
Ponsel itu nyaris terlepas dari tanganku. Itu adalah berita yang tidak aku duga-duga. Nora bukanlah anak kandung orang tuanya? Mereka menyembunyikan kenyataan itu dari semua orang, apa itu artinya hanya mereka bertiga yang mengetahuinya? Lalu bagaimana Annora bisa mendapatkan informasi sangat rahasia tersebut?
Bila ini sebuah rahasia, maka kami sekarang ada di atas Nora. Tidak. Aku yang sekarang memegang kendali. Dia tidak bisa lagi mengganggu keluargaku, menyakiti Mama dengan janji-janji palsunya, atau menggoda suamiku dengan cinta monyetnya. Cinta. Dia merusak nama keluargaku dan dia bilang semua itu karena dia mencintai Hendra? Omong kosong.
“Kamu tahu apa arti rahasia itu untukmu, ‘kan, Za?” tanya Annora senang.
“Iya.” Aku melihat ke arah suamiku. Dia sedang tersenyum. “Aku yang sekarang memegang kendali. Aku bisa menggunakan fakta ini untuk membuat dia menjauh selamanya dari keluarga kami dan tidak pernah mengganggu kami lagi.”
“Benar. Tetapi maafkan aku, Za. Aku tidak akan diam lagi. Aku akan memainkan kartu As kita dan membiarkan kerabatnya mengambil alih perusahaan yang memang adalah hak mereka.” Kini nada suara Annora berubah dingin. “Walaupun bukan dia yang menyebar isu mengenai Om Adhy, dia yang memberi ide itu di kepala ayahnya. Itu artinya, dia melanggar syarat damai kalian.”
“Tetapi, Annora …,” kataku keberatan. Hendra menyentuh tanganku. Aku menatap dengan wajah memelas. Suamiku menggelengkan kepalanya. Apa dia sudah tahu mengenai rencana Annora?
“Aku sudah bilang bahwa ini bukan perkara kecil yang bisa diselesaikan dengan kata maaf. Kamu tenang saja. Aku dan Xavier yang akan mengurus semuanya. Tidak akan ada yang bisa menuduh kalian terlibat dalam hal ini. Rahasia itu tidak ada yang tahu.”
“Lalu bagaimana kamu bisa mengetahuinya?” tanyaku yang tidak bisa menahan rasa penasaranku.
“Gampang saja. Aku meminta orangku untuk menyadap semua gawainya dan orang tuanya. Lalu mereka mendengar percakapan rahasia itu. Orang-orangku tidak memahami Bahasa, jadi butuh waktu untuk mengartikan setiap percakapan dengan alat penerjemah.”
“Wow. Kamu benar. Uang bisa membeli segalanya.” Aku memukau kagum. Annora tertawa kecil. “Aku harus berhati-hati saat berbicara denganmu. Salah sedikit saja, kamu bisa membalas aku semudah menjentikkan jari.”
“Ayolah, Za. Aku tidak akan menyerang temanku sendiri. Kamu dan Hendra adalah sahabat kami sampai mati,” katanya dengan nada serius. Aku tersenyum.
__ADS_1
“Terima kasih, Annora. Terima kasih banyak sudah menolong kami,” ucapku dengan tulus. Aku sangat beruntung memiliki dia dan Xavier di pihak kami.
“Sama-sama. Sampaikan salamku kepada Tante Naava bila dia sudah bangun nanti. Kami akan pergi ke pasar tradisional. Sampai nanti!” Dia memekik senang. Aku tertawa mendengarnya.
Annora benar. Nora tidak melanggar perjanjian damai karena bukan dia yang menyebarkan isu jahat itu. Tetapi hanya dia, Hendra, dan Papa yang ada dalam ruangan saat Mama bertanya kepada Papa mengenai hubungan rahasianya dengan Gista. Papa jelas sudah berkata tidak. Tetapi dia pasti sengaja menyebut hal itu di depan orang tuanya sehingga Om Nelson memanfaatkan info tersebut.
Nora tidak sadar bahwa rencana itu justru menjatuhkan ayahnya sendiri. Hendra dan timnya jadi tahu alasan yang sebenarnya dari pengalihan isu tersebut. Dan dia juga menghancurkan keluarganya sendiri. Kini dia akan kehilangan segalanya. Setelah Dicky dan Vivaldo yang harus mendekam lama di penjara, Nora pun mendapatkan gilirannya membayar semua perbuatan jahatnya.
Tetapi aku merasa kasihan kepadanya. Ayahnya baru saja ditahan oleh polisi. Aku ingin memberinya satu kesempatan terakhir sebelum menyebarkan fakta yang sengaja mereka sembunyikan dari keluarga besar mereka. Aku tidak mau dia hancur dalam satu hari.
“Ada apa? Kalian berdua hanya diam saja setelah mendapat telepon itu. Apa yang Annora yang katakan yang membuat wajah kalian aneh begini?” tanya Papa ingin tahu.
“Nora bukan anak kandung orang tuanya,” ucapku pelan. Papa menatapku sesaat. Kemudian matanya membulat dan mulutnya menganga.
“Tidak, Pa. Ann tidak pernah salah. Dia sangat berhati-hati memeriksa setiap fakta yang ada sebelum menyebarkannya. Bukan hanya Papa, semua keluarganya tidak tahu mengenai ini. Mereka bertiga sengaja merahasiakannya agar perusahaan itu tetap ada di tangan mereka.”
“Ah, iya. Kencana Karya tidak mungkin diwariskan kepada Nora, dia bukan keturunan langsung keluarga mereka. Sepupu terdekatnya yang akan mendapatkannya. Aku sudah bisa membayangkan perang berdarah akan terjadi di keluarga itu.”
“Bagaimana cara memberitahu Mama mengenai kabar baru ini?” tanyaku khawatir.
“Tidak perlu. Dia bisa mengetahuinya dari berita. Lagi pula sudah saatnya dia tahu siapa wanita itu yang sebenarnya. Gadis malang. Orang tuanya membesarkan dia dalam kebohongan sehingga dia suka melakukan hal itu. Aku tidak tahu kapan dia bicara tulus dan kapan dia berbohong selama aku mengenalnya.” Papa menggeleng pelan.
__ADS_1
Selesai makan siang, kami menuju ruang ICU dan menunggu sampai ada kabar terbaru mengenai Mama. Hendra menelepon beberapa orang setelah mendengar laporan dari Gista. Aku tidak tahu apa yang terjadi, mungkin ada urusan di perusahaan.
Ketika seorang suster akhirnya memberitahu kami bahwa Mama sudah bangun dan kondisinya baik, kami diantar ke kamar rawat. Papa yang masuk lebih dahulu. Begitu Papa keluar, aku dan Hendra masuk bersama untuk berjaga-jaga andai Mama tidak menyukai kehadiranku.
Tetapi yang kami takutkan tidak terjadi. Mama masih dalam pengaruh obat bius sehingga dia hanya diam saja menatap kami. Mama mendengarkan yang kami katakan karena dia mengedipkan matanya tanda bahwa dia memahami apa yang putranya katakan. Saat dia melihat ke arahku. Aku hanya tersenyum.
“Mama beristirahat saja. Kami ada di sini bersama Mama, jadi jangan khawatirkan apa pun,” ucap Hendra pelan. Mama mengedipkan matanya. Lalu dia kembali tidur.
Aku merasa sangat lega dan lebih tenang melihat operasi yang Mama jalani berjalan dengan lancar. Mama juga tidak menunjukkan tanda-tanda merasakan sakit atau tidak nyaman. Dia bisa tidur dengan pulas. Semoga saja pemulihannya juga tidak terlalu menyakitkan. Hendra benar. Segalanya justru baru dimulai setelah operasi berlangsung.
Kami keluar dari ruangan secara perlahan dan Hendra menutup pintu dengan hati-hati. Papa masih duduk di ruang tunggu, kami mendekatinya. Kami mendiskusikan apa yang sebaiknya kami lakukan selanjutnya. Papa akan menginap menemani Mama di rumah sakit. Hendra tidak bisa meninggalkan pekerjaan setiap hari, maka dia hanya akan menjenguk Mama saat mengantar dan menjemput aku.
Hendra memesan satu kamar untuk Papa selama dua malam. Dokter memprediksikan bahwa Mama sudah bisa pulang setelah tiga hari dirawat di rumah sakit. Keputusan itu bisa berubah andai ada komplikasi atau hal lain yang membutuhkan perawatan lebih lanjut.
Sopir Papa mengantar koper berisi pakaian dan peralatan pribadi Papa dari mobil, lalu Papa mempersilakan dia untuk pulang dan kembali pada keesokan hari. Kami mengantar Papa menuju kamarnya. Dia menyuruh kami untuk pulang agar anak-anak tidak merasa ditinggal terlalu lama. Papa menolak kami temani makan malam di kantin. Kami pun mengalah.
“Aku tidak mengerti. Mengapa Mama memilih rumah sakit ini dan tidak rumah sakit langganan keluarga kita. Aku lebih suka dengan pelayanan mereka dan kamar untuk keluarga pasiennya.” Hendra melihat ke sekeliling kami.
“Mungkin Mama merasa lebih nyaman mendiskusikan pengobatan penyakitnya dengan dokter di sini, sayang. Yang penting segalanya berjalan dengan baik.” Kami keluar dari elevator dan berjalan menuju pintu utama rumah sakit. Kami beruntung mendapatkan tempat parkir yang tidak jauh dari pintu masuk pagi tadi.
Seseorang tiba-tiba saja mendekati kami dari sebelah kanan depan dan berdiri di hadapan kami dengan wajah marah. Aku dan suamiku terpaksa menghentikan langkah kami.
__ADS_1
“Aku tidak percaya kalian akan melakukan hal sekotor ini. Ayahku tidak bersalah. Mengapa kalian memfitnahnya dan melaporkannya ke polisi? Ikut aku ke kantor polisi sekarang dan jelaskan kepada mereka bahwa bukti itu palsu, Hendra!”