
~Hendra~
Aku tahu bahwa angin dingin yang aku rasakan itu pertanda ada yang mempunyai rencana buruk. Dan benar saja. Mama dan Za datang bersama anak-anak dan Ara untuk membawaku pulang. Aku tidak bisa melawan karena, bayangkan saja, bagaimana satu pria yang duduk di kursi roda melawan 2 wanita, 2 anak, dan seekor anjing?
Tentu saja aku bahagia bisa pulang lagi bersama keluargaku, tetapi aku tidak mau mengakuinya. Lagi pula ingatan yang kembali pada pagi ini membuat aku kesulitan mengatur emosiku sendiri. Kepalaku tidak berhenti menunjukkan kegelisahanku setelah perpisahan kami.
Dia pasrah saat membubuhkan tanda tangan, dia tidak mencoba untuk menahan kepergianku, dia bahkan tidak datang selama proses persidangan. Selama perceraian kami, dia juga tidak berusaha untuk mengajakku kembali. Yang dia bahas hanya Hadi, Hadi, dan Hadi. Tidak ada lagi percakapan mengenai kami. Dan aku cemburu. Cemburu kepada putraku sendiri.
Namun mendengar penjelasannya dalam perjalanan kami menuju rumah, aku menyadari bahwa aku selama ini telah salah paham kepadanya. Dia bukan tipe wanita yang mudah menyatakan cinta lebih dahulu. Orang yang dia cintai harus menyatakannya pertama kali untuk meyakinkannya bahwa perasaannya berbalas. Barulah dia mau mengatakan cinta.
Dan aku ingat bahwa setelah aku mengetahui perselingkuhannya, aku tidak pernah lagi mengatakan cinta. Aku benar-benar tidak mengerti. Mengapa aku harus mengingat semua hal yang telah lalu seperti ini? Mengapa ingatanku tidak kembali sekaligus saja?
Aku sejenak membuang jauh pikiranku itu ketika melihat mobil di sebelah kanan kami terus saja berada di dekat kami dengan lampu sen kiri yang menyala. Karena Za duduk di sebelah kananku, jadi aku memerhatikannya. Yang tidak aku sadari, ternyata mobil di sebelah kiri juga melakukan hal yang sama. Aku tidak akan tahu kalau bukan karena Sakti yang mengatakannya.
Untuk tahu apa mereka sengaja menempeli kami, maka aku meminta Sakti untuk mempercepat laju mobil. Jika mereka ikut melaju, maka benarlah mereka sengaja mengikuti kami. Bila Sakti mengerem, maka mereka akan berada jauh di depan dan kami punya kesempatan untuk mencuri lajur kiri. Kami perlu mampir sejenak di suatu tempat di sekitar sini agar aku bisa mencari bantuan. Teorinya mudah, tetapi melakukannya tidak semudah itu karena lalu lintas tidak sepi.
Tiba-tiba saja kepalaku terasa sakit sekali. Ada begitu banyak kilasan kejadian yang bermain layaknya film di depan mataku. Kejadian ini bagaikan déjà vu.
Aku berada di dalam mobil di jalan tol. Kafin sudah memasang lampu sen untuk memasuki lajur tersebut dan menunggu. Ketika keadaan aman dan dia memasuki jalur cepat, tiba-tiba saja muncul mobil yang membuatnya membanting setir ke kiri.
Bunyi klakson yang memekakkan telinga menyambut kami. Aku yang tidak mengenakan sabuk pengaman terlempar ke kanan dan kepalaku terantuk kaca jendela dengan keras. Benturan itu membuat aku pusing dan bingung dengan keadaan di sekitarku. Itu adalah hal terakhir yang aku ingat sebelum segalanya menjadi gelap.
Seperti bangun dari mimpi buruk, aku membuka mata. Walaupun aku masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi, aku ingat dengan apa yang harus aku lakukan. Sakti mengendarai mobil dengan cepat, kedua mobil di kanan dan kiri kami juga ikut melaju.
“Rem, Sakti! Belok kiri, dan masuk ke swalayan itu!” kataku memberi perintah. Dia melakukan persis seperti yang aku katakan. Dan seperti yang aku pikirkan tadi, teori lebih mudah daripada praktiknya. Sakti kesulitan memasuki swalayan karena pengendara sepeda motor yang tidak mau memberi jalan.
__ADS_1
Aku membuka jendela mobil, lalu mengeluarkan tanganku agar mereka memberi jalan. “Lihat lampu sennya, Pak! Berkendara itu pakai mata!” amukku. Salah satu dari mereka akhirnya mau berhenti sehingga kami bisa masuk ke lapangan parkir.
Kedua mobil tadi tidak akan bisa mengikuti kami karena jalan itu satu jalur dan mereka harus memutar jauh untuk mengejar kami. Aku punya beberapa menit untuk meminta bantuan, maka aku mengeluarkan ponsel dan mengetik nomor Irwan.
“Sayang? Kamu tidak apa-apa? Apa kepalamu tidak sakit lagi?” tanya Za. Aku melingkarkan tanganku di bahunya dan membawanya mendekat. Saat ini aku belum bisa menjawab pertanyaannya.
“Lacak ponselku dan tolong kirim orang untuk mengawal aku dan istriku pulang,” kataku begitu Irwan menjawab panggilanku.
“Hei, selamat datang kembali, Kawan. Aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu,” ucap Irwan yang tidak terdengar khawatir. “Dua orangku yang mengendarai motor akan datang ke lokasimu dalam waktu lima menit. Kebetulan mereka sedang ada di sekitar sana.”
“Tolong periksa CCTV sekitar satu kilometer sebelum titik ini. Aku mau kamu memeriksa pemilik kedua mobil yang menempeli mobilku.”
“Wow. Cepat juga dia berusaha untuk menghabisi kamu lagi. Beri aku waktu dua puluh empat jam. Begitu aku mendapatkan infonya, aku akan mengirimnya kepadamu.” Aku tidak bertanya siapa yang dimaksudnya dengan ‘dia’. Kepalaku sudah cukup menerima banyak informasi hari ini.
“Terima kasih, Sobat.”
Aku memejamkan mata ketika rasa sakit itu datang lagi. Terlalu banyak memori yang datang dalam satu kali serangan. Sepertinya kedua mobil tadi menjadi pemicu kembalinya ingatanku. Karena itu adalah kejadian terakhir yang aku alami sebelum kecelakaan terjadi dan aku kehilangan ingatan.
Benar-benar penyakit yang unik. Aku telah melakukan begitu banyak hal bodoh, termasuk menyakiti istriku lagi. Untung saja aku memutuskan untuk menunggu dan tidak mengikuti emosiku yang masih meledak-ledak begitu mengingat perselingkuhannya dengan mantannya itu. Kalau tidak, aku pasti akan menceraikannya lagi.
“Aku membawa obatmu jika kamu membutuhkan pereda rasa sakit,” kata Za yang masih menatapku dengan khawatir. Aku tersenyum kepadanya.
“Aku hanya membutuhkan kamu,” kataku dengan tulus. Dia memasang wajah cemberut. Tentu saja dia tidak akan percaya kepadaku setelah aku pergi begitu saja dari rumah kami.
Dua sepeda motor mendekati kami, aku meminta Sakti untuk melanjutkan perjalanan ke rumah. Aku tidak melihat kedua mobil itu kembali berada di dekat kami. Baguslah. Mereka sudah menyerah. Aku memejamkan mata dan menyandarkan kepalaku di jok mobil.
__ADS_1
“Mengapa kamu dari tadi tidak menjawab pertanyaanku?” tanya Za bingung.
“Ingatanku telah kembali dan serangannya membuat kepalaku sangat sakit. Beri aku waktu sebentar. Aku akan menjawab semua pertanyaanmu nanti,” kataku pelan tanpa membuka mataku.
“Benarkah?” tanya Za tidak percaya. Aku tersenyum. “Syukurlah!” Dia memeluk aku begitu erat. Aku tertawa kecil.
Aku benci merasa tidak berdaya, tetapi aku tidak bisa menolak untuk duduk di kursi roda. Kepalaku masih pusing dan aku tidak bisa berdiri dengan benar. Za menawarkan obat lagi kepadaku, aku menolaknya. Bergantung pada obat hanya akan membuat tubuhku manja.
Za ingin membawaku ke kamar, aku kembali menolak. Saat ini aku tidak membutuhkan tidur. Aku ingin melihat anak-anakku dan meminta maaf kepada mereka karena telah melupakan mereka. Jadi, aku memintanya untuk membawaku ke ruang keluarga.
Tetapi ada yang aneh. Aku meminta Za berhenti, lalu aku melihat ke sekitar kami. Iya. Ini sangat aneh. Kami berhenti cukup lama, seharusnya Mama dan anak-anak tiba di rumah lebih dahulu. Mengapa mereka tidak menyambut kepulangan kami?
“Abdi, di mana Mama dan anak-anak?” tanyaku bingung. Dia mengerutkan keningnya.
“Apa maksud Tuan? Nyonya Naava tadi pergi bersama Nyonya Besar dan anak-anak. Saya tidak tahu mereka berada di mana sekarang, Tuan.” Dia melihat aku dan Za secara bergantian.
“Oh, Tuhan. Mengapa aku tidak memerhatikan itu? Mobil Mama ada di luar, aku lupa. Kami pergi menggunakan mobilku. Sayang, di mana mereka? Mengapa kita sampai lebih dahulu daripada mereka? Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk?” ucap Za panik.
Sial. Aku terlalu fokus dengan sakit kepalaku sampai lupa bahwa mereka bisa saja mengincar anak-anakku juga. Aku segera mengetik nomor ponsel Mama dan menunggu sampai dia menjawabnya. Semoga mereka baik-baik saja.
...*******...
Sementara itu di dalam mobil Za.
Naava berusaha untuk bersikap tenang ketika kedua mobil menempeli mereka terus tidak jauh dari simpang jalan menuju rumah putranya. Dia tidak ingin membuat cucunya ikut ketakutan melihat kekhawatiran pada wajahnya.
__ADS_1
Liando sengaja menghindari jalan sepi dan memutuskan untuk memutar ke jalan yang lebih jauh. Kedua mobil itu hanya menempel dan tidak melakukan apa pun, maka cara yang aman adalah tetap bergerak dan berada di keramaian.
Mereka tidak tahu apa yang diinginkan oleh kedua mobil tersebut. Tetapi mengingat apa yang baru saja dialami oleh Hendra, Naava meminta Liando untuk berhati-hati. Dia hampir kehilangan putranya dalam sebuah kecelakaan. Dia tidak akan sanggup hidup bila sampai kehilangan kedua cucunya. Dua permata berharga yang baru saja bisa dipeluknya setelah beberapa tahun dia bersikap keras kepala.