Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 150 - Jangan Ambil Anakku


__ADS_3

“Jangan panik dahulu, sayang. Yuyun dan Liando sudah datang. Mereka akan menjaga anak-anak.” Dia mencium aku lagi. Bagaimana aku tidak panik melihat darah setelah beberapa kali merasakan sakit pada perutku? “Pegang leherku.” Aku menurut dan dia membopongku.


Yuyun telah berdiri di dekat pintu dan menjaganya tetap terbuka. Dia menatapku dengan wajah khawatir. Liando mengikuti kami sampai ke mobil. Dia meletakkan selimut yang dia bawa ke jok belakang, lalu Hendra mendudukkan aku. Aku tidak bisa tidak panik selama dalam perjalanan ke rumah sakit.


Tanganku terus berada pada perutku dan berharap si kecil baik-baik saja, sedangkan tanganku yang lain ada dalam genggaman suamiku. Kami berdua sama-sama diam, memanjatkan doa di dalam hati kami masing-masing. Rasanya lama sekali kami berada di dalam mobil.


Tiba di rumah sakit, Hendra segera membawaku ke ruang gawat darurat. Suster menyambut kami dan dokter langsung datang menanganiku. Mereka memeriksa keadaanku dan aku sama sekali tidak mau melepaskan tangan Hendra. Aku ingin dia berada di sini. Lalu dokter tersebut memberiku sebuah bom yang tidak mau aku dengar dan percayai. Aku kehilangan bayiku.


“Bayiku baik-baik saja. Jangan berbohong, Dokter.” Aku tidak bisa menerima kabar itu dengan baik. Belum genap dua minggu sejak kami pertama kali tahu dia tumbuh dalam rahimku, dia baik-baik saja. Dia tidak akan pergi ke mana-mana.


“Maafkan saya, Bu. Saya turut sedih dengan kehilangan yang Ibu rasakan.” Dokter dan suster yang ada di bilik itu menatapku dengan penuh simpati.


“Aku tidak kehilangan bayiku. Dia masih ada di rahimku.” Aku memegang perutku melindungi dia yang ada dalam kandunganku.


“Sayang,” bisik Hendra. Dia membelai pipiku.


“Tidak. Tidak, Hendra. Ini tidak benar. Bayiku baik-baik saja. Bayi kita masih ada di dalam perutku.” Aku menggeleng-gelengkan kepalaku.


“Dia sudah pergi, sayang. Kuatkan dirimu. Bayi kita sudah kembali kepada Tuhan.”


Tidak. Ini tidak benar. Aku baru saja mendengar kabar bahwa dia tumbuh dalam rahimku dan sekarang dia sudah tiada? Ini hanya mimpi. Iya. Ini pasti salah satu dari mimpi buruk yang selalu hadir dalam tidurku. Saat aku terbangun nanti, Dokter akan berkata bahwa si kecil baik-baik saja.


Tuhan tidak akan sekejam ini kepadaku. Dia mengampuni kesalahanku dan memberiku seorang anak adalah buktinya. Tuhan tidak akan mengambil kembali bayi yang baru diberikanNya. Jika Dia mengambilnya secepat ini, untuk apa Dia memberikannya kepadaku? Untuk apa Dia memberiku rasa bahagia lalu merenggutnya hanya dalam waktu beberapa hari saja?


Mataku rasanya sakit sekali. Tetapi lebih sakit yang aku rasakan pada perutku. Dan aku lapar. Aku membuka mata dan melihat langit-langit berwarna putih. Bukan hanya langit-langit, sekeliling ruangan ini serba putih. Aku merasakan sentuhan pada tangan kananku. Aku menoleh dan bertemu pandang dengan dua bola mata yang menatapku dengan khawatir.


“Hendra,” kataku pelan. Dia tersenyum.

__ADS_1


“Iya, sayang. Ini aku.” Tangannya membelai pipiku. Aku memejamkan mata menikmatinya. Dia memberiku ketenangan lewat sentuhannya itu. “Bagaimana keadaanmu?”


“Aku lapar,” kataku jujur. Dia tersenyum.


“Dan aku sudah menyiapkan makanan untukmu.” Dia berdiri. Aku mengangguk saat dia membantu aku untuk duduk. Lalu aku merasakan sakit pada perut dan punggungku, mengingatkan aku kepada bayiku yang telah pergi. “Sayang?”


“Aku baik-baik saja.” Aku duduk bersandar. Hendra mendekatkan sebuah meja kecil agar aku bisa makan. Tanganku gemetar, tetapi aku ingin makan sendiri. Bubur ayamnya enak. “Fahri.”


“Iya, sayang. Ini masakan Fahri.” Dia mengusap punggungku. “Makanlah. Dia juga akan memasakkan makan siang untukmu.”


“Aku ingin pulang.” Aku menatapnya dengan memelas.


“Setelah dokter memeriksa keadaanmu dan kamu dinyatakan boleh rawat jalan, kita akan kembali ke apartemen.” Dia tersenyum. Aku menggeleng pelan.


“Tidak. Aku mau pulang ke rumah.” Aku memperjelas maksudku.


Ketika tetes demi tetes air mata jatuh, aku tidak menghentikan mulutku mengunyah makanan. Aku juga tidak menghentikan tanganku menyendokkan bubur ke mulutku. Aku mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhku terutama pada dada kiriku.


“Sayang.” Hendra duduk di tepi tempat tidur dan benteng pertahananku runtuh. Aku menangis memanggil bayi yang bahkan belum sempat aku beri nama. Oh, Tuhan. Sakit sekali.


Aku berhasil menghabiskan bubur itu. Hendra membantu menyeka air mata di wajahku. Aku membantu menyeka air mata pada wajahnya. Aku meletakkan kepalaku di dadanya, lalu memeluk tubuhnya dengan erat. Bukan hanya aku yang sedang berduka, dia juga.


Teman-teman datang tidak lama kemudian. Kami menangis bersama. Aku sudah lelah tetapi aku tidak bisa menghentikan aliran air mataku sendiri. Yang datang berikutnya adalah Papa dan Mama. Mereka memelukku secara bergantian. Aku meminta maaf harus memberikan kabar buruk itu kepada mereka. Dan kami kembali menangis bersama.


Dokter memberiku satu-satunya kabar bahagia pada hari ini. Aku diizinkan untuk pulang. Aku diminta untuk beristirahat dan kembali memeriksakan diri apabila ada keluhan. Dia juga memberiku daftar hal yang boleh aku lakukan dan yang tidak boleh aku lakukan selama tiga bulan ke depan. Teman-teman tertawa saat dokter menyebut bercinta sebagai hal yang terlarang.


Aku mencari suamiku ketika beberapa saat aku hanya melihat orang tua dan sahabatku. Dia bergegas datang dan memberitahu bahwa dia mengurus administrasi rumah sakit. Aku memeluknya dan tidak mengizinkannya pergi jauh dariku.

__ADS_1


“Ingat umur, Ara. Kamu sudah bukan anak-anak lagi,” goda Mama. Aku tidak memedulikannya dan tetap memeluk suamiku. Teman-teman tertawa. Lindsey menerjemahkan ucapan Mama kepada Claudia agar dia bisa mengikuti percakapan kami.


“Bagaimana dia tidak manja, Tante? Setiap kali kami bertemu pun, Hendra selalu menelepon sekadar menanyakan apa dia sudah makan atau kami memperlakukannya dengan baik.” Qiana menatapku penuh arti. Teman-teman kembali tertawa.


“Sudah, sudah. Kalian jangan menyerang istriku terus,” lerai suamiku. Aku menjulurkan lidah kepada mereka semua mendengar pembelaan darinya. Mereka kembali tertawa. “Ayo, kita pulang.”


Hendra menepati ucapannya. Kami pulang ke rumah. Masih ada begitu banyak wartawan yang mengerumuni rumah kami, tetapi mereka tidak memaksa masuk saat gerbang dibuka. Teman-teman keluar dari mobil mereka lebih dahulu, kemudian mereka mengerumuni aku dan Hendra agar tidak ada yang bisa memotret kami berdua.


“Mama! Mama!” Gadis kecilku berlari menyambutku pulang diikuti salakan anak anjing. Papa segera menggendongnya dan mendekatkannya kepadaku. Aku mencium pipinya setengah mencubitnya dengan bibirku. Dia tertawa geli.


“Papa dan Mama ke kamar, Dira main bersama Kakek dan Nenek, ya,” ucap Hendra.


“Tidak. Kita duduk di ruang keluarga saja. Aku tidak mau tidur.” Aku menolak. Hendra terlihat ingin menyatakan keberatannya, tetapi dia memilih untuk menurut dan kami berkumpul bersama di ruangan itu. Yuyun segera datang menyajikan makanan ringan dan minuman hangat untuk kami.


Sepertinya putriku menyadari sesuatu telah terjadi padaku, tetapi Hendra menolak permintaannya untuk duduk di pangkuanku. Setelah dibujuk, dia mau duduk bersama papanya dengan tanganku melingkari tubuhnya.


“Aku sudah menghubungi pihak hotel dan penerbangan untuk mengundur perjalanan liburan kita. Kita akan pergi setelah keadaanmu lebih baik, Zahara.” Lindsey menyentuh tanganku.


“Kalian bisa pergi tanpaku. Bukankah Claudia sudah membeli tiket kembali ke Amerika?” ucapku tidak enak. Kami sudah lama merencanakan perjalanan ini.


“Tiket bukan masalah. Aku bisa menjadwal ulang kepulangan kami. Kesehatanmu jauh lebih penting. Untuk sementara, kami bisa berjalan-jalan di sekitar kota ini.” Claudia melihat ke arah suaminya. Mason mengangguk setuju.


Aku merasa tenang menerima perhatian mereka semua. Aku juga merasa tenang bisa kembali ke rumah lagi. Meskipun keduanya adalah tempat tinggal kami, aku lebih terbiasa berada di rumah ini. Sudah hampir dua belas tahun aku hanya mengenal rumah ini sebagai tempatku berlindung.


Suasana di sekitarku begitu tenang. Suara teman-teman yang sedang bercanda tidak terdengar lagi. Aku membuka mata dan menemukan diriku sedang berbaring di tempat tidur. Aku mencoba untuk duduk, tetapi rasa sakit membuatku mengaduh.


“Hendra,” panggilku. Hening. “Hendra!” Aku meninggikan suaraku. Masih tidak ada sahutan. Tidak ada bunyi air di kamar mandi. Ke mana dia? Aku turun dari tempat tidur dan memeriksa kamar mandi, lalu ruang pakaian. Kosong.

__ADS_1


Jantungku mulai berdebar dengan cepat. Tidak. Hendra tidak mungkin meninggalkan aku. Dia tidak boleh meninggalkan aku. “Hendraa!!” Aku segera berlari keluar dari kamar.


__ADS_2