Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 115 - Saling Memaafkan


__ADS_3

“Ah, akhirnya mereka datang juga,” kata Rasmi saat aku dan Zach kembali ke ruang keluarga. Semua orang melihat ke arah kami. “Aku hampir saja pergi ke toilet untuk menjemput suami kesayanganku yang tidak juga kembali. Apa perut kamu sakit, sayang?” Papa, Mama, dan Hendra tertawa.


“Kamu benar-benar tidak bisa lepas dariku, ya. Aku pergi sebentar saja sudah rindu.” Zach duduk di sisi istrinya, lalu mencium pipinya. Rasmi tertawa geli. Aku dengan enggan kembali duduk di samping Hendra. “Kak, apa kamu tidak keberatan namamu dipakai untuk nama anjing?”


Aku menyipitkan mataku kepadanya. “Apa masih perlu dibahas?”


“Apa Kakak begitu membenci Kak Ara sampai memberi namanya kepada anjing peliharaanmu, Kak Hendra?” Zach tersenyum penuh arti kepada mantan kakak iparnya. Dan tentu saja anak anjing itu menyalak saat namanya disebut.


“Dia tidak membenciku.” Aku menjawab lebih cepat dari Hendra. “Justru dia masih mencintaiku dan tidak bisa melupakanku, maka dia memberi nama itu kepadanya.”


“Ha.” Hendra mendengus keras. “Itu hanya ada dalam mimpimu. Aku sudah bilang, aku menyebut begitu banyak nama, dia hanya merespon dengan nama itu.”


“Memangnya berapa banyak nama yang sudah kamu sebutkan sebelum dia memberi respons?” Aku menyilangkan tangan di depan dadaku, menantangnya.


“Kuning. Luna. Lemon. Gadis. Cathy. Cherry,” kata Hendra menyebut nama-nama yang dia tahu. Ara hanya sibuk sendiri bermain dengan anak-anak. “Ara.” Anjing itu menoleh dan menyalak senang. Ekornya bahkan bergera-gerak dengan cepat. Semua orang dewasa melihat ke arahku dengan wajah menahan tawa. Menjengkelkan. “Zahara.” Anjing itu menyalak lagi. Hendra tersenyum puas.


“Kalian berdua sangat menyebalkan,” ucapku kesal.


“Jangan salahkan Ara. Dia berhak untuk memilih nama apa saja yang dia sukai.” Hendra membela anjing yang menyalak senang itu. “Jadi asumsimu salah besar. Aku tidak mencintaimu lagi atau masih memikirkan kamu sehingga memberikan nama itu kepadanya.” Kata-kata itu entah mengapa sangat menyakitkan. Tetapi Yuyun menolongku dengan masuk ke ruangan dan memintaku mengikutinya. Ada hal yang perlu didiskusikannya denganku.


Aku memohon diri. Yuyun mengajakku ke dapur. “Saya tahu bahwa jadwal belanja kebutuhan harian adalah hari Kamis. Tetapi bahan makanan sudah menipis dan saya ingin tahu apakah saya perlu pergi besok pagi untuk berbelanja?”


“Baik. Kamu catat saja apa yang perlu dibeli, jangan lupa masukkan makanan anjing dalam daftar. Beli merek dan rasa yang sama seperti kemasan yang dibawa Kafin. Beli juga beberapa makanan ringan untuknya. Aku akan memberi kartu debitku besok. Tolong, ingatkan aku jika aku lupa.” Aku memeriksa setiap isi di balik pintu lemari di dapur, juga kulkas. Yuyun benar.


“Apa ada hal lain yang perlu saya beli lagi, Nyonya?” tanyanya. Aku berpikir sejenak.

__ADS_1


“Tidak ada. Jangan lupa juga beli kopi, makanan ringan, atau apa saja yang kalian butuhkan untuk satu minggu ke depan. Jangan segan. Oke?” Aku tersenyum kepadanya.


“Terima kasih banyak, Nyonya.” Yuyun menundukkan kepalanya. Tidak ada lagi yang dia butuhkan, aku kembali ke ruang keluarga. Tetapi saat tanganku menyentuh kenop pintu, aku berubah pikiran.


Kalimat yang Hendra ucapkan kini terasa sangat menyakitkan. Dia tidak mencintaiku lagi. Apa Zach sedang mempermainkan aku dengan mengatakan bahwa kami berdua masih saling mencintai? Apa Hendra juga hanya menginginkan tubuhku dengan memeluk dan menciumku sesukanya tanpa melibatkan perasaan lagi?


“Mama?” Terdengar suara Hadi dari arah belakangku. Aku menoleh. “Mengapa Mama hanya berdiri saja di sini?” Dia sepertinya datang dari arah toilet. “Mama menangis? Mengapa Mama menangis? Apa Ibu Yuyun mengatakan sesuatu yang membuat Mama sedih?”


“Oh.” Aku tidak menyadari bahwa aku sedang menangis. Cepat-cepat aku menyeka kedua pipiku yang ternyata basah dengan air mata. “Tidak. Ibu Yuyun hanya membahas mengenai belanjaan.”


“Apa ini karena Papa dan Mama bertengkar?” tanyanya lagi. Aku segera berlutut di hadapannya.


“Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Mama hanya teringat hal yang sedih. Bukan karena Bu Yuyun atau Papa. Oke?” Aku berusaha untuk memberinya pengertiannya.


Aku membalas pelukannya. “Tidak, Hadi. Kamu membuat mama sedih, tapi mama mengerti. Mama juga meminta maaf sudah membuatmu menangis.”


“Aku janji, besok aku akan pergi ke sekolah dan tidak melawan Mama lagi,” katanya. Aku mengusap kepalanya, lalu kami kembali ke ruang keluarga.


Keluargaku pamit saat anak-anak sudah mengantuk. Zach menolak tawaranku untuk meminta Liando mengantar Papa dan Mama pulang, dia dan Rasmi yang akan mengantar mereka. Mama memberiku tatapan tajamnya sebelum masuk ke mobil. Aku hanya cemberut.


Hendra menggendong Hadi yang sudah tidur di sofa dan membawanya ke kamarnya, sedangkan aku mengurus Dira. Aku duduk di tepi tempat tidur putriku beberapa saat dan menatapnya yang sudah pulas. Dia terlihat sangat damai sekarang dibandingkan semalam. Banyak sekali yang terjadi dalam waktu dua puluh empat jam ini.


Pintu kamar Dira terbuka dan Hendra masuk. Dia berjalan mendekati tempat tidur, lalu mencium kening putrinya. Dia duduk di tepi tempat tidur menatapku. “Apakah kita adalah orang tua yang buruk?” tanyanya pelan. Aku menggelengkan kepalaku.


“Kita adalah orang tua yang masih belajar.” Kami terdiam sejenak. “Apa yang harus kita lakukan berikutnya? Apa kamu yakin kamu bisa meyakinkan mereka bahwa ini hanya sementara?”

__ADS_1


“Aku juga tidak tahu. Ini hal baru bagiku.” Dia menghela napas panjang. “Kamu benar. Seharusnya aku tidak menghilang begitu saja. Aku telah menyebabkan anak-anakku merindukan sosok papa mereka terlalu lama. Aku sangat egois. Yang aku pikirkan hanya diriku sendiri.”


“Aku akan ke kamar sekarang. Aku harus tidur agar besok tidak terlambat bangun.” Aku berdiri, lalu memperbaiki letak selimut Dira.


Hendra tidak mengikutiku keluar dari kamar putri kami. Aku membiarkan dia berada di dalam sendiri. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, aku membaringkan tubuhku di tempat tidur. Tetapi aku tidak segera tertidur. Mungkin karena aku tidur siang, kantukku tidak datang secepat biasanya.


Aku membalikkan badan dan melihat jam digital di atas nakas, sudah tengah malam dan aku masih belum mengantuk juga. Gawat. Aku bisa bangun kesiangan pagi nanti. Aku berniat untuk bangun dan mengambil ponsel, tetapi bunyi kenop pintu digerakkan membuatku terdiam. Siapa yang masuk ke kamarku? Pintu ditutup kembali dan aku merasa tidak sendirian lagi di ruangan ini.


Seluruh lampu sudah aku padamkan, jadi aku tidak bisa melihat siapa yang datang. Dari gerak langkah kakinya, dia berjalan menuju sisi tempat tidur di mana aku berbaring. Dia menyibak selimutku, berbaring di belakangku, lalu menutup tubuh kami berdua dengan selimut tersebut.


Hendra? Apa yang dia lakukan di sini? Dia menyisipkan tangannya yang ada di balik selimut dan meletakkannya di depan perutku. Lalu bibirnya mencium lekukan antara leher dan bahuku. Dan dia tidak bergerak lagi. Apa dia tidak bercanda? Dia tidur di sini bersamaku?


...*******...


...~Author's Note~...


Selamat siang, teman-teman. ♡


Aku lupa memberitahukan. Selama bulan ini aku akan kesulitan mempublikasikan lanjutan cerita ini sebanyak biasanya atau 3 bab/hari. Adikku kembali dari perantauan dan WFH sampai akhir bulan. Aku akan usahakan tetap mempublikasikan lanjutannya 2 bab/hari, lebih jika memungkinkan.


Terima kasih atas pengertiannya, ya. Karena perubahan ini, Hendra dan Zahara akan menyapa setiap hari pada pukul 12.00 dan 18.00 WIB. Terima kasih atas dukungannya sampai saat ini. (´ε` )♡


Salam sayang,


Meina H.

__ADS_1


__ADS_2