
Pada hari Minggu itu, mertuaku yang pertama kali tiba di rumah kami. Zach datang bersama Papa dan Mama dengan mobil baru yang dibelinya dari hasil kerja kerasnya sendiri. Mereka masing-masing membawa roti dan kue kesukaanku. Kami menikmatinya bersama di ruang keluarga.
Hendra memberikan sebuah amplop kepada Papa dan ayah mertuaku di sela-sela perbincangan kami. Mereka menatapnya dengan bingung. Suamiku mempersilakan mereka untuk membukanya. Mereka membuka amplop itu dan mengeluarkan sebuah foto dari dalamnya. Kami menempelkan sebuah kertas kecil pada foto itu dengan kalimat, “Hai, Kakek dan Nenek, sebentar lagi kita bertemu.”
“Oh, Tuhan. Ini, kamu sedang hamil?” tanya Papa kepadaku. Aku mengangguk. Papa segera berdiri dan mendekatiku. Dia memelukku dengan erat. “Selamat, Ara.”
“Syukurlah, aku sebentar lagi akan menjadi kakek,” ucap ayah mertuaku terharu. Aku bergantian menerima pelukan darinya. Mereka memeluk dan mengucapkan selamat kepada suamiku juga. Aku melihat ke arah Mama dan ibu mertuaku yang hanya tersenyum penuh arti.
“Mama tidak bahagia dengan berita ini?” tanya Hendra menanyakan hal yang juga aku pikirkan.
“Kami sudah lama mengetahuinya. Apa kalian pikir, kalian bisa menyembunyikan hal seperti ini dari wanita yang sudah pernah punya pengalaman hamil?” Ibu mertuaku tertawa geli bersama ibuku. Aku dan Hendra sama-sama cemberut melihat usaha kami untuk mengejutkan mereka tidak berhasil.
“Kami sebentar lagi akan menjadi nenek!” sorak mereka bahagia. Mama memelukku, lalu ibu mertuaku. “Kalian tidak akan tahu betapa beratnya kami harus menahan diri untuk menanyakan hal ini kepada kalian.” ucap ibu mertuaku. “Aku tahu kalian sengaja merahasiakannya dari kami.”
“Kami juga melakukan itu saat hamil. Menunggu sampai masa sulit lewat lalu memberitahukan kepada seluruh keluarga mengenai kabar bahagia itu.” Mama menciumku lagi. Aku sangat bahagia.
“Akhirnya aku akan menjadi paman juga.” Zach tertawa senang. Dia memelukku dengan erat dan menjabat tangan Hendra. Kami kembali duduk di kursi kami semula. Dia melihat foto USG itu baik-baik. “Mengapa dia kecil sekali? Aku harap dia lebih banyak meniru sifat baik ayahnya daripada sifat mengesalkan ibunya.”
“Setidaknya, dia tidak akan meniru sifatmu.” Aku menjulurkan lidah ke arahnya. Keluarga kami hanya tertawa. Aku memeluk Hendra dan meletakkan kepalaku di lengannya.
__ADS_1
“Apa kalian sudah menyiapkan nama?” tanya ayah mertuaku penuh harap.
“Belum, Pa. Papa ada usul?” Hendra balik bertanya.
“Aku akan pikirkan namanya nanti. Karena kita belum tahu jenis kelamin si kecil, aku akan siapkan dua nama untuk berjaga-jaga,” kata ayah mertuaku dengan senang.
“Aku juga akan menyiapkan nama untuk cucu pertamaku,” ucap Papa tidak mau kalah.
“Boleh, Pa. Dua nama dari kakeknya, dia pasti menyukainya.” Hendra meletakkan tangannya di perutku. Aku tersenyum.
Saat bertemu pandang dengan Zach, kami bicara tanpa kata. Dia sepertinya belum siap untuk mengumumkan hubungannya dengan Rasmi. Berbeda dengan pacarnya, ini pasti satu langkah besarnya baginya sehingga dia membutuhkan lebih banyak waktu. Dia mirip seperti Aldo. Hendra adalah laki-laki yang unik yang pernah aku kenal. Dia tidak ragu sedikit pun ketika melamarku.
Untuk menghindari pertemuan tidak sengaja dengan Aldo, aku tidak berbelanja di supermarket yang sama. Aku pergi ke cabang yang jaraknya lebih jauh. Hendra tidak bertanya mengapa aku melakukan itu. Dia malah senang bisa bersamaku lebih lama di dalam mobilnya.
Aku sangat lega saat semua surel masuk sudah dibalas. Hampir pukul enam sore, sebentar lagi suamiku akan pulang. Aku sudah tidak sabar untuk memberitahunya mengenai apa saja yang sudah aku lakukan seharian ini.
Mendengar deru halus mesin mobilnya, aku bergegas keluar dari ruang keluarga untuk menyambut kepulangannya. Abdi membukakan pintu dan di sanalah dia, suami kesayanganku, berjalan masuk ke rumah. “Hai!” sambutku dengan wajah bahagia.
“Hai.” Dia melewatiku lalu berjalan ke arah tangga. Tidak ada pelukan atau ciuman? Dia tidak pernah begitu. Aku melihat ke arah Kafin yang hanya menggeleng pelan lalu masuk ke mobil.
__ADS_1
Dengan penuh tanda tanya, aku mengikuti Hendra menuju lantai atas. Dia masuk ke kamar kami, lalu langsung menuju kamar mandi. Aku tertegun sejenak di tempatku berdiri. Apa yang terjadi? Aku menunggunya dengan duduk di tepi tempat tidur. Tidak biasanya dia tidak memintaku membantu membukakan simpul dasinya.
Lama sekali dia berada di dalam kamar mandi hingga membuatku khawatir. Namun aku belum sempat berdiri untuk menanyakan keadaannya, pintu kamar mandi terbuka dan dia keluar hanya dengan handuk yang dilingkarkan mengelilingi pinggulnya.
Dia masuk ke dalam ruang pakaian tanpa menutup pintu kamar mandi. Aku berdiri dan memeriksa keadaan ruangan itu. Masih rapi seperti biasanya, maka aku memadamkan lampu dan menutup pintunya. Aku kembali duduk di tepi tempat tidur menunggu dia selesai berpakaian.
Hendra memasuki kamar, aku berdiri lagi. Tanpa melihat ke arahku, dia berjalan keluar kamar. Aku mengikutinya dengan hati penuh tanya. Dia turun ke lantai bawah dan segera menuju ruang makan. Di atas meja telah tersaji makanan kesukaannya, aku minta khusus untuk membuatnya bahagia, namun dia hanya diam saja. Tidak mengatakan apa pun mengenai masakan tersebut.
Meskipun bingung dengan perubahan sikapnya, aku tidak berani bertanya dan hanya diam saat menyendokkan makanan ke dalam mulutku. Sesekali aku melihat ke arahnya. Dia hanya menatap makanan yang ada di piringnya.
“Aku masih ada pekerjaan. Aku akan ada di ruang kerja.” Dia berdiri lalu meninggalkan aku tanpa menyentuhku sedikit pun. Aku meletakkan sendok ke atas piring dan mengeluarkan napas yang tidak aku sadari telah aku tahan dari tadi.
Sikapnya benar-benar membingungkanku. Apa yang sedang terjadi? Pagi tadi semuanya baik-baik saja. Kami bahkan pergi bersama ke penatu dan dia mengantarku ke supermarket. Lalu apa yang aku lakukan kepadanya selama dia berada di tempat kerja yang membuatnya berubah sikap?
Aku menonton siaran televisi di ruang keluarga sampai mataku terasa berat. Begitu mataku nyaris tidak bisa dibuka lagi, aku mematikan televisi dan menuju lantai atas. Saat membuka pintu kamar, aku terkejut melihat Hendra sudah duduk di tepi tempat tidur. Bukankah tadi dia sedang ada pekerjaan? Sejak kapan dia ada di sini? Tidak biasanya dia masuk kamar tanpa mengajakku.
“Hendra, apa semuanya baik-baik saja? Sejak pulang tadi sikapmu sangat aneh.” Aku mendekat dan duduk di sampingnya, dia segera berdiri saat aku menyentuh tangannya. Jantungku mulai berdebar dengan cepat. Aku tidak sedang berimajinasi, dia memang tidak mau menyentuh atau aku sentuh.
“Tiga minggu. Mengapa kamu tidak memberitahuku apa yang terjadi pada tiga minggu yang lalu?” tanyanya yang membuat jantungku nyaris berhenti. Mulutku seolah-olah terkunci dan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Dia tahu. Dari mana dia bisa mengetahuinya? “Kekasihmu yang mendatangiku. Dia begitu bahagia memberitahuku bahwa kalian sudah bersama lagi.”
__ADS_1
“Apa?” Aku mengerutkan kening tidak mengerti. Kami tidak bersama lagi. Apa maksud Aldo datang menemuinya dan mengatakan itu kepada Hendra?
“Jadi, bagaimana ceritanya kamu bisa tidur dengannya di kamar hotel yang sama pada dua hari yang berbeda? Dan pada saat aku sedang tidak ada di sini.” tanyanya pelan. Oh. Tidak. Seharusnya dia tidak menceritakan bagian yang itu. Bagaimana sekarang aku bisa mendapatkan maafnya lagi?