
“Sebentar. Biar aku saja yang pergi.” Aku tertawa kecil. Mereka bertiga terdiam dan menatap aku seolah-olah aku sedang bertingkah tidak waras. Mungkin memang begitu. Aku sudah gila. “Tante tidak perlu memancing amarah Papa dengan mengatakan semua hal tadi. Aku tahu bahwa Tante sedang berusaha untuk membuat aku merasa tidak nyaman.”
“Ayo, sayang. Kita jemput Kak Hadi.” Aku membersihkan kedua tangan putriku dengan tisu basah.
“Kakak! (K)ita jempu(t) (K)akak, Ma?” tanyanya yang sudah bisa meniru kalimat yang baru dia dengar.
“Zahara …,” kata Papa merasa tidak enak. Aku tersenyum kepadanya.
“Tidak apa-apa, Pa.” Aku menoleh ke arah Mama. “Aku datang ingin memberi dukungan karena aku tahu bahwa Tante takut menghadapi operasi nanti. Sama sekali tidak ada maksud lain. Mengenai pembatalan liburan kami, hati Hendra ada di sini. Dia tidak akan pergi bersenang-senang saat orang tuanya sedang tertimpa masalah. Hanya itu alasan ….”
“Bila kamu ingin pergi, pergilah. Tidak perlu banyak bicara. Aku tidak butuh nasihat darimu,” kata Mama memotong kalimatku. Aku mengangguk mengerti.
“Begini lebih baik, Tante. Andai Tante mengatakan ini dari tadi, Tante tidak perlu menyakiti Papa dan menghina putra Tante sendiri. Cukup umpat dan hina aku saja.” Aku menurunkan Dira dari kursinya.
“Kamu masih saja bicara. Pergi,” kata Nora yang tidak lagi menyembunyikan kekesalannya.
“Setidaknya aku bicara langsung di depan orangnya dan tidak main belakang,” balasku. Dia bersikap dan berkata manis di depan Mama, tetapi dia telah merencanakan dan melakukan begitu banyak hal yang telah mencoreng nama baik keluarga ini. Dia membuka mulut ingin mengatakan sesuatu, aku segera menambahkan, “Aku berharap kita akan berjumpa lagi pada hari Senin.”
Dia menatapku tidak suka. “Mengapa kamu bicara begitu? Kamu pikir aku tidak akan datang pada hari Tante dioperasi?”
“Sampai jumpa hari Senin, Tante, Pa. Kami pulang. Ayo, sayang.” Aku menggandeng tangan putriku. Papa berdiri. “Tidak, Pa. Aku tidak mau ada pertengkaran lagi karena aku. Papa di sini saja.”
“Aku antar,” kata Papa bersikeras. Maka aku tidak membantahnya lagi.
Begitu kami berada di luar ruang makan, Papa meminta izinku untuk menggendong Dira. Tentu saja aku mempersilakannya. Mungkin karena sudah terbiasa melihat wajah kakeknya, Dira tidak berteriak ketakutan. Dia memandang wajah Papa dengan bingung, tetapi dia tidak menolak pelukannya.
__ADS_1
“Ini Kakek, sayang. Papanya Papa,” kataku sekali lagi memberitahunya.
“(K)akek, Ma,” katanya mengulang perkataanku. Papa tersenyum.
“Benar, Dira. Ka-kek.” Papa memberinya sebuah ciuman di pipi. Dira tertawa geli. “Zahara, apa Hendra tahu bahwa kamu ke sini? Aku agak terkejut dengan kedatanganmu. Bukankah dia tidak mengizinkan kamu menemui kami tanpa kehadirannya?” Aku tertawa kecil. “Zahara ….”
“Maafkan aku, Pa. Mau bagaimana lagi? Aku mengkhawatirkan keadaan Mama.” Aku berusaha untuk membela diri. “Papa jangan khawatirkan aku. Hendra hanya akan marah kepadaku, dia tidak akan menyakiti aku. Papa dan Mama yang aku khawatirkan.”
“Aku baik-baik saja. Hanya kecewa dengan sikap ibumu.” Papa mendesah pelan. “Semoga saja dia segera sadar bahwa perempuan itu hanya sumber masalah. Hendra benar. Dia yang menyebabkan masalah dalam keluarga kita semakin berlarut-larut. Masalah kamu dan laki-laki itu sudah lama berlalu tetapi diungkit lagi dan menggunakan skala besar. Wanita yang mengerikan.”
“Siapa yang tega mengatakan bahwa Gista adalah anak Papa?” Kebetulan Papa menyinggung hal itu, aku memanfaatkannya untuk membahas hal yang masih hangat. “Apa Papa mencurigai seseorang di luar sana?” Papa menggelengkan kepalanya.
“Topik itu malah baru pertama kali dibahas beberapa yang hari lalu saat kami, Hendra, dan Nora makan siang bersama. Aku tidak terpikirkan akan mencurigai siapa di antara kami berempat. Naava dan Hendra tidak mungkin melakukannya,” kata Papa pelan.
“Aku juga tidak akan menyebarkan hal itu dengan sengaja. Aku pensiun untuk menikmati masa tua dan membiarkan Hendra susah.” Papa tertawa kecil. Aku ikut tertawa. “Bagaimana aku bisa tenang ketika kondisi seperti ini? Media meminta kesempatan untuk wawancara, kerabat dan sahabatku tidak berhenti menelepon. Ini bukan masa tua yang aku inginkan.”
“Tidak. Dia wanita yang licik tetapi tidak bodoh. Dia tidak akan merusak kepercayaan Naava lagi. Dia butuh dukungannya untuk memastikan Hendra tidak akan memaksa menggunakan jalur hukum untuk menyelesaikan masalah yang dia sebabkan.”
“Mengapa Papa bilang begitu? Bukankah kita sudah sepakat untuk berdamai? Hendra tidak akan melanjutkan tuntutannya.”
“Sayang, apa kamu tidak mengenal suamimu?” Papa tertawa kecil. “Selalu ada syarat dan ketentuan yang berlaku dari setiap perjanjian damainya. Apa kamu tidak pernah menandatangani kontrak apa pun bersamanya? Saat kalian bercerai? Hendra selalu punya cara untuk memastikan bahwa dia yang pegang kendali. Bukan lawannya.”
Kini aku mengerti apa yang Papa maksudkan. Aku dan Hendra pernah menandatangani kontrak perjanjian agar aku memberinya anak. Kami juga punya perjanjian saat bercerai. Dan Papa benar. Hendra selalu memastikan bahwa dia yang memegang kendali bukan lawannya.
Aku tidak membaca detail surat perjanjian damai antara aku dan Nora. Hendra yang membubuhkan tanda tangan di sana sebagai wakilku, bukan aku. Syarat dan ketentuan apa yang diajukan suamiku sehingga Nora akan dituntut bila dia ketahuan melanggar perjanjian?
__ADS_1
“Nyonya, tempat bekalnya,” kata kepala pelayan memberikan kembali kotak yang tadi aku gunakan untuk membawa makanan.
“Terima kasih.” Aku menerimanya. Liando datang mendekat untuk mengambil Dira dari pelukan Papa dan membantu mendudukkannya di mobil. “Sampai nanti, Pa.”
“Sampai nanti, Nak. Terima kasih sudah datang.” Papa memegang tanganku, kemudian meletakkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah di telapak tanganku. “Belikan sesuatu untuk kedua cucuku. Katakan itu dari kakek mereka.” Aku tersenyum.
“Aku akan bawa mereka ke swalayan. Mereka pasti senang bisa membeli banyak camilan,” kataku. “Aku akan melakukan panggilan video agar Hadi bisa berterima kasih langsung kepada Papa.”
“Aku tunggu.”
Walaupun sikap Mama kepadaku masih sama, aku tidak menyesal telah datang berkunjung. Papa kini tidak segan lagi bicara denganku. Dia bahkan memberi anak-anak hal yang biasa mereka dapatkan dari kakek atau nenek mereka. Hadi dan Dira akan semakin sayang kepadanya.
Kami melambaikan tangan dengan antusias kepada Papa ketika Liando mengendarai mobil menjauh dari depan rumah tersebut. Aku melirik ke arah pria yang sedang mengemudikan mobil. Dia pasti sudah melaporkan kunjungan ini kepada Hendra. Responsnya ada dua, bicara denganku malam nanti atau sudah menunggu di rumah saat kami pulang untuk bertengkar denganku. Yang mana pun itu, aku sudah siap untuk menghadapi suamiku.
Hadi dan Colin segera berlari mendekati mobil saat kami datang. Will mengantar kami dengan lambaian tangannya. Mereka bersorak senang saat kami tidak langsung ke rumah tetapi mampir ke sebuah swalayan. Hadi dan Dira berebut menunjuk makanan ringan yang mereka inginkan. Aku juga mempersilakan Colin untuk memilih.
Menepati janjiku, kami melakukan panggilan video. Papa bisa melihat makanan apa saja yang anak-anak pilih. Dia juga memberitahu camilan mana yang dia suka. Hadi dan Colin yang ingin tahu rasanya, mengambil kantong makanan yang dimaksud oleh Papa.
Setelah mengelilingi rak khusus camilan, aku mengajak mereka ke rak berisi buku bacaan anak. Puas memilih beberapa buku gambar, mewarnai, juga buku cerita, kami menuju bagian perlengkapan sekolah. Hadi dan Colin memilih beberapa peralatan menulis dan menggambar. Selesai berbelanja, aku mengakhiri hubungan telepon.
Aku tidak mengizinkan mereka memakan apa pun sebelum membersihkan diri dan berganti pakaian ketika kami tiba di rumah. Yuyun membantu anak-anak, maka aku menuju kamar. Dengan perlahan, aku membuka pintu kamarku. Kosong. Aku mendesah lega.
Sepertinya dia terlalu marah sehingga tidak langsung pulang ke rumah dan memarahi aku. Baguslah. Aku juga tidak mau bertengkar dengannya siang ini. Aku ingin bergabung bersama anak-anak dan menikmati camilan yang kami borong tadi.
Aku memasuki ruang pakaian. Langkahku terhenti menyadari bahwa lampunya tidak automatis menyala. Aku mencari letak saklar pada tembok di dekat pintu. Sebentar saja, aku menemukannya. Aku menekannya dan ruangan itu pun terang-benderang. Ada seseorang di hadapanku, berdiri dengan kedua tangan menyilang di depan dadanya.
__ADS_1
“Oh, Tuhan!” Aku melompat terkejut dengan salah satu tanganku spontan berada di dadaku. Pria itu menarik tanganku, menutup pintu, lalu mendorongku bersandar di daun pintu. Jantungku berdebar dengan cepat.
“Kita perlu bicara dengan sangat serius.”