Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 143 - Anugerah


__ADS_3

“Aneh.” Aku menatap bayanganku di cermin. Hal ini hanya pernah terjadi saat aku mengandung Hadi dan Dira. Tanganku refleks menyentuh perutku.


“Aneh apa, sayang?” tanya Hendra yang sedang menyikat giginya di sebelahku.


“Aku baru sadar bahwa aku sudah dua bulan tidak menstruasi.” Aku membulatkan mataku. Tidak. Ini tidak mungkin. Hendra berhenti menyikat giginya. “Tidak ….” Aku menatap suamiku yang segera berkumur membersihkan mulutnya. Dia meletakkan tangannya di perutku.


“Iya. Iya, sayang. Aku berharap kamu sedang hamil.” Dia mencium pipiku, lalu memelukku dengan erat. “Aku akan meminta Kafin untuk mampir ke apotek membeli alat tes.”


Hendra melesat keluar dari kamar mandi. Aku mendengarnya sedang bicara dengan seseorang. Dia pasti bicara dengan Kafin lewat ponselnya. Aku masih menatap bayanganku di cermin dengan tidak percaya. Aku bisa saja salah tetapi kemungkinannya sangat kecil.


Dia kembali mendekatiku untuk memelukku dan menghujaniku dengan ciuman. Aku tertawa geli. Aku tidak tahu mengapa dia begitu bahagia dengan kabar yang belum kami pastikan ini. Memiliki anak lagi bukanlah hal yang menyenangkan. Aku akan tersiksa lagi dengan perubahan hormon, suasana hati, dan aku belum tahu hal apa yang berbeda yang dia berikan kepadaku dibandingkan dengan kedua kakaknya.


Kafin datang beberapa menit kemudian, Hendra memintaku untuk menunggu. Aku tidak bisa menahan diri untuk buang air. Dia memberiku dua gelas air untuk aku minum sembari menunggu kedatangan Kafin. Saat dia kembali dengan alat tes di tangannya, aku sudah menampung air seniku.


“Sudah jam delapan, sayang. Kamu sudah terlambat untuk pergi ke tempat kerjamu.” Aku melirik jam tangannya. Dia hanya diam memelukku sambil melihat jam tangannya itu, menunggu sampai alat tes menunjukkan hasilnya.


“Oke. Sudah waktunya. Tarik napas yang panjang, sayang. Tenangkan dirimu.” Dia menghela napas panjang. Aku hanya tertawa. Dia yang lebih membutuhkan kalimat itu daripada aku.


Dia mengambil alat tes itu dari gelas dan melihat tanda yang ada pada bagian tengah alat tersebut. Ada dua garis merah di sana. Oh. Tuhan. Hendra bersorak bahagia. Dia memelukku dengan erat dan menciumku lagi. Aku hanya bisa bengong. Dira dan Ara yang entah melakukan apa di luar kamar kami akhirnya masuk dan berdiri di ambang pintu dengan wajah kebingungan.


Aku melarang Hendra untuk mengatakan apa pun kepada putri kami. Masih terlalu dini untuk memberi harapan bahwa dia akan mempunyai seorang adik. Kami melakukan hal yang kami lakukan seperti saat dua kehamilanku sebelumnya, menunggu sampai dia genap berusia dua belas minggu, lalu memberitahu keluarga dan sahabat kami.


“Siang ini Liando akan datang bersama Yuyun, kamu bersiaplah. Kita makan siang di luar setelah mengetahui keadaan si kecil.” Hendra mengelus perutku dengan senyum lebarnya. Ya, Tuhan. Apa dia tidak pegal-pegal tersenyum terus dari tadi?


“Hati-hati menyetir, Kafin,” kataku saat mengantar kepergian mereka di pintu depan.


“Baik, Nyonya.” Kafin berjalan menuju elevator lebih dahulu. Hendra membalikkan badannya dan memelukku lagi. Aku tertawa kecil.


“Aku sangat mencintaimu, sayang.” Dia mencium bibirku dengan lembut, kemudian dia berubah pikiran dengan meletakkan salah satu tangannya di belakang kepalaku. Aku sampai terhuyung-huyung saat dia memperdalam ciuman kami. “Terima kasih, Tuhan. Aku bahagia sekali.”

__ADS_1


“Apa kamu yakin kamu bisa bekerja hari ini?” godaku yang masih berusaha mengatur napasku. Dia tertawa. “Pergilah. Kafin sudah menunggu.”


“Jangan lupa. Kita akan memeriksakan diri ke dokter.” Dia mengingatkan aku lagi.


“Iya. Aku mencintaimu. Sampai nanti.” Dia mengecup bibirku sebelum pamit. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku melihat tingkahnya.


Aku sedang bermain bersama Dira dan Ara saat panggilan video dari Hendra masuk. Aku hanya menatapnya tidak percaya. Dia tersenyum bahagia sambil menatap kami, tidak mengatakan apa pun. Sepertinya dia sedang mengikuti pertemuan besar karena aku mendengar suara asisten Papa. Pantas saja dia mengenakan bluetooth earphone miliknya.


Hadi dan Colin pulang sekolah, aku meminta mereka untuk membersihkan diri dan berganti pakaian sebelum makan siang. Aku menitipkan anak-anak kepada Yuyun dan Liando. Hendra menepati ucapannya dan datang tepat pada jam dua belas. Dia pasti meninggalkan kantornya begitu rapat usai.


Dokter kandungan yang sudah biasa menangani kehamilanku tersenyum penuh arti melihat kami berdua datang lagi. Setelah melalui berbagai pemeriksaan, kami makan siang menunggu hasil lab selesai. Hendra masih tidak berhenti tersenyum bahagia.


“Sayang, apa pipimu tidak sakit?” tanyaku pelan.


“Aku tidak merasakannya. Aku terlalu bahagia untuk peduli dengan rasa sakit di wajahku.” Dia membelai pipiku dengan wajah terharu. “Kita akan punya anak lagi, sayang.”


“Iya.” Aku menyentuh tangannya yang ada di pipiku.


Tentu saja dia menasihatiku panjang lebar agar menjaga kondisiku dengan baik. Aku diminta untuk istirahat yang cukup dan makan makanan yang bergizi, serta menjaga pikiranku tetap bahagia. Hendra berjanji akan memastikan bahwa aku dan bayiku akan baik-baik saja.


“Hendra?” Seseorang memanggil suamiku. Kami menoleh ke arah datangnya suara. Papa dan Mama. Mereka mengenakan pakaian khusus rumah sakit dan didampingi oleh seorang suster.


“Hai, Pa, Ma,” sapa Hendra yang mengajakku mendekati mereka. “Papa dan Mama melakukan pemeriksaan kesehatan rutin?”


“Iya.” Papa melambaikan sebuah kertas. “Kami akan menuju tempat pemeriksaan selanjutnya. Kalian sedang apa di sini? Bukankah giliran kalian minggu depan?”


“Iya, Pa. Aku memastikan jadwal pemeriksaan kami dengan anak-anak juga. Jadi, kami bisa mengatur jam berapa sebaiknya kami datang minggu depan.” Hendra terpaksa berbohong.


“Bukankah itu bisa dilakukan lewat telepon? Mengapa kamu harus repot-repot datang?” tanya Mama dengan tatapan penuh selidik.

__ADS_1


“Kami baru selesai mengurus semua berkas keluarga kami, jadi kami sekalian memberikan fotokopi KK, KTP, dan Akta Kelahiran anak-anak, Ma.” Kasihan suamiku harus terus berbohong.


“Sayang, biarkan mereka. Mengapa kamu malah menginterogasi putramu sendiri. Kita harus menuju ruangan berikutnya.” Papa sedikit mendorong tubuh Mama. Dia melihat ke arah kami. “Kalian lanjutkan urusan kalian. Kami harus pergi sekarang.”


“Baik, Pa. Sampai nanti, Ma.” Hendra mengajakku kembali menuju elevator. Aku masih bisa melihat Mama menatapku penuh curiga sebelum membalikkan badan. Tidak ada perempuan yang akan bisa aku tipu mengenai keadaanku. Mama pasti mulai curiga tujuan kami yang sebenarnya sampai datang ke rumah sakit ini berdua saja.


“Kita akan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin minggu depan?” tanyaku. “Kamu tidak mengatakan apa pun sebelumnya.”


“Karena aku lupa, sayang. Gista pasti sudah mengurusnya. Sibuk dengan persiapan ulang tahun, aku tidak sempat menanyakannya.” Hendra menekan tombol menuju lantai dasar.


“Kita tidak akan bisa menyembunyikan kehamilanku lebih lama lagi, Hendra. Papa pasti akan segera mengetahuinya begitu membaca hasil pemeriksaanku,” kataku khawatir.


“Papa akan merahasiakannya dan tidak akan memberitahu Mama. Kamu jangan khawatir. Itu adalah rahasia perusahaan.” Dia mendekatkan tubuhku kepadanya. Seorang wanita masuk pada lantai berikutnya, maka kami tidak bicara lagi.


“Mengapa kita keluar lewat pintu depan dan tidak lewat pintu samping di mana kita tadi masuk?” tanyaku bingung melihat jalan yang kami tempuh.


“Lebih mudah bagi Kafin untuk menjemput kita dari pintu depan daripada pintu tadi.” Pintu depan terbuka automatis dan aku terkejut melihat ada banyak orang yang telah menunggu kami. “Sial. Aku lupa. Mereka pasti berkumpul di sini karena mengikuti Papa dan Mama.”


Ada begitu banyak orang yang mengajukan pertanyaan kepada kami. Kamera video maupun foto terarah kepada kami, begitu juga mikrofon dengan berbagai label stasiun televisi dan media berita. Hendra memeluk tubuhku sambil menolongku menuju mobil. Beberapa petugas keamanan juga membantu membuka jalan untuk kami.


Kami sedang dikelilingi wartawan, tetapi mengapa aku merasa ada yang menyentuh bagian belakang tubuhku? Aku melihat ke arah mereka dan menemukan beberapa wajah tersenyum sinis kepadaku. Mereka bukan wartawan.


...*******...


...~Author's Note~...


Hari Seniinn!!! Hari di mana semua akun mendapat karcis merah gratis. Ehem. Kalau teman-teman tidak ada bacaan lagi yang ingin dihadiahi karcis, berikan vote untuk Hendra dan Zahara, ya. (。・ω・。)ノ♡


Terima kasih untuk jempol, komentar, hadiah, juga vote yang sudah teman-teman berikan sebagai tanda cinta. Kami sangat menghargainya. (~_^) ♡

__ADS_1


Salam sayang,


Meina H.


__ADS_2