Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 221 - Menyambut Harinya


__ADS_3

~Za~


Suasana sekolah Hadi berbeda dari biasanya. Lapangan parkir penuh dengan kendaraan dan anak-anak berkeliaran di halaman sekolah. Sepertinya para orang tua atau wali murid memilih untuk datang pagi hari mengambil laporan akademik anak-anak. Dengan begitu, mereka tetap bisa bekerja sepulang dari tempat ini.


Hadi menarik tanganku menuju kelasnya. Gurunya yang bernama Jane sedang berbicara dengan orang tua murid yang sudah datang lebih dahulu. Kami menunggu di tempat yang sudah disediakan. Saat pria dan wanita itu keluar bersama anak mereka, Jane mempersilakan kami untuk masuk.


Aku sangat bangga mendengar laporan yang diberikan oleh guru kelasnya. Hadi anak yang baik dan suka menolong. Dia juga bersahabat dengan semua orang. Aku tidak terlalu peduli dengan laporan kemampuan akademiknya. Dia masih terlalu kecil untuk dibebani dengan angka atau prestasi.


“Kapan kita pergi berlibur, Pa? Colin dan papanya akan pergi minggu depan,” ucap Hadi saat kami sudah berada di dalam mobil.


“Akhir bulan ini. Papa tidak bisa meninggalkan pekerjaan sekarang. Lagi pula tiket, penginapan, dan VISA kita sudah beres. Kamu tenang saja.” Hendra mengelus-elus puncak kepala Hadi.


“Apa itu VISA, Pa?” tanya Hadi. Hendra menjelaskannya sesederhana mungkin. Aku tersenyum mendengar percakapan ayah dan anak itu.


Kafin mengantar Hendra ke kantornya lebih dahulu, kemudian mengendarai mobil menuju rumah. Aku mengajak anak-anak untuk bermain di ruangan khususku. Sudah lama rasanya aku beristirahat dari menulis. Aku memutuskan untuk mulai bekerja menyiapkan buku kelimaku.


Aku tidak terkejut menemukan begitu banyak pesan baru di kotak masuk pada blog milikku. Aku sudah lama tidak menulis artikel baru. Jadi, blog itu sekarang aku gunakan untuk mempromosikan buku baruku. Aku sedang menunggu peluncuran buku keempat.


Tidak seperti suamiku yang mengejek buku ketigaku tidak bagus, para pembaca justru memberi apresiasi positif. Tentu saja ada yang memberi kritik, dan aku menerimanya sebagai dorongan untuk membuat karya yang lebih baik lagi.


“Ma, apa Colin tidak akan datang ke sini untuk bermain bersamaku?” tanya Hadi saat kami sedang makan siang.


“Tidak, sayang. Papanya sudah tidak bekerja lagi, jadi dia tidak sendirian. Kamu bisa menelepon dan mengundangnya main ke sini kalau kamu mau,” kataku memberi usul. Dia bersorak bahagia. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana dia nanti saat temannya itu berada di Amerika selama tiga bulan.


Aku meminta Yuyun mengawasi anak-anak bermain di ruang keluarga, sedangkan aku melanjutkan penulisan konsep untuk bukuku selanjutnya. Selagi ide sedang mengalir dengan lancar, aku mengetik semua yang ada di kepalaku ke laptop.


Hendra selalu ada di benakku saat menulis konsep tersebut. Aku berusaha agar aku tidak memberi sifat yang sama kepada karakter pada buku baruku. Permintaan yang sangat menantang, namun aku rela melakukannya. Karena buku keempatku mendapat respons yang sangat positif dari editor.

__ADS_1


Pada malam harinya, suamiku pulang lebih lama dari biasanya. Aku sudah mengantuk di kamar setelah menidurkan anak-anak. Setelah membersihkan diri, dia membaringkan tubuhnya di sisiku. Aku tersenyum merasakan pelukannya.


“Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” tanyaku setengah mengantuk.


“Semuanya lancar.” Aku merasakan ciumannya di keningku. “Aku makan siang bersama teman-temanku dan Keva juga bergabung bersama kami.” Rasa kantukku mendadak hilang mendengar nama itu.


“Bagaimana bisa? Kamu pasti sengaja mengundangnya?” tanyaku penuh protes.


“Aku bercerita secara jujur, kamu marah. Aku terlambat memberitahu, kamu marah juga. Lalu aku harus bagaimana?” tanyanya dengan nada sedih. Aku mendesah pelan mendengar dia berdrama.


“Baiklah. Maafkan aku.” Aku mengalah. “Jadi, apa yang terjadi? Mengapa dia mendadak bergabung bersama kalian?”


“Aku tidak tahu dia mengatakan apa kepada teman-temanku. Saat aku dan Gista datang, mereka bertiga sudah ada di ruang makan,” jawabnya.


“Apa wanita itu membuat kamu susah? Apa dia menggoda kamu?” tanyaku ingin tahu.


Mengapa dia melakukan itu kepada kami? Apa sebenarnya yang ada di dalam kepala Keva sehingga dia ingin merusak rumah tangga kami? Ada banyak laki-laki kaya raya di luar sana yang aku yakin masih sendiri dan mencari seorang istri yang sederajat. Mengapa dia harus mendekati Hendra?


“Aku sudah katakan, tidak perlu kamu pikirkan.” Hendra memeluk aku dengan erat. Aku tidak ingin memikirkannya. Tetapi sikapnya mencurigakan. Orang yang sedang kalap sangat berbahaya.


“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi  padaku jika sesuatu yang buruk terjadi kepadamu. Berjanjilah kamu akan selalu berhati-hati, sayang,” ucapku sedikit khawatir.


“Kamu juga harus menjanjikan hal yang sama,” katanya menuntut. Aku mengucapkan janjiku. Aku tidak akan pergi ke mana pun tanpa pengawalan Liando.


Aku berusaha membantu Rasmi untuk melayani para tamu, tetapi Hendra selalu berhasil menahan aku dan membawaku kembali duduk di sisinya. Rasmi dan Zach mengundang begitu banyak orang untuk menghadiri acara tujuh bulanan tersebut.


Orang tua dan teman-temanku sampai tertawa melihat tingkah suamiku. Apa lelahnya menolong mereka dengan mengisi piring saji yang hampir kosong atau mengisi ulang wadah es buah? Aku malu menjadi satu-satunya perempuan di antara teman-temanku yang duduk santai.

__ADS_1


Rumah kami jauh lebih besar daripada rumah adikku dan istrinya, jadi semua ruangan yang ada diisi oleh para tamu. Mereka tidak punya pekarangan, maka anak-anak dikumpulkan dalam satu ruangan agar bisa menonton film anak-anak atau bermain bersama. Tetapi mereka lebih banyak berkumpul di tepi kolam renang, di mana es krim dan gulali disajikan.


Orang tua Rasmi adalah orang yang sangat serius sehingga sulit bergaul dengan orang baru. Mereka bisa duduk bersamaku, orang tuaku, dan orang tua Hendra adalah hal yang langka. Pada awalnya, kami tidak bisa mengobrol seakrab ini dengan mereka.


Aku masih ingat mereka tidak menyetujui keputusan putri mereka untuk menikah dengan Zach. Suami tersayangku menolong menengahi mereka. Kalau dipikir-pikir, aku sangat beruntung. Aku bisa menikah dengan Hendra tanpa halangan dari kedua orang tuanya.


“Bagaimana keadaanmu sekarang, Naava? Apa kamu sudah merasa lebih baik?” tanya Mama.


“Sudah. Aku masih dalam pemulihan, tetapi rasanya lebih lega setelah memberitahu semua orang apa yang terjadi kepadaku,” jawab ibu mertuaku. Mereka melanjutkan percakapan mengenai perjuangan Mama melawan kanker. Aku senang melihat mereka sudah bicara lagi.


Perlahan keadaan sudah membaik. Walaupun ibu mertuaku belum memaafkan aku, harapan selalu ada. Entah bagaimana hubungan kami akan pulih nanti, aku hanya bisa berharap. Untuk sementara, aku akan menuruti permintaan Hendra untuk tidak terlalu akrab dengan Mama.


Hm. Ada satu hal yang aku tunggu-tunggu. Kami bisa bercinta lagi.


Menyambut hari istimewa itu, aku menggunakan waktu sepanjang minggu itu untuk menyiapkan diri. Aku ke salon untuk merawat rambut, ke day spa untuk merawat tubuh, bahkan ke dermatolog untuk memeriksa kondisi kulitku.


Tentu saja teman-teman tidak mau ketinggalan. Mereka juga ikut dalam setiap janji yang aku buat dengan salon, spa, bahkan dokter kulit. Aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan rencana apa pun dari mereka.


“Jadi, dengarkan aku baik-baik,” kata Darla. Aku segera menutup telinga dengan kedua tanganku. “Berhenti bersikap seperti remaja, Zahara. Kamu perlu mengetahui hal ini.”


“Aku tidak butuh saran darimu bagaimana sebaiknya aku bercinta dengan suamiku. Tidak mau!” kataku bersikeras. Qiana dan Lindsey tertawa.


“Sudah aku duga. Selama kalian menikah, pasti Hendra yang berinisiatif.” Darla menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku beritahu, ya. Suamimu akan semakin sayang kepadamu bila sesekali inisiatif itu datang dari kamu.” Aku cemberut mendengarnya.


“Zahara, percayalah. Kamu coba apa yang kami sarankan kepadamu, pilih yang mana yang nyaman untuk kamu lakukan, aku jamin, kalian berdua akan saling ketagihan terhadap satu sama lain.” Qiana mengedipkan sebelah matanya.


“Apalagi kamu punya tubuh yang bagus dan stamina kamu sangat bagus. Hendra telah menyiapkan kamu dengan baik untuk menyambut hari itu.” Lindsey tertawa kecil. Aku tidak mengerti maksudnya. “Kamu tidak tahu alasan di balik paksaan joging darinya setiap pagi?” Oh. Mereka tertawa geli. Pasti wajahku merah padam sekarang.

__ADS_1


__ADS_2