Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 41 - Kehilangan Inspirasi


__ADS_3

Aku mencoba menulis sesuatu pada blogku sejak pagi tetapi pikiranku buntu. Biasanya inspirasi mengalir dengan lancar setiap pagi setelah aku mengisi perut dan rasa mualku hilang. Namun entah mengapa pagi ini aku tidak bisa berkonsentrasi.


Beberapa artikel sudah aku lahap habis, sebuah buku yang ada dalam daftar bacaanku sudah sampai pada bab terakhir, video juga musik pendukung ideku sudah aku putar, tetap saja tidak membantuku mendapatkan inspirasi.


Pintu ruanganku diketuk, aku mempersilakan masuk. Yuyun datang membawa baki. Aku melirik arloji, sudah pukul sepuluh pagi. Waktunya untuk memakan kudapan. Aku menyentuh perutku, tidak biasanya aku tidak merasakan lapar. Setelah membalas ucapan terima kasihku, wanita itu keluar dari ruangan. Aku mengambil sepotong roti isi dan menggigitnya.


Mendengar bunyi getaran di atas meja, aku segera melihat ke arah ponselku. Aku mengambilnya dan membaca nama pada layar. Aku mendesah pelan. Mama. Aku meletakkan roti kembali di atas piring, lalu meneguk air minum sebelum menjawab panggilan tersebut.


“Hai, Ma,” sapaku.


“Hai, sayang. Semoga aku tidak mengganggumu,” ucap Mama dengan alunan musik yang terdengar melatarbelakangi suaranya.


“Tidak, Ma. Apakah Mama sedang mengikuti acara?” tanyaku penasaran.


“Iya. Ada pertemuan dengan direktur sekolah musik yang akan mengadakan konser malam dana. Aku sekalian melihat latihan mereka,” jawabnya. “Aku akan cepat, aku meneleponmu karena takut lupa jika aku menundanya. Apa kamu bisa ikut bersama kami menghadiri konser ini malam minggu nanti? Kamu pasti kesepian karena Hendra sedang keluar negeri.”


Aku tidak pernah berhenti berterima kasih karena telah diberi mertua yang begitu pengertian dan baik hati. “Bisa, Ma. Di mana dan mulai jam berapa?”


“Kami akan menjemputmu di rumah sekitar jam lima sore. Pakai pakaian resmi tetapi jangan terlalu mencolok,” jawab Mama.


“Baik, Ma.” Aku tersenyum menatap layar ponsel begitu hubungan telepon berakhir. Menghadiri sebuah konser musik? Itu akan sangat menyenangkan.


Ponsel itu baru saja aku letakkan di atas meja, ketika benda itu bergetar lagi. Kali ini panggilan dari Darla. Bukan hanya nama Darla yang muncul pada layar tetapi juga Lindsey dan Qiana. Aku menyapa mereka bertiga. Untuk memudahkanku, ponsel itu aku letakkan pada alat penyangganya yang ada di atas meja. Jadi aku bisa makan camilan sambil mengobrol bersama mereka.

__ADS_1


Lindsey baru saja selesai makan malam dengan calon besannya dan bertemu dengan kenalan mereka yang mempunyai toko tas. Lindsey diajak untuk melihat-lihat tokonya walau sudah tutup dan dipersilakan membeli jika ada yang menarik perhatiannya.


Aku mendengar Qiana berteriak histeris setiap kali ada tas yang disukainya dari yang Lindsey deskripsikan. Dia dan Darla sama-sama membeli dua buah tas. Aku tidak tertarik membeli satu pun. Namun Darla memaksaku untuk memilih sebagai hadiah darinya. Karena tidak terlalu memahami model tas yang bagus, aku mempersilakan mereka yang memilihkannya untukku.


Cukup lama juga kami melakukan panggilan konferensi karena arlojiku hampir menunjukkan pukul dua belas siang. Sebentar lagi aku harus makan siang. Aku menatap layar laptopku yang masih putih bersih, belum ada satu kata pun yang aku ketik.


Sebaiknya aku makan, lalu beristirahat. Hari ini inspirasi sedang tidak berpihak kepadaku. Aku mematikan laptop dan membawa ponsel bersamaku saat keluar dari ruangan. Pintu baru saja aku tutup ketika ponsel pada tanganku bergetar. Aku melihat layar, kemudian tersenyum.


“Hai, Hen!” sapaku senang.


“Hai, sayang,” balasnya. “Sepertinya ada yang merindukan aku.” Aku segera cemberut mendengar kalimatnya itu. Dia tertawa.


“Apakah kamu sudah sampai?” tanyaku sambil berjalan menuju ruang makan.


“Iya. Aku baru sampai di kamar hotel dan hal pertama yang ingin aku lakukan adalah mendengar suara istriku. Bagaimana keadaanmu pagi ini? Apakah kamu masih mual-mual?” tanyanya khawatir.


“Aku tahu kamu hanya  ingin membuatku tenang,” katanya dengan serius. Tentu saja tidak ada yang bisa aku sembunyikan darinya. “Hampir jam dua belas di sana. Apakah kamu akan makan siang?”


“Iya.” Aku membuka pintu ruang makan. “Aku sudah di ruang makan.”


“Aku akan menemanimu makan.” Dia terdengar seperti sedang berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain. “Aku lapar dan ada beberapa biskuit, roti, juga keripik di konter dapur.”


“Kalau begitu, aku harus mengambil alat penyangga ponselku sebentar.” Aku kembali ke ruanganku dan mengambil alat penyangga ponsel yang ada di meja. Meletakkan ponsel di atas meja pada saat mengaktifkan pengeras suara akan membuat suaraku terdengar jauh.

__ADS_1


Selama menemaniku makan, dia yang lebih banyak bicara. Aku senang mendengar dia menceritakan tentang keadaan di dalam pesawat. Dia menceritakan mengenai seorang wanita yang berusaha untuk mengajaknya bicara sekalipun dia sudah mengatakan tidak ingin bicara dengannya. Aku sudah bisa membayangkan ekspresi dingin tanpa emosi yang ditujukannya kepada wanita tersebut.


Bagian dari dirinya yang lembut dan pengertian hanya ditujukannya kepadaku. Tiga tahun pertama kami menikah, papa dan mama mertuaku masih terkejut melihat ekspresinya yang sangat jarang mereka lihat tersebut. Mereka sampai menggoda Hendra bahwa dia takluk di bawah pesonaku. Suamiku tidak pernah menggubrisnya. Dia memang tidak pernah segan menunjukkan rasa cintanya kepadaku di hadapan semua orang.


Jika para wanita itu tidak terganggu dengan sikap dinginnya, berbeda dengan para pegawai di perusahaannya. Mereka sangat segan kepadanya. Aku jarang sekali datang ke kantornya dan melihat bagaimana dia bekerja. Tetapi setiap kali menemaninya pada perayaan yang diadakan oleh perusahaannya, aku bisa melihat pegawainya berusaha untuk tidak berada di dekatnya.


Kadang-kadang aku merasa kasihan melihat mereka yang melompat terkejut saat Hendra memanggil nama mereka. Padahal dia hanya ingin memperkenalkan mereka kepadaku, bukan berniat memarahi mereka. Hendra tampak tidak keberatan dengan sikap para pegawainya tersebut. Mungkin lebih baik begitu, agar mereka tidak menganggapnya remeh meskipun umurnya sebaya dengan mereka.


“Apakah kamu mengantuk?” tanyaku mendengarnya menguap beberapa kali.


“Iya. Aku tidak bisa tidur selama dalam penerbangan.” Dia diam sejenak. “Kamu tahu aku tidak bisa tidur tanpa kamu di dekatku.” Sebelumnya aku tidak mengerti maksud kalimatnya itu. Aku selalu menganggapnya sebagai gombalan murahan hingga aku mengalaminya sendiri semalam.


“Kamu mau aku temani tidur?” Yuyun memasuki ruang makan, aku mempersilakannya untuk membereskan meja makan. Aku melepaskan ponsel dari penyangganya.


“Apakah kamu tidak akan menulis artikel atau fiksi terbarumu di blog?” Seperti halnya aku yang sedang berjalan keluar dari ruang makan menuju lantai atas, Hendra juga melakukan hal yang sama. Terdengar bunyi alas kakinya beradu dengan lantai.


“Kamu tidak akan percaya ini, aku sama sekali tidak punya inspirasi apa pun untuk aku tuliskan.” Aku tertawa kecil. Hendra menarik napas terkejut. “Itu benar.”


“Sejak kapan kamu kehilangan inspirasi menulis? Itu adalah hal yang sangat langka.” tanyanya tidak percaya. “Jangan bilang, aku adalah sumber inspirasimu selama ini. Karena aku sedang pergi jauh, maka inspirasimu juga berkelana jauh.”


“Aku tidak jadi menemanimu tidur.” Aku berbalik arah dan berniat menuruni tangga.


“Oke, oke. Aku tidak akan mengatakan apa pun lagi.” Aku mendengar bunyi entah apa yang sedang dilakukannya. “Aku sudah siap untuk tidur.” Oh, dia berbaring di tempat tidur.

__ADS_1


“Kamu tidak boleh tidur sebelum membersihkan gigimu, Hen,” kataku mengingatkan. Dia mengeluh pelan. “Cepat bangun dan sikat gigimu jika kamu masih ingin aku temani tidur.” Secepat kilat dia bangun, dan aku mendengar langkah cepat kakinya diikuti bunyi pintu dibuka. Aku tertawa membayangkan dia sedang berlari.


Sebagai bukti bahwa dia menyikat gigi dan mencuci wajahnya, aku mendengar bunyi air dan gumamannya yang sedang menyikat gigi. Kemudian kami berbaring bersama di tempat tidur masing-masing. Sesaat saja, dia sudah mengantuk berat, aku juga. Dan aku seolah-olah merasakan pelukannya pada tubuhku. “Aku sangat mencintaimu, sayang.”


__ADS_2