Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 118 - Belajar dari Kesalahan


__ADS_3

~Za~


Rasanya aku sedang bermimpi. Aku dan Hendra sedang berbaring bersama usai bercinta dan saling mengakui perasaan kami masing-masing. Entah apa yang membuatnya menciumku di koridor tadi, tetapi aku bersyukur aku berhasil mengesampingkan rasa kesalku dan membalas ciumannya.


Telepon dari Qiana tadi benar-benar merusak suasana hatiku. Beberapa hari ini sejak dia tinggal bersama kami, aku mendapati dia masuk ke kamar dan berbaring bersamaku. Aku tidak tahu sejak kapan dia melakukan hal itu tetapi kejadian itu menyadarkan aku mengenai satu hal. Yang aku pikir hanya mimpi adalah kenyataan. Dia benar-benar datang tidur di sini bersamaku.


Hendra pasti bukan kali ini saja diam-diam masuk ke kamar saat aku sudah lelap, lalu berbaring bersamaku. Karena dia sudah keluar dari kamar saat aku bangun pada pagi hari, maka aku tidak pernah menangkap basah kebiasaannya itu. Dia pernah berkata bahwa aku seperti orang mati saat sedang tidur. Apa pun yang terjadi, aku tidak terbangun. Dia pasti memanfaatkannya.


Lalu dia malah bertemu dengan gadis muda dan makan malam di ruangan khusus di mana hanya ada mereka berdua saja di dalamnya? Apalagi yang dia lakukan kalau bukan bermesraan dengannya? Dia pulang cukup lama, jadi waktunya cukup untuk makan malam. Tetapi pulang tadi dia mengaku belum sempat makan. Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak merasa cemburu.


“Jadi, apa yang kamu lakukan bersama perempuan itu di restoran?” tanyaku mengingat kejadian tersebut. Dia tertawa kecil. Aku segera mencubit tangannya yang ada di depan dadaku. Suara tawa itu segera berubah menjadi suara mendesis kesakitan.


“Kami tidak melakukan apa pun, oke? Mama mengajakku makan malam bersama, dan aku terkejut hanya ada perempuan itu di dalam ruangan. Aku segera pergi karena aku tidak pernah menyukai caranya menggunakan orang tuaku untuk menemuiku.”


“Sudah setua ini masih ada wanita yang mau mendekatimu di luar sana?” tanyaku menggodanya.


“Aku belum setua itu. Aku masih tiga puluh tujuh tahun,” protesnya. Dia mempererat pelukannya. “Sebaiknya kita tidur. Ada banyak hal yang perlu kita lakukan besok.”


“Besok adalah hari Sabtu. Kamu ada urusan apa?” tanyaku bingung. Bukannya menjawab, dia hanya menyuruhku untuk tidur.


Dia melakukan apa yang dikatakannya semalam. Pagi itu dia membangunkan aku dan memaksaku untuk berolahraga bersamanya. Anak-anak yang memang terbiasa bangun pagi, justru sangat senang bisa beraktivitas sepagi itu. Mereka berusaha untuk mengejar kecepatan kaki papa mereka yang berlari lebih cepat dari kami semua.


“Aku mohon, aku tidak kuat lagi.” Baru satu kali mengelilingi rumah, aku sudah kehabisan napas. Hendra dan anak-anak masih berlari. Mereka sudah jauh di depanku. Ara juga mengikuti mereka dengan riang. Hanya aku satu-satunya yang kepayahan sendiri.


Lega tidak ada yang memaksaku untuk terus berlari bersama mereka, aku duduk di teras samping dan menikmati minuman yang disediakan Yuyun. Baru saja duduk dengan mata terpejam menikmati angin, seseorang menyentuh kedua tanganku dan menarikku untuk berdiri.

__ADS_1


“Belum saatnya untuk berhenti.” Hendra terus menarikku sampai aku kembali ke pekarangan rumah. Anak-anak dan Ara tidak berhenti berlari.


“Aku mohon, Hendra. Kakiku rasanya mau lepas.” Aku memasang wajah memelas. Dia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Aku sangat membencimu.”


“Aku lebih mencintaimu, sayang.” Aku mengangakan mulutku mendengar dia meniru kalimatku semalam. Untung saja dia hanya memintaku berlari satu putaran lagi lalu bisa beristirahat.


Kami sarapan bersama di teras, kemudian mandi. Aku bersyukur Hendra mau menemani Dira bermain karena aku sangat mengantuk. Aku memilih untuk berbaring di tempat tidur. Entah sudah berapa lama aku tertidur, rumah terasa begitu sepi saat aku bangun.


Jam digital menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku keluar dari kamar dan menuju lantai bawah. Rumah benar-benar sepi. Tidak terdengar suara anak-anak atau salakan anjing. Ke mana semua orang? Aku memeriksa ruang keluarga dan melihat Hendra sedang duduk sendiri sambil menonton sebuah film yang ditayang salah satu stasiun televisi.


“Hei, kamu sudah bangun?” Dia menepuk permukaan sofa di dekatnya. Aku menurut dan duduk di sampingnya. Aku melihat ke sekeliling kami.


“Anak-anak ke mana?” tanyaku bingung.


“Memangnya kamu mau melakukan apa?” Aku tersenyum kepadanya.


“Kencan kita. Menonton sambil bicara atau sesekali berciuman dan berpelukan.” Dia mencium pipiku. “Aku mencintaimu, sayang. Aku bahagia kita bisa bersama lagi seperti ini.”


“Aku juga mencintaimu. Tetapi aku masih marah kepadamu karena joging pagi tadi membuat kakiku sakit.” Aku memijat-mijat pahaku untuk mendramatisir.


“Tidak akan terasa sakit lagi setelah kamu terbiasa nanti.” Dia melepaskan pelukannya lalu menjaga jaraknya dariku. Aku bingung ketika dia menaikkan kakiku ke pangkuannya. Namun saat tangannya mulai memijat kakiku, aku mengerti.


“Maafkan aku,” ucapku pelan.


“Kita tidak akan membahas dia lagi.” Hendra menatapku dengan serius.

__ADS_1


“Aku ingin mengatakan ini untuk membuang semua kesalahpahaman di antara kita.” Aku memohon kepadanya. Dia menundukkan kepalanya dan melanjutkan memijat kakiku. “Aku sudah menyakitimu begitu dalam. Aku juga membutuhkan waktu begitu lama untuk menyadari perasaanku kepadamu. Aku mohon maafkan aku untuk neraka yang aku berikan kepadamu selama enam tahun, Hendra.”


Dia menggeleng pelan. “Kamu tidak selalu memberiku neraka. Kita memiliki awal yang tidak baik. Aku juga bersalah di sini. Seharusnya aku tidak terburu-buru menikahimu saat kamu masih terluka setelah putus hubungan dengan mantanmu. Seandainya aku mau sedikit bersabar, keadaannya pasti berbeda. Karena itu aku tidak mau membahas ini. Kita belajar dari kesalahan. Itu sudah cukup.”


“Kamu benar.” Aku tersenyum kepadanya.


“Sekarang, katakan kepadaku. Sejak kapan kamu mencintaiku?” Dia tersenyum bahagia.


“Aku tidak tahu. Mungkin saat aku ulang tahun yang ketiga puluh? Tetapi aku baru menyadarinya saat kita pulang dari perjalanan ke Bali pada hari pernikahan putri Darla,” jawabku jujur.


“Mengapa kamu tidak mau mengatakannya kepadaku?” tanyanya ingin tahu.


“Aku tidak tahu. Aku mencari waktu yang tepat. Lalu kamu mengetahui bahwa aku dan Aldo … dan semuanya berantakan. Kamu tidak lagi mengatakan cinta, aku ragu bahwa perasaanku akan bisa memperbaiki keadaan. Jadi aku memilih untuk diam.”


“Kamu berpikir bahwa aku tidak mencintaimu lagi, karenanya kamu tidak mau jujur kepadaku?” Aku mengangguk pelan. “Aku mengerti. Aku juga memutuskan untuk berpisah karena aku ragu bahwa kamu benar-benar sayang kepadaku. Apa kamu ingat pada hari di mana aku pergi ke London setelah mengetahui kehamilanmu?”


“Iya. Kamu tidak mau pergi tetapi terpaksa karena urusan bisnis dengan Xavier.” Aku tertawa kecil.


“Pada hari aku sampai di London, kamu tidak bisa menulis apa pun di blogmu. Kamu ingat?” tanya Hendra yang segera aku sambutan dengan anggukan. “Kita tidur bersama tanpa memutuskan hubungan telepon. Saat aku hampir tertidur, aku mendengarmu mengatakan cinta.”


“Aku sangat bahagia sampai aku terburu-buru untuk segera pulang. Tetapi ketika aku pulang, sikapmu masih sama. Beberapa hari kemudian, laki-laki itu datang dan mengatakan bahwa kalian sudah kembali bersama.” Dia terlihat sedih.


“Dan kamu pikir, kata cinta itu aku tujukan kepada Aldo, bukan kepadamu,” kataku menyimpulkan. Dia menganggukkan kepalanya. “Hidup kita benar-benar berantakan karena kesalahan kita sendiri.”


“Jangan sembunyikan apa pun lagi dariku. Bila kamu melakukan sesuatu yang akan menghancurkan hatiku sekalipun, beritahu aku. Aku akan berusaha untuk mencari cara untuk memaafkanmu. Aku juga akan begitu. Karena rahasialah yang telah merusak pernikahan kita, Za.”

__ADS_1


__ADS_2