Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 117 - Cinta Itu Sayang


__ADS_3

Aku belum menjelaskan apa pun, Za keluar dari ruang makan. Piringku masih berisi penuh, jadi aku tidak bisa mengejarnya. Lagi pula dia tidak akan ke mana-mana, kami tinggal bersama di rumah ini. Aku memutuskan untuk menghabiskan makananku sebelum bicara dengannya.


“Tuan mau minuman hangat untuk saya antarkan ke ruang sebelah?” tanya Yuyun saat aku sudah selesai makan. Aku menolak dan berterima kasih kepadanya.


Aku menghela napas panjang sebelum masuk ke ruangan di mana Za dan anak-anak berada. Tetapi dia tidak ada di sana. Hanya ada Hadi dan Ara yang sedang duduk berdampingan di sofa dengan mata terarah ke layar televisi.


“Mama dan Dira ke mana, Hadi?” tanyaku sambil duduk di sisinya.


“Dira sudah mengantuk, jadi Mama menemaninya ke kamar, Pa,” jawabnya tanpa mengalihkan pandangan matanya dari televisi.


Baiklah. Dia bukan sedang menghindariku. Acara yang mereka tonton adalah film anak. Tidak biasanya Ara menurut saja dengan tontonan selain mengenai kehidupan binatang. Aku memeriksa ponselku ketika benda itu bergetar. Panggilan masuk dari Mama, aku mengabaikannya. Agar tidak ada gangguan lagi, aku mematikan ponselku tersebut.


“Pa, apa itu cinta? Apakah cinta sama dengan sayang?” tanya Hadi tiba-tiba.


Anakku yang cerdas ini sering sekali mengejutkanku dengan pertanyaan spontannya. Za lebih luwes dalam menjawab pertanyaannya, sedangkan aku membutuhkan waktu lebih lama untuk menyusun kata-kata yang bisa dicerna untuk anak seusianya.


“Iya, Nak. Cinta itu sama dengan sayang,” jawabku berhati-hati.


“Nenek bilang, Papa dan Mama sering bertengkar karena saling mencintai. Lalu mengapa aku dan Dira tidak boleh berebut mainan, Pa? Kami berdua saling mencintai juga.” Dia menatapku dengan serius. Yang dia maksudkan pasti kejadian semalam.


“Nak, kamu membuat adikmu menangis. Itu tidak baik.” Aku merangkul bahunya. Dia menatapku sesaat. “Pria yang baik harus melindungi perempuan yang dekat dengannya, bukan membuatnya sedih. Apalagi adikmu sendiri.”


“Mama juga pernah menangis setelah bertengkar dengan Papa,” katanya.


“Kapan?” tanyaku merasa tidak enak.


“Kemarin malam. Dua hari yang lalu. Mama juga menangis tadi saat masuk ke ruangan ini,” katanya pelan. “Kata Nenek, dahulu Mama hanya menurut saja dengan apa yang Papa katakan. Tetapi tidak lagi. Dahulu Mama belum mencintai Papa. Mengapa Papa dan Mama tidak berbaikan saja? Aku lebih suka melihat Papa dan Mama tertawa bersama.”


Mama berkata begitu kepada Hadi? Za mencintaiku? Benarkah? Sejak kapan? Kami sudah lima tahun bercerai, mustahil dia mencintaiku. Saat kami masih bersama, dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia memiliki perasaan khusus kepadaku.


Pintu ruangan terbuka. Aku menoleh melihat siapa yang masuk. “Hadi, saatnya untuk tidur,” kata Za sambil mengulurkan tangannya.


“Baik, Ma.” Hadi segera melompat turun dari sofa.


“Biar aku yang temani dia ke kamar.” Aku berdiri dari tempat dudukku. Za menatapku sesaat, lalu menganggukkan kepalanya. Dia kelihatan sedih.


Setelah Hadi tertidur pulas, aku menemui Za di kamar Dira. Ternyata dia tidak ada di sana. Putri kami sudah tidur nyenyak. Aku mencium pipinya dan mengucapkan selamat malam sebelum keluar dari kamarnya. Aku menatap pintu kamar di mana wanitaku berada selama beberapa saat. Apa yang harus aku lakukan?

__ADS_1


“Mengapa kamu hanya berdiri di situ?” Terdengar suaranya dari arah belakangku. “Apa kamu mencariku? Aku tadi ke dapur sebentar mengambil air minum.”


Aku menoleh dan melihat dia begitu cantik dengan rambut digerai dan mengenakan mantel sutranya. Tubuhku bahkan memberi sinyal bahwa dia setuju dengan apa yang aku pikirkan. Tetapi kami perlu bicara. Aku segera menepis jauh pikiran untuk menciumnya habis-habisan di koridor ini.


Bukannya membuka mulut dan mulai bicara, aku malah mengambil gelas dari tangannya dan meletakkannya di atas bufet di dekat kami. Lalu aku tidak menahan diriku lagi untuk mencium bibirnya yang telah menggodaku sejak aku kembali tinggal di rumah ini. Berbeda dengan mulutnya yang sering menolakku, bibirnya menerimaku dengan antusias.


“Sebentar,” ucapku saat berhasil menjauhkan wajahku darinya. Dia mengeluh pelan.


“Kamu selalu begini. Bukan aku yang memberi sinyal yang membingungkan. Tetapi kamu.” Dia mendorong tubuhku, aku tetap memeluknya.


“Kita perlu bicara.” Aku membelai pipinya berusaha meminta pengertiannya.


“Bila kamu ingin bicara mengenai perempuan itu, aku tidak mau.” Dia mencoba mendorong tubuhku lagi. Aku menatapnya sesaat melihat apa yang membuatnya marah. Hm. Wanitaku cemburu.


“Baiklah.” Aku menggandeng tangannya dan membawanya ke kamar kami. Aku menutup pintu lalu mendorong tubuhnya bersandar pada kayu kokoh itu. “Kamu tidak mau bicara, lalu apa yang kamu inginkan?” Matanya turun ke arah bibirku. Tetapi dia segera kembali melihat ke arah kedua mataku.


“Baik. Kita bisa bicara,” katanya dengan suara serak.


“Pembohong.” Aku menutup jarak di antara kami dan menciumnya. Ketika merasakan dia membalas ciumanku, hanya itu yang aku butuhkan untuk meneruskan ini.


Entah ke mana benteng tinggi dan kokoh itu pergi, tetapi aku tidak merasakan apa yang aku rasakan saat akan berhubungan intim dengannya sebelum kami berpisah. Atau saat kami berada di vila. Benteng yang pernah membuatku berhenti saat kami hampir menjadi satu kembali.


Aku tidak menyesal menunggu selama lima tahun untuk merasakan surga ini bersamanya. Saat aku berhasil menyatukan diriku dengannya, kami tidak hanya melebur secara fisik. Aku bisa merasakan jiwa, hati, dan pikiran kami ikut melebur bersama. Dan air mataku jatuh karenanya. Kami tidak pernah bercinta seintens ini.


“Aku mencintaimu, Za,” bisikku sambil memeluknya dengan erat. Aku tidak akan membiarkan dia lepas lagi dari genggamanku.


“Aku lebih mencintaimu, Hendra,” katanya pelan. Aku membuka mataku. Aku membingkai wajahnya dengan kedua tanganku dan mengarahkan wajahnya kepadaku.


“Kamu bilang apa tadi?” tanyaku tidak percaya. Jantungku berdebar lebih cepat, takut bahwa aku salah mendengar kalimat yang diucapkannya.


“Cintaku kepadamu lebih besar daripada cintamu kepadaku, Mahendra Satya Perkasa,” katanya dengan sombong.


“Mustahil. Cintaku yang lebih besar,” ujarku tidak mau kalah.


“Ow, Tuan Mahendra yang terhormat tidak bisa menerima kekalahan, ya. Kamu tadi bilang bahwa kamu mencintaiku. Aku membalas dengan mengatakan bahwa aku lebih. Lebih.”


“Mengapa kamu bicara seperti orang mabuk?” Aku duduk berniat untuk ke kamar mandi. Melihat dia masih meringkuk di tempat tidur, ide iseng muncul di kepalaku.

__ADS_1


“Aku mabuk karena cintamu,” godanya. Aku mengangkat tubuhnya di bahuku. “Hendra! Apa yang kamu lakukan?! Turunkan aku! Kepalaku pusing.”


Aku menurunkannya di dalam bak, lalu menyalakan air pancuran. Dia segera menggigil kedinginan. Aku tertawa melihatnya. Saatnya pembalasan. Dia ingin keluar dari bak mandi, tetapi aku menahan tubuhnya. Kami bercinta lagi sebelum membersihkan tubuh kami.


“Kita sudah tidak muda lagi, apa kamu pikir aku masih punya tenaga untuk meladenimu sebanyak yang kamu mau?” keluhnya saat aku membantu mengeringkan rambutnya dengan pengering rambut di kamar mandi.


“Mulai besok, kamu akan berolahraga bersamaku.”


“Tidak,” protesnya cepat.


“Sayang, kamu masih berpikir kamu bisa melawanku dalam hal fisik? Aku tinggal menggendongmu ke kamar mandi, mengganti pakaianmu, dan membawamu ke pekarangan. Kalau perlu, aku akan meminta Ara mengejarmu agar kamu mau joging bersamaku.”


“Bagaimana kalau begini?” Dia tersenyum menggoda dan menatap mataku melalui bayangan kami di cermin. “Aku tidak akan mengeluh lagi setiap kali kita bercinta.”


“Sudah terlambat. Kamu tetap akan joging bersamaku mulai besok.” Aku mematikan alat pengering tersebut dan meletakkannya di atas konter. “Dan kita akan mendaftarkan pernikahan kita kembali. Kamu setuju?” Dia mengangguk dengan cepat, membalikkan badannya, dan menciumku sampai kami berdua kehabisan napas. “Ayo, saatnya untuk tidur.”


Aku duduk di tepi ranjang, dia berjalan ke sisi lain tempat tidur. Aku memadamkan lampu kamar dan hanya menyisakan satu lampu meja yang masih menyala. Za duduk di tepi tempat tidur dengan punggung terarah kepadaku.


“Ada apa?” tanyaku yang heran melihatnya tidak ikut membaringkan tubuhnya. Dia membalikkan badannya dan menunjukkan satu papan obat kepadaku.


“Apa aku boleh meminum obat ini?” tanyanya pelan. “Ini obat pencegah kehamilan.”


“Mengapa kamu menyimpan obat itu di laci nakasmu?” tanyaku curiga. Dia memutar bola matanya.


“Karena aku tidak mau hamil lagi ketika kamu masuk ke kamarku seperti tiga tahun yang lalu,” jawabnya tersinggung. Lagi-lagi aku merusak suasana. “Apa yang kamu pikirkan? Aku tidur dengan sembarangan laki-laki sehingga selalu menyediakan obat di laci?”


“Maafkan aku.” Aku duduk dan mendekatinya. Aku tidak mau membuatnya marah. Aku mengambil obat itu dari tangannya, lalu memeluknya. “Jawabanku tidak. Kamu tidak perlu meminum obat itu.”


“Tetapi aku datang bulan sekitar dua minggu yang lalu,” ucapnya khawatir.


“Kamu tidak akan hamil semudah itu. Jangan khawatir.”


“Kamu tidak tahu bahwa benihmu bertekad kuat sama seperti pemiliknya.” Dia terdengar frustrasi. Aku tertawa mendengarnya. “Bagaimana kalau aku hamil?”


“Aku akan bertanggung jawab. Aku pasti akan menikahimu,” kataku menggodanya. Dia menatapku sesaat, lalu kami tertawa bersama.


“Kita bukan pelajar yang sedang sembunyi-sembunyi mencoba bercinta, Hendra,” protesnya sambil memukul pelan dadaku.

__ADS_1


“Kalau begitu, berhenti menyusahkan dirimu sendiri. Kamu hamil adalah anugerah, jangan ditolak.”


__ADS_2