Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 29 - Tak Tersentuh


__ADS_3

“Kamu sebut ini cinta?” Aku tertawa terkejut. Dia baru saja memaksakan kehendaknya kepadaku dan kini melakukan transaksi menggunakan keadaan sulit yang sedang dialami keluargaku untuk mendapatkan hatiku, dan dia sebut ini cinta?


“Ini tidak perlu terjadi kalau kamu berusaha lebih keras untuk menerima pernikahan kita. Aku selalu memperlakukanmu dengan baik. Aku berusaha keras untuk memenangkan hatimu. Tapi kamu tidak mau memberiku kesempatan sama sekali,” ucapnya pelan. “Seharusnya aku tidak perlu mengancam untuk mendapatkan hatimu. Seandainya saja kamu memberikannya kepadaku secara sukarela.”


“Aku mohon. Aku tidak mau punya anak.” Kali ini aku tidak lagi menahan diri untuk menangis. Aku membiarkan air mata yang dari tadi mendesak keluar untuk jatuh membasahi pipiku.


“Mengapa? Supaya kamu bisa bebas pergi dariku?” Tatapannya kepadaku masih dingin. Tidak ada lagi emosi di sana. Aku bahkan tidak melihat cinta yang selama ini selalu ada di matanya.


“Hendra, aku tidak mencintaimu.” Aku memohon.


“Aku tidak peduli. Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Kalau kamu tidak memberiku anak, aku juga tidak akan melepaskanmu. Jangan berani melangkah pergi dariku. Atau aku berjanji aku akan membuat hidupmu menderita, Za,” ancamnya.


“Hidupku sudah menderita. Kamu berhasil. Apa lagi yang bisa kamu lakukan untuk membuatku lebih menderita dari ini?” isakku.


“Yang kamu sebut penderitaan ini tidak seberapa dengan yang akan kamu rasakan ketika melihat sendiri bagaimana keluargamu hancur. Aku belum mendengar jawabanmu. Apakah kamu ingin menolong keluargamu?”


Air mata masih jatuh membasahi pipiku. Tentu saja aku ingin menolong keluargaku. Mengapa dia harus menanyakan hal itu lagi? Tetapi bukan begini caranya. Jika aku setuju dengan semua syarat yang dia ajukan, maka aku tidak bisa lagi keluar dari pernikahan ini. Apa lagi yang bisa aku lakukan? Dan mengapa semuanya harus terjadi sekarang?


Zach, mengapa dia tidak mengatakan apa pun kepadaku? Kami bisa membicarakan jalan keluarnya sebagai keluarga. Mengapa aku harus mendengar berita ini pertama kali dari Hendra? Bagaimana aku bisa berpikir dengan jernih dalam keadaan terdesak begini?


“Baiklah. Hatiku milikmu,” ucapku akhirnya.

__ADS_1


Tatapan Hendra melembut. Dia berdiri dan mendekatiku. Aku melihat ke arah pintu, aku ingin sekali keluar dari tempat ini. Aku menekan tubuhku ke dinding berharap dinding itu akan terbuka dan menelanku dalam-dalam. Aku memejamkan mata ketika mata dingin itu kembali penuh dengan cinta yang hanya untukku.


Saat kami berdiri begitu dekat, aku bisa mendengar tarikan napasnya. Kemudian aku merasakan kedua tangannya menyeka air mata dan keringat yang membasahi wajahku. Dia mencium keningku, turun ke mataku, pipiku, lalu bibirku. Tidak lama kemudian, dia tidak melakukan apa pun. Aku tahu dia masih berdiri di depanku. Aku membuka mata dan benar, dia masih berdiri di sana.


Aku mengerutkan kening tidak mengerti arti tatapannya itu. Ketika dia mendekatkan wajahnya lagi dan mencium bibirku, aku meletakkan kedua tanganku di kedua sisi tubuhku, menahan tubuhku sendiri agar tidak menolaknya. Aku harus bisa melewati ini, demi keluargaku.


Tetapi dia menjauhkan wajahnya lagi. Dia mendesah pelan kemudian membalikkan badannya. Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Aku membutuhkan bantuannya. Aku tidak boleh mengecewakannya begini. Aku segera memegang tangannya. Dia menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke arahku. Aku hanya berdiri diam tidak tahu harus bagaimana. Dia membelai pipiku, lalu menciumku lagi.


Kini aku mengerti kesalahan apa yang sudah aku lakukan pada dua ciuman sebelumnya. Aku tidak melakukan hal yang sama lagi. Aku membalas ciumannya. Dan Hendra segera melingkarkan kedua tangannya di tubuhku. Jantungku berdebar semakin cepat merasakan tubuh kami sedekat ini.


Ini bukanlah hubungan intim pertama kami, tetapi kali ini aku tidak hanya memberikan tubuhku kepadanya. Aku juga memberikan hatiku untuknya. Aku menepis rasa sakit yang menyesakkan dadaku saat harus menarik Aldo keluar secara paksa dari hatiku. Dia tidak bisa lagi tinggal di sana. Aku harus memberikan ruang itu untuk Hendra.


Dan aku terkejut dengan dahaga yang tiba-tiba muncul yang membuatku membalas setiap ciuman suamiku. Aku memeluknya begitu erat tidak ingin memberi sedikit ruangan pun di mana tubuh kami tidak saling bersentuhan.


Ketika Hendra memperdalam ciumannya, aku membalasnya dengan intensitas yang sama. Aku memercayakan tubuhku dan hatiku sepenuhnya kepadanya. Sampai akhirnya aku bisa melihat bintang-bintang. Kata-kata cintanya yang semula terdengar menyakitkan, kini terasa menyejukkan. Inikah yang dinamakan dengan bercinta?


Rasanya jauh lebih menyenangkan dari sekadar berhubungan intim. Dan air mataku tidak berhenti mengalir merasakan keindahan saat dua manusia yang berbeda menjadi satu, bernapas dengan udara yang sama, berdebar dengan denyutan yang sama.


Aku terbangun ketika mendengar bunyi pintu kamar mandi terbuka. Aroma sabun dan sampo milik suamiku segera memenuhi kamar dan menggoda penciumanku. Terdengar langkah kaki dari kamar mandi menuju ruang pakaian. Aku tetap berbaring dan tidak bergerak.


Sekujur tubuhku terasa sakit. Kepalaku berdenyut dan mataku perih karena aku terlalu banyak menangis. Lenganku juga pergelangan tanganku yang digenggamnya begitu erat saat memaksakan kehendaknya terasa nyeri. Semalam aku tidak merasakannya sebelum tertidur pulas.

__ADS_1


Tetapi itu tidak seberapa dibandingkan dengan sakit yang aku rasakan di dalam hatiku. Enam tahun bersama, Hendra tidak pernah memaksakan kehendaknya kepadaku. Dia suami yang lembut dan sabar. Semalam dia sama sekali bukan pria yang selama ini aku kenal. Dia sangat kasar, arogan, dan suka mengintimidasi.


Mungkin ini yang disebut oleh banyak orang sebagai batas kesabaran. Mengetahui bahwa istrinya sendirilah yang telah mencegah kami selama ini untuk memiliki anak, Hendra berada pada ambang kesabarannya. Kalau bukan karena rasa cintanya yang besar, semalam aku pasti sudah didepak keluar dari rumah ini. Tidak sulit baginya untuk melepaskan aku dan mencari wanita lain yang lebih baik. Wanita yang bisa mencintainya dan memberikan apa yang tidak bisa aku berikan kepadanya.


Cinta bukanlah hal yang sulit untuk dipelajari. Bukan pula hal yang menakutkan sehingga aku menghindarinya. Mengapa aku memilih untuk tidak mencintainya atau membiarkan diriku jatuh cinta kepadanya adalah karena aku tidak menikahinya secara sukarela.


Aku terpaksa berjalan menuju altar di mana pria itu telah menunggu dengan senyum bahagia. Aku terpaksa mengucapkan kesediaan dan janji setiaku pada hari pernikahan kami. Aku bahkan harus menyeret kakiku sendiri untuk masuk ke dalam rumah baru kami.


“Bangun, Za. Aku tahu kamu sudah bangun,” ucap Hendra dengan nada mengancam. Aku membuka mataku. Aku melihat dia berdiri menjulang di sisiku.


“Ada apa?” Sebenarnya itu adalah pertanyaan retorik. Aku tahu apa yang dia inginkan.


“Aku butuh bantuanmu untuk memasang dasiku.” Kali ini tidak ada nada mengancam dalam suaranya.


Aku mencoba untuk duduk dan segera menahan mulutku untuk tidak mengerang kesakitan. Lalu aku berdiri. Dia memberikan mantel sutraku yang segera aku kenakan untuk menutupi gaun tidurku. Setelah mengikat tali mantel di pinggangku, kedua tanganku meraih dasi yang menggantung di kerah kemeja Hendra.


Aku bisa merasakan dia sedang menatapku ketika aku menyimpulkan dasinya. Dia menatap mataku, hidungku, lalu bibirku. Selesai menyimpulkan dasinya, aku mengangkat wajahku. Hendra mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibirku.


“Apa aku menyakitimu semalam?” tanyanya lembut. Aku menggelengkan kepalaku. “Apa kamu yakin?” Dia meraih salah satu tanganku dan melihat memar pada pergelangan tanganku.


“Iya. Aku baik-baik saja.” Aku menarik tanganku dan merapikan kerah kemejanya. Hendra menyentuh daguku dan mengangkat wajahku. Aku menggerakkan mataku ke atas dan menatapnya dengan enggan.

__ADS_1


“Cintai aku, sayang. Hanya itu permintaanku kepadamu. Cintai aku,” pinta Hendra setengah memohon dengan suara serak. Air mataku jatuh membasahi pipiku tanpa sempat aku tahan.


Hanya satu kali saja aku pernah meneteskan air mata di depan suamiku. Saat dia selingkuh di belakangku. Setelah dan sebelum kejadian itu, aku selalu berhasil menahan air mata keluar untuk dilihat oleh siapa pun, terutama oleh suamiku. Kini, mendengar suaranya yang begitu mengiba dan melihat tatapannya yang lembut, hatiku luluh.


__ADS_2