Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 72 - Aku Terlihat Tua


__ADS_3

“Sayang,” Hendra memasuki ruang pakaian, “apa kamu belum siap? Kita bisa terlambat mengikuti ibadah.” Aku melihat ke arahnya dengan wajah sedih. “Hei, ada apa? Mengapa kamu menangis?”


“Aku terlihat seperti wanita berusia enam puluh tahun,” isakku. Hendra memelukku dan tangannya mengusap-usap punggungku. Sudah dua minggu sejak dia melepas gips pada tangan kanannya, jadi aku bisa merasakan hangatnya sentuhannya itu.


“Kamu hanya sedang hamil, Za. Beberapa bagian tubuhmu membesar, bukan berarti kamu berubah menjadi wanita tua.” Dia mencium pelipisku. “Berhenti menangis atau kamu akan duduk lebih lama lagi karena harus memperbaiki riasan wajahmu.”


Dia mudah saja mengatakan semua itu, tetapi aku yang merasakannya. Perutku semakin besar, begitu juga dengan dada dan bokongku. Wajahku dihiasi jerawat dan rambutku terlihat kaku serta tidak bercahaya. Bagaimana aku bisa menghadiri pernikahan dengan penampilan seperti ini?


Usia kandunganku hampir memasuki minggu kedua puluh delapan dan aku sudah begitu besar. Aku tidak bisa membayangkan sebesar apa aku nanti ketika mendekati waktu melahirkan. Seluruh baju yang ada di dalam ruang pakaian sudah diganti. Pakaian lamaku disimpan di tempat lain karena sama sekali tidak bisa aku gunakan lagi.


Hari pernikahan putra Lindsey akhirnya tiba. Mereka tidak berani memilih konsep pesta kebun karena sepanjang bulan Oktober ini hujan hampir turun setiap hari. Pemberkatan pernikahan diadakan di gereja di mana Lindsey dan keluarganya terdaftar. Hanya kerabat dan sahabat yang menghadirinya. Usai acara, kami makan malam bersama di aula sebuah hotel mewah.


“Terima kasih. Kalian semua baik sekali. Kami sangat tertolong menyiapkan acara pernikahan yang indah ini,” ucap Claudia. Ibu dari pengantin perempuan. Dia berusaha belajar bahasa Indonesia walaupun kami sudah mengatakan bahwa kami bisa berbahasa Inggris dengan fasih. Dia sudah bisa mengucapkan salam dan terima kasih dengan baik.


“Terima kasih kembali, Claudia,” jawab kami serentak.


“Tawaran kami untuk berlibur bersama masih berlaku. Semakin banyak ikut semakin baik. Aku yakin Lindsey dan Ed juga tidak keberatan,” katanya yang masih belum menyerah mengajak kami berlibur bersama mereka usai acara pernikahan.


“Sebaiknya tidak. Zahara sedang hamil dan kami tidak mau pergi bersama tanpa kehadirannya juga. Mungkin lain kali. Kami berencana akan ke luar negeri bersama suatu saat nanti,” ucap Darla. Wanita itu tidak terlihat kecewa, wajahnya malah semakin berbinar-binar.


“Tolong, datanglah ke tempat kami. Aku akan mengajak kalian mengunjungi tempat yang bagus di kota kami!” ucapnya bahagia.


“Sayang, apakah kamu membuat mereka susah lagi dengan ajakanmu?” tanya Mason, suaminya. “Tolong maafkan istriku. Dia senang sekali bisa mendapatkan teman baru. Karena itu dia ingin sekali kalian ikut berlibur bersama kami.”

__ADS_1


“Kami mengerti, Mason. Dan dia tidak menyusahkan kami,” ucapku membela Claudia.


“Oh, Zahara. Aku berdoa semoga cucu pertamaku seorang perempuan. Anak laki-lakimu harus menjadi menantu putriku. Kamu dengar itu? Mereka pasti akan menjadi pasangan yang sangat serasi. Laki-laki yang tampan dan perempuan yang cantik!” ucap Claudia.


“Kamu tidak bisa hanya meminta kepada istriku dan mengabaikan pendapatku, Claudia.” Hendra tiba-tiba saja sudah berdiri di sisiku.


“Hendra, kamu akan menyesal bila kamu tidak merestui hubungan mereka. Karena aku berani jamin, mereka berdua akan menjadi pasangan yang membuat banyak orang iri. Melebihi yang sudah kalian lakukan di depan kami.” Claudia menantangnya. Oh, Tuhan. Keterusterangan wanita ini masih sering membuatku terkejut sendiri.


“Kamu tahu, kamu bisa mencium dan memeluk Mason kapan pun kamu mau. Tidak akan ada yang berani menghakimimu di sini. Aku saja tidak pernah peduli apa kata orang setiap kali menyentuh istriku.” Hendra membuktikannya dengan mencium bibirku di situ, di depan sahabatku.


“Oh, pergilah. Kamu merusak percakapan para wanita saja,” ucap Claudia setengah mengusir Hendra. Kami tertawa mendengarnya.


“Aku datang untuk mengundangmu menghadiri acara di rumahku, tetapi karena kamu mengusirku dengan kasar, maka aku …,” ucap suamiku setengah bercanda.


“Acara syukuran atas kandungan Zahara yang berusia tujuh bulan,” jawab Qiana.


“Oh. Ada acara seperti itu di sini?” tanya Claudia antusias. Kami serentak menganggukkan kepala. Dia melihat ke arah Lindsey yang sedang duduk bersama keluarganya. “Kami tidak tahu Lindsey akan membawa kami berlibur ke mana, jadi aku tidak bisa memutuskan apa pun sekarang.”


“Dia juga akan menghadiri acara itu. Dia tidak akan melewatkannya,” kata Darla.


“Kalau begitu, aku juga akan menghadirinya,” ujar Claudia antusias.


“Aku? Apakah kamu tidak akan mengajakku juga?” tanya Mason. Aku suka melihat pasangan ini. Mereka sangat santai layaknya sahabat, tetapi juga tidak segan menunjukkan bahwa mereka tergila-gila terhadap satu sama lain.

__ADS_1


Hendra mengajakku untuk berdansa. Aku menolak menjadi pusat perhatian banyak orang. Tetapi dia membujuk sampai aku menjawab iya. Kami hanya berpelukan dan bergerak mengikuti musik. Dia tidak terganggu sama sekali dengan perut besarku yang berada di antara kami. Teman-teman juga ikut berdansa bersama pasangan mereka masing-masing.


Satu hal lagi yang paling aku benci dari hamil adalah frekuensi ke kamar kecil. Rasanya aku baru saja keluar dari tempat itu, eh, sudah harus kembali lagi. Hendra hanya tertawa saat melepasku menuju kamar mandi. Dia menawarkan diri untuk menemani, tetapi aku menolak. Lagi pula dia tetap tidak akan bisa masuk ke toilet wanita.


Aku bersyukur tidak ada antrian dan ada dua bilik yang kosong. Aku memilih yang terdekat. Setelah selesai dengan urusan pribadiku, aku membersihkan tangan sambil memerhatikan bayanganku di cermin. Pipiku tembam, leherku gemuk, aku benar-benar terlihat seperti wanita tua. Aku menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Oke, ini hanya hormon. Aku cantik dan masih muda.


Kalimat itu terus aku ulangi di dalam kepalaku agar aku tidak mendadak menangis saat kembali bergabung bersama suami dan teman-temanku. Hormonku tidak boleh sampai merusak suasana pesta pernikahan ini. Begitu keadaanku sudah membaik, aku keluar dari toilet.


“Sampai kapan kamu berencana menyembunyikan kehamilanmu itu dariku?” Seorang pria berdiri di hadapanku menghalangi langkahku. Aku mengangkat kepalaku dan melihat Aldo berdiri depanku dengan wajah tidak senang.


“Aku tidak menyembunyikan kehamilanku dari siapa pun.” Aku menatapnya dengan heran. Apa lagi yang dia inginkan dariku? Apakah percakapan terakhir kami masih belum jelas baginya? Dan bagaimana dia bisa ada di tempat ini?


“Kamu tidak memberitahuku, itu artinya kamu menyembunyikannya dariku,” katanya lagi. Aku mencoba menganalisa maksud dari kalimat anehnya itu.


“Sebentar. Apa kamu pikir bayi ini adalah anakmu?” Aku menatapnya tidak percaya.


“Tentu saja. Anak siapa lagi kalau bukan anakku?” tanyanya dengan nada sarkas.


“Wow. Kamu benar-benar sudah gila. Sebaiknya kamu memeriksakan diri ke psikiater selagi kamu masih bisa ditolong.” Aku juga bisa gila bila terus bicara dengannya. Dia memegang lenganku saat aku berusaha berjalan melewatinya. “Lepaskan aku!” Aku menepis tangannya itu.


“Kamu harus tinggalkan laki-laki itu, Ara. Aku tidak akan tinggal diam lagi sekarang. Aku tidak akan membiarkan dia memilikimu dan anak kita,” katanya mengancam.


“Ini anak suamiku,” ucapku dengan suara tertahan. Dia tertawa sinis.

__ADS_1


“Enam tahun bersamanya kamu tidak juga hamil, siapa yang sedang kamu bohongi? Itu jelas-jelas anakku. Kamu mengandung setelah kita tidur bersama,” ucapnya pelan. Aku melihat ke sekeliling kami dengan rasa khawatir. Dan aku melihat Hendra berdiri di belakangku. Oh. Tidak.


__ADS_2