
“Oh. Rahasia yang itu.” Hendra berdiri, lalu mengambil satu langkah mendekatiku. Aku mundur menjaga jarak.
“Jangan mendekatiku, kita masih bicara.” Paha bagian belakangku menyentuh nakas, aku tidak bisa mundur lagi. Dia tersenyum penuh kemenangan. Aku segera menghindar ke bagian kanan saat dia akan memelukku. Dia tertawa. “Hendra, aku mau tahu sejak kapan kamu melakukan itu?”
“Entahlah. Aku tidak ingat,” jawabnya acuh tak acuh.
“Ingatanmu sangat bagus, kamu tidak akan melupakan hal sepenting itu,” kataku sarkas.
“Kamu sudah mengetahuinya, apa lagi yang perlu kamu ketahui?” tanyanya heran. “Aku tidak bisa tidur sejak jauh darimu. Ketika aku tidak tahan lagi, aku sesekali datang dan tidur di sini bersamamu. Hanya itu. Kamu tahu aku tidak akan berbuat lebih karena aku tidak serendah itu.”
“Jadi, memelukku sesukamu, mencium pipi, leher, bahkan bibirku, juga menyentuh dadaku … di saat aku sedang tidur pulas bukan hal yang rendah?” tanyaku tidak percaya. Dia membulatkan matanya. “Iya, sayang. Aku tahu apa saja yang kamu lakukan setiap kali kamu tidur bersamaku di sini.”
Setelah rasa terkejutnya hilang. Dia tertawa kecil. “Istri nakal. Sejak kapan kamu mengetahui hal itu dan bisa berpura-pura tidur merasakan aku menyentuhmu?”
“Kamu tidak punya hak untuk bertanya. Aku yang sedang bertanya kepadamu.” Kali ini, aku tidak menghindar lagi dan membiarkan dia memelukku.
“Aku tidak bisa jauh darimu. Kamu tahu itu. Ini hal yang memalukan karena itu aku berniat tidak akan pernah memberitahumu. Aku selalu bersikap dingin, tidak peduli apa pun tentang kamu, apa jadinya jika aku membuka rahasiaku yang satu itu?”
“Mungkin kita sudah kembali bersama lebih cepat dari yang kamu duga.” Aku mengangkat wajahku dan menatap kedua matanya. “Kamu sendiri yang bilang, rahasialah yang merusak pernikahan kita.”
“Bukan rahasiaku, tetapi rahasiamu.” Dia mengangkat kedua alisnya. Sebelum aku membalas kalimat egois itu, dia menciumku dan membuatku lupa dengan percakapan kami.
Penderitaanku rasanya tidak akan pernah berakhir. Walaupun pada malam harinya aku melayani kebutuhannya dengan patuh, aku harus ikut joging dengannya pada pagi hari. Nyeri pada pahaku yang belum pulih karena olahraga kemarin tidak bisa aku jadikan alasan untuk menghindar.
__ADS_1
Aku memekik terkejut merasakan tamparan ringan di bokongku. “Jangan malas. Anak-anak sudah lari dua putaran, kamu belum selesai satu putaran pun.”
“Kamu membuatku bercinta denganmu semalam dan pagi ini, lalu aku masih harus joging lagi?” Aku sudah mengatakannya tadi tetapi aku akan terus menyatakan protesku.
“Itu sama sekali tidak ada hubungannya. Kamu terus menyebut Hendra kecil, maka aku ingin membuktikan kepadamu bahwa dia tidak sekecil itu.” Dia mengedipkan sebelah matanya dan meninggalkan aku.
“Mama! Mama!” Hadi dan Dira bersorak senang diikuti salakan anjing, datang dari arah belakangku. Dasar anak-anak tukang pamer. Karena kekuatan fisik mereka, aku direndahkan oleh papa mereka.
“Ayo, Ma. Lari yang cepat!” ucap Hadi memberiku semangat.
“Iya, sayang. Kalian larilah di depan.” Aku tersenyum sambil bernapas dengan susah payah.
Setengah jam kemudian, kami duduk bersama di teras samping. Mereka berempat terlihat senang dan segar, ketika aku masih berusaha mengatur napasku. Ini sangat tidak adil. Mengapa fisikku bisa lebih lemah dari mereka?
Aku merasa lebih baik setelah mengisi perutku dengan berbagai makanan yang disiapkan oleh Fahri. Kami membersihkan diri, lalu bersiap-siap untuk menyambut tamu. Papa dan Mama datang lebih dahulu. Mereka segera ikut membantu kami.
Meja saji ada di tepi kolam renang juga di ruangan tersebut. Tempat duduk dan meja tersedia cukup untuk semua orang. Tetapi sebagian besar tamu memilih untuk berdiri sambil makan dan berbincang. Kami tidak hanya mengundang teman-temanku, namun juga tetangga kami. Semakin banyak anak-anak yang datang, Hadi dan Dira semakin senang.
Mereka meminta izin untuk berenang, aku mempersilakan. Kolam renang khusus dewasa telah kami beri pengaman agar anak-anak bisa tetap berada di kolam khusus mereka. Anak-anak yang tidak membawa pakaian renang bisa menggunakan pakaian yang tersedia di dalam lemari. Lemari itu menyimpan segalanya seperti pelampung dan berbagai alat untuk dimainkan di air.
“Aku tidak percaya ini.” Qiana masih menatapku dan Hendra tanpa berkedip. Kami hanya tertawa. Hendra yang melingkarkan tangannya di pinggangku menarikku mendekat lalu mencium pelipisku.
“Seharusnya kalimat pertama yang kalian ucapkan adalah selamat. Bukan memberi kami tatapan aneh begitu.” Hendra tertawa kecil. “Jangan lupa beritahu Claudia. Dia harus menepati janjinya dengan datang pada hari peringatan pernikahan kalian.”
__ADS_1
“Dia akhirnya bangun juga.” Darla mendekat dan mengarahkan layar ponselnya kepada kami. “Ini bukti yang kamu minta, Claudia.” Wanita berambut pirang dan bermata biru itu mencari-cari apa yang dimaksud oleh Darla.
“Oh, Tuhan. Zahara dan Hendra kembali bersama?! Aku tahu itu! Aku tahu hal ini pasti akan segera terjadi!” Claudia memekik bahagia. “Aku turut bahagia untuk kalian berdua!”
“Terima kasih, Claudia.” Aku dan Hendra serentak membalasnya.
“Baiklah. Janji adalah janji. Aku dan Mason akan datang pada bulan Maret nanti. Tetapi aku mau kita semua pergi berlibur. Aku tidak mau hanya pergi bersama Lindsey,” kata Claudia setengah mengancam. Mason yang ada di belakangnya tertawa kecil.
“Itu rencana yang bagus.” Lindsey melihat ke arah kami semua. “Anak-anak sudah besar, mereka tidak akan menyusahkan saat dalam perjalanan nanti.”
Teman-teman setuju dengan ide itu. Aku menoleh kepada Hendra. Dia memberi jawaban dengan anggukan kepalanya. “Baik. Ayo, kita berlibur bersama.” Mereka memberiku sorakan mengejek.
“Kami menjawab dengan cepat dan kamu harus meminta izin suamimu dahulu untuk menjawab pertanyaan sesederhana ini?” tanya Qiana tidak percaya.
“Aku mau dia juga ikut, jadi aku harus memastikan bahwa dia bisa meninggalkan pekerjaannya untuk berlibur bersama kita.” Aku meletakkan kepalaku dengan manja di dada Hendra. Mereka kembali bersorak mengejekku.
“Cukup, cukup. Kalian sudah cukup mengejek istriku. Dia memiliki aku sekarang untuk membelanya.” Hendra melingkarkan kedua tangannya di tubuhku. Aku membalas pelukannya dengan senang hati.
“Baik. Aku juga sudah cukup melihat kemesraan kalian.” Qiana menggandeng tangan suaminya dan berjalan mendekati meja saji. Kami tertawa melihatnya.
“Aku juga sudah mengantuk. Sampai nanti.” Claudia dan Mason melambaikan tangan mereka.
Kami menuju meja saji mengambil makanan kami masing-masing, kemudian mengobrol dengan santai mengenai banyak hal. Termasuk tujuan liburan kami nanti. Mereka berharap agar kami memilih tempat terdekat saja agar tidak perlu repot dengan penerbangan yang berjam-jam.
__ADS_1
“Pantas saja kamu tidak mau mengikuti pertemuan rutin kita, Helmut. Ternyata ada acara yang lebih baik di sini,” ucap seseorang yang baru memasuki ruangan di mana kami berada.
Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Aku melihat ke arah Qiana dan Helmut dengan tatapan menuduh. Aku tidak mengundang laki-laki itu. Mengapa mereka memberitahu dia bahwa ada acara di rumah kami?