Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 46 - Mimpi Jadi Nyata


__ADS_3

Bagaimana bisa penerbit sebesar itu menginginkan bukuku untuk mereka cetak? Aku meletakkan tangan di dada kiriku, berusaha untuk menenangkan detak jantungku. Ini bukan mimpi, ‘kan? Yang aku tulis itu masih novel pertamaku dan ceritanya tidaklah sehebat penulis yang sudah senior.


Aku menarik napas panjang, lalu membuka surel lainnya. Mataku membulat melihat isi pesan yang hampir sama. Penerbit lain juga menginginkan untuk mendapatkan hak mencetak bukuku. Ini benar-benar mimpi. Tidak mungkin semua ini kenyataan.


Pintu ruanganku diketuk, aku mempersilakan masuk. Yuyun yang membuka pintu dan menatapku dengan khawatir, tetapi kemudian ekspresi wajahnya berubah normal. “Nyonya, Tuan menelepon tapi Anda tidak menjawab. Beliau khawatir dan meminta saya untuk memeriksa keadaan Anda.”


“Oh.” Aku segera mengambil ponselku yang ada di atas meja. “Maafkan aku. Ada berita yang sangat mengejutkan yang membuatku tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarku. Terima kasih. Aku akan menelepon suamiku sekarang.”


Sebelum aku meneleponnya, wajahnya memenuhi layar ponselku. Aku tersenyum melihat rasa tidak sabarnya. Aku menggeser simbol berwarna hijau dan suaranya menyapaku dengan nada khawatir. “Kamu dari mana saja? Apakah semuanya baik-baik saja?”


“Semuanya baik-baik saja. Aku tadi membaca surel baru dan ada beberapa berita yang mengejutkan. Dan kamu tidak akan percaya ini.” Aku sengaja tidak segera mengatakannya.


“Sayang, berhenti bermain-main denganku. Berita apa yang kamu maksudkan?” tanya Hendra.


“Penerbit ingin mencetak bukuku!!” sorakku senang. Aku melompat-lompat di tempat dengan ponsel masih dalam genggamanku.


“Sayang, Za, apakah kamu sedang melompat-lompat di tempat? Kamu tidak boleh melompat-lompat seperti itu. Kamu bisa jatuh! Za, apa kamu dengar aku? Tolonglah, sayang,” pekik Hendra panik. Aku hanya tertawa mendengarnya. Tetapi aku menurut dan berhenti melompat.


“Saat kamu pulang nanti, kita harus diskusikan ini bersama. Aku tidak bisa memutuskan akan memilih penerbit yang mana.” Aku kembali duduk. Dia terdiam sesaat.


“Maksud kamu, ada lebih dari satu penerbit yang melamar bukumu?” tanyanya tidak percaya. Aku mengiyakan dengan cepat. “Selamat, sayang! Kamu sudah lama menulis begitu banyak topik pada blogmu dan hari ini semua kerja kerasmu terbayar.”

__ADS_1


“Terima kasih,” kataku senang. “Sekarang katakan, ada apa kamu meneleponku?”


“Aku hanya ingin tahu keadaan kalian berdua. Kamu tidak menjawab semua panggilan dariku. Aku pikir sesuatu yang buruk telah terjadi. Karena itu aku menelepon Yuyun.” Dia mendesah pelan. “Untunglah kalian baik-baik saja.”


“Kamu tahu pada jam ini aku sedang menulis di ruanganku. Tentu saja aku tidak menjawab telepon atau panggilan apa pun. Kecuali aku akan beristirahat. Oh, aku jadi ingat.” Aku meletakkan ponsel tersebut pada penyangganya, lalu melanjutkan memakan kue yang tadi tertunda.


“Aku senang mendengarmu makan dengan baik. Apakah kamu sudah berbelanja pada hari Senin lalu?” tanyanya. Aku mengiyakannya. “Selalu ingatkan Liando untuk menjemput pakaian yang sudah selesai dicuci dari penatu. Kemarin dia lupa melakukannya.”


“Oh, iya. Aku juga melupakannya. Terima kasih sudah mengingatkan dia.”


“Tidak biasanya kamu lupa. Apakah terjadi sesuatu pada hari Senin lalu?” tanyanya pelan. Aku berpikir sejenak dan segera mengingat Aldo dan anak-anaknya. Apakah Kafin mengatakan sesuatu kepada tuannya? Ah, tidak mungkin. Dia bukan tipe pria pengadu.


“Tentu saja. Aku tidak punya janji apa pun sepanjang minggu itu. Pernikahannya akan diadakan pada hari Jumat, tetapi kita pulang pada hari Senin pagi karena kalian para istri ingin berlibur bersama setelah pernikahan selesai.” Hendra mengatakannya dengan nada lucu yang membuatku tertawa.


Persahabatan antara pria dan wanita memang berbeda. Hendra dengan para suami sahabatku tidak terlalu sering bertemu, tetapi mereka cukup akrab setiap kali berbincang bersama pada beberapa kesempatan. Aku dan para sahabatku justru harus bertemu setidaknya sebulan sekali untuk berbagi cerita atau kami tidak akan pulang pada pertemuan berikutnya karena begitu banyak hal yang ingin dibagikan mengenai kehidupan kami masing-masing.


Pada hari kembalinya Lindsey dari Amerika, mereka mengajakku melakukan panggilan konferensi. Qiana sudah tidak sabar ingin mendengar sendiri mereka mendarat di Bandar Udara Soekarno-Hatta. Darla segera menanyakan kehadiran Brad Pitt dan Richard Gere yang membuat kami bertiga tertawa.


“Suaramu seperti baru berteriak sepanjang malam, Lind,” goda Qiana. Kami tertawa geli.


“Aku tidak bisa tidur pulas di pesawat. Tempat tidur di rumah atau hotel jauh lebih nyaman daripada di dalam transportasi apa pun.” Dia menguap pelan.

__ADS_1


“Aku tidak bisa mengerti apa yang kamu alami, tetapi aku tahu rasanya tidak bisa tidur,” ucap Darla.


“Kita akan bertemu pada hari Selasa. Bagaimana kalau pertemuan kali ini diadakan di rumah kami saja? Jadi, aku tidak perlu membawa semua barang pesanan dan oleh-oleh untuk kalian. Semuanya bisa diambil langsung dari tempat tinggal kami,” ucap Lindsey memberi saran.


“Aku tidak keberatan,” jawab Darla. Aku dan Qiana juga menyampaikan hal yang sama. Karena dia masih lelah dengan penerbangan panjangnya, kami tidak ingin mengganggunya lebih lama. Ketika Lindsey mengakhiri hubungan, kami bertiga masih mengobrol bersama.


“Kita tidak mungkin datang dengan tangan kosong ke rumahnya. Apakah kalian ada usul sebaiknya kita membawakan apa?” tanya Darla.


“Aku akan membawa kue. Lindsey suka sekali dengan kue cokelat. Aku akan meminta kokiku untuk membuatkannya,” jawabku. Darla dan Qiana serentak setuju.


“Kalau begitu, aku akan membawa minuman kesukaan kita masing-masing dari kafe kopi favorit kita,” ucap Qiana tidak mau kalah.


“Baik. Aku akan membawakan buah-buahan yang belum matang dan bumbu rujak buatan kokiku yang sangat enak,” kata Darla dengan wajah bahagia. Aku dan Qiana serentak merasakan air liur kami terbit membayangkan buah yang rasanya asam dicampur dengan bumbu yang manis dan pedas.


Setelah panggilan itu berakhir, aku memasang alarm pada ponselku agar aku tidak lupa membawa kue pada hari kedatangan kami ke rumah Lindsey. Aku yakin bahwa aku akan melupakannya bila aku tidak mencatatnya dengan baik.


Baru saja meletakkan ponsel ke atas meja, benda itu bergetar lagi. Aku membaca nama adikku pada layar. “Hai, Zach.” Aku menyapa sambil memeriksa tulisan pada blogku.


“Hai, Kak. Besok ada waktu untukku?” tanyanya. Aku berhenti membaca dan memberikan perhatian sepenuhnya kepadanya. Tidak biasanya dia mengajakku bertemu.


“Jam berapa, di mana?” tanyaku tanpa berbasa-basi. Dia menyebutkan nama sebuah kafe kopi dan waktu sore hari. Sudah beberapa hari tidak keluar rumah, aku berencana untuk makan malam di restoran kesukaanku. Zach hanya mengajak bertemu di kafe kopi berarti kami hanya akan makan makanan ringan. Rencana yang bagus. Aku segera menelepon restoran untuk memesan tempat.

__ADS_1


__ADS_2