
~Za~
“Selamat datang kembali!” ucapku saat Hendra pulang setelah pergi selama dua minggu. Aku menyambutnya sambil memegang buket bunga.
“Terima kasih.” Dia menatapku dengan bingung dan tidak bergegas menuju kamarnya seperti biasanya. Aku memberikan buket itu untuknya. “Untuk apa ini?”
“Bunga untukmu. Anyelir merah dan merah jambu artinya aku merindukanmu.” Aku menyentuh perutku yang sudah terlihat membuncit. “Kami merindukanmu.”
“Terima kasih,” katanya pelan. Dia terlihat lelah.
“Aku sudah menyalakan air hangat di kamar mandi, jadi bisa langsung kamu gunakan. Istirahatlah. Kamu pasti lelah,” ucapku dengan tetap tersenyum kepadanya. Dia mengangguk, lalu berjalan menuju tangga. Aku melihatnya naik ke lantai atas, tidak mengikutinya seperti biasanya.
Mungkin dia menyadari keanehan lainnya karena dia berhenti lalu menoleh ke belakang. Kami bertemu pandang saat dia melihatku yang masih berdiri di tempatku yang semula. Ternyata mudah sekali mendapatkan perhatian darinya. Hanya dengan mengubah sedikit kebiasaanku.
“Apakah kamu membutuhkan sesuatu?” tanyaku sambil berjalan mendekatinya. Dia tidak menjawab, hanya menggeleng pelan. Lalu dia melanjutkan langkahnya menaiki tangga.
Pada keesokan paginya, aku sudah berada di ruang makan saat dia masuk ruangan. Dia menatapku dengan bingung, tetapi segera menutupinya dengan duduk di kursinya. Kami makan dalam diam. Aku tidak menanyakan apa pun kepadanya karena aku tahu dia akan marah dan berpikir bahwa aku sedang mencari tahu apakah dia benar bekerja atau bersama wanita lain.
Aku mengantarnya pergi ke kantor sampai pintu depan dan berdiri di teras hingga mobilnya keluar dari pekarangan rumah kami. Kami sama sekali tidak mengucapkan satu kalimat pun dari ruang makan sampai dia pergi. Tetapi setidaknya, kami tidak bertengkar.
Mulai dari hari ini, aku tidak perlu pergi ke pusat kebugaran lagi. Aku bisa melakukan gerakan senam sendiri di rumah. Tentu saja kedua ibuku tidak percaya kepadaku. Mereka datang dan melakukan senam bersamaku. Ya, Tuhan. Aku takut sekali. Mereka pasti akan sangat membenciku bila mereka tahu bahwa aku telah mengkhianati suamiku.
Saat makan siang, aku mengirim pesan kepada suamiku dan memberitahunya apa yang aku lakukan sejak pagi, termasuk senam bersama kedua ibu kami. Tidak ada balasan apa pun darinya, aku tidak memasukkannya ke dalam hati.
__ADS_1
Pada saat Hendra pulang, aku menyambutnya dengan memberikan buket bunga blue salvia dipadu dengan anyelir merah muda. Menurut penjual bunga, kedua bunga itu bisa diartikan bahwa aku sedang memikirkanmu atau tidak bisa melupakanmu. Suamiku hanya menggeleng pelan saat menerima buket tersebut dariku.
Dia masih mengajakku untuk menemaninya menghadiri acara undangan pada malam hari atau akhir pekan. Aku tidak peduli lagi apakah kami akan bertemu dengan Aldo atau tidak. Aku mengarahkan seluruh perhatianku kepada suamiku. Setiap kali dia merasa tidak nyaman harus berdiri di sisiku, aku pamit ke toilet agar dia tidak harus berpura-pura di depan koleganya.
Untuk beberapa undangan yang kami hadiri, aku cukup beruntung. Kadang-kadang salah satu atau dua sahabatku juga hadir bersama suami mereka. Jadi, kami bisa duduk atau berdiri bersama dan mengobrol tanpa mengganggu suami kami yang sedang berbincang dengan rekan bisnis mereka.
“Aku tidak percaya aku akan pernah menyaksikan ini.” Qiana tertawa cekikikan. Aku cemberut, tidak bisa meresponsi godaannya itu. “Zahara dan Hendra bertengkar? Keajaiban dunia keberapa ini?”
“Sayang sekali Lindsey tidak ada di sini. Dia tidak berhenti bicara di telepon tentang sikap Hendra kepada sahabat kita tersayang saat mereka menghadiri acara yang sama.” Darla tidak mau kalah. “Ada apa dengan kalian berdua? Aku tidak pernah melihat Hendra mau sedetik saja jauh darimu.”
“Tidak ada apa-apa. Hanya pertengkaran biasa.” Aku mengangkat kedua bahuku, kemudian melihat ke arah dia yang sedang bicara dengan rekan-rekan bisnisnya.
“Kamu belum melakukan apa pun untuk membuatnya berhenti merajuk?” tanya Qiana penuh arti. “Aku dan Darla bisa memberimu beberapa saran yang dijamin manjur.”
“Aku tidak butuh saran apa pun. Kalian hanya bisa mengejekku. Aku bisa cari cara sendiri,” ucapku kesal. Mereka berdua kembali cekikikan. Menyebalkan sekali.
“Dia benar tidak ada janji makan siang, ‘kan?” tanyaku memastikan kembali.
“Benar, Bu.” Dia menunduk dengan sopan. Aku tersenyum puas.
Sherry mengetuk pintu ruangan suamiku, lalu memberitahukan kedatanganku. “Silakan, Bu.” Dia membukakan pintu lebih lebar agar aku bisa masuk.
“Terima kasih, Sherry.” Aku melangkah dengan riang.
__ADS_1
Hendra berdiri menyambut kedatanganku. Aku tersenyum saat berjalan mendekatinya. “Aku tidak ingat kita ada janji siang ini.” Suamiku menatapku dengan heran.
“Memang tidak ada.” Aku berhenti di depan meja kerjanya. “Aku ingin mengajakmu makan siang bersamaku.” Dia menatapku sesaat.
“Aku tidak bisa,” jawabnya.
“Kamu tidak ada janji makan siang, mengapa tidak bisa?” tanyaku bingung.
Dia menekan tombol interkom yang ada di atas mejanya. “Sherry, aku ada rapat siang ini bersama divisi pemasaran. Bisa naikkan ke jam makan siang? Lalu kamu pesan makanan supaya kami bisa rapat sambil makan bersama.” Aku mengabaikan rasa sakit di dadaku mendengar itu.
“Baik, Pak.” Terdengar nada kebingungan pada suara Sherry.
“Aku sudah ada janji.” Hendra kembali duduk di kursinya. Aku tersenyum.
“Kalau begitu, sampai jumpa nanti malam. Aku sudah meminta Fahri untuk memasakkan makanan kesukaanmu. Kamu pulang sebelum makan malam ‘kan?” tanyaku. Aku tahu dia akan menolak dan mengatakan bahwa dia ada janji makan malam. Tetapi tidak. Kali ini dia mengangguk pelan. Aku tersenyum melihatnya.
Aku tidak mau merasa kalah. Aku masih bisa mencoba lagi. Jadi, aku keluar dari ruangannya dengan langkah tegap. Sherry meminta maaf kepadaku, lalu mengantarku sampai ke pintu depan. Padahal dia tidak bersalah. Hendra marah kepadaku dan aku pantas mendapatkan perlakuan itu.
Liando pasti sedang makan siang di suatu tempat tidak jauh dari sini. Aku tidak tahu harus ke mana, maka aku memutuskan untuk makan siang di salah satu restoran terdekat. Pulang ke rumah akan memakan waktu lebih lama karena lalu lintas sedang macet. Aku sudah kelaparan.
Hampir semua rumah makan penuh dengan pengunjung. Aku menemukan satu restoran yang punya satu meja kosong untukku. Aku memesan makanan dan minuman sambil memberi catatan kepada pelayan makanan yang aman untuk ibu hamil.
Keadaan di sekitarku riuh dengan para karyawan kantor yang sedang beristirahat makan siang. Percakapan yang aku dengar tidak melulu mengenai pekerjaan. Aku diam-diam merindukan suasana ini. Sejak menikah dengan Hendra, aku mengundurkan diri dari pekerjaanku karena dia tidak sanggup melihatku dekat dengan rekan kerja priaku.
__ADS_1
Mengingat itu, aku mendesah pelan. Entah sampai kapan kami akan tidur di kamar yang terpisah. Aku mengerti dia marah kepadaku. Bagaimana mungkin dia bisa memaafkan aku yang telah memberikan tubuhku kepada pria lain, bersalaman saat berkenalan dengan pria baru saja tidak bisa.
Aku menarik napas panjang dan mendadak merasakan sesak di dadaku. Kali ini aku tidak menahan diri. Ternyata rasanya sangat menyakitkan ketika diabaikan oleh orang yang sangat kita cintai. Bagaimana dia bisa bertahan selama enam tahun ini?