
Bisa makan malam bersama keluargaku seintim itu adalah hal yang sangat aku sukai. Terlebih lagi acara itu telah disiapkan diam-diam oleh suamiku. Walaupun aku baru bertemu dengan mereka dua malam yang lalu pada perayaan hari ulang tahunku, kami tidak sempat berbincang. Ada saja yang menginterupsi percakapan kami. Kehadiran adikku menyempurnakan makan malam kami.
Tetapi mengetahui masalah yang sedang dihadapi oleh kedua orang tuaku, aku tidak bisa tidak memikirkan hal tersebut dengan serius. Ketika Zach sedang berbincang dengan Hendra dan kedua orang tuaku sibuk dengan percakapan mereka sendiri, aku sibuk dengan pikiranku sendiri.
Aku masih tidak tahu harus berbuat apa untuk bisa mendapatkan uang dalam jumlah besar dalam waktu satu bulan. Mama benar. Bekerja bukanlah sebuah solusi. Kami tidak punya banyak waktu yang tersisa.
Zach baru mulai bekerja selama dua tahun terakhir setelah menyelesaikan studinya di bidang hukum. Pendapatannya belumlah besar dan hanya cukup untuk dirinya sendiri. Dia berhak untuk sedikit bersenang-senang dengan hasil kerja kerasnya. Tidak adil jika memintanya untuk ikut menanggung biaya yang dibutuhkan untuk menyelamatkan rumah dan mama kami.
Meminjam uang juga bukanlah solusi yang terbaik. Apa kata orang-orang nanti bila mereka tahu bahwa aku sebagai istri Hendra tidak punya uang sehingga harus meminjam. Suamiku punya banyak uang. Cukup besar untuk membiayai kehidupan beberapa keturunan kami kelak bila mereka mempergunakan uang tersebut dengan bijak.
Tetapi meminta pertolongan suamiku bukanlah pilihan yang ingin aku ambil. Aku pernah berjanji di dalam hati bahwa aku tidak akan menerima uang sepeser pun darinya. Hanya pemberian dalam bentuk barang yang akan aku terima. Itu pun aku lakukan demi pernikahan kami. Aku tidak mau timbul gosip di antara para pembantu jika aku terus menolak pemberiannya di depan mereka.
“Sudah saatnya kalian memberi kami cucu,” ucap Mama penuh harap. Semua mata memandang ke arahnya. “Kalian telah menikah begitu lama tapi aku belum juga menggendong cucuku sendiri. Aku cemburu setiap kali teman-temanku memamerkan cucu mereka.”
“Kami berusaha, Ma. Kami tidak akan membuat Mama kecewa,” ucap Hendra dengan riang.
“Berhati-hatilah, Kak. Nanti tubuhmu akan menjadi gemuk dan jelek,” ejek Zach. “Di kantor Kak Hendra ada banyak sekali wanita muda dan cantik. Kalau kamu tidak menjaga dia dan bentuk tubuhmu, dia bisa saja beralih kepada wanita lain.”
“Ma, Zach menghinaku,” aduku kepada Mama. Mereka hanya tertawa mendengarnya.
“Kamu harus belajar untuk mengadu kepada suamimu sendiri, Ara. Mama tidak boleh menjadi pembelamu lagi. Itu peran suamimu,” kata Mama sambil tersenyum penuh arti.
“Hendra justru senang mendengar Zach mengejekku. Dia hanya tertawa dan tidak mengatakan apa pun untuk membelaku,” keluhku kesal.
__ADS_1
“Baik, baik. Maafkan aku,” kata Hendra yang berhenti tertawa dan menoleh ke arah adikku. “Zach, berhenti mengganggu istriku. Aku mencintainya dan tidak akan ada wanita lain yang bisa menggantikan posisinya di hatiku.”
“Bagaimana dengan posisimu di hatinya? Apa kamu yakin bahwa kakakku tersayang punya cukup rasa cinta kepadamu sehingga dia tidak akan beralih kepada pria lain?” goda Zach. Aku merasakan tubuhku menegang.
“Zach,” protes Papa yang tahu benar bahwa itulah kenyataannya. Dia pasti tidak mau Hendra sampai menganggap serius ucapan Zach tersebut.
“Aku hanya bercanda, Pa. Tidak perlu serius begitu,” ucap Zach santai. Dia menoleh ke arahku dan Hendra. “Kalian berdua punya awal yang tidak menyenangkan, tetapi kalian berdua begitu cocok. Kak Ara dan Kak Hendra sangat serasi. Siapa pun yang melihat kalian bersama, tidak akan percaya bahwa kalian tidak tergila-gila terhadap satu sama lain.”
“Kak,” Zach menatapku dengan wajah serius. “Enam tahun bukan waktu yang singkat. Aku harap Kakak bisa berpikir dengan bijak dan bertindak dengan hati-hati terhadap pernikahan kalian berdua. Kak Hendra sangat mencintaimu. Tidak akan ada pria lain yang bisa mencintaimu seperti dia.”
“Sejak dahulu kamu selalu berada di pihak Hendra. Tentu saja kamu tidak akan berhenti memujinya setinggi langit.” Aku cemberut.
“Apakah ada yang salah dari yang aku ucapkan tadi? Apakah Kak Hendra pernah menyakitimu?” tantang Zach. Aku memicingkan mataku kepadanya.
Hanya saja, aku khawatir mereka akan membicarakan mengenai perasaanku kepada suamiku dan aku malah bertindak bodoh dengan mengakui bahwa aku tidak mencintainya. Aku takut aku akan mengatakan bahwa aku masih mencintai pria lain.
“Tidak.” Dan itu adalah kebenarannya. Hendra adalah seorang pria dan suami yang baik.
“Berarti aku tidak memujinya secara berlebihan.” Zach menjulurkan lidahnya.
“Apa kamu akan membiarkan dia terus melakukan itu kepadaku?” aduku kepada suamiku. Hendra tertawa kecil.
“Zach, aku serius. Kalau kamu tidak berhenti mengganggu istriku, aku akan mengakhiri kerja sama kita dan mencari penasihat hukum yang lain,” ucap Hendra sambil mengedipkan sebelah matanya. Aku mengangkat daguku, menantang adikku dengan mataku. Zach tertawa kecil.
__ADS_1
“Oke, oke. Aku tidak akan mengganggu kakakku lagi.” Zach akhirnya mengalah. Aku tersenyum penuh kemenangan. Tetapi tentu saja Zach tidak berhenti sampai di situ. Dia masih menggodaku dan dengan sengaja membuatku marah.
Setelah menikmati semangkuk es krim dan buah-buahan, keluargaku pamit untuk pulang. Meskipun aku sedih percakapan dan perdebatan kami harus berakhir, aku sangat menikmati suasana malam itu. Aku suka menjadi diriku sendiri setiap kali bersama keluargaku.
Hendra mandi di bawah pancuran di balik tirai ketika pada saat yang bersamaan aku mencuci wajah dan menyikat gigi di kamar mandi. Aku bisa mendengar dia menyenandungkan sebuah lagu. Sebuah lagu cinta, lebih tepatnya. Aku biasanya khawatir melihatnya begitu bahagia, tetapi tidak pada malam ini. Aku sangat bahagia sehingga tidak mengkhawatirkan apa pun.
Jika malam ini dia ingin berhubungan intim denganku, aku tidak akan menolaknya. Sepertinya aku juga membutuhkannya. Tidak biasanya aku begini. Mungkin karena kejutan demi kejutan yang dia berikan, membuat hatiku terasa lebih ringan.
Aku keluar dari kamar mandi ketika mendengar bunyi air berhenti. Dia akan membuka tirai sesaat lagi dan aku tidak ingin mengganggu privasinya. Aku baru saja selesai berganti pakaian ketika dia datang ke ruang pakaian kami. Dia hanya tertawa saat aku buru-buru keluar dari ruangan itu. Aku tidak bisa menahan diriku untuk tersenyum. Kadang-kadang tawanya menular.
“Aku sudah tahu kita sebaiknya pergi ke mana pada acara liburan kita berikutnya,” kataku dengan bahagia ketika dia memadamkan lampu kamar dan menyalakan lampu nakas.
“Oh, ya?” tanya Hendra. Aku menganggukkan kepalaku. “Kalau begitu, kita akan pergi ke sana, sesuai dengan keinginanmu.”
“Terima kasih sudah mengundang keluargaku untuk makan malam bersama kita.” Aku membuka selimut dan berbaring di sisi tempat tidurku.
“Apakah kamu bahagia?” tanya Hendra yang berbaring di sisiku.
“Iya,” jawabku dengan jujur.
“Aku senang mendengarnya.” Dia melingkarkan tangannya di pinggangku lalu mencium bibirku. “Ayo, kita melakukannya. Ayo, kita beri Mama seorang cucu.”
Aku belum sempat menjawab karena dia sudah menciumku lagi.
__ADS_1