
“Ada apa? Mengapa kamu mendadak menanyakan hal itu? Setelah hampir tiga tahun berlalu dan Dira sebentar lagi berusia dua tahun, kamu baru terpikir untuk bertanya kepadaku sekarang? Atau kamu tidak percaya bahwa dia adalah putri kita?” tanyaku penuh selidik.
“Ketika seluruh dunia meragukanmu, aku adalah satu-satunya orang di dunia ini yang tetap menaruh rasa percaya kepadamu. Kamu tahu bukan itu maksud pertanyaanku, Za.” Aku tertegun sejenak mendengar kalimat itu. Bukan pada kata percayanya, tetapi pada panggilan yang ditujukannya kepadaku. Za. Dia kembali memanggilku Za.
“Aku tidak mau membahasnya. Bila kamu tidak bisa mengingatnya, maka aku juga tidak mau mengatakan apa pun.” Bagaimana mungkin dia menanyakan hal seintim itu di saat kami sudah bercerai dan tidak bertemu selama bertahun-tahun? Dan sejujurnya, aku lebih suka dia mengingat kejadian itu daripada rasa percayanya kepadaku.
“Baik. Maafkan aku. Bukannya aku melupakan kejadian itu. Aku tidak bisa mengingatnya,” katanya menyesal. “Aku hanya ingin tahu satu hal saja. Apa aku, kamu mengerti maksudku. Apa aku ….”
“Ma, aku harus ke toilet.” Hadi datang memegang tanganku. Aku mengalihkan pandanganku dari Hendra dan melihat ke arah putraku. “Ayo, kita pulang sekarang.”
Aku segera menurutinya. Dia tidak mungkin buang air kecil sembarangan. Kami pulang ke rumah dengan langkah lebih cepat daripada saat kami pergi tadi. Sampai di rumah, aku bingung melihat tiga koper diletakkan di samping pintu. Hadi bergegas berlari ke bagian belakang rumah. Aku menoleh ke arah Hendra penuh tanya.
“Apa ini?” tanyaku waswas.
“Kamu tahu perjanjian kita. Saat Hadi berusia lima tahun, aku akan menjemputnya untuk bersamaku selama beberapa hari. Tetapi kita punya Dira juga. Aku tidak mungkin membawanya bersamaku tanpa mengajakmu serta,” katanya mengingatkan.
“Kita akan pergi ke mana?” tanyaku heran.
“Apartemenku. Lalu kita akan keluar kota pada hari Senin.” Dia sudah merencanakan semuanya.
“Mengapa kamu tidak bermalam di sini saja bersama kami? Itu akan lebih praktis dan anak-anak tidak perlu menyesuaikan diri lagi di tempat baru.” Aku memberinya saran.
“Apa kamu lupa? Kita sudah bercerai. Kita tidak tinggal bersama di rumah ini lagi.”
“Hendra, aku sedang berusaha membantumu, oke? Sikap keras kepala begini tidak akan bisa membantumu lebih dekat dengan anak-anak. Aku mengenal mereka, jadi aku tahu bahwa tempat baru tidak akan membuat mereka nyaman.”
“Karena itu dengan berat hati aku membawamu. Jadi mereka tahu bahwa mereka tidak benar-benar berada di tempat yang asing.” Suara tawa mengalihkan perhatian kami. Hendra berhenti bicara dan melihat ke arah Dira. Gadis kecilku itu sedang tertawa, lalu ikut terdiam sambil melihat kami secara bergantian. “Apa Dira baru saja menertawakan kita?”
__ADS_1
“Sepertinya begitu.” Aku menatap putriku dengan heran.
“Mama, aku sudah selesai.” Hadi memegang rok bajuku. Aku melihat ke arahnya. “Aku lapar. Apa kita bisa makan malam sekarang? Mengapa koper kita ada di sini, Ma? Apa kita akan pergi berlibur?”
“Kamu mau makan ayam goreng yang enak?” Hendra menundukkan tubuhnya dan bicara kepada Hadi. Tentu saja wajah anak laki-laki itu berubah senang.
“Apa kita akan makan bersama Papa, Ma?” Hadi bertanya kepadaku.
“Iya, kalau kamu mau.” Aku memberinya kebebasan untuk memutuskan. Sepertinya dia sudah tidak canggung lagi dekat dengan papanya. Syukurlah.
“Mau. Mama juga ikut?” tanyanya penuh harap. Aku mengangguk.
Seolah-olah semua orang sudah mengetahui rencana Hendra, Aliando dan Sakti membantu memasukkan koper kami ke dalam bagasi mobilnya. Aku dan anak-anak duduk bersama di jok belakang, sedangkan Hendra duduk sendiri di jok depan.
Setelah menanyakan keadaan Kafin dan keluarganya, kami lebih banyak diam di dalam mobil. Dira sesekali melihat ke arahku dan Hendra. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Hadi memegang patung pemberian papanya dan menyandarkan kepalanya di lenganku.
Restoran yang kami tuju adalah tempat makan kesukaan Hadi. Tanpa perlu membuka buku menu, dia sudah tahu ingin memesan apa. Aku memesan makanan yang berbeda untukku dan Dira. Selain memesan makanan utama, Hendra juga meminta beberapa makanan ringan untuk kami.
“Tidak apa-apa, Pa. Mama sudah cerita, Papa sedang bekerja. Aku bisa makan dan sekolah, semua karena Papa bekerja. Aku mengerti.” Aku mengusap rambutnya memuji sikap baiknya.
“Terima kasih.” Hendra tersenyum. “Apa acaranya menyenangkan? Kamu suka teman-temanmu datang ke rumah?”
“Mama mengejutkan aku, Pa. Aku dan Dira makan siang bersama Bu Yuyun, lalu mencari buku untuk Mama baca sebelum tidur. Waktu kami pulang, semua orang berteriak, selamat ulang tahun ….” Hadi bercerita penuh semangat mengenai apa yang terjadi pada hari ulang tahunnya kemarin.
Pelayan mengantar minuman dan makanan ringan lebih dahulu, maka aku memotong-motong pastel dan kentang goreng agar Dira mudah memakannya. Aku tersenyum melihat Hadi tetap asyik bercerita sambil menikmati camilannya.
“Om Dicky mengajakku bertemu besok ….” Aku tersedak makananku sendiri saat Hadi menceritakan bagian itu. Hendra menatapku dengan mata menyipit. "Mama baik-baik saja?"
__ADS_1
“Sudah cukup, Nak. Kamu dari tadi bicara tidak ada habisnya, kamu pasti sudah lapar. Ayo, habiskan makananmu. Sebentar lagi kamu mengantuk padahal kita masih berada di luar.” Aku bisa merasakan Hendra masih menatapku, tetapi aku mengabaikannya.
Dugaanku benar. Hadi tertidur di mobil saat kami menuju apartemen Hendra. Dira juga sudah pulas dalam pelukanku. Untungnya, jarak antara restoran dan tempat tinggalnya tidak jauh. Beberapa orang petugas keamanan segera menolong mengeluarkan dan membawa koper yang ada di bagasi. Hendra memberikan kunci mobilnya kepada salah satu dari mereka, lalu menggendong Hadi.
Kami cukup lama berada di dalam elevator sebelum akhirnya pintu terbuka dan kami tiba di lantai tujuan. Hendra tidak membuka pintu apartemennya menggunakan kunci melainkan dengan memasukkan sejumlah nomor ke sebuah panel di atas kenop pintu. Selera orang kaya memang beda. Berapa harga apartemennya ini? Petugas tadi tiba dan Hendra meminta mereka meninggalkan koper di dekat pintu.
Pintu dibuka dan salakan anak anjing menyambut kami. Aku menoleh ke arah Hendra. Dia memelihara anjing? Seorang Hendra yang sangat sibuk dengan pekerjaannya, tidak punya waktu untuk anak-anaknya, tetapi sempat memelihara seekor anjing?
Hatiku langsung meleleh melihat betapa imutnya anak anjing tersebut. Lupa bahwa aku sedang kesal dengan pemiliknya. Sepertinya dia baru saja dipisah dari induknya. Dan aku tahu dia sejenis Golden Retriever. Anjing terbaik untuk dijadikan teman.
“Ini kamar Dira.” Hendra menunjuk sebuah pintu, aku membukanya. Kamar itu benar-benar didesain khusus untuk anak perempuan. Pilihan tempat tidurnya, lemari pakaian, lemari berisi boneka dan buku bacaan anak, karpet, sampai sofanya pun sangat feminin. Putriku akan suka melihat berbagai boneka yang ada di atas tempat tidur.
Hendra masuk dan meletakkan sebuah koper, lalu keluar lagi. Aku membuka koper tersebut dan memilih salah satu piyama Dira. Setelah membantu putriku melakukan ritual biasanya sebelum tidur, aku keluar dari kamarnya.
Apartemen ini sangat mewah dan luas. Perabotan yang dipilih cocok dengan karakter Hendra yang serius dan dingin. Dia benar-benar banyak berubah. Atau ini adalah dia yang sebenarnya yang tidak pernah dia tunjukkan di depanku. Papa dan Mama dahulu sering menggodanya yang bersikap berbeda di depanku dibandingkan di hadapan orang lain, termasuk orang tuanya sendiri.
Terdengar bunyi pintu dibuka dan ditutup kembali diikuti dengan salakan kecil anak anjing tadi. Hendra sedang memeluknya. Anjing itu menggoyang-goyangkan ekornya sambil mencium wajahnya. Seandainya saja aku bisa bertukar posisi dengan anjing itu.
“Ayo, aku tunjukkan kamarmu,” ajak Hendra. Aku menatapnya dengan heran. Itu jelas kamarnya karena itu kamar utama. “Ada apa?”
“Bila aku tidur di sini, kamu akan tidur di mana?” tanyaku melihat ke sekeliling kami.
“Aku akan tidur di sofa,” katanya dengan santai. Aku melihat ke arah tempat duduk tersebut. Aku tidak yakin dengan tubuh tingginya, sofa itu akan nyaman untuknya. “Kamu yang mandi lebih dahulu atau aku?” Anjing itu menyalak. Hendra mengusap kepalanya untuk menenangkannya.
“Kalau begitu, aku saja. Jadi aku tidak akan mengganggumu lagi nanti.” Dia meletakkan anjing itu ke lantai. Hendra membuka sebuah pintu yang ternyata menuju ruang pakaian. Anjing itu menyalak tanpa henti sambil mengekorinya. Aku segera menutup pintu kamar agar suaranya tidak terdengar sampai ke kamar anak-anak.
“Sepertinya dia merindukanmu setelah ditinggal sendirian,” kataku menebak.
__ADS_1
“Dia belum terbiasa tinggal di sini, makanya banyak tingkah. Dia baru enam hari terpisah dari induk dan saudaranya. Lalu mendadak tinggal dengan seorang pria yang jarang di rumah. Temanku yang memaksaku untuk menerimanya. Aku tidak punya waktu untuk makhluk ini.” Dia mendesah pelan. “Ara, ada tamu. Sopanlah sedikit.” Anjing itu tetap menyalak.
“Ara?” tanyaku pelan. Hendra mematung sesaat. Anjing itu menyalak pelan sambil melihat ke arahku. “Kamu memberi nama anjingmu, Ara? Apa ini? Kamu masih marah kepadaku sampai memberikan namaku kepada anak anjing?”